Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 10 Desember 2016

PD DI DADAKU TAPI SUPERMI & NASI BUNGKUS DI PERUTKU "Apakah Dalam Pilpres 2017 Akan Kembali Muncul Nama JOSE?" (bagian 4)


"Pesan Ilahi di balik nomor rekening Renetil, 10 Desember 2010
Menjelang Pilpres Timor Leste 2017, banyak sahabat bertanya;
"Apakah Presiden Timor Leste mendatang akan kembali muncul nama; JOSE?" Menurutku, ini pertanyaan menarik.

Pertanyaan ini muncul dikarenakan, berdasarkan data dan fakta (empiris), semenjak Timor-Timur "berpisah" dari Indonesia (saya tidak menggunakan terminologi "merdeka" dari Indonesia karena pada tataran politis, konotasinya berbeda), 3 Presiden yang secara demokratis terpilih melalui "pemilihan langsung", nama depannya, selalu "JOSE".


Pada Pilpres I muncul nama; JOSE Alexandre Gusmão.
Pada Pilpres II muncul nama; JOSE Manuel Ramos Horta
Pada Pilpres III muncul nama; JOSE Maria Vasconcelos
Mungkinkah pada Pilpres 2017 kembali muncul nama JOSE?

Untuk "mengintip", apakah pada Pilpres 2017, akan kembali muncul tokoh yang memiliki nama depan JOSE atau tidak, sebagai "peneliti bilangan", saya mengajak Anda menyimak kisah berikut, guna menemukan jawaban atas pertanyaan di atas.

MEMBANGUN SOLIDARITAS SOSIAL DENGAN KAUM MISKIN

Enam tahun lalu, tepatnya 1 Desember 2010, Compaheiro Ir. Chiquito Belo (Francisco Jmf Belo), Sekjen Renetil, kembali dari Paris Perancis dan mampir di Bali.

Beliau diundang ke Perancis, mewakili Renetil untuk menghadiri sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kaum muda.

Selama sahabatku itu berada di Bali, kami bertemu beberapa kali. Suatu malam sahabatku itu mengajak saya makan malam bersama dua teman lainnya, di salah satu restoran "China" di kawasan Jl. Raya Kuta Tuban Bali.

Malam itu ada kami berempat, yakni; saya, Sdr. Ciquito dan dua sahabat lainnya, Companheiro Sigis (mahasiswa Pascasarjana Teknik Eelektor Universitas Udayana/Unud) dan Sdr. Alipio Baltazar, Staf ADB (Asia Development Bank) Timor Leste yang kebetulan sedang berada di Bali saat itu.

Mengingat saya sedang dalam masa puasa "tidak makan daging" (daging matang maupun daging mentah), maka malam itu saya tidak "ikutan" menikmati daging yang memenuhi meja makan kami.
Kebetulan saat itu saya masih tinggal di Perum Puri Gading JIMBARAN bersama sejumlah keponakan, maka saya minta sebagian daging itu dibungkus buat keponakan-keponakanku.

Ketimbang dibuang, bukan hanya mubazir tapi juga tambah dosa, sebab ada jutaan manusia di "luaran" sana yang, untuk makan nasi putih saja setengah mati, apalagi makan daging yang mahal.

Konon, ada sejumlah negara di Eropa, menerapkan aturan yang sangat ketat untuk membangun "solidaritas sosial" dengan kaum marjinal/kaum miskin, yaitu; setiap orang yang makan di restoran, dilarang memesan makanan yang berlebihan hanya untuk sekedar "pamer" tapi tidak memakan makanan itu sampai habis.

Dan ujung-ujungnya makanan-makanan tersebut jadi mubazir karena harus dibuang, sementara ada jutaan manusia miskin di luar sana (salah satunya adalah saya sendiri, karena saya 3 hari makan 1X, bukan 1 hari makan 3X) yang mengalami starvasi (kelaparan berat) dan kemudian harus menderita "malnutrisi" (contohnya di negara-negara Afrika, salah satunya Ethiopia, ditambah dengan Timor Leste sendiri sebagai salah satu negara termiskin di Asia).

Apalagi harga minyak saat ini sedang turun yang tentunya akan berdampak sangat buruk bagi perekonomian Timor Leste yang hanya mengandalkan minyak sebagai satu-satunya "maskot" devisa negara. Apalagi beras juga harus impor??

Mungkinkah karena orang Timor Leste (maaf, termasuk orang Indonesia) adalah orang-orang yang karakternya "malas"?

Masa', memiliki negeri yang ada ladang-sawahnya, (milik Indonesia begitu sangat luas) sebagai anugerah dari TUHAN, kok harus mengimpor beras dari negara lain? (Vietnam atau Thailand ya?).

Causanya ada di mana? Apakah orang-orangnya adalah manusia-manusia malas? Ataukah iklimnya yang buruk sehingga gagal panen? Atau pemerintah kedua negara ini memiliki "sistim pertanian" yang buruk? Karena menurutku hanya 3 faktor itu sebagai penyebab utamanya. Tidak ada faktor determinan lain.

Singapura dengan wilayah yang sangat kecil, tidak memiliki tanah sehingga harus "mengangkut tanah" dari negara lain untuk ditimbun di sana, tapi kok malah muncul sebagai negara yang perekonomiannya kuat??? Kenapa bisa begitu??? Setelah dipikir-pikir, ternyata causanya ada di "otak & mental manusianya".

BERMIMPI ANEH SETELAH PULANG DARI KUTA

Setelah makan malam, kami bubar. Saya kembali ke JIMBARAN. Tiba di JIMBARAN, saya meletakkan bungkusan berisi daging itu di dapur, kemudian gosok gigi, basuh muka, basuh kaki lalu tidur.

Baru saja berbaring, saya langsung bermimpi aneh. Saya kembali bangun dan menuju dapur untuk membuka bungkusan daging tersebut. Ternyata di antara daging yang dibungkus itu (tentu saja tidak ada "daging babi" di dalamnya karena 3 keponakanku bersama Ibunya beragama Islam), saya menemukan daging berupa "kepala seekor binatang".

Kepala binatang tersebut, ada hubungan erat dengan Perancis dan Amerika. Akhirnya malam itu juga saya mulai menulis naskah berjudul; TEATRUM GLORIAM DEI & PEMILU TIMOR LESTE.

Naskah tersebut setebal 7 halaman. Dalam naskah tersebut, saya sampaikan usulan kepada Renetil untuk membuka rekening di Bank Mandiri dengan menyetorkan dana awal sebesar "$777 USD" (tujuh ratus tujuh puluh tujuh dollar Amerika).

Dan rekening tersebut harus dibuka tepat pada tanggal 7 Desember 2010, untuk mengenang genap 35 tahun "invasi berdarah" TNI, di mana Otoritas Jakarta mengangkut Pasukan TNI dari Bandara Iswahyudi Madiun Jawa Timur dan menerjukannya di Kota Dili, pada Minggu pagi 7 Desember 1975.

Pada tanggal 5 Desember 2010, Companheiro "Chiquito" meninggalkan Denpasar menuju Dili, membawa naskah 7 halaman tersebut. Tiba di Dili, ternyata pada tanggal 7 Desember 2010 Bank Mandiri Dili tutup. Saya sendiri lupa kalau di Timor Leste, 7 Desember diadopsi sebagai "hari libur nasional" untuk memperingati "invasi TNI".

Saya tidak mengatakan "invasi Indonesia", karena "invasi berdarah" tersebut, tidak dibicarakan lebih dulu di tingkat Parlamen.

Begitu Presiden Gerald Ford bersama rombongan meninggalkan Jakarta pada hari Sabat, 6 Desember 1975 untuk kembali ke USA menggunakan "Air Force One", dan pada keesokan harinya, Minggu pagi buta, 7 Desember 1975, sebanyak 555 Anggota TNI (terdiri dari 270 Anggota Grup I Kopassandha & 285 Anggota Linud 501), berhasil diterjunkan di Kota Dili (sementara 72 Anggota TNI batal diterjunkan. Anda boleh membaca kembali artikel berjudul; Pertempuran Sengit & Berdarah Di Dili; Kopassus vs Tropaz).

Hari itu, 7 Desember 2010, sahabatku itu menelpon saya dan mengatakan bahwa hari itu, Bank Mandiri tutup untuk memperingati "invasi berdarah", 7 Desember 1975.

Demikian juga, tanggal 8 Desember 2010, Bank Mandiri tetap tutup karena di Timor Leste, setiap 8 Desember, merupakan "hari libur nasional", karena merupakan hari raya; "Hati Maria Tak Bernoda", berdasarkan salah satu Kalender Liturgis Gereja Katolik Roma (untuk mengenang Penampakan Bunda Suci Perawan Maria di Lourdes Perancis sebanyak 18X, yang terjadi pada tahun 1858).

Itu artinya, rekening Renetil batal dibuka pada 7 Desember 2010 sesuai dengan usulanku dalam naskah berjudul; TEATRUM GLORIAM DEI & PEMILU TIMOR LESTE.

Kemudian temanku itu mengusulkan; "Bagaimana kalau dibuka saja pada tanggal 9 Desember 2010?
Saya menolak; "Jangan buka rekening pada hari itu. Tunda saja dulu, dan baru boleh dibuka pada tanggal 10 Desember 2010" untuk mengenang hari "Penerimaan Nobel Perdamaian 1996 (dan ditambah untuk mengenang hari pelantikanku sebagai Ketua Impettu Bali/saya dilantik oleh Danrem 163 Wira Satya Denpasar, yaitu Kolonel Soentoro pada 10 Desember 1994).

Tentunya saat itu saya tidak secara terbuka mengatakan kepada sahabatku itu bahwa usulan untuk membuka rekening Renetil pada 10 Desember, bukan hanya untuk mengenang Nobel Perdamaian yang diterima dua putera terbaik Timor Leste tahun 1996, tapi juga untuk mengenang "hari pelantikanku" sebagai Ketua Impettu Bali. Karena akan terdengar "norak" sekali.

Akhirnya tanggal 10 Desember 2010 pagi-pagi sekali, sahabatku itu sudah berada di Kantor Bank Mandiri Dili. Beliau kontak saya untuk mengabarkan bahwa rekening Renetil siap dibuka.

Karena ada perubahan tanggal, yang sedianya harus dibuka 7 Desember, namun bergeser menjadi 10 Desember (Man purpose, God dispose), maka nilai nominal dana yang harus disetorkan, bukan lagi "$777", melainkan diturunkan menjadi; "$444" (mengurangi $333). Saya usulkan kepada sahabatku itu via SMS, buka rekening Renetil dengan angka "444".

"Ok bro, saya siap laksanakan...!", begitu jawabnya.

Ternyata lagi-lagi berlaku dalil; "Man purpose, God dispose" (manusia boleh merencanakan, namun TUHAN jualah yang menentukan). Karena tak berselang lama, sahabatku itu kembali kontak saya dan mengatakan bahwa untuk "membuka deposito" di Bank Mandiri, aturan mainnya; nominal yang disetor minimal harus "$500" USD. Tidak boleh di bawah angka 500.

Maka saya usulkan kepada sahabatku itu untuk tambahkan $111, agar dengan demikian, rekening Renetil dibuka dengan bilangan "555". Saya usulkan angka 555 karena ada artinya.

Akhirnya jadilah rekening Renetil berhasil dibuka pada hari itu, 10 Desember 2010 dengan bilangan "555" (yang menyimpan sejuta makna).

Kemudian Bank Mandiri mengeluarkan 13 digit bilangan; 601-0000-430-440. Begitu temanku mengirim SMS yang berisi 13 digit bilangan tersebut, saya kaget, karena ternyata di balik 13 digit bilangan tersebut, berisi sejumlah informasi yang sangat bermakna, termasuk informasi mengenai ID(entitas) Presiden Timor Leste ke-6 yang akan muncul melalui Pilpres 2017.

Coba Anda perhatikan baik-baik konfigurasi 13 digit bilangan ini; 601-0000-430-440. Sekarang, tergantung kepada kita, mau melafalkan ke-13 digit bilangan tersebut, menggunakan bahasa apa? Mau menggunakan Bahasa Indoensia? Bahasa Inggris? Bahasa Portugis? Atau Bahasa Tetun? Pilihan ada di tangan Anda.

Namun yang jelas, ketika saya menggunakan Bahasa INDONESIA untuk melafalkan 13 digit rekening Renetil tersebut, ternyata sangat mengejutkan karena muncul angka "KURSI SABAT" (583), dengan melafalkan 601-0000-430-440 menjadi; "ENAM-NOL-SATU-NOL-NOL-NOL-NOL-EMPAT-TIGA-NOL-EMPAT-EMPAT-NOL".

Kemudian dijumlahkan hasilnya setelah dikonversikan ke dalam bilangan berdasarkan sistim konversi "Latin Gematria". Hasilnya = 583 yang merupakan KURSI SABAT.

Coba Anda konversikan frasa KURSI SABAT menggunakan sistim konversi "Gematria YAHUDI". Hasilnya pasti = 583.

Maka kesimpulannya adalah; "ke-13 digit nomor rekening Renetil itu adalah merupakan simbol KURSI SABAT".

Dan itu artinya pula bahwa; "Kursi Keramat" yang diduduki setiap Presiden Timor Leste adalah KURSI SABAT. Karena TANAH TIMOR adalah TANAH SABAT. Indonesia harus melakukan "invasi berdarah" pada bilangan "7" (Desember) adalah sebagai "simbol pesan" dari Surga bahwa TANAH TIMOR itu adalah TANAH SABAT, karena Bangsa Timor adalah BANGSA YAHUDI.


Sebab nama Pulau TIMOR itu berasal dari Bahasa IBRANI alias Bahasa YAHUDI, sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya melalui sejumlah artikel. Dengan menyandang status sebagai BANGSA YAHUDI, maka wajib hukumnya "Orang TIMOR" harus merayakan "Hukum SABAT" (menyucikan Hari ke-7).

Ini bukan doktrinku, melainkan; "dogma ALLAH" sebagaimana tertulis di loh batu yang diterima Nabi Musa di Gunung Sinai", di mana ALLAH sendiri yang menggunakan Tanagn Kudus-Nya menuliskan "dogma" mengenai "Pengudusan Hari Sabat" di urutan 4, sebagaimana tertera dalam "10 Perintah ALLAH".

Pilihan ada di tangan rakyat Timor Leste. Mau menguduskan Hari Sabat sesuai Perintah ALLAH, atau mau menolak???

Karena perintah untuk menguduskan "Hari Minggu" sama sekali tidak tertulis dalam Kitab Suci. Sementara "Perintah TUHAN" untuk menguduskan "Hari Sabat" banyak sekali muncul dalam Kitab Suci.

Orang Katolik Roma silahkan baca 73 Kitab, mulai dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Apakah di sana Anda menemukan ada satu ayat saja yang secara explisit menuliskan Perintah ALLAH untuk menguduskan Hari Minggu?

Kalau ada, silahkan saja Anda menguduskan Hari Minggu. Namun kalau ternyata tidak ada, maka mengapa orang TIMOR menolak menguduskan Hari SABAT? Padahal nama Pulau TIMOR itu sendiri bukan berasal dari Bahasa ITALI, melainkan berasal dari Bahasa IBRANI alias Bahasa YAHUDI?

"Jika orang TIMOR (Leste) menolak merayakan Hari SABAT, banyak-banyaklah berdoa. Hati-hati dengan TSUNAMI di tahun 2017, karena orang TIMOR menggunakan mata uang dollar Amerika di mana Presiden Amerika yang akan dilantik tanggal 20 Januari 2017, nama marganya adalah; TSUNAMI (470).

Coba Anda konversikan nama TRUMP bersama frasa TSUNAMI ke dalam bilangan, berdasarkan sistim konversi "Gematria YAHUDI". Hasilnya adalah, baik TRUMP maupun TSUNAMI, akan sama-sama memunculkan angka "470".


TRUMP; T=100, R=80, U=200, M=30, P=60. Total; 470.
TSUNAMI; T=100, S=90, U=200, N=40, A=1, M=30, I=9. Total = 470.

MENGAPA HARUS MUNCUL NAMA FRANCISCO?

Yang lumayan mengejutkan adalah, ternyata nomor rekening Renetil tersebut, memunculkan nama FRANCISCO?

Jika bilangan KURSI SABAT (583) dilafalkan menggunakan Bahasa Indoensia menjadi "LIMA RATUS DELAPAN PULUH TIGA, dan dikonversikan ke dalam bilangan menggunakan "Sistim Latin Gematria", ternyata memunculkan nama FRANCISCO (282).

Pertanyaannya adalah; "Apakah nomor rekening Renetil yang memunculkan nama FRANCISCO ini berkaitan erat dengan nama tokoh yang akan memenangkan Pemilihan Presiden Timor Leste tahun mendatang?"

"Ataukah munculnya nama FRANCISCO ini karena temanku yang membuka rekening itu bernama FRANCISCO?" (Francisco Jmf Belo). Silahkan Anda menafsirkan sendiri-sendiri sesuai selera Anda masing-masing.

Yang jelas ketika saya memainkan angka "777", "444" dan "555", sebenarnya saya sedang menyebutkan nama JOSE.

Dari tiga jenis angka triple ini (777, 444, 555), Anda copot masing-masing satu digit, kemudian membuat konfigurasi (tatanan) baru menjadi; "745". Maka akan muncul nama JOSE.
Coba Anda konversikan nama JOSE ke dalam bilangan berdasarkan sistim konversi "Gematria YAHUDI". Hasilnya, nama JOSE pasti akan memunculkan bilangan "745".

JOSE; J=600, O=50, S=90, E=5. Jumlahkan; 600+50+90+5=745. Itu artinya di bulan Desember 2010, ketika saya memainkan bilangan 777, 444, 555, saya sedang berkata kepada sahabatku saat itu bahwa; "Presiden yang akan memenangkan Pilpres 2012 adalah bernama JOSE. Bukan bernama LUCAS atau FERNANDO.

Oleh karena itulah, tahun 2011, ketika Prof. LUCAS (Rektor Unpaz), mengutus dua Pembantu Rektor meminta saya untuk bertahan dulu di Dili agar bisa ditarik masuk ke Tim Suksesnya, saya menolak dengan segala resiko.

Saya tetap berangkat ke Bali saat itu bersama dua dosen Unpaz lainnya (Ibu Marilia dan Ibu Honoria) untuk mengikuti kuliah di Program Pascasarjana Unud (MIKMUNUD III).

Dan akhirnya saya harus menanggung resiko tersebut. Karena hanya kurang dari seminggu saya tiba di Bali, diselenggarakanlah "Rapat Senat" Universitas. Dan melalui forum itulah Rektor Unpaz, di hadapan Dewan Universitas, memutuskan "memecat saya" dari status saya sebagai; "Dosen Tetap" Unpaz, hanya gara-gara saya menolak masuk ke Tim Sukses untuk ikut mensukseskan pencalonan Beliau sebagai salah satu dari 13 Capres yang maju dalam Pilpres Timor Leste 2012.

Saat itu tentu saya tidak bercerita kepada Beliau bahwa yang akan memenangkan Pilpres 2012 itu bernama JOSE. Karena selain tidak ada gunanya, sebab Beliau tidak mungkin percaya, juga saya ingin agar Beliau merasakan sendiri bagaimana "sensasinya" ketika bertarung dalam sebuah "kompetisi besar" bernama "Pemilihan Presiden".

Dengan demikian Beliau akan benar-benar merasakan langsung sensasi itu, di mana adrenalinnya mendidih dan bertumpah ruah di mana-mana.

Tapi anehnya, di kemudian hari, saya menemukan nomor kontak (nomor HP) Rektor Unpaz, yang jika dilafalkan, dan kemudian dikonversikan ke dalam bilangan, ternyata memunculkan bilangan KURSI SABAT yang sama persis dengan hasil konversi nomor rekening Renetil.

Coba Anda konversikan nomor HP Prof. Lucas berikut ini (+67077963213), ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi "Latin Gematria". Hasilnya pasti akan memunculkan bilangan KURSI SABAT; 583.

Lafalkan nomor HP Prof. Lucas; 67077963213 menggunakan Bahasa Indonesia menjadi; ENAM-TUJUH-NOL-TUJUH-TUJUH-SEMBILAN-ENAM-TIGA-DUA-SATU-TIGA.

Setelah itu konversikan semua huruf di atas ke dalam bilangan, menggunakan sistim konversi "Latin Gematria". Hasilnya ternyata muncul bilangan 583, yang tak lain adalah simbol KURSI SABAT.
Nomor rekening Renetil adalah; 601-0000-430-440. Jika dikonversikan menghasilkan bilangan KURSI SABAT: 583.

Kemudian nomor HP Rektor Unpaz; 67077963213. Jika dikonversikan dengan cara yang sama, juga menghasilkan bilangan KURSI SABAT; 583. Mengapa ini harus terjadi?

Yang jelas, data dan fakta yang mengejutkan ini, bagi saya merupakan hasil "Penyelenggaraan Ilahi". Karena bagaimana mungkin dua isu yang muncul (terjadi) pada waktu yang berbeda, bisa menghasilkan satu isu yang sama yaitu; KURSI SABAT (583)?

Rekening Renetil; 601-0000-430-440, menghasilkan; 583.
Nomor HP Rektor; 67077963213, juga menghasilkan; 583.

Ketika nomor rekening Renetil dikeluarkan Bank Mandiri pada 10 Desember 2010, saya sama sekali tidak tahu kalau di kemudian hari, Rektor Unpaz juga akan memiliki nomor HP yang juga menghasilkan simbol KURSI SABAT; 583.

Ternyata, di balik bilangan KURSI SABAT 583 ini, ALLAH sedang menyembunyikan nama Presiden Timor Leste ke-6. Pertanyaannya adalah; "Apakah di dalamnya ada nama JOSE?"
Silahkan Anda utak-atik sendiri menggunakan bahasa apapun yang Anda tahu. Kira-kira apakah hasil utak-atik yang Anda lakukan memunculkan nama JOSE atau tidak?

Jika tidak muncul nama JOSE, maka jika Anda bernama JOSE, dan berniat maju sebagai salah satu Kandidat dalam Pilpres 2017, sebaiknya pikir-pikir dulu. Karena bilangan tidak pernah membohongi manusia. Kalau Anda tetap maju, sekedar untuk mencari pengalaman, merasakan "sensasi bertarung" dalam "event politik" selevel Pilpres, ya silahkan saja. Semoga Anda beruntung.

PESAN MENGEJUTKAN DARI KAKEK MISTERIUS

Tanggal 8 November 2016, hanya beberapa jam sebelum berlangsungnya pemilihan Presiden Amerika Serikat, melalui mimpi di siang bolong, saya kembali bertemu "Kakek Misterius" yang pernah menampakkan Diri kepadaku di Kampus Unpaz, tanggal 20 Juni 2011, malam hari, sekitar jam 10 Waktu Timor Leste (sebagaimana telah saya kisahkan melalui artikel yang diterbitkan di laman ini untuk pertama kalinya tanggal 8 Maret 2013. Artikel tersebut masih ada di sana. Anda boleh membacanya).

Dalam penampakan Kakek Misterius ini melalui mimpi 8 November 2016, Kakek Misterius itu memintaku harus menerbitkan seri ke-6 artikel berjudul; TEATRUM GLORIAM DEI &
KEMUNCULAN HILARY CLINTON SEBAGAI PRESIDEN AMERIKA KE-45.

Dan dalam seri ke-6 artikel tersebut, wajib hukumnya, saya harus memasang foto Prof. LUCAS di dalamnya. Alasannya karena hasil Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016, terikat secara absolut dengan pesan Kakek Misterius itu tanggal 20 Juni 2011.



Anda boleh membaca kembali artikel edisi 8 November 2016. Di sana, dalam artikel tersebut, saya sengaja memasang foto Prof. Lucas bersama puteranya yang lagi naik "delman" di Jogjakarta 19 Februari 2015.

=================================================================
Jujur saja, ketika menyebut tanggal 19 Februari ini, saya teringat kembali pengalaman yang sangat menakjubkan ketika seorang Romo dengan tongkrongan "kaukasoid" (ras bule), membawa saya mengunjungi SHEOL = dunia ornag mati, 19 Februari 1994 di Bukit Sio(n), sebagaimana saya kisahkan dalam artikel 7 Desember 2016.
================================================================

Pertanyaannya adalah; "Jika pada tanggal 20 Juni 2011, Kakek Misterius itu telah memberitahukan bahwa "seekor" DOMBA JANTAN akan menjadi Presiden Amerika ke-45, mengapa dalam artikelku, saya menuliskan bahwa yang akan muncul sebagai Presiden Amerika ke-45 adalah; seekor DOMBA BETINA?"

Jawaban terhadap pertanyaan ini, ada di balik "penyembelihan seekor DOMBA JANTAN" yang dilakukan di Kampus Unpaz, tanggal 19 Mei 2016? DOMBA JANTAN tersebut dibawa (dibeli) dari MANATUTO. Bagaimana menjelaskannya?

Untuk menjelaskannya, saya harus memulainya dari tanggal 10 Februari 2003. Pertanyaannya adalah; "Apa hubungan "10 Februari 2003" dengan Pemilihan Presiden Amerika Serikat?"

Coba Anda konversikan tanggal "10 Februari 2003" dan tanggal "8 November 2016". Hasil konversi dari dua item waktu yang jauh berbeda ini, ternyata sama-sama menghasilkan bilangan "295".

Lafalkanlah "10 Februari 2003", menjadi; SEPULUH FEBRUARI DUA RIBU TIGA. Kemudian konversikan semua huruf dalam kalimat; SEPULUH FEBRUARI DUA RIBU TIGA ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi "Latin Gematria". Hasilnya pasti muncul bilangan "295".

Kemudian lafalkan juga tanggal "8 November 2016", menjadi; DELAPAN NOVEMBER DUA RIBU ENAM BELAS. Kemudian konversikan semua huruf yang ada di dalam kalimat tersebut ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi "Latin Gematria".

Ternyata hasilnya juga memunculkan bilangan; "295". Mengapa dua tanggal yang berbeda menghasilkan bilangan yang sama? Biarlah hanya TUHAN Yang Maha mengetahui, setidaknya untuk sementara ini.

Kalau tanggal "8 November 2016" adalah hari Pemilihan Presiden Amerika Serikat, lalu tanggal "10 Februari 2003" itu hari apa?"

Belum saatnya seya kisahkan di sini. Lain kali saja jika dianggap perlu. Namun satu hal yang pasti, jika kita menghitung RW (Rentang Waktu) antara "20 Juni 2011" (di mana Kakek Misterius tersebut menampakkan Diri kepadaku di Kampus Unpaz), hingga "20 Januari 2017" (tanggal pelantikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump), jaraknya adalah; "2041 HARI".

Nah, coba Anda lafalkan Rentang Waktu di atas, yaitu "2041 HARI", menjadi; DUA RIBU EMPAT PULUH SATU HARI", kemudian konversikan semua huruf dalam kalimat; DUA RIBU EMBAT PULUH SATU HARI ke dalam bilangan menggunakan sistim konversi Latin Gematria. Hasilnya pasti sama dengan "306".

"Apa hubungan antara bilangan "306" ini dengan kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton?"
Bukankah Donald Trump berhasil mengalahkan Hillary Clinton, dengan memperoleh "306" Electoral Vote berbanding 232 Electoral Vote yang didapatkan Hillary Clinton (selisih 74)?

Bagi saya pribadi, fakta ini mengejutkan. Dan ini hanya bisa terjadi jika TUHAN melakukan intervensi di dalamnya. Mungkin ada di antara Anda yang bertanya;

"Apakah dalam penampakan Kakek Misterius tersebut, 20 Juni 2011, yang bertepatan dengan HUT Renetil ke-23, Kakek Misterius tersebut telah memberitahukan kemenangan Donald Trump?"

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan ini untuk saat ini. Akan dibicarakan di kemudian hari jika memang dibutuhkan.

PESAN UNTUK PD MELALUI LETNAN DEKER

Namun satu hal yang pasti, masih berkaitan erat dengan bilangan kemenangan Donald Trump (306) dalam Pilpres Amerika 2016, saya ingin mengakhiri artikel ini dengan menyampaikan "pesan spesial" kepada Kader PD (Partido Democrático) di Timor Leste.

Jika saya memodifikasi bilangan kemenangan Donald Trump (306) menjadi satu "dimensi waktu", yaitu; angka "30" saya rubah menjadi tanggal 30, sementara angka 6 saya rubah menjadi bulan Juni", maka hasil modifikasi ini akan membawa saya kembali ke kejaidan masa lalu, yakni; kejadian tanggal "30 Juni 2009".

Saat itu, 30 Juni 2009, di Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban Bali, melalui Sdr Domingos "Deker" (salah satu Perwira dari 600-an Anggota FFDTL yang dinilai melakukan desersi militer tahun 2006), saya menitipkan sebuah amplop coklat, yang di dalamnya berisi 6 exemplar naskah dan masing-masing exemplar naskah tersebut saya lampirkan "foto aneh", dan dalam foto aneh tersebut, tercantum tanggal "14 Juni 2009" (foto tersebut sengaja saya lampirkan kembali dalam artikel ini dan ini adalah untuk pertama kalinya saya mempublikasikan foto aneh tersebut di sini).

Saya tidak tahu, apakah ada Kader PD yang masih menyimpan naskah tersebut dengan foto terlampir di mana terlihat dalam foto aneh tersebut, ada tangan manusia yang terluka? Jika ada, coba baca-baca kmebali pesan saya yang tertulis di sana.

Ada yang mungkin bertanya, apa hubungan tanggal "14 Juni 2009" dengan Donald Trump? Jawabannya sederhana. Bukankah Donald Trump itu lahir pada tanggal 14 Juni (1946)? Donald Trump lahir "6 hari" lebih awal dari "Xanana Gusmão" yang lahir 20 Juni 1946.

Sekedar info saja, saya bertemu dan berdialog dengan Senhor Xanana Gusmão untuk pertama dan terakhir kalinya, Minggu 14 Juni 1998 di LP Cipinang Jakarta, dua hari setelah Demo Deplu. Itu artinya saat saya bertemu Xanana Gusmao, tepat saat Presiden Terpilih Donald Trump merayakan Ulang Tahun yang ke-52.

Mengapa dalam foto yang saya titipkan melalui Letnan Deker, 30 Juni 2009, harus dicantumkan tanggal kelahiran Donald Trump "14 Juni (2009")? Belum saatnya untuk berkisah di sini.
Yang ingin sekali saya sampaikan kepada Militan dan Simpatisan PD di Timor Leste, adalah; "banyak-banyaklah melakoni 3B (Berdoa, Bertobat & Bertirakat).

Karena jujur saja, PD akan menghadapi masa-masa sangat sulit, jika PD memilih Presiden Partai Demokrat yang bukan "Keturunan Daud". Anda boleh percaya, boleh tidak, jika salah memilih, maka tokoh tersebut tidak akan lama bertahan menduduki "Kursi Panas" tersebut.

Setelah kemunculan ASAP PUTIH di Kampus Unpaz", 21 Juni 2011, sebagaimana telah saya kisahkan berkali-kali, maka semenjak saat itu pula , "Kursi Presiden Partai Demokrat", telah berubah menjadi "Kursi Panas" bagi mereka yang mendudukinya, namun tidak mewarisi DARAH DAUD.

Artinya "Kursi Presiden Partai Demokrat" hanya tidak panas, jika yang mendudukinya adalah mereka yang mewarisi DARAH DAUD. Sementara mereka yang mencoba menduduki "Kursi" tersebut, jika tidak mewarisa "DARAH DAUD", maka akan terbakar habis.

Sekali lagi saya ingatkan, siapapun yang terpilih sebagai Presiden Partai Demokrat dalam Kongres PD bulan Januari 2017, jika dirinya tidak mewarisi DARAH DAUD, maka bukan hanya PD yang akan menemui kesulitan dalam tahun-tahun mendatang, namun yang bersangkutan juga berada dalam resiko yang sangat tinggi (jika Anda ada waktu luang, silahkan merenungkan kembali artikel saya, berbahasa Inggris, berjudul; PARTIDO DEMOCRATICO FROZEN OUT OF THE COLAITION).


Karena itulah melalui artikel ini, saya sengaja melampirkan salah satu foto di mana Companheiro Fernando La Sama De Araujo, sedang menyentuh "Kursi Panas" itu dengan jari-jari tangannya yang sedang menjepit sebatang rokok.

Semoga catatan ini bermanfaat. Selamat berakhir pekan. Selamat merayakan Sabat suci bagi mereka yang merayakannya.

Salam "Dua Hati" dari "Buki Sulaiman".

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Karena saya telah menyebutkan nomor HP Rektor Unpaz dalam artikel ini sebagai bagian dari "kesaksian iman", maka mungkin saat kembali dari Jerman, Beliau akan mengganti nomor HP.

Tadi saat menelfon ke Dili, saya mendapat khabar bahwa Prof. Lucas hari ini meninggalkan Dili menuju Jerman, mewakili Unpaz untuk menerima "award" yang berkaitan erat dengan sejumlah prestasi membanggakan yang dicapai Unpaz (Universidade Da Paz).

Tidak ada komentar: