Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 05 Desember 2016

SEBELUM PENYERBUAN KE DILI (AS: "Jangan Gunakan Alutsista Kami")


Tanggal 5 Desember 1975, Presiden Soeharto menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Gerald Ford. Salah satu yang mendapat pembahasan utama adalah kekalahan AS dalam perang Vietnam.

Saat itu dunia meyakini adanya ‘efek domino’. Jika satu negara non-komunis jatuh ke tangan komunis, maka negara di sekitarnya akan ikut pula menjadi komunis. Hal ini terbukti setelah Vietnam, Kamboja pun jatuh ke tangan Khmer Merah.


Presiden Soeharto memaparkan kondisi di Timor Portugal. Sejumlah partai kiri menguasai negara bekas jajahan Portugis tersebut. Indonesia mengisyaratkan akan menggunakan kekuatan militer untuk mencegah negara itu jatuh ke tangan komunis dan menjadi pangkalan Uni Soviet di Asia Tenggara.

Tidak ada sanggahan dari Presiden Gerald Ford. Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbitkan Kata.

Namun Menlu AS Henry Kissinger meminta agar Indonesia tak menggunakan alutsista buatan AS. Termasuk pesawat C-130 Hercules yang menjadi andalan TNI AU untuk menerjunkan satu brigade pasukan elite Angkatan Darat.

“Kalau tidak ada Hercules, apa ada alternatif lain?” balas Menlu Adam Malik.

Di tempat lain Istana Merdeka, Kepala National Security Council Letnan Jenderal Brent Scowcroft menggelar pertemuan dengan Asisten Intelijen Hankam/ABRI Mayor Jenderal Benny Moerdani. Masalah yang dibahas sama, pertanyaan Jenderal Scowfort pun sama.

“Do we have other choice?” jawab Benny, sama seperti jawaban Adam Malik pula.

Saat itu kekuatan TNI AU memang sangat terbatas. Pesawat canggih era 1960an seperti MiG dan TU-16 tak bersisa satu pun gara-gara Indonesia memutuskan hubungan dengan Blok Timur.

Selesai pertemuan sekitar pukul 11.30 WIB, Presiden AS meninggalkan ruangan. Menlu Kissinger berbicara pada Benny.

“Timor adalah masalah kalian, tapi lakukan penyerbuan setelah pesawat kepresidenan AS meninggalkan wilayah udara Indonesia,” pesan Kissinger.

Benny menyanggupinya. Penyerbuan itu memang direncanakan kurang dari 24 jam setelah Presiden AS meninggalkan Indonesia.

Di bandara yang sama dengan pesawat AS tinggal landas, Pasukan Nanggala dari Grup I Kopasandha sudah bersiap naik Hercules. Mereka akan terbang ke Madiun untuk bergabung dengan Batalyon 501 Linud Kostrad.

Benny sempat memberikan briefing pada para perwira yang akan berangkat.
“Para perwira, saya serahkan perebutan Dili pada kalian. Saya percaya kalian akan berhasil, tetapi saya tahu di antara kalian ada yang akan gugur besok,” kata Benny dingin.

7 Desember 1975, pasukan gabungan Nanggala dan Batalyon 501 Linud Kostrad diterjunkan di atas Kota Dili. Operasi Lintas Udara itu tercatat sebagai penyerbuan terbesar di Asia Tenggara.

Benny benar. Dili bisa direbut hari itu juga. Namun 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501 gugur pada invasi hari pertama. Perang gerilya di Timor Timur terus berlanjut hingga puluhan tahun kemudian.

Merdeka


Tidak ada komentar: