Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 07 Desember 2016

OOH PANGERAN HATI; Riwayatmu Dulu Kini & Esok (bagian: 5). (Siapakah Yang Akan Terpilih Sebagai Gubernur Jakarta?)

"Pintu Gerbang Hitam yang sangat menakutkan. Baik Xanana maupun Taur Matan Ruak Cs akan harus masuk ke sana".

Hari ini 7 Desember 2016, adalah genap 41 tahun TNI (Tentara Nasional Indonesia), setelah mencapai kata mufakat dengan Otoritas Washington yang mengunjungi Jakarta (pada 5 & 6 Desember 1975), melakukan "invasi berdarah", atas wilayah "Timor Portugis", pada Minggu dini hari, 7 Desember 1975.
Pasukan TNI (dari Satuan Kopassandha & Linud 501) yang terlibat dalam "invasi berdarah" hari itu (invasi terbesar dalam sejarah Asean), diangkut dari Bandara Iswahyudi Madiun Jawa Timur dan kemudian diterjunkan dari atas Kota Dili (pagi-pagi buta).
Pertanyaannya adalah;
"Apakah serangan 7 Desember 1975" adalah dosa, jika "Hukum-Hukum TUHAN digunakan sebagai alat ukur yang sahih?"
Jawabannya; TIDAK.
Salah satu elemen yang sangat elementer untuk menilai tindakan manusia itu "dosa" atau tidak, adalah "niat" dari tindakan tersebut.

Serangan "7 Desember 1975", niatnya adalah untuk mencegah agar "wilayah jajahan Portugis" itu tidak jatuh ke tangan "orang-orang atheis". Kalau kemudian "jatuh korban jiwa", itu bukan "niat dari serangan itu", melainkan jatuhnya korban jiwa adalah sebagai "konsekuensi logis" yang sulit dihindari.
Tapi sekali lagi "niat dasar" dari serangan 7 Desember 1975" adalah "untuk mencegah TANAH TERJANJI jatuh ke tangan orang-orang atheis".
Saya lebih senang menggunakan terminologi "orang-orang atheis" ketimbang menggunakan istilah "komunis", karena (secara hurfiah), "komunis" itu belum tentu "atheis" (tidak percaya adanya TUHAN).
Bukankah kata KOMUNIS itu berasal dari kata dasar; COMMUM yang artinya; "UMUM". Dengan demikian, maka ketika mendengar kata "KOMUNIS", jangan keburu "alergi". Lihat-lihat dulu lah.
Komunis itu menampilkan dua wajah (karaker). Ada "kalangan komunis-sosialis" yang benar-benar jahat.
Misalnya menganggap "agama" itu adalah "racun dunia". Anda tentu sudah tahu siapa tokoh yang mengucapkan doktrin itu.
Namun sebaliknya ada "kalangan komunis beriman", yang benar-benar menganut faham komunis" (faham sosialis) dengan segala kekuatan pikiran, hati dan jiwa mereka, tapi sangat "beriman" kepada TUHAN Yang Maha Esa, dan atas kekuatan iman mereka itulah, maka mereka sangat-sangat "solider" terhadap nasib dan penderitaan orang-orang miskin (seperti kami, saya ini termasuk orang miskin karena 3 hari makan 1x, bukan 1 hari makan 3X/padahal "doeloe", jaman Indonesia masih menduduki Tim-Tim, seburuk-buruknya, dua hari makan satu kali).
Sementara itu, oposan dari "komunis-sosialis beriman" yaitu "kaum kapitalis", yang mengaku (bermain retorika) bahwa mereka sangat "mengimani TUHAN", namun justeru mereka-mereka itulah yang, sedikit atau banyak, memiliki saham di dalam kerangka terciptanya kaum miskin dengan cara "mengumpulkan dan menumpuk kekayaan" untuk diri mereka sendiri dan kroni-kroninya.

=================================
TUHAN YESUS Itu Komunis-Sosialis Tulen
=================================
Dari intermezzo singkat di atas, saya sebenarnya hendak mengatakan bahwa; yang tidak berkenan kepada TUHAN itu adalah; "Komunisme yang atheistis dan kapitalisme yang materialistis" (kamaruk alias sangat rakus akan kekayaan duniawi). Prinisp hidup mereka adalah GMO (Gloriam Mundi Oriented alias Gloriam Money Oriented). Kira-kira Anda termasuk golongan yang mana? Termasuk peganut GMO bukan?
Jika Anda termasuk kaum Kristen yang menganut faham "kapitalisme", hati-hati. Karena TUHAN kita sendiri, terlepas dari sisi "Divinitas-Nya" sebagai ALLAH, Dia itu adalah "Komunis Tulen".
Jangan sekali-kali menganggap doktrin-Nya adalah lelucon belaka ketika Dia mengatakan begini;
=============================================
"Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
=============================================
Jadi ketika TUHAN YESUS berkata kepada murid-murid-Nya:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”, itu menunjukkan bahwa TUHAN YESUS itu adalah "komunis tulen alias "sosialis sejati".
Dia bukan hanya mengajarkan tentang "solidaritas" terhadap kaum miskin papa, namun Dia juga mengajarkan "kesetaraan sosial". Karena bicara mengenai "solidaritas sosial", sama saja dengan kita sedang berbicara mengenai "kesetaraan sosial" (berdiri sama tinggi, duduk sama rendah & tidur sama rata).
Hanya dengan cara membangun "solidaritas dan kesetaraan sosial" terhadap kaum miskin papalah, orang-orang kaya masih memiliki harapan untuk diselamatkan.
Ketika seorang pemuda yang sangat kaya datang menghadap TUHAN dan bertanya; "Bagaimana supaya dia bisa selamat?"
Jawab TUHAN kepadanya; "Jual lah seluruh kekayaanmu dan bagikanlah uang dari hasil penjualan itu kepada orang-orang miskin, setelah itu datang dan ikuti AKU". Tapi mendengar nasehat TUHAN yang demikian, pemuda kaya itu sedih sekali karena hartanya sangat banyak.
Ada banyak di antara orang kaya, yang menumpuk kekayaan mereka di tengah-tengah orang miskin, kemudian saat mati, berharap masuk Surga. Ya kagak mungkinlah.
Anda menumpuk kekayaan Anda di tengah-tengah orang miskin, yang sangat kelaparan, kok mati minta masuk Surga? Ini sama saja dengan Anda menganggap sabda TUHAN yang mengatakan bahwa; "lebih gampang seekor unta masuk melalui lobang jarum ketimbang orang kaya masuk Surga", hanya "lelucon belaka".

PINTU GERBANG GORDEN HITAM YANG SANGAT MENAKUTKAN
Dalam rangka ikut mengenang "invasi berdarah" 7 Desember 1975, saya ingin sekali menyampaikan kilas balik berikut (bagi mereka yang sudah pernah membacanya boleh di-skip saja);
Bulan Februari 1994 saya sedang menjalani praktek sebagai dokter muda di Bagian Anesthesi Rumah Sakit Sanglah Denpasar.
Tanggal 3 Februari 1994, saya jaga di Rumah Sakit. Malam itu saat melakukan observasi ketat terhadap pasien (asal Perancis) "post Operasi Laparatomy" di Ruang HCU (High Care Unit) RS Sanglah, saya tertidur. Dalam tidur itulah saya bermimpi aneh.
Dua Malaikat menemuiku dalam mimpi dan menyampaikan pesan bahwa ALLAH berkenan memberkati Program CATUR MOBILISASI yang ditolak para "pemimpin bangsa".
Karena CATUR MOBILISASI berkaitan erat dengan Hukum SABAT yang telah diinjak-injak manusia semenjak ribuan tahun lalu.
Oleh karena itu, tidak bisa tidak, wajib hukumnya, saya harus datang ke "Bukit Sio(n)"yang terletak di Kaki Gunung Ramelau (gunung tertinggi di Pulau Timor).
Maka tanggal 7 Februari 1994, saya "booking ticket" pesawat Merpati menggunakan uang pemberian Bapak Manuel Viegas Carrascalao. Saya menerima sejumlah uang dari Almarhum ketika bertemu Beliau di Sawalayan Tiara Dewata 7 Februari 1994.
Keesokan harinya, 8 Februari 1994, saya meninggalkan Denpasar (Bali) menuju Dili (Timor-Timur/saat itu belum bernama Timor Leste).
Tanggal 14 Februari 1994, saya menuju Atsabe. Tanggal 17 Februari 1994, saya bersama 4 orang pria berangkat menuju Bukit Sio(n) yang terletak di tengah hutan belantara.
Namun di tengah perjalanan kami lari kocar-kacir, karena sedang ada kontak senjata antara TNI dan Gerilyawan. Hari itu salah satu Gerilyawan bernama Pedro, ibu jarinya putus terkena tembakan.
Kami berlima lari sendiri-sendiri kemudian tiba kembali ke Kota Atsabe. Keesokan harinya saya sendirian berangkat ke Bukit Sio(n). Untung saja Santo Yosef mengirim seekor "Anjing Gaib" berbulu putih seperti salju. Anjing gaib tersebutlah yang menjadi "guide" (penunjuk jalan) mengantarkan saya ke Bukit Sio(n).
Tiba di Gerbang Bukti Sio(n) sudah petang hari. Saat memasuki Gerbang Bukit Sio(n) saya dijemput Dua Malaikat yang menggunakan mobil sangat lux (mewah). Bentuk mobilnya "rada aneh". Mobil tersebut tidak mengeluarkan suara.
Kedua Malaikat tersebut mengantarkan saya "memasuki dunia lain" yang sangat-sangat indah. Mungkin itu yang disebut Surga.
Saya berada di sana selama 3 hari. Saya mengikuti berbagai "acara". Pada Hari SABAT, 19 Februari 1994, saya diantar seorang Imam berperawakan "kaukasoid" (ras kulit putih), mengunjungi "Sheol" (dunia orang mati).
Saya dan Imam itu tiba di sebuah kawasan yang sangat aneh. Saat tiba di sana, kami berdua menuju sebuah "Pintu Gerbang" dengan "Gorden Hitam".
Imam tersebut memencet tombol di sebelah timur. Lalu gorden hitam tersebut terbuka (gorden bergerak ke arah barat). Saat gorden hitam terbuka, saya sangat kaget melihat ke dalam.
Jujur saja, saat itu saya merasa tidak berani untuk masuk ke dalam. Namun karena Romo itu meminta saya harus masuk, maka saya memberanikan diri untuk masuk, berjalan mengikuti Romo itu dari belakang.
Tiba di dalam, saya disuguhkan dengan berbagai pemandangan yang serba mengagetkan. Benar-benar membuat jantung saya berdegup kencang.
Agar tidak kepanjangan ceritanya, saya skip saja sebagian besar.
Di salah satu bagian, Romo itu membawa saya menuju satu sisi kawasan tersebut. Di sana saya menyaksikan "lautan manusia". Mereka adalah "orang-orang yang tidak memiliki nama untuk masuk Surga".
Romo itu memegang sebuah buku besar di tangannya. Romo itu bilang, buku besar itu disebut; "Kitab Kehidupan", yang berisi "nama orang-orang yang berhak masuk Surga". Tapi lautan manusia yang diperlihatkan Romo itu kepada saya, nama mereka tidak tercatat dalam "Kitab Kehidupan".
Saya kemudian diantar Romo itu menuju ke sebuah sudut yang lain. Dan di sanalah saya menyaksikan satu "pemandangan yang mengerikan". Saya merasa sangat kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat guna menggambarkan "pemandnagan yang mengerikan ini".
Tapi poin terpenting dari "pemandangan yang mengerikan" ini adalah berupa pertanyaan krusial berikut ini;
==================================================
"Mengapa hanya nama-nama Jenderal Indonesia, termasuk 'nama para pejuang Integrasi-Otonomi', yang dicatat sebagai pelaku pelanggaran HAM (Hak Azasi Manusia) untuk kasus Timor-Timur, sementara orang-orang Amerika dan orang-orang Portugis, tidak tercatat sebagai pelanggar HAM. Tampak bahwa "sejarah Timor Leste itu dipenggal untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran. Orang-orang seakan-akan ingin berkata bahwa serangan 7 Desember itu tidak ada hubungannya dengan PERJANJIAN CAMP DAVID 444. Juga orang-orang seakan-akan ingin mengatakan bahwa PERJANJIAN CAMP DAVID 444 itu tidak ada hubungannya dengan penjajahan PORTUGAL atas wilayah setengah pulau itu selama 460 tahun. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa hanya INDONESIA yang harus dikambing-hitamkan??"
=================================================
Setelah menyaksikan "pemandangan mengerikan itu" pada Hari SABAT, 19 Februari 1994, maka seandainya saja saya yang menduduki "Kursi Keramat" (Kepala Negara Timor Leste), maka saya akan mengeluarkan sebuah "grasi" dan "grasi" ini harus diwujudkan dalam bentuk sebuah "Undang-Undang", untuk mencabut (namun bukan memulihkan) nama-nama para Jenderal Indonesia, termasuk nama-nama " para pejuang Integrasi-Otonomi" dari status mereka sebagai "pelanggar HAM".
Alasannya sederhana sekali. Karena khusus untuk kasus Timor-Timur alias Timor Leste, dalil yang berlaku adalah;

===============================================
"Tangan kita sama-sama berlumuran darah dan mulut kita sama-sama mengepulkan asap. Di dunia fana ini kita boleh saja membangun banyak dalil untuk menyelamatkan diri. Namun saat memasuki Sheol, hanya ada satu dalil yang berlaku".
==============================================
Sebelum meninggalkan kawasan tersebut, Romo itu berpesan;
"Siapapun yang suatu saat setelah Timor-Timur berpisah dengan Indonesia dan kemudian menduduki "Kursi Keramat (Kepala Negara Negara Timor Leste), dan tidak melakukan itu (yakni mengeluarkan grasi untuk memaafkan fihak lainnya, namun bukan mengampuni karena "kuasa pengampunan" hanya milik TUHAN semata), maka suatu saat ketika menanggalkan yang fana dan mengenakan yang baka, yang bersangkutan juga, wajib hukumnya, harus menuju "Sheol" (dunia orang mati) dengan masuk melewati "Pintu Gerbang Gorden Hitam".
Saya dan Romo itu kemudian meninggalkan kawasan tersebut. Setelah melangkah keluar, saya melihat Romo itu kembali memencet tombol, dan gorden hitam tersebut bergerak ke arah timur untuk menutup kembali pintu gerbang yang sangat menakutkan itu.
Jujur saja, Pintu Gerbang Gorden Hitam, menurutku sangat-sangat menakutkan. Dan mengacu kepada pesan Romo tersebut, itu berarti, baik Xanana, baik Ramos Horta maupun Taur Matan Ruak, yang telah menduduki "Kursi Keramat" Timor Leste, suatu saat, ketika akan meninggalkan dunia fana ini, wajib hukumnya, harus menuju "Sheol" dengan melewati "Pintu Gerbang Gorden Hitam".
Sekali lagi, untuk kasus Timor-Timur alias Timor Leste, hanya berlaku satu dalil; "Tangan kita sama-sama berlumuran darah dan mulut kita sama-sama mengepulkan asap. Tidak ada "anak emas".
Ketika masih hidup di dunia fana ini, kita berhadapan dengan BAPA Yang Maha Rahim. Namun setelah memasuki dunia baka, kita akan harus berhadapan dengan HAKIM Yang Maha Adil.
Keadilan TUHAN itu tidak pandang bulu, pilih kasih, apalagi pilih agama. Anda mau bergama, mau tidak bergama, Anda beriman atau tidak, Anda komunis sosialis yang atheis atau kapitalis yang materialistis, kita semua akan berhadapan dengan "Hakim Yang Satu & Esa". Tidak ada "Dua Hakim Agung".
Semoga catatan ini bermnafaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
BERSAMBUNG;

Tidak ada komentar: