Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 13 Februari 2017

155 HARI ANTARA JAKARTA & CAMP DAVID (Pemenang Pilkada DKI Bersimbol Darah Prabu Brawijaya V)


Tanggal 5 Juli 1975, berlangsung pertemuan antara Presiden Soeharto dengan Presiden Gerald Ford di Camp David Maryland Amerika Serikat. Tanggal 5 Desember 1975 Presiden Gerald Ford bersama rombongannya (termasuk isterinya dan Menlu Henry Kissinger) mengunjungi Jakarta.

Hanya berselang dua hari, tanggal 7 Desember 1975, Indonesia melakukan invasi berdarah atas wilayah Timor Portugis dengan mengangkut Pasukan TNI dari Bandara Iswahyudi Madiun dan menerjunkannya di Kota Dili, pagi-pagi buta.

Dan semenjak itulah "drama berdarah" berlangsung di wilayah setengah pulau yang berjuluk "buaya".

Sekarang coba Anda menghitung jarak waktu, antara tanggal 5 Juli 1975 (pertemuan Camp David) dengan tanggal 7 Desember 1975 (saat Indonesia melakukan invasi). Bukankah jarak waktunya adalah; 155 hari?


Mengapa harus 155 hari? Sekedar kebetulankah? Jawabannya tidak. Angka 155 ini melambangkan "KETURUNAN DAUD". Coba Anda konversikan frasa KETURUNAN DAUD ke dalam bilangan dengan menggunakan sistim konversi; Latin Gematria. Hasilnya pasti = 155.

KETURUNAN = 125, DAUD = 30. Total; 125+30 = 155.

Dengan demikian maka kesimpulannya adalah;

"Invasi Indonesia atas wilayah Timor Portugis adalah rancangan TUHAN dengan tujuan untuk melacak KETURUNAN DAUD guna menggenapi Firman TUHAN yang tertulis dalam Kitab Suci".

Dengan demikian maka invasi berdarah 7 Desember 1975 dan segala perangkatnya yang terbentuk selama kurun waktu 24 tahun, tidak berdosa di mata TUHAN. Maka Indonesia dan Amerika harus dibebaskan dari segala macam bentuk tanggung-jawab atas semua perangkat yang terbentuk di Tim-Tim selama kurun waktu 24 tahun, karena TUHAN mengampuni semua perangkat yang terbbentuk, sebab invasi berdarah itu harus terjadi dengan satu tujuan utama, yaitu; "untuk menemukan KETURUNAN DAUD".


DI MANAKAH KETURUNAN DAUD BERADA SAAT INI?

Tugas kita sekarang adalah "menemukan KETURUNAN DAUD". Karena hanya gara-gara manusia satu ini, lebih dari 200.000 nyawa rakyat sipil Timor-Timur harus jadi tumbal. Dan lebih dari 30.000 Anggota TNI juga harus ikut menjadi tumbal. Maka betapa mahalnya manusia satu ini.

Pertanyaannya adalah; "Di manakah manusia satu ini berada?" Sayangnya, saya juga kagak tahu karena manusia satu ini sedang "dipingit TUHAN" di sebuah wilayah yang sangat rahasia.

Untuk menemukan lokasi di mana "KETURUNAN DAUD" sedang dipingit TUHAN, kita harus membuka Kitab Suci. Dalam salah satu Kitab Perjanjian Lama, LELUHUR manusia yang satu ini disebutkan sebanyak 12X. Dan anehnya, nama LELUHUR manusia satu ini, menggunakan Bahasa TETUN (Bahasa nasional Timor Leste).

Kok nama LELUHUR-nya menggunakan Bahasa TETUN? Ya, menggunakan Bahasa TETUN. Mungkin dalam bahasa di negara lain, kata itu juga ada. Namun yang jelas nama belakang LELUHUR manusia satu ini memang menggunakan bahasa TETUN.

Atas alasan itulah, pada Minggu, 20 Februari 1994, ketika saya sedang berada di Bukit Sio(n), Gunung Ramelau Timor-Timur, saat TUHAN berbicara dari balik Takhta-Nya sambil mengacungkan Tangan Kanan-Nya (jadi saya hanya melihat Tangan Kanan TUHAN, namun tidak melihat Wajah TUHAN), TUHAN berbicara dengan suara-Nya yang menggelegar bagaikan desau air bah, TUHAN menggunakan Bahasa TETUN, untuk sekaligus menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II.

Saat itu saya melihat tokoh Polandia (yang dulu mengunjungi Indonesia dan Timor-Timur Oktober 1989, mengunjungi Dili Kamis 12 Oktober 1989) berdiri dalam barisan para Paus.

Karena melihat barisan yang berisi para Paus itulah saya tidak ragu menuliskan artikel edisi 30 September 2012, untuk memastikan bahwa "Paus baru" akan muncul di tahun 2013. Karena, sejatinya, saya bukan peramal atau paranormal. Saya seorang mistikus. Jika TUHAN tidak memperlihatkan rahasia besar itu, bagaimana saya bisa tahu kalau paus baru akan muncul di tahun 2013.

Yang saya lihat saat itu, tokoh Polandia yang dikanonasi menjadi "orang kudus", pada Minggu, 27 April 2014 itu, berdiri di ujung barisan paling timur lalu diikuti sejumlah Paus lainnya.

Ketika saya menerbitkan artikel tersebut 30 September 2012, para "haters" menghujat saya habis-habisan. Dikira saya orang gila. Mereka bilang; "Eeee..orang gila, muke lu jauuhhh...!!! Emangnya lu pikir, di tahun 2013, paus barumu itu akan muncul dari Atsabe, sambil mengenakan sarung yang tidak pernah dicuci-cuci?"


Tapi apa yang terjadi? Hanya berselang 151 hari artikel tersebut diterbitkan, Bapa Suci Paus Benediktus XVI secara resmi benar-benar mengundurkan diri pada 28 Februari 2013.

Para "haters" pun diam membisu. Haters yang berjanji akan berjalan telanjang jika artikelku bertuah, langsung menutup akun FB-nya dan menghilang entah kemana. "Orang gila kok dilawan".

Muke gue memang jauh, tapi saya bersyukur kepada TUHAN karena muke gue jauh dari neraka dan dekat ke Surga, ketimbang muke lu dekat, tapi dekat ke neraka dan jauh dari Surga".

"Menurut Anda, mengapa artikelku mengenai kemunculan Paus baru harus bertuah dalam rentang waktu 151 hari?"

Jawabanya sederhana sekali. Artikelku harus bertuah di hari ke-151 karena berhubungan erat dengan invasi berdarah 7 Desember untuk menemukan KETURUNAN DAUD.

Kok bisa begitu? Ya bisa lah. Bukankah TUHAN itu mampu menulis lurus dalam garis bengkok?
Coba Anda lafalkan frasa 7 Desember menjadi TUJUH DESEMBER? Lalu konversikan semua huruf dalam frasa TUJUH DESEMBER ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi Latin Gematria. Hasilnya pasti "151".

TUJUH = 80, DESEMBER = 71. Total; 80 + 71 = 151.

PEMENANG PILKADA DKI MELAMBANGKAN KETURUNAN PRABU BRAWIJAYA V
Tanggal 15 Februari akan berlangsung Pilkada DKI. Menurut Anda, siapa yang akan memenangkan Pilkada DKI? Jawabannya hanya satu: Pemenang Pilkada DKI wajib hukumnya harus melambangkan "Keturunan Prabu Brawijaya V?"

Kok harus melambangkan "Keturunan Prabu Brawijaya V?" Karena nama dari "Keturunan Prabu Brawijaya V itulah yang tertulis dalam salah satu Kitab Suci Perjajian Lama, yang menggunakan "Bahasa TETUN" (yang telah saya jelaskan di atas).

Ini artinya; manusia KETURUNAN DAUD yang telah menyebabkan Indonesia dan Amerika harus memutuskan untuk melakukan invasi berdarah atas wilayah Timor Portugis 7 Desember 1975, tidak lain dan tidak bukan, adalah juga Keturunan Prabu Brawijaya V.


Tiba di titik ini, maka muncul kesimpulan berikut;

"Berarti Prabu Brawijaya V adalah KETURUNAN DAUD. Dan itu artinya HAYAM WURUK adalah KETURUNAN DAUD, karena Prabu Brawijaya V adalah Keturunan HAYAM WURUK".

Anda boleh tidak percaya. Tapi ingat; "TUHAN itu mampu menulis lurus dalam garis bengkok". Dan saya baru saja memulai membahas isu ini. Namun yang jelas, DARAMA akan benar-benar terjadi di Nusantara.

Saya tidak tahu Pilkada DKI berlangsung satu putaran atau dua putaran. Yang bisa saya pastikan, paslon (pasangan calon) yang akan muncul sebagai pemenang dalam pemilu 15 Februari, tetaplah paslon yang memiliki lambang; "Keturunan Prabu Brawijaya V".

Nah, silahkan Anda cari sendiri, kira-kira di antara 3 calon itu, calon yang manakah yang memiliki lambang "Keturunan Prabu Brawijaya V". Kodenya sudah saya berikan dalam salah satu artikel sebelumnya, yaitu; "Ya-Banana...Ya-Banana...Ya-Banana".

"Ya-Banana" harus muncul sebagi simbol untuk menggenapi Firman UHAN yang sudah tertulis dalam salah satu Kitab Suci (Perjanjian Lama). Dan Firman itu tidak bisa dibatalkan dengan alasan apapun.

Semoga artikel ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: