Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 20 Januari 2017

TUHAN MAMPU MENULIS LURUS DALAM GARIS BENGKOK (Apa Makna Kemenangan Hillary Clinton Bagi Timor Leste?)


APAKAH THESIS SAYA HARUS DIGUGURKAN?

Sejumlah sahabat (FB'ers) bertanya via inbox;
"Bro Rama Cristo...! Karena Hillary Clinton telah gagal menjadi Presiden Amerike ke-45, apakah thesis anda yang mengatakan; "Di masa depan Timor Leste akan menjadi negara protektorat Amerika harus digugurkan?"


Saya menggolongkan pertanyaan yang saya jadikan sub judul catatan ini, sebagai "pertanyaan anomali" karena seharusnya, pertanyaan yang lebih tepat adalah; "Apa makna kemenangan Donald John Trump bagi Timor Leste?" Karena faktanya, Trump lah yang telah berhasil menduduki Gedung Putih, bukan Hillary.

Ada 3 alasan saya mengangkat "pertanyaan anomali" di atas;

Alasan Pertama;

Karena Hillary Clinton (termasuk suaminya, Bill Clinton/Presiden Amerika ke-42) sudah pernah menapakkan kakinya di Timor Leste. Hillary mengunjungi Timor Leste selama 7 jam, yaitu pada tanggal 6 September 2012, ketika menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Sementara suaminya, Bill Clinton, menghadiri acara "Restaurasi Kemerdekaan Timor Leste, 20 Mei 2002 (saat itu Bill Clinton bersama sejumlah pemimpin negara, termasuk Ibu Megawati Soekarnoputri, ikut begadang di Tassi Tolu Dili hingga dini hari).

Alasan Kedua;

Walau Hillary Clinton gagal menjadi Presiden Amerika ke-45, namun Hillary lah yang telah memenangkan "popular vote" (suara rakyat Amerika).
Hasil hitungan "popular vote" (http://www.nytimes.com/elections/results/president), terhenti di angka; 65844610 untuk (kemenangan) Hillary Clinton, dan 62979636 untuk (kekalahan) Donald Trump.

Dari data ini terlihat bahwa Hillary unggul hampir 3 juta suara atas Trump. Tepatnya Hillary unggul 2864974. Jumlah selisih ini (2864974) jauh melampaui jumlah populasi penduduk Timor Leste saat ini, yang hanya berada di kisaran 1,5 juta jiwa.

Seandainya saja Amerika menganut sistim politik (pemilu) sebagaimana yang dianut di negara-negara lain di belahan bumi ini, termasuk Indonesia & Timor Leste, yaitu berdasarkan "perolehan suara rakyat", maka tentunya seorang Hillary lah yang berhak menduduki Gedung Putih dan bukan Donald Trump.

Alasan Ketiga;

42 hari sebelum berlangsungnya pemilihan presiden, tepatnya tanggal 27 September 2016, saya menerbitkan artikel berseri berjudul; TEATRUM GLORIAM DEI & PEMILU AMERIKA (seri pertama). Artikel tersebut diterbitkan sebanyak 6 seri.

Artikel tersebut bertujuan "menguji thesis" berbunyi; "Cepat atau lambat, Timor Leste akan menjadi negara protektorat Amerika", dengan menempatkan Hillary Clinton sebagai "pemenang pemilu".

Namun faktanya kini, Hillary telah gagal menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45. Maka pertanyaan yang bermunculan adalah; "Apakah thesis: "Di masa depan, Timor Leste akan menajdi negara protektorat Amerika, harus gugur?"


THESIS SAYA TIDAK BISA DIGUGURKAN ATAS 3 ALASAN

Tanpa ragu, saya ingin mengatakan (menafsirkan) bahwa hasil pemilu Amerika tidak menggugurkan thesis saya, berdasarkan 3 alasan berikut;

Alasan Pertama;

Hasil pemilu Amerika, begitu dengan jelas memperlihatkan "rancangan TUHAN yang ajaib" (the marvel design of GOD), dan rancangan TUHAN ini, dapat dijelaskan dengan menggunakan banyak teori. Salah satunya adalah teori yang disebut; "Teori Okasionalisme". 

Ketika saya menyatakan bahwa; hasil pemilu Amerika memperlihatkan "rancangan TUHAN yang ajaib", otak saya sedang memikirkan "pesan Ilahi" yang tertera di halaman 484 salah satu Kitab Suci Perjanjian Lama, yang akan saya jelaskan suatu saat.

Alasan Kedua;

Walau Hillary Clinon gagal menduduki Gedung Putih, namun Hillary lah yang telah memenangkan "popular vote", dengan keunggulan (selisih suara) hampir 3 juta suara.

Hillary memenangkan kekuatan "legitimasi". Sementara Trump memenangkan kekuatan legalitas. Menurut Anda, manakah yang diyakini lebih mencerminkan slogan; Vox populi vox DEI (suara rakyat adalah suara TUHAN)? Apakah suara rakyat (popular vote)? Atau suara Parlamen (Electoral Vote), yang di tahun 2012, oleh Donald Trump, melelaui twitternya, diberi stigma sebagai "bencana bagi demokrasi" (Electoral vote is a disaster for democracy)?"

Alasan Ketiga;

Dari perspektif "Ilmu Bilangan", terlihat jelas bahwa "8 digit bilangan kemenangan" Hillary Clinton, yakni; 65844610, dengan sangat jelas memperlihatkan ID(entitas) Timor Leste, sebagaimana dapat Anda baca di bagian akhir artikel ini.

Mengacu kepada 3 alasan tersebut di atas, saya menarik kesimpulan (yang berdimensi futuristik), bahwa; "Di masa depan, secara "legal standing" (de jure), Timor Leste tidak bisa disahkan (melalui sebuah hukum tertulis = Konstitusi) sebagai negara protektorat Amerika, namun pada "level praxs" (secara de facto), Timor Leste tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari Amerika.

Selama Amerika masih berstatus sebagai negara "adi daya", selama itu pula Timor Leste akan "dicengkeram erat-erat" oleh kuku Amerika. Apakah kemudian "cengkeraman kuku Amerika" ini dianggap sebagai "Amerika memproteksi Timor Leste", itu tergantung dari sudut (perspektif) mana kita menilainya.

Saya dengan sengaja tidak mau menghubungkan "thesis" saya dengan apa yang dikenal dengan istilah; "Perjanjian SOFA" (Status Of Forces Agreement), yang melibatkan Amerika & Timor Leste di dalamnya. Atau dengan kata lain, thesis saya tidak bersub-ordinasi terhadap statemen verbal yang pernah dilontarkan sejumlah petinggi Amerika. Misalnya di masa lalu, mantan Duta Besar Amerika untuk Timor Leste (Mr. Joseph Rees), dalam salah satu "press conference" di Dili, pernah mengatakan;

"Ada dua negara di dunia ini, yaikni Israel & Timor Leste, yang suatu saat, jika mengalami kondisi tertentu dan jika  dipandang perlu bagi Amerika untuk harus melakukan intervensi militer, maka Amerika tidak akan ragu melakukannya tanpa harus menunggu hasil konsensus (persetujuan) masyarakat internasional".

Mengacu kepada data & fakta (empiris), yang dimulai dari Pertemuan Camp David, ketika Presiden Soeharto dan Presiden Gerald Ford bertemu, 5 Juli 1975, semenjak itulah, sejatinya, Amerika mulai secara perlahan namun pasti, mencengkeram erat-erat Timor Leste hingga detik ini dan akan terus demikian, selama Amerika masih berstatus negara adi-daya.

Dan hasil pemilu Amerika 8 November 2016, telah memberikan satu "pesan pasti" bahwa selama Amerika masih berstatus negara "adi daya", Timor Leste tidak akan pernah bisa ke mana-mana.
Untuk itu Timor Leste, kalau berjalan, sebaiknya "berjalan lurus dan jangan terlalu genit melirik ke arah kiri", kecuali karena memang sedang mengalami "hemipharesis" (lumpuh separuh tubuh) .


KENAPA HILLARY CLINTON HARUS MENANG DENGAN BILANGAN YANG MELAMBANGKAN SIMBOL TIMOR LESTE?

Bagi Anda yang menganggap thesis saya harus gugur karena Hillary gagal menduduki "White House", silahkan saja. Tapi saya secara pribadi tidak berani menggugurkan thesis tersebut, selain 3 alasan di atas tadi, sebagai  seorang "Peneliti Bilangan", saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa; hasil Pemilu Amerika, sedang memperlihatkan apa yang saya sebut; "TUHAN mampu menulis lurus dalam garis bengkok".

Faktanya, Hillary Clinton lah yang secara langsung memenangkan pemilu Amerika 8 November 2016 (Waktu Amerika) atau 9 November 2016, waktu Nusantara (saya sengaja menggunakan terminologi "Nusantara", agar mencakup Timor Leste di dalamnya).

Jika thesis saya harus digugurkan (Timor Leste tidak akan pernah menjadi negara protektorat Amerika), maka pertanyaannya adalah; "Mengapa bilangan kemenangan Hillary Clinton; 65844610, harus melambangkan simbol ID(entitas) TIMOR LESTE?"

Bagaimana cara membuktikannya? Caranya sangat sederhana. Karena Konstitusi Timor Leste mengadopsi Bahasa Portugis sebagai "bahasa resmi", maka coba lafalkan 8 digit bilangan kemenangan Hillary (65844610) dengan menggunakan Bahasa Portugis.

Maka secara leteral, 65844610, pasti akan tertulis sebagai-berikut; 6=SEIS, 5=CINCO, 8=OITO, 4=QUATRO, 4=QUATRO, 6=SEIS, 1=UM, 0=ZERO. Nah, setelah itu lakukan konversi semua frasa (8 kata) dalam Bahasa Portugis di atas ke dalam bilangan, dengan menggunakan sistim konversi; "Latin Gematria".

SEIS=52 , CINCO=44, OITO=59, QUATRO=92, QUATRO=92, SEIS=52 , UM=34, ZERO=64. Lalu dijumlahkan. Hasilnya ternyata sama dengan; 52+44+59+92+92+52+34+64 = 489.

Setelah itu, coba Anda konversikan frasa TIMOR LESTE ke dalam bilangan dengan menggunakan sistim konversi; "Gematria Yahudi" (atau yang biasa disebut; Bilangan Pythagoras).

Hasil konversi frasa TIMOR LESTE menggunakan sistim konversi "Gematria Yahudi" ternyata paralel dengan bilangan kemenangan Hillary Clinton (65844610), yaitu memunculkan angka "489".

TIMOR; T=100, I=9, M=30, O=50, R=80. Total = 269.
LESTE; L=20, E=5, S=90, T=100, E=5. Total = 220
Jumlahkan; TIMOR + LESTE = 269 + 220 = 489.


Karena bilangan adalah simbol matematika, dan matematika adalah simbol yang mewakili logika (rasio) manusia, maka dari data dan fakta di atas, secara logika, membawa saya tiba pada satu kesimpulan bahwa hasil Pemilu Amerika, 8 November 2016, sedang menyampaikan pesan dari Surga bahwa; "TUHAN mampu menulis lurus dalam garis bengkok".

Untuk itu saya tidak berani menggugurkan thesis saya. Kalau ada di antara Anda mau menggugurkan, ya silahkan saja.

Saya ingin mengakhiri catatan ini dengan mengatakan bahwa kemunculan Donald John Trump sebagai orang ke-45 yang berhasil menduduki Gedung Putih, adalah bagian dari revolusi.

Dan Bung Karno berkata bahwa; "Setiap revolusi selalu memakan korban". Kira-kira siapakah yang harus menjadi korban?

Jawabannya ada pada nasehat dari eyang "Heinrich Heine", yang berkata bahwa; "Sebuah revolusi, entah berhasil atau gagal, manusia-manusia berhati luhur akan selalu menjadi korban". (Heinrich Heine; Kritikus dan sekaligus Penyair Lirs Jerman yang pernah hidup antara tahun 1779 - 1856).

Semoga catatan ini bermnafaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".

TUHAN YESUS memebrkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: