Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Kamis, 08 Desember 2016

KESAKSIAN MEMILUKAN ANGGOTA KOPASSANDHA ASAL BALI YANG DITERJUNKAN DI KOTA BAUCAU 8 DESEMBER 1975 (bagian: 1)

Pengantar Singkat;
Dalam buku berjudul "De Oratore" (Tentang Ucapan), Marcus Tullius Cicero (filsuf, pemikir, orator dan ahli politik) asli Italia, berkata;
=========================
"Historia vero testis temporum, lux veritatis, vitae memoria, magistra vitae, nuntia vetutastis" (Bahasa Latin yang artinya; Sejarah adalah saksi jaman, cahaya kebenaran, kenangan akan hidup, guru kehidupan, dan pesan dari masa lalu).
=========================

Artikel ini sudah beberapa kali diterbitkan, baik di laman Face Book saya (Antoninho Benjamim Monteiro), maupun di media lain, termasuk di media online; http://forum-haksesuk.blogspot.co.id/.
Artikel ini berisi "versi kesaksian" mantan Anggota Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha), asal Bali, sebagaimana dikisahkan kepada saya, di Kampus Bukit Jimbaran Bali, Mei 1996. Saya sama sekali tidak merubah kesaksian versi mantan Kopassandha ini yang begitu memiliukan.
Berdasarkan kesaksiannya, hari itu, 8 Desember 1975, rombongannya yang satu pesawat dengannya yang diangkut dari Bandara Iswahyudi Madiun Jawa Timur dan diterjunkan di Kota Baucau, semuanya gugur, hanya 8 orang yang selamat, termasuk Beliau. Berdasarkan penuturannya, Beliau diselamatkan oleh salah satu penduduk asli Baucau bernama "Domingos".
Bagi mereka yang sudah membacanya, boleh langsung di-skip saja. Semoga bermanfaat
=================================================


Pada suatu hari, di pertengahan bulan Mei 1996, setelah selesai mengikuti Pembekalan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kampus Pusat Denpasar (waktu itu saya dapat lokasi KKN di Batur), saya pergi ke Kampus Bukit Jimbaran, bermaksud menghadap Rektor UNUD (Universitas Udayana).
Saat sedang menunggu giliran masuk, datanglah seorang pria paruh baya, yang penampilannya masih rada gagah walau terlihat Beliau sudah agak berumur.
Ada kesan Beliau adalah seorang Anggota Militer walau mungkin sudah Purnawirawan. Ini hanya naluriku sesaat sebelum berkenalan dengan Beliau. Tapi biasanya naluriku tidak keliru.
Beliau kemudian duduk di sampingku sambil meletakkan sebuah map kuning di atas meja kecil di hadapan kami berdua.
Saya tidak berusaha untuk menatapnya. Karena saat Beliau masih dari kejauhan saya udah sempat mengamatinya sekilas. Tapi dari ekor mataku, saya dapat mengetahui kalau Beliau berusaha untuk mencoba menyapa saya, setelah melihat penampilan fisikku.
Tapi mungkin karena saya bersikap acuh tak acuh saat itu, bahkan terkesan cuek dengan kehadirannya, maka niatnya untuk menyapa saya diurungkan.
Tapi kemudian saya merasa tidak enak. Kasihan, ini orang tua. Siapa tahu dia ingin mengenal saya dan mengajak saya "ngobrol ngalor ngidul" sambil menunggu giliran masuk menghadap Rektor.
Maka saya menoleh menatapnya sebentar sambil memasang mimik bersahabat. Beliau kemudian menoleh ke arah saya dan bertanya;
"Adik dari mana?" "Saya dari Kampus Pusat Denpasar, mau menghadap Rektor", jawabku sambil berusaha ramah.
Beliau kemudian menimpali; "Bukan itu maksud saya. Adik asli mana? Orang Bali atau bukan?"
"Ooh ituu...saya bukan asli Bali. Saya asli Tim-Tim, yang kebetulan kuliah di UNUD".
Saat itu saya menggunakan frasa Tim-Tim (bukan Timor Leste), karena saat dialog ini terjadi (1996), Tim-Tim masih merupakan bagian integral dari wilayah NKRI berdasarkan "Deklarasi Balibo, 30 November 1975" lalu ditambah dengan Integrasi 17 Juli 1976, yang kemudian status hukumnya dinaikkan menjadi Tap MPR no VI/1978".

Kemudian Beliau memperkenalkan diri sambil menyebutkan namanya sekaligus tidak ketinggalan menyebutkan asalnya dari salah satu Kabupaten di Bali.
Saya mengulurkan tanganku, kami berjabatan tangan dengan menyebutkan nama masing-masing.
Beliau mencoba mengeja nama saya, walau terdengar agak "blepotan". Maklum nama warisan Bangsa Eropa (Portugis), yang rada sulit jika dieja menggunakan lidah Bangsa Asia, termasuk lidah Indonesia.
Beliau kemudian mulai bercerita;
"Saya mau menghadap Pak PR II (Pembantu Rektor Bidang Keuangan)". Saya kemudian menimpali; "Oh gitu, saya kira Bapak mau menghadap Rektor".
Suasana hening sebentar. Tak berselang lama Beliau kembali bersuara;
"Maaf dik, saya mau sedikit bercerita, mumpung kita ketemu di sini. Kita bisa ngobrol sebentar". Saya menyahut; "Gak apa-apa Pak. Silahkan aja bercerita".
"Saya pernah lama bertugas di Tim-Tim sebagai Anggota Kopassus. Beliau tidak menggunakan sebutan "Kopassandha". Mungkin karena saat itu (1996 dan hingga saat ini) nama "Kopassus" (Komando Pasukan Khusus), lebih dikenal ketimbang nama "Kopassandha".
Mendengar Beliau menyebut kata KOPASSUS, yang muncul di bayangan saya adalah Pasukan TNI/Tentara Nasional Indonesia gagah berani dengan simbol berupa: Baret Merah yang merupakan salah satu Pasukan Elit Indonesia.
Saya yang tadinya sedikit acuh mulai menaruh perhatian serius. Saya mulai memperbaiki cara duduk saya. Beliau kemudian meneruskan;
"Saya mau menghadap Pak PR II sebagai Veteran Perang Tim-Tim, untuk menagih janji negara" (Beliau tidak menggunakan kata-kata: "Janji Pemerintah").
Saya kemudian bertanya dengan sangat hati-hati karena khawatir jangan sampai salah "ngomong" atau "ngomongnya" tidak salah tapi nadanya lain bisa menyinggung perasaan Beliau (masalahnya ini adalah KOPASSUS, salah-salah kepala saya bisa melayang).
"Maaf Pak, kalau boleh tahu, Bapak mau menagih janji apa itu?"
Mendengar pertanyaan saya, Beliau tidak langsung menjawab. Beliau kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan sebungkus rokok Gudang Garam dan dengan tenang mengeluarkan sebatang kemudian ditempatkan di jepitan bibirnya, lalu menyalakan korek dan menyulut rokok itu kemudian mengisapnya dalam-dalam lalu mengepulkan asap dari kedua lubang hidungnya sambil menatap jauh dengan pandangan kosong tanpa bersuara dan tanpa menoleh ke arah saya.
Saya mulai merasa tidak nyaman. Suasana Kampus Bukit Jimbaran di pagi hari yang sejuk tiba-tiba gerah rasanya. Dalam hati saya bertanya-tanya;
"Apa ada yang salah sari pertanyaan saya tadi?. Apakah Beliau tersinggung dengan pertanyaan saya?" Berbagai pertanyaan bermunculan di benak saya.

Tidak berselang lama, saya mendengar gigi-gigi geraham Beliau gemertak. Saya tidak berani menatapnya. Saya hanya mencoba melirik sekilas dan menemukan bagian rahangnya terlihat jelas bahwa gigi-geligi gerahamnya sedang menunjukkan bahwa Beliau sedang geram menahan amarah luar biasa. Hanya saja saat itu saya tidak tahu, Beliau marah kepada siapa?
Saat itu ingin rasanya saya segera berdiri dan menjauhi Beliau. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Tubuhku terasa kaku. Untung saja, tiba-tiba Beliau menatap ke arah saya dan bersuara penuh kebapaan tanpa terdengar nada amarah;
"Maaf dik, sulit rasanya untuk harus menjawab pertanyaan adik tadi. Apalagi jika saya harus membayangkan teman-teman seprjuangan yang gugur di Tim-Tim".
Saat mengucapkan kata-kata itu, mata Beliau terlihat merah. Rupanya Beliau sedang berusaha keras menahan gejolak emosi yang akan meledak.
Saya tidak berani menatap ke arah Beliau. Setelah agak tenang, mungkin karena sudah bisa menguasai diri kembali, mulailah dengan lancar Beliau bercerita;
"Saya adalah salah satu saksi sejarah yang masih hidup. Pada Hari Senin, tanggal 8 Desember 1975, pagi-pagi buta, saya dan ratusan rekan saya sesama Anggota KOPASSUS diangkut dengan pesawat Hercules dari Bandara Iswahyudi Madiun".
Beliau diam sebentar. Saya tidak berusaha memberikan komentar, tapi hanya pasang mimik serius menunjukkan bahwa saya tertarik mendengar kisahnya yang trenyuh dan memilukan. Beliau menarik nafas panjang kemudian meneruskan;
"Saat itu kami semua tidak satupun tahu akan dibawa kemana. Tapi karena status kami adalah militer, yang sudah berkomitmen sebagai Prajurit yang harus siap sedia setiap saat dalam berbagai situasi untuk membela kepentingan bangsa dan negara, maka kami berusaha untuk tunduk pada perintah yang datang tiba-tiba di pagi buta".
Setelah mengisap rokonya dalam-dalam dan menghembuskan asap keluar, Beliau meneruskan;
"Sesudah pesawat mengudara sangat tinggi, dari sebuah tape recorder, tiba-tiba terdengar suara "Jenderal bla..bla.." (saya sengaja tidak menyebut nama Jenderal yang Beliau sebutkan).
"Jenderal itu berpidato dengan nada berapi-api; Saudara-saudaraku Prajurit TNI yang saya banggakan. Hari ini, saudara-saudara akan mengemban tugas mulia untuk membela kepentingan bangsa dan negara Indonesia kita tercinta. Negara sangat membutuhkan kerelaan saudara-saudara untuk mengemban misi mulia ini.
Seandainya sesuatu terjadi atas diri saudara, maka negara akan mengambil alih seluruh tanggung-jawab terhadap anak isteri saudara yang ditinggalkan. Negara akan menyekolahkan anak-anak saudara hingga menjadi seorang Sarjana".
Setelah menarik nafas agak dalam, Beliau lalu meneruskan;
"Kami tidak tahu kalau hari itu kami akan diterjunkan di Tim-Tim. Setelah pesawat yang membawa kami meninggalkan Madiun, mungkin sudah berada di area udara Tim-Tim, baru ada pengumuman dari Komandan dalam pesawat bahwa kami harus siap menerima segala resiko sebagai seorang Prajurit. Kami akan diterjunkan di kota Baucau (kota terbesar kedua setelah kota Dili).
Beliau kemudian meneruskan;
"Saat terjun dari atas kota Baucau, suasana masih gelap gulita. Kami tidak bisa melihat bentuk medan seperti apa yang ada di bawah? Pokoknya asal melompat keluar dari pesawat dan menyerahkan nasib sepenuhnya ke tangan TUHAN".
Beliau meneruskan;
"Saya mencoba berdoa dalam hati, semoga saya diselamatkan TUHAN agar suatu saat masih bisa bercerita megenai kisah mengerikan dan memilukan ini untuk anak cucu saya".
"Hari itu, Senin 8 Desember 1975, benar-benar Desember yang sangat kelabu bagi kami. Kami yang diterjunkan di kota Baucau benar-benar berubah menjadi sate kambing. Di bawah sana, Pasukan perlawanan Fretilin telah memasang berbagai perangkap, di antaranya berupa bambu runcing, karena sehari sebelumnya, Minggu, 7 Desember 1975, sejumlah Anggota Kopassus yang diangkut dari Madiun telah diterjunkan di Kota Dili, dan banyak dari mereka yang telah tewas".
Beliau meneruskan;
"Dan pada hari kedua, saat giliran kami diterjunkan di kota Baucau, rupanya di sana telah dipasang sejumlah perangkap. Ratusan Pasukan KOPASSUS yang diterjunkan hari itu, hampir semuanya tewas, hanya tersisa 8 orang yang selamat, termasuk saya".
"Begitu saya melompat keluar dari pesawat, rasanya itulah hari terakhir saya di dunia ini. Dan untung parasut saya mengembang dengan baik".
"Saya terus melayang terjun ke bawah. Namun sial, parasut saya justeru tesangkut di pohon kelapa. Saat masih tersangkut melayang di pohon kelapa, di kegelapan malam, saya mendengar teriakan-teriakan memilukan dari rekan-rekanku menggema dari berbagai sudut kota Baucau. Tapi saat itu, keadaan serba sulit. Siapa yang mau menolong siapa? Setiap orang sibuk berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan diri sendiri".
Setelah mengucapkan kata-kata di atas, Beliau tidak bisa mengusai dirinya lagi. Air mata Beliau semakin deras menetes perlahan, mengalir bagaikan anak sungai membasasi pipinya.
Saat itu saya benar-benar merasa trenyuh. Rasanya saya juga ingin menangis. Hati kecil saya tersentuh dengan kisah memilukan ini. Saya mencoba mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Karena tidak kuat menatap wajah kesedihan seorang mantan Anggota KOPASSANDHA TNI menangis pilu di hadapanku.
BERSAMBUNG;

Tidak ada komentar: