Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 15 Februari 2017

OOH PANGERAN HATI: "Riwayatmu Dulu Kini & Esok" (bag: 6)


Bagi masyarakat Bali tentu masih ingat kejadian aneh di bulan Februari 2005, di mana muncul tanda aneh di tempat-tempat suci hampir di seluruh wilayah Bali, bahkan hingga Lombok dan Banyuwangi.

Tanda aneh tersebut, oleh masyarakat (Hindu) Bali disebut; "colek pamor & tapak dara". Bahkan tanda tersebut juga muncul di dalam ruangan Gubernur Bali. Padahal saat itu, ruangan Pak Gubernur sedang terkunci rapat.


Kisah berikut ini sudah beberapa kali saya ceritakan semenjak tahun 2009 melalui blog Rosapy. Saya berkisah kembali karena berhubungan erat dengan hasil Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017. Hari ini kisah tersebut sudah genap 12 tahun (4383 hari).  Bagi mereka yang sudah membacanya, boleh dilewati saja.

Januari 2005, saya menjalani praktek sebagai "dokter muda" di bagian Mata RSUP Sanglah Denpasar. Pada Hari Rabu, 12 Januari 2005, saya sedang memeriksa pasien katarak (seorang ibu paruh baya) di Bagian Polly Klinik Mata.


Ketika sedang keasyikan memeriksa ibu tersebut, tiba-tiba ada telfon, dan saya disuruh menghadap Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Bedah.

Saya menyerahkan pasien ke dokter muda lainnya bernama Erwin, lalu bergegas menuju ruangan Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Bedah FK Unud (Fakultas Kedokteran Universitas Udayana).

Begitu tiba di sana, ternyata saya "dilarang" menjalani kegiatan (praktek). Hari itu juga saya diminta harus meninggalkan Rumah Sakit. Rupanya sehari sebelumnya,11 Januari 2005, ada pertemuan antara Dekan FK Unud dan Rektor Unud di Kampus Bukit Jimbaran. Saat itulah, Dekan dan Rektor memutuskan; saya harus "diekstradisi" (dikeluarkan) dari Rumah Sakit.

 GARA-GARA TIGA RIBU LIMA RATUS DOLLAR

Ternyata saya dikeluarkan gara-gara Pemerintah Timor Leste "menunggak" SPP saya sebesar "3.500 dollar" (tiga ribu lima ratus dollar). Saya sama sekali tidak tahu mengenai masalah ini, karena ketika saya meninggalkan Timor Leste, saya diberi "briefing" bahwa kewajiban saya adalah "belajar...belajar & belajar". Masalah SPP adalah menjadi tanggung-jawab Kementerian Kesehatan Timor Leste. Bukan lagi menjadi urusan saya.

Akhirnya hari itu, 12 Januari 2005, saya meninggalkan Rumah Sakit dengan penuh "rama" (rasa malu). Saya langsung pulang ke kos. Tiba di kos langsung tidur. Saat tidur itulah saya bermimpi aneh.

Tersadar dari mimpi, saya langsung pergi ke Gereja St. Yosef di Jl. Kepundung "nomor dua"  Denpasar, karena dalam mimpi saya diminta segera ke Gereja St. Yosef.

Tiba di Gereja St. Yosef, saya berdoa sekitar 1 jam lebih dan kemudian jatuh tertidur. Saat itulah muncul. St. Yosef meminta saya mencari sebuah pesan rahasia yang ditulis dalam "Bahasa TETUN", yang ada di balik sebuah pintu rahasia. Pintu rahasia tersebut, kata St. Yosef, terletak di "Jalan TAURAT" Denpasar.

Mulai 13 Januari hingga 13 Februari 2005, selama sebulan penuh, saya keluar masuk sudut-sudut kota Denpasar hanya untuk mencari "pesan rahasia" yang dimaksud St. Yosef.


Karena tidak menemukan alamat yang dinamakan "Jalan Taurat", saya memutuskan untuk "menyerah" tanggal 13 Februari 2005. Maka tanggal 13 Februari 2005, saya kembali ke Gereja St. Yosef untuk berdoa (melaporkan) bahwa saya gagal menemukan alamat "Jalan TAURAT".

Saat itu, saya baru berdoa sebentar, belum ada 10 menit, tiba-tiba saya jatuh ke dalam keadaan "trance". Dalam keadaan "trance" itulah St. Yosef muncul dan memberikan "pesan konfirmasi".

Setelah mendapatkan pesan konfirmasi St. Yosef, saya balik ke kos di Jl. Pulau Ambon, 28X Sanglah Denpasar. Dan akhirnya dua hari kemudian,15 Februari 2005, menjelang jam 5 sore, saya berhasil menemukan "pesan rahasia" yang terletak di "Jalan TAURAT".

Berdasarkan "pesan rahasia" yang saya temukan pada tanggal 15 Februari 2005, di Jalan TAURAT, saya tidak sedikit pun ragu untuk pastikan "pemenang Pilkada DKI 15 Februari 2017".

Poinnya adalah; entah Pilkada mau berlangsung satu putaran atau dua putaran, yang akan keluar sebagai pemenang adalah; paslon (pasangan calon) yang memiliki simbol "KETURUNAN PRABU BRAWIJAYA V".

Selama 3X debat, paslon ini selalu menyebutkan sebuah frasa rahasia yang tertulis di Jl. Taurat yang saya temukan 15 Februari 2005. Pada debat terakhir, paslon ini sempat menyebutkan frasa ini sebanyak dua kali, sementara dua paslon lainnya jarang sekali, bahkan tidak pernah menyebutkan sama sekali frasa itu.

Frasa tersebut terdiri dari "11 huruf" yang dimulai dengan huruf "P", yang jika dikonversikan ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi "Latin Gematria", nilai konversinya paralel dengan frasa; "Pilkada DKI Jakarta" (140).

Nah, karena saya pertama kali menemukan frasa tersebut tanggal 15 Februari 2005, dan hari ini, 15 Februari 2017, berlangsungnya Pilkada DKI Jakarta, frasa tersebut sudah genap berusia "12 tahun" (4383 hari) maka saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa ini semua adalah "rancangan TUHAN", dan saya berkewajiban untuk bersaksi mengenai rancangan TUHAN tersebut.

PANGERAN YANG LAHIR DARI RAHIM WANDAN KUNING 

Yang saya maksudkan dengan "PANGERAN HATI" dalam artikel ini adalah Pangeran yang merupakan; "Keturunan Prabu Brawijaya V" Pangeran ini lahir dari rahim "Wandan Kuning", yaitu wanita yang menikah dengan Prabu Brawijaya V.

Gelar Pangeran ini terdiri dari dua frasa. Salah satu frasa adalah kata yang juga ditemukan dalam "Bahasa Suku Kemak" (salah satu suku terbesar dari 33 suku di Timor Leste).

Gelar yang terdiri dari dua frasa tersebut jika dikonversikan ke dalam bilangan berdasarkan "English Gematria", akan paralel (bernilai sama) dengan "7 Desember 1975" (tanggal bersejarah di mana Indonesia secara terbuka melakukan invasi atas wilayah Timor Portugis, dengan menerjukan Pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang diangkut dari lapangan terbang Iswahyudi Madiun Jawa Timur dan menerjunkannya di Kota Dili.

Kira-kira menurut Anda, dari 3 paslon, manakah paslon yang memiliki simbol "KETURUNAN PRABU BRAWIJAYA V?"

Setelah hasil Pilkada DKI ditetapkan secara defenitif, saya akan menyebutkan secara terbuka nama salah satu Pangeran yang lahir dari rahim wanita bernama "Wandan Kuning" yang dinikahi Prabu Brawijaya V. Dan kemudian membuktikan nila konversi (English Gematria) dari gelar "Sang Pangeran" yang hasil konversinya paralel dengan frasa; "7 Desember 1975", yang melambangkan nama dari salah satu paslon.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan mengingatkan bahwa; "Saya sedang bersaksi mengenai rancangan TUHAN". Bukan sedang mengangkat isu-isu primordialis alias isu sektarian.

Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (black and white). Amin

Tidak ada komentar: