Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Minggu, 25 Desember 2016

TAUR MATAN RUAK PANGERAN SURYA ASLI ATAU PALSU? (3)




Pada Hari Minggu, 13 Juli 1997, saya bertemu Pak Gubernur Abilio Jose Osorio Soaes bersama iparnya; Senhor Eurico Lemos, di Bandara Ngurah Rai Tuban Bali.

Dalam pertemuan tersebut kami membahas sejumlah isu, termasuk “clash” antara dua Anggota IMPETTU Bali, yaitu; Sdr. Toto dan Compaheiro Belchior Bento. Hari itu Pak Gubernur sempat menanyakan isu tersebut.


Saya bilang saja; “kasusnya telah selesai. Saya datang mendamaikan keduanya di Gang Tanjung Sanglah Denpasar. Saya menganggap kasus ini sekedar sebagai “kenakalan anak muda”. Saya tidak menyangka kalau “clash” antara keduanya akan terdengar sampai ke telinga Pak Gubernur.

Nah, dalam pertemuan tersebut dibuatlah “perjanjian” bahwa saya akan harus bertemu Pak Gubernur di Dili Timor-Timur untuk membicarakan sejumlah isu mengenai IMPETTU (Ikatan Mahasiswa Pemuda & Pelajar Timor-Timur). Kebetulan saat itu saya adalah Ketuanya.

Dan di bulan Desember 1997, saya berangkat ke Dili setelah kembali dari Malang Jawa Timur. Dan Sabtu, 20 Desember 1997, saya datang ke Kantor Gubernur Dili. Tempat itu saat ini dijadikan sebagai Kantor Perdana Menteri Timor Leste.

Sayangnya, hari itu Pak Gubernur banyak menerima tamu. Akibatnya saya tidak bisa bertemu Beliau. Oleh Ajudan Beliau, Bapak Luis, saya disuruh menuliskan namaku di buku tamu, untuk dijadwalkan bertemu Pak Gubernur pada hari Senin, 22 Desember 1997.

Saya lalu menuliskan namaku, jabatanku (Ketua umum IMPETTU Bali), dan tujuanku ingin bertemu. Waktunya, Senin, 22 Desember 1997. Karena formatnya seperti itu yang tertera di buku tamu.

Setelah itu saya tinggalkan Kantor Gubernur. Maunya naik taxi. Tapi karena sudah bertahun-tahun tidak pulang ke Dili, saya memutuskan untuk berjalan kaki saja agar bisa melihat-lihat keadaan kota Dili. Hitung-hitung, “cuci mata”.

Saya berjalan dari Kantor Gubernur menuju Kantor Telkom Dili. Dan memutuskan untuk menelfon Prof. Lucas yang saat itu, Desember 1997, sedang menyelesaikan pendidikan Doktoralnya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya. Saat itu Beliau tinggal menunggu untuk maju Ujian Disertasi.

Saat saya telfon, ternyata Prof. Lucas sedang pergi ke Kampus untuk mengajar. Yang menerima telfon adalah keponakannya (Aida Solange Goncalves).

Karena Prof. Lucas sedang tidak ada di rumah (mau kontak langsung, tidak mugnkin karena jaman itu, 1997, belum ada HP), maka saya titipkan saja pesan kepada Aida.


"Nanti setelah “Tiu” pulang sampaikan pesanku agar Tiu harus selalu waspada. Kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya satu dua minggu ke depan jangan keluar rumah sama sekali. Karena Beliau sedang diincar untuk “diamankan”. Tiu diam di rumah saja untuk sementara ini". Setelah itu saya langsung menutup telfon.

Aida masih sempat mencoba untuk bertanya; “Ada masalah apa?” Tapi saya langsung “off”, karena saat itu uangku tidak cukup untuk membayar beaya telfon (SLJJ = Sambungan Langsung Jarak Jauh Dili-Surabaya). Di siang bolong lagi. Beayanya tinggi sekali.

PROF. LUCAS DITANGKAP DI HARI KE-163

Ternyata apa yang terjadi? Begitu Prof. Lucas pulang dari mengajar, Aida lupa menyampaikan pesanku. Hanya selang 3 hari, tepatnya pada Selasa, 23 Desember 1997, Prof. Lucas ditangkap, saat dalam perjalanan ke Kampus. Mobilnya diapit dari depan dan belakang. Saat itulah muncul orang-orang yang tidak dikenal.

Langsung membuka mobil Beliau, dan tiba-tiba pandangan Prof. Lucas menjadi gelap. Beliau kemudian dinaikkan ke dalam mobil lain milik “kawanan tanpa nama”, kemudian dengan mata tertutup Beliau dibawa pergi entah ke mana?

Kira-kira ada yang bisa menjelaskan; "Mengapa Prof. Lucas harus ditangkap di hari ke-163?"
Hari ke-163 ini dihitung dari pertemuanku dengan Gubernur Abilio, 13 Juli 1997, hingga 23 Desember 1997, Prof. Lucas ditangkap.


DIKIRA TERLIBAT DALAM KEJADIAN BOM DI SEMARANG

Prof. Lucas ditangkap karena diduga memiliki peran dengan “bom” di Semarang. Tapi akhirnya Beliau dilepaskan karena tidak terbukti terlibat. Beliau ditangkap dan disekap selama “22 hari” (DUA PULUH DUA HARI). Ditangkap pada 23 Desember 1997. Dilepaskan pada 14 Januari 1998.

Beliau pada akhirnya memang dibebaskan, setelah menjalani tahanan dengan “turtura” (penyiksaan) selama 22 hari (23 Desember 1997 – 14 Januari 1998).

Saya pertama kali mendengar Beliau ditangkap, justeru saat saya sedang berada di Gleno Ermera, ketika menghadiri acara pernikahan Sdr. Toto, salah satu Keluarga Bupati Ermera saat itu, Bapak Clementino Soares.

Yang menyampaikan berita itu ke saya, adalah Dona Eufrazia, kakak kandung Dona “G” (Dona “G” adalah salah satu kader FRETILIN, yang sangat dekat dengan Prof. Lucas. Hau lakohi aumenta naruk tan porque orsida…????).

Akhirnya, Prof. Lucas dilepaskan tapi saying sekali, mobil mewahnya yang masih mulus lus lus… raib. Saat bertemu dengannya di Perumahan Babatan Pilang Surabaya, Februari 1998, saya mencoba menghibur Beliau. “Yang penting Tiu selamat. Masalah mobil bisa dicari lagi. Anggap saja buang sial”.

Setelah Beliau bebas, barulah Aida bercerita mengenai telfonku (SLJJ Dili Surabaya), Sabat, 20 Desember 1997. Mendengar itu, Prof. Lucas marah besar. Nyaris saja Aida ditampar gara-gara lupa menyampaikan pesanku.

Setelah Aida batal ditampar, malah berbalik saya yang jadi sasaran. Prof. Lucas mulai mencurigaiku. Beliau mulai “parno”. Jangan-jangan manumean itu seorang “mauhu” (baca: mata-mata). Beliau mulai berasumsi, membangun teori-teori yang penuh spekulatif. Bermunculah lah berbagai pertanyaan.

“Bagaimana mungkin dia tahu saya akan ditangkap, sementara dia berada di Dili dan saya berada di Surabaya?? Jangan-jangan dia bekerja sama dengan “aparat” BIN (Badan Intelijen Negara)?”
Akhirnya, Prof. Lucas langsung menelfon adiknya, Tiu Raimundo Goncalves di Massau Dili.

Tiu Raimundo diperintahkan untuk menemuiku sesegera mungkin dan saya diminta segera meinggalkan Dili menuju Surabaya. Beaya perjalanan Dili-Surabaya ditanggung.

Kirain naik pesawat. Tidak tahunya disuruh naik kapal. Kapalnya juga bukan kapal besar seperti “DOBEN-SOLO” (baca: Dobonsolo). Saya malah naik kapal berukuran kecil, bernama; PANGRANGO.

Setelah menerima telfon dari Sang Kakak, saya ditemui Tiu Raimundo. Saya diminta, agar tidak langsung pulang ke Bali, melainkan harus ke Surabaya dulu baru kemudian ke Bali.

Saya diberi uang Rp 200.000 oleh Tiu Raimundo. Tapi uang Rp 200.000 saat itu (1998), nilainya sangat besar. Akhirnya pada 25 Februari 1998, pagi-pagi buta, sekitar jam 5, saya meninggalkan Dili menumpang Kapal Laut PANGRANGO, sebuah kapal berukuran kecil, menuju Surabaya. PANGRANGO adalah nama sebuah gunung di Jawa Barat.

Anehnya frasa PANGRANGO jika dikonversikan ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi; Gematria Yahudi, nilai numeriknya justeru sama dengan “286” (paralel dengan namaku; Antoninho Benjamim Monteiro yang juga menghasilkan angka 286), jika dikonversi dengan sistim Latin Gematria.

Mungkin aku lebih berjodoh dengan PANGRANGO kecil, ketimbang dengan “DOBEN-SOLO” yang berukuran besar.

Prof. Lucas ditangkap karena alasan BOM (di Semarang). Kira-kira ada yang bisa menjelaskan; "Apa hubungan BOM dengan AIR LAUT yang akan mengunjungi Dili di tahun yang akan datang?"


DUA HARI DUA MALAM BERADA DI LAUT

Akhirnya 25 Februari 1998, saya meninggalkan Dili menuju Surabay. Perjalanan itu sangat menyenangkan. Itulah untuk pertama kalinya saya naik “kapal laut”. Perjalananku sebelumnya selalu dengan pesawat. Atau “bis malam” (Bali- Jawa).

Salah satu figur yang ikut menumpang Pangrango saat itu adalah mantan pemain Nasional Indonesia, Sdr. Miro Baldo Bento. (orang kelahiran Timor-Timur yang tercatat sebagai Top Scor Piala Tiger, yang saat ini berganti nama menjadi; Piala AFF ).

Saya sengaja menyebutkan nama Miro Baldo Bento, dan bukan yang lain, karena figur ini dikenal cukup luas di Indonesia maupun di Timor-Timur (jaman itu).

Selama kurang lebih 2 hari lamanya saya berada di laut. Tepat pada Jumat, 27 Februari 1998, sekitar pukul 11 malam, PANGRANGO merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Tanjung Perak beda dengan Tanjung Priuk yang terletak di Jakarta.

Sedih rasanya harus berpisah dengan PANGRANGO. Saya kemudian naik angkutan umum menuju Terminal JOYOBOYO di Daerah Wuyung. Dari Terminal Joyoboyo saya teruskan naik angkutan umum menuju rumah Prof. Lucas di Perumahan BABATAN PILANG.

Saya sempat nyasar sekitar dua jam lebih dan baru bisa menemukan ruamh Prof. Lucas pukul dua dini hari. Yang membukakan pintu gerbang untuk saya adalah Manoca (bukan MONACO). Manoca adalah Puteri Sulung Prof. Lucas.

Saat itu Prof. Lucas sudah tidur. Tapi begitu tahu saya tiba, Beliau langsung bangun dan kami berdua mengobrol sampai pagi hari. Dalam obrolan dengan Prof. Lucas saat itu, saya sempat bertanya; “Bagaimana tanggapan Pak Xanana?”

Beliau bilang; “Xanana meminta saya istirhat dulu selama sekitar 6 bulan” untuk memulihkan banyak hal”.

Tentunya saat itu hubungan Beliau dengan Pak Xanana masih harmonis. Meskipun di kemudian hari, hubungan keduanya “memburuk” dalam tanda kutip (yang satu menerapkan apa yang saya namakan; PPE = praktek politik eliminasi, untuk membangun hegemoninya).


Prof. Lucas bertanya; "Saya meminta kamu harus mampir kemari karena saya ingin tahu bagaimana kamu bisa mengetahui kalau saya akan ditangkap? Padahal kamu ada di Dili dan saya ditangkap di Surabaya? Jangan-jangan kamu bekerja sama dengan BIN?"

Saya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Beliau, kemudian berkomentar (asbun = asal bunyi);

"Begini Tiu, kalau saya ini mauhuu, yang suka jual kepala manusia, saya sudah kaya raya saat ini. Jangan kan kaya raya. Makan aja bon di warung. Tubuh kurus kering tinggal tulang doang".

Saya kemudian menambahkan; "Saya mengetahui Tiu akan ditangkap setelah menabrak tiang listrik di gerbang Kantor Telkom Dili". 

Di sela-sela obrolan, saya kembali bertanya; “Bagaimana kalau Tiu istirahat total saja. Jangan lagi terlibat dalam kegiatan apapun yang berkaitan dengan perjuangan Kemerdekaan Timor Leste. Nanti ditangkap lagi lho?”


“Tidak bisa. Ibarat tinju, saya tidak bisa gantung sarung tinju hingga titik darah penghabisan. Masalahnya banyak sekali orang-orang baik yang telah gugur dalam perjuangan ini”.

Beliau menjawabnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena saya melihat di pelupuk matanya mulai tergenang cairan bening.

Mungkin saat itu Beliau hendak menangis gara-gara teringat kejadian yang sulit dilupakan. Suatu hari saat akan menyerang pos TNI, “kakinya tertembak” oleh Baret Merah (KOPASSUS) di Natarbora Manatuto, kemudian teman-temannya melarikan diri dan Beliau ditangkap. Jika Anda melihat Beliau jalannya “pincang”, itu bukan gara-gara Beliau “nyolong” mangga tetangga lalu kakinya ditebas pakai golok.

Kami berdua terus mengobrol hingga pagi. Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba Companheiro Alturas (Virgilio Guterres) muncul dari kamar sebelah. Companheiro Alturas adalah “membro jurado Renetil, yang di kemudian hari menjabat sebagai Persiden AJTL = Asosiasi Jurnalis Timor Leste). Pada “jaman perjuangan fisik”, sempat ikut menikmati indahnya Hotel Prodeo LP Cipinang Jakarta.

SEBULAN LEBIH TINGGAL DI TERMINAL JOYOBOYO GARA-GARA BACA BUKU  PROF. HAWKING

Selama tinggal di rumah Babatan Pilang, kami (saya, Companheiro Zito/Jotha So dan Zizinho), hampir tiap hari kerja “rodi” (jadi “kuli bangunan)”, mengerjakan “rumah tingkat Beliau. Dan akhirnya masa kebebasanku tiba. Saya ingat betul kejadian itu.

Tanggal 18 Maret 1998 siang hari, entah kenapa, tiba-tiba saja saya diberi sebuah buku bagus oleh Prof. Lucas. Saat itu saya sedang keasyikan menonton seekor ikan-ikan yang berenang kesana kemari di akuariumnya Prof. Lucas.

Lalu Beliau tiba-tiba memanggil saya dan memberi saya buku unik tersebut. Saya disuruh Beliau harus membaca buku tersebut. Buku itu berbahasa Inggris, berjudul; A BRIEF STORY OF TIME, karya Kosmolog kenamaan Inggris, “Stephen William Hawking”, satu-satunya Ilmuwan jaman ini yang memenangkan award (hadiah) level “Lucassian”, hadiah yang hanya bisa dimenangkan Ilmuwan Inggris lainnya, Isaac Newton.

Sayangnya di kemudian hari Professor jenius itu harus menderita ASL, di mana seluruh “saraf motoris” lumpuh total. Tidak bisa bicara, tidak bisa angkat tangan, termasuk tidak bisa berjalan dan hanya duduk di kursi roda.

Itulah ciri khas ASL. Tapi bukan ACL ya. Kalau ACL itu yang menderita; Andik Vermansyah. Makanya Timnas Garuda gagal juara AFF tahun ini. (ASL dan ACL itu apaan ya?)

Begitu membaca buku tersebut, saya merasa sangat tertarik dan terus membacanya hingga malam hari. Salah satu bab dalam buku itu berbicara mengenai “black hole” (lubang hitam) yang ada di Matahari.

Saya terus membaca buku itu hingga tengah malam dan akhirnya jatuh tertidur. Nah, dalam tidur itulah saya bermimpi aneh. Berdasarkan mimpi aneh tersebut, keesokan harinya, 19 Maret 1998, saya langsung mohon pamit ke Prof. Lucas dan Ibu Dayu, dengan alasan mau pulang ke Bali. Padahal, saya mau mengungsi dan tinggal di Terminal Joyoboyo.

Saya mengambil barang bawaan saya alakadarnya dan meminggalkan rumah Prof. Lucas, 19 Maret 1998. Saya tinggal di Terminal Joyoboyo selama sebulan lebih. Penampilan saya benar-benar sulit dibedakan dengan “gepeng” (gelandangan dan pengemis). Kerjaan saya tiap hari main CATUR.


Jare wong Jowo; “Pokok’e saban dino main CATUR. Mari main CATUR, turu. Mari turu, tangi, golek mangan. Mari mangan, main CATUR maneh”. 

Saya mengalami sejumlah kejadian aneh selama sebulan lebih tinggal di Terminal Joyoboyo. Termasuk kejadian aneh di mana TUHAN YESUS menampakkan Diri-Nya saat saya tertidur di Terminal Joyoboyo, pada Hari Jum’at Agung, 10 April 1998.

Karena itulah dalam makalahku berjudul; KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB, yang terdiri dari 7 bab, di bab 4, saya beri judul; “TERMINAL JOYOBOYO JUM’AT AGUNG 10 APRIL 1998”.

Sebagaimana saya telah kisahkan di seri kedua artikel ini, saya mengirimkan makalah tersebut ke Timor Leste, melalui Bapak Cristino Gusmao, Selasa, 21 November 2006.

Dan dalam makalah tersebut, di halaman 17, saya tuliskan bilangan triple “666” dan “888”. Di balik bilangan triple “666” ini, saya sedang menyembunyikan nama; JOSE MARIA DE VASCONCELOS yang memenangkan Pilpres 2012.

Karena itulah, di tahun 2011, ketika Prof. Lucas mengutus dua Pembantunya (PR I dan PR II) menemui saya dan meminta saya di Ruangan Sekretariat FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat), dengan tujuan untuk meminta saya jangan dulu berangkat ke Bali (karena ingin menarik saya gabung dengan “Tim Sukses”), saya menolak dengan halus dan “ngotot” meninggalkan Dili dan kembali ke Bali, dengan segala resiko.

Dan pada akhirnya saya memang dipecat sebagai dosen tetap Unpaz tanpa keterangan sama sekali. Semenjak bulan September 2011, gaji saya sebagai dosen tetap sudah dihentikan. Hanya gaji Ibu Honoria dan Ibu Marilia yang dikirim.

Jadi saya dipecat bukan karena alasan di tahun 2012 saya meninggalkan MIKMUNUD III dan menyeberang ke Program Magister KEDOKTERAN OLAHRAGA, baru gaji saya dihentikan.
Di tahun 2012, saya mendengar selentingan (khabar burung) dari seorang wanita yang saat itu sedang berada di Malaysia, yang mengabari saya bahwa; “Rektor memecat saya gara-gara saya pindah Program Studi tanpa konsultasi lebih dulu.

Saya ingin sekali katakan bahwa; “Itu asli HOAX. Bukan NEWS. Antara HOAX dan NEWS itu berbeda”.

BAGAIMANA MENGKONVERSI “666” MENJADI;”JOSE MARIA DE VASCONCELOS?”

Caranya mudah sekali. Sebagaimana telah dikerjakan sahabatku; Ijonk Satriani kemarin. Kita lafalkan saja angka “666” menjadi; ENAM ENAM ENAM. Kemudian konversikan frasa ENAM ini dengan menggunakan sistim konversi “Gematria YAHUDI”.

Maka frasa ENAM akan menghasilkan “76”. ENAM; E=5, N=40, A=1, M=30. Dijumlahkan; 5+40+1+30 = 76. Maka ENAM ENAM ENAM, tinggal dikalikan saja, yakni; 76X3 = 228.
Nah, jika kita jumlahkan hasil nama baptis Presiden JOSE MARIA DE VASCONVELOS dengan menggunakan “Latin Gematria”, hasilnya juga = 228.

JOSE = 49, MARIA = 42, DE= 9, VASCONCELOS = 128.
Setelah itu tinggal dijumlahkan saja; 49 + 42 + 9 + 128 = 228.

Gampang bukan? (Kalau sudah dikasih tahu ya jelas gampanglah).

Namun yang mengejutkan adalah;

“Kenapa kok nama JOSE MARIA DE VASCONCELOS, selain memiliki nilai numerik yang equivalen dengan nilai numerik dari; "666", juga paralel dengan nama Negara AMERICA (UNITED STATES OF AMERICA)??

JOSE MARIA DE VASCONCELOS = 228
UNITED STATES OF AMERICA = 228
666 (ENAM ENAM ENAM) = 228
 
Mengapa bisa begitu? Kira-kira yang mana yang adalah simbol Anti KRISTUS dan yang mana yang adalah simbol KEKAYAAN SALOMO? Semoga ada di antara Anda yang bisa menjelaskannya?


Saya ingin mengakhiri seri ke-3 ini dengan sejumlah pertanyaan sebagai bahan renungan, yaitu;

(1). Mengapa "jarak waktu" antara tanggal pertemuan saya dengan Gubernur Abilio di Bandara Ngurai Rai Bali (13 Juli 1997), dengan tanggal di mana saya menelfon dari Dili ke Surabaya (20 Desember 1997), harus berjumlah "160" hari? Apakah angka "160" ini berhubungan erat dengan dua isu di bawah;

TAUR MATAN RUAK = 160
PANGERAN SURYA = 160

Apakah saat menelfon itu, saya hitung dulu jarak wkatu 160 hari? Atau saya sala telfon tanpa membuat hitung-hitungan lebih dulu?

(2). Mengapa "jarak waktu" antara tanggal pertemuan saya dengan Gubernur Abilio (13 Juli 1997) dan tanggal Prof. Lucas ditangkap (23 Desember 1997), harus berjumlah "163" hari?

Adakah hubungan bilangan "163" ini dengan 4 isu di bawah;

(a). Korem 163 Wira Satya Denpasar Bali
(b). Surya Majapahit (yang nilai numeriknya = 163).
(c). SOL INVICTUS (yang nilai numeriknya = 163).
(d). Judul artikel ini yang tanpa "kopula?" (PRESIDEN TAUR MATAN RUAK PANGERAN SURYA ASLI ATAU PALSU)???


SOL INVICTUS itu adalah Bahasa Latin, yang artinya; SANG SURYA YANG TAK TERKALAHKAN.

Apakah TAUR MATAN RUAK adalah; SANG SURYA YANG TAK TERKALAHKAN?

Jika jawabannya YA, mengapa Beliau lahirnya 10 Oktober? Bukan pada tanggal yang bergelar; SANG SURYA YANG TAK TERKALAHKAN? (Menurut Anda tanggal kelahiran yang mana yang disebut; SANG SURYA YANG TAK TERKALAHKAN? Adakah referensi tertulisnya?)

(3). Mengapa dari dimensi waktu, yang terdiri dari 3 elemen waktu (20 Dsember, 23 Desember dan 14 Januari), jika dijumlahkan, harus menghasilkan bilangan triple; 555? Ada apa di balik 555 ini?


(4). Dalam artikel ini saya sengaja menyebutkan frasa CATUR sebanyak 4X. Adakah hubungan frasa CATUR dengan "GEMPA" yang mengguncang Dili, tanggal 21 Desember 2016?"


(5). Mengapa Prof. Lucas ditahan selama "22 hari"? Adakah hubungannya dengan triple bilangan 555? Jika ada bagaimana menjelaskannya?

 (6). Setelah membaca buku A BRIEF HISTORY OF TIME, saya mengungsi ke Terminal Joyoboyo. Kira-kira apa hubungannya dengan judul utama artikel ini yang sengaja tidak saya tuliskan frasa "kopula (TAUR MATAN RUAK PANGERAN SURYA ASLI ATAU PALSU)?

Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam dan putih). Amin.

Bersambung

Tidak ada komentar: