Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Kamis, 01 Desember 2016

PD DI DADAKU TAPI SUPERMI & NASI BUNGKUS DI PERUTKU (Kejuaraan La Sama Cup Untuk Menyelamatkan PD/bagian 3)


"Bilangan 561 - 259 artinya; KUTUKAN RENETIL. Untuk itu marilah kita semua sumbangkan doa tulus kita guna memohon kepada ALLAH menyelamatkan salah satu tokoh pendiri Renetil".

HIERARKI KEBENARAN (Pengantar Singkat)
Yang dimaksud dengan "hierarki kebenaran" atau dalam Bahasa Inggris disebut; "hierarchy of truths" adalah;
Prinsip untuk menafsirkan (bukan memilih) kebenaran-kebenaran iman dengan melihat kedekatannya pada pusat misteri iman, yaitu; pewahyuan Tritunggal yang disampaikan oleh KRISTUS YESUS (yang adalah episentrum segala kebenaran), yang dengan itu kita diselamatkan dalam Roh (Ilahi).
Prinsip di atas dengan jelas ditegaskan oleh Konsili Vatican II, dan mempunyai dasarnya pada Kitab Suci, misalnya; Roma; 1:3-4 dan Korintus 15:3-5.
Semua kebenaran memang harus dipercaya, tetapi dengan mengelompokkan dan menafsirkan kebenaran-kebenaran ini menurut kepentingannya masing-masing.
Dengan demikian kita dibebaskan dari kemungkinan melakukan penafsiran yang salah dan atau memberikan penekanan yang keliru (Farrugia & O'Collins; A Concise Dictionary of Teology, New Jersey, 1991, halaman 102).


MAKNA DI BALIK BILANGAN 561- 259 & KUTUKAN RENETIL
Saya sengaja menampilkan isu tentang; "hierarki kebenaran", sebagai "point entry" dari seri ketiga ini, untuk dijadikan sebagai "referensi" guna menerjemahkan makna di balik konfigurasi enam digit bilangan; 561 - 259.
Mengacu kepada referensi "hierarki kebenaran" di atas, maka melalui catatan seri ketiga ini, saya hanya ingin menyampaikan (menafsirkan) bahwa salah satu (namun bukan satu-satunya) makna di blik konfigurasi bilangan; 561-259 adalah; KUTUKAN RENETIL.
Jika kita konversikan frasa KUTUKAN dan frasa RENETIL ke dalam bilangan berdasarkan sistim "Konversi Yahudi", maka kedua frasa tersebut, yang satu (KUTUKAN) akan menghasilkan bilangan "561" sementara yang satu lagi (RENETIL) akan menghasilkan bilangan "259".
KUTUKAN; K=10, U=200, T=100, U=200, K=10, A=1, N=40
Jumlah; 10 + 200 + 100 + 200 + 10 + 1 + 40 = 561.
RENETIL; R=80, E=5, N=40, E=5, T=100, I=9, L=20
Jumlah; 80 + 5 + 40 + 5 + 100 + 9 + 20 = 259.
Dengan demikian maka salah satu makna atau "pesan tersembunyi" (hidden message) yang ada di balik 6 digit bilangan (561-259) yang tertera pada foto Compaheiro La Sama, yang sedang bermain CATUR bersama HADOMI (putera tunggalnya), berdasarkan "kepentingan kelompok tertentu", saya tafsirkan sebagai; KUTUKAN RENETIL.
APA ARTINYA; KUTUKAN RENETIL?
Untuk menjelaskan makna dari KUTUKAN RENETIL, terlalu panjang kalau harus diuraikan dalam catatan ini.
Oleh karena itu, silahkan saja Anda menafsirkan atau menginterpretasikan sendiri sesuai "selera Anda" masing-masing.
MISTERI DI BALIK KEMATIAN ANJING LAUT
Dalam seri ke-3 ini, saya menyertakan 3 foto. Satu di antaranya memvisualisasikan "kematian seekor anjing laut".
Saya sengaja melampirkan foto "anjing laut" yang mati karena berhubungan erat dengan isu sentral; Seal of Solomon (Cap Sulaiman), sebagaimana telah saya sampaikan melalui seri kedua artikel ini.
Jaman "doeloe" (waktu Timor-Timur masih bersama Indonesia, saya tidak mengakan saat Timor-Timur masih dijajah Indonesia), saya sering meninggalkan Denpasar untuk pergi ke Ujung-Pandang, yang saat ini dikenal dengan nama; Makassar (Ibu Kota Sulawesi Selatan).
Suatu hari saya pergi ke Ujung-Pandang dengan terburu-buru sekali (gara-gara bangun telat dan khawatir ketinggalan pesawat). Berhubung saya terburu-buru, maka saya tidak sempat menyerahkan "Cap Impettu Bali" ke tangan Ketua I (Companheiro Ir Caeiro S Domingos/mantan Sekretaris Negara Bidang Pekerjaan Umum Timor Leste IV Governo).
Karena berdasarkan "aturan AD-ART", jika Ketua Umum tidak ada di tempat, maka "Cap" harus ada di tangan "Ketua I".
Namun karena hari itu saya buru-buru, maka ketika akan meninggalkan kos di Jl. Pulau Seribu 17 Sanglah Denpasar, saya menyerahkan "Cap Impettu Bali" ke tangan "Ketua II" (Sdr. Tadeu Francisco Soares) yang juga saat itu tinggal bersama saya di Jl. Pulau Seribu 17.
Saya hanya berpesan kepada Ketua II agar menyerahkan "Cap" tersebut ke tangan Ketua I jika memang dibutuhkan untuk menanda-tangani surat-surat penting yang membutuhkan pembubuhan Cap Impettu Bali.
Setelah itu saya terbang ke Ujung- Pandang. Sesudah sekian hari berada di Ujung-Pandang, rupanya RENETIL mengedarkan sebuah "petisi" di mana semua Ketua Impettu di seluruh Indonesia, wajib hukumnya harus ikut menanda-tangani "petisi" tersebut, dan petisi tersebut harus dibubuhii Cap dari setiap Impettu.
Entah bagaimana jalan ceritanya, tiba-tiba saja saya menerima berita yang sedikit mengejutkan dari "Compaheiro Ir. Miguel Marques Goncalves Manetelu" (Sekretaris Negara Bidang Pemuda & Olahraga IV Governo, yang juga saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Sosial Timor Leste), yang mengatakan begini;
"Manumean...! Saat kamu berada di Sulawesi, kami berkumpul di Surabaya untuk menanda-tangani sebuah petisi, namun hanya Impettu Bali yang menanda-tangani petisi tersebut tanpa dibubuhi Cap Impettu Bali, sementara semua Ketua Impettu lainnya membubuhkan Cap Impettu masing-masing, karena "katanya" Manumean lah yang sengaja tidak mau menanda-tangani petisi tersebut dengan sengaja "menyembunyikan Cap" dan sengaja menghindar dengan cara pergi ke Sulawesi.
Kemudian Ir. Manetelu menambahkan;
"Gara-gara Cap tersebut, Maun bla..bla...bla...(Manetelu menyebutkan nama salah satu tokoh senior Pendiri Renetil) dengan sangat marah berkata begini; "Hanya di mata orang Indonesia dia terlihat seperti manusia, namun di mata rakyat Timor Leste dia terlihat seperti seekor ANJING".
Jujur saja, saya lumayan merasa tidak nyaman saat mendapatkan berita tersebut dari Companheiro Manetelu. Dalam hati kecilku, saya merasa tidak pernah ingin menyembunyikan Cap tersebut.
Akhirnya dengan perasaan sedih, saya berdoa meminta "Keadilan ALLAH". Kenapa saya harus di-CAP sebagai ANJING hanya gara-gara sebuah CAP. Sementara saya tidak pernah merasa "menyembunyikan Cap tersebut. TUHAN Maha mengetahui.

SAYA SELALU PERCAYA TOTAL PADA "JANJI TUHAN"
Dulu saya sering pergi ke Sulawesi, juga bukan karena ingin menghindar dari tanggung-jawabku. Tapi karena saya selalu percaya total kepada JANJI TUHAN.
Melalui mimpi-mimpiku TUHAN berjanji bahwa tokoh yang akan membukakan "Pintu Gerbang" bagi Kemerdekaan Timor Leste akan datang dari Sulawesi. Makanya saya suka sekali bepergian ke Sulawesi.

Sebelum kembali ke Sulawesi akhir Mei 1998 saat melarikan diri dari kejaran orang-orang yang ingin merebut TONGKAT ULAR, saya terakhir kali pergi ke Sulawesi bulan Maret 1997.

Saat itu saya ikut menghadiri Acara "Dies Natalis Unhas (Universitas Hassanuddin) sekaligus yang diisi dengan acara wisuda, Hari Jum'at, tanggal 22 Maret 1997 (kebetulan saat itu, adikku yang kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Unhas, menjadi salah satu Wisudawan hari itu).
Kalau ada salah satu Staf Akademisi Unhas ikut membaca artikel ini, coba buka arsip Unhas. Pasti di sana tercatat bahwa Hari Jum'at, tanggal 22 Maret 1997, ada acara WISUDA. Dan saat itu saya berada di tengah ribuan manusia yang hadir di Kampus Unhas yang megah, yang terletak di Jl. Tamalanrea.
Saya masih ingat betul "event" tersebut karena setelah mengikuti serangakian acara wisuda yang sangat melelahkan, pada malam harinya ada acara di Asrama Mahasiswa yang bernama; WISMA RAMA, yang terletak di Jl.Sunu Ujung Pandang. Malam itu saya "ditodong" harus naik ke panggung untuk memberikan sambutan mewakili "Orang Tua Wisudawan".
Dulu ketika menerima JANJI TUHAN melalui mimpi-mimpiku yang aneh, saya tidak tahu persis, siapakah tokoh dari SULAWESI yang akan membukakan Pintu Gerbang Kemerdekaan Timor Leste?
Ternyata di kemudian hari, ALLAH benar-benar memenuhi "Janji-Nya" dengan memunculkan seorang teknokrat jenius, yang lahir di Tanah SULAWESI, dan diproduksi di GERMANY, bernama Prof. Dr. Ir. BJ HABIBIE.
Saya tidak tahu, seandainya saja seorang HABIBIE tidak membuat kejutan bagi masyarakat internasional dengan tiba-tiba saja mengeluarkan "Opsi Referendum" pada 27 Januari 1999, apakah saat ini Timor Leste sudah berdiri sebagai sebuah negara?
Bukankah Prof. HABIBIE itu adalah "Orang asli SULAWESI?" Apakah JANJI TUHAN kepadaku hanya berhenti dengan memunculkan tokoh teknokrat "produk Jerman bernama HABIBIE?"
Jawabannya tidak. Masih ada JANJI TUHAN selanjutnya. Dan JANJI TUHAN selanjutnya berkaitan erat dengan isu "CAP ANJING" yang disematkan kepadaku oleh salah satu tokoh Pendiri Renetil" (tokoh ini sangat berpengaruh dalam tubuh Renetil).
Jika Anda ingin mengetahui nama tokoh tersebut, silahkan tanyakan saja kepada Wakil Menteri Sosial Timor Leste (Ir. Miguel Manetelu). Semoga Beliau memberitahukannya kepada Anda.
Dan JANJI TUHAN ini berkaitan erat dengan seekor ANJING yang telah menyebabkan jatuhnya Perdana Menteri Timor Leste, minggu lalu, hingga menyebabkan "os clavicula" (tulang selangka) harus patah dan diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan.
Artinya, jatuhnya Perdana Menetri Timor Leste (yang juga tercatat sebagai salah satu Membro Jurado Renetil) di Lahane Dili, minggu lalu, hingga patah tulang selangka, itu bukan suatu kejadian kebetulan, melainkan kejadian tersebut adalah "sebuah pesan khusus dari dunia lain" yang berkaitan erat dengan CAP SULAIMAN yang saya angkat sebagai isu sentral di seri kedua artikel ini.
Siapa tahu (kali-kali aja) ANJING yang menyebabkan Perdana Menteri harus jatuh hingga patah tulang selangka, telah dirasuki JIWA ANJING Gaib kiriman Santo Yosef yang telah berjasa mengantarkan saya ke Bukit Sio(n) pada Februari 1994, saat ALLAH mengutus dua Malitat-Nya memanggilku ke Bukit Sio(n) untuk memberkati CATUR MOBILISASI.
Ketika saya kembali dari Bukit Sio(n) Minggu malam, 20 Februari 1994, ANJING GAIB tersebut tidak pulang bersama saya. Hanya TUHAN Yang Mahatahu di mana ANJING GAIB tersebut berada?
Saya sengaja menuliskan (mengganti) SOLOMON menjadi SULAIMAN agar lebih dekat ke frasa; SULAWESI. Kalau SOLOMON, berhubungan erat dengan "orang asli SOLO" yang saat ini menjadi Presiden RI ke-7. Kalau SULAIMAN berhubungan erat dengan orang asli SULAWESI yang pada jaman "doeloe", mengeluarkan "Opsi Referendum" bagi Kemerdekaan Timor Leste.
Saya sarankan masyarakat Timor Leste, terutama kalangan RENETIL, untuk lebih intens dan semakin rajin melakoni 3B (Berdoa, Bertobat & Bertirakat). Ada tanda-tanda alam bahwa rakyat Timor Leste akan memasuki tahun yang "penuh drama".
Hari ini, sudah 1 Desember. Hanya tinggal hitungan hari kita akan memasuki tahun 2017 yang akan penuh dengan serangkaian "drama besar" yang berkaitan erat dengan isu; KUTUKAN RENETIL.
Oleh karena itulah, di seri kedua artikel ini saya sengaja memunculkan isu; SEAL OF SOLOMON (CAP SULAIMAN).
Jika Anda mencari terjemahan mengenai kata SEAL dalam Bahasa Inggris, SEAL artinya; bisa SEGEL atau CAP dan juga bisa berarti; ANJING LAUT.
Nah, dalam seri ketiga artikel ini saya sengaja melampirkan foto mengenai "kematian seekor ANJING LAUT", karena kematian ANJING LAUT melambangkan pesan yang sangat serius.
Saya harus jujur katakan bahwa; "Seseorang yang cukup populer di Timor Leste saat ini sedang berada di ujung waktu".


Untuk itu, melalui seri ini saya mengajak masyarakat Timor Leste untuk ikut berdoa sekuat mungkin, dengan harapan, siapa tahu doa tulus kita bisa mendatangkan "mujizat TUHAN", guna mencegah tokoh ini pergi terlalu cepat.
Saya mengajak kita semua berdoa, bukan dengan tujuan agar tokoh ini hidup selamanya di bumi. Karena tidak ada satu manusiapun yang hidup abadi di dunia fana ini. Semua orang, termasuk saya di dalamnya, cepat atau lambat, harus berlalu.
Yang menjadi kekhawatiran saya, dan karena itulah kita mencoba menyumbangkan doa tulus kita untuk menyelamatkan tokoh yang satu ini, karena jika Beliau "tidak segera bertobat" ,maka Beliau tidak bisa masuk Surga" berdasarkan "hukum-hukum ALLAH".
Saya sejatinya ingin segera pulang ke Timor Leste untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di sana, tapi saya masih pikir-pikir. Takutnya begitu turun di Dili, saya berubah (menjelma) menjadi seekor ANJING. Khan repot jadinya.
Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih).Amin.
BERSAMBUNG;
Catatan Kaki;
IMPETTU = Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Timor-Timur

Tidak ada komentar: