Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 05 Desember 2016

OOH PANGERAN HATI; Riwayatmu Dulu Kini & Esok (bagian; 4) (Siapakah Yang Akan Terpilih Sebagai Gubernur Jakarta?)



Antara Camp David & Jakarta Ada Cawan Anak Domba 
MUJIZAT TUHAN DI "PANTAI DANAU TIBERIAS"
Kemudian YESUS menampakkan diri lagi kepada murid-muridNya di "Pantai Danau Tiberias" dan Ia menampakkan diri sebagai-berikut.
Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang muridNya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, YESUS berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah YESUS. Kata YESUS kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata YESUS kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka “murid yang dikasihi YESUS itu” berkata kepada Petrus: “Itu TUHAN.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah TUHAN, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira 200 hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata YESUS kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: 153 ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata YESUS kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah TUHAN. YESUS maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya YESUS menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati (Yohanes; 21:1-14)
===========================================
Antara Camp David & Jakarta Ada Cawan Anak Domba 
===========================================
Hari ini 5 Desember 2016. Pada 41 tahun lalu, tepatnya 5 Desember 1975, Presiden AS (Amerika Serikat) Gerald Rudolph Ford dan rombongan tiba di Jakarta.
Kunjungan tersebut, sejatinya adalah untuk membalas kunjungan Presiden Soeharto di Camp David, 153 hari hari sebelumnya, tepatnya tanggal 5 Juli 1975.
Jika kita menghitung RW ("Rentang Waktu") antara "Pertemuan Camp David" (5 Juli 1975) dan "Pertemuan Jakarta" (5 Desember 1975), jaraknya adalah "153 hari".
Suatu "RW" dinilai memiliki makna (entah makna filosofis atau teologis atau bahkan makna politis) yang sangat penting, jika di antara "RW" tersebut terjadi "SEJARAH" yang juga harus penting.
Nah, yang namanya SEJARAH hanya bisa terjadi jika ada RUANG. Dengan demikian, maka kita bisa membangun DALIL bahwa; "SEJARAH" sangat membutuhkan "RUANG". Tanpa ada RUANG, tidak akan mungkin pernah ada SEJARAH yang tercipta.
Jika SEJARAH itu tercipta di antara DUA RUANG, maka di antara DUA RUANG tersebut, hampir bisa dipastikan, selalu ada RW alias RENTANG WAKTU (Laos RW naan asu).
Nah, salah satu di antara DUA RUANG di mana telah terciptanya SEJARAH yang sangat monumental yang menjadi isu sentral dalam artikel ini adalah RUANG yang bernama JAKARTA.
Dan saat ini di ruang bernama JAKARTA, telah, sedang dan akan berlangsungnya "hajatan politik" untuk memilih; Kepala Ruang Jakarta".
Pertanyaannya adalah;
"Kenapa RW antara "dua ruang" (Camp David dan Jakarta) adalah harus 153 hari?" Kenapa bukan "154 atau 152 hari?"
Jika saya yang ditanya dengan pertanyaan di atas, maka jawaban saya adalah, karena RW "153 hari" tersebut sangat berhubungan erat dengan mujizat TUHAN di "Pantai Danau Tiberias", di mana TUHAN memunculkan 153 ikan, sebagaimana telah tertulis dalam Injil St. Yohanes (21:1-14), sebagaimana saya kutip dan saya jadikan sebagai "point entry" seri ke-4 artikel ini.
Masih berkaitan erat dengan RW "153 hari" yang menghubungkan Camp David dan Jakarta, dua hari lalu, 3 Desember 2016, sebelum berlangsungnya laga El Classico, saya menerbitkan artikel berjudul; SAYA SEORANG MISTIKUS - BUKAN PERAMAL.

Dalam artikel tersebut, khususnya yang diterbitkan di laman Face Book saya (Antoninho Benjamim Monteiro), saya melampirkan 3 foto. Jadi ke-3 foto tersebut dimunculkan sebelum laga berlangsung. Bukannya setelah mengetahui hasil laga.
Anda boleh meminta ahli IT untuk memastikannya, bahwa saya tidak "mengedit" artikel tersebut (untuk mengganti foto) setelah hasil laga diketahui. Bagi rekan-rekan FB'ers yang membaca artikel tersebut, pasti mengetahui betul bahwa 3 foto tersebut sudah muncul sebelum laga El-Clasico berlangsung.
Nah, walau saya tidak menjelaskan atau "menarasikan" secara "tekstual", namun melalui 3 foto tersebut, saya sedang memainkan "steganos" (pesan tersembunyi).
Ke-3 foto tersebut, sedang menarasikan hal-hal berikut;
(1). Foto yang satu memvisualisasikan tim Barcelona sedang merayakan gol yang tercipta. Terlihat mereka berpelukan. Ternyata berselang sekian jam kemudian, SEJARAH mencatat bahwa dalam laga tersebut Barcelona memang benar-benar berhasil menciptakan gol melalui aksi (heading) Luis Suarez. Ini artinya jika saya sedang "menguji sebuah THESIS", maka THESIS tersebut BENAR karena di-VERIFIKASI (berbanding lurus) melalui fakta di lapangan di mana Barcelona benar-benar merayakan gol.
(2). Foto yang satu lagi memvisualisasikan tim Real Madrid juga sedang merayakan gol yang tercipta. Terlihat mereka berpelukan. Ternyata berselang sekian jam kemudian, Real Madrid benar-benar merayakan gola dalam laga tersebut, di mana Real Madrid berhasil menciptakan gol di penghujung laga untuk menyamakan kedudukan (menggagalkan kemenangan Bercelona), melalui aksi (heading) Sergio Ramos. Ini (juga) artinya jika saya sedang "mengjui sebuah THESIS", maka THESIS tersebut BENAR karena di-VERIFIKASI (berbanding lurus) melalui fakta di lapangan di mana Real Madrid benar-benar merayakan gol.
(3). Nah, foto yang satu lagi, lumayan heboh. Di sana tampak ada 3 orang (Sergio Ramos, Essien & Pepe). Di atas kepala Sergio Ramos, muncul "KARTU MERAH". Dan tampak Sergio Ramos sedang tersenyum berhadapan dengan dua temannya, Essien dan Pepe.
Di kedua punggung temannya, ada bilangan "153". Pertanyaannya kini adalah; "Apakah foto ini dimunculkan untuk melakukan VERIFIKASI atau untuk melakukan FALSIFIKASI terhadap THESIS tertentu? Ataukah dua-duanya (baik VERIFIKASI dan sekaligus FALSIFIKASI?)
Kalau foto itu bertujuan untuk melakukan VERIFIKASI terhadap THESIS tertentu, seharusnya "Sergio Ramos" dikeluarkan dari laga itu karena foto tersebut memperlihatkan bahwa di atas kepala Sergio Ramos, yang muncul adalah KARTU MERAH?
Tapi fakta yang tersaji di lapangan berbanding terbalik (bukan berbandng lurus) dengan foto tersebut. Karena menjelang laga berakhir, yang muncul dari kepala Sergio Ramos, bukan KARTU MERAH, melainkan sebuah GOL untuk menggagalkan kemenangan Barcelona yang sudah ada di depan mata.
Ini artinya, jika foto tersebut sengaja saya munculkan untuk mem-FALSIFIKASI THESIS tertentu yang berhubungan erat dengan "Pilkada Jakarta", maka pertanyaan yang sangat menggoda adalah; "Siapakah Calon Gubernur yang sedang terpapar oleh metode FALSIFIKASI tersebut?"

 Apakah Calon Gubernur nomor urut SATU?
Apakah Calon Gubrnur nomor urutuk DUA?
Ataukah Calon Gubernur nomor urut TIGA?
Saya akan meneruskan lanjutan (seri ke-5) artikel ini tanggal 7 Desember 2016. Saya sengaja memilih tanggal "7 Desember", untuk mengenang "Serangan 7 Desember 1975", di mana "Otoritas Jakarta" (melalui TNI) melakukan INVASI BERDARAH atas "Wilayah Timor Portugis, setelah "Otoritas Washington" memberikan "LAMPU HIJAU".
Saya yakin, JAKARTA tidak akan mungkin melakukan "INVASI BERDARAH 7 Desember 1975, jika Otoritas WASHINGTON tidak menapakkan "tapak kakinya" di Jakarta.
Karena pada hakikatnya, secara normatif (hukum tertulis), INVASI BERDARAH 7 Desember 1975, bertentangan dengan prinsip-prinsip universal yang dianut Indonesia, sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 45, alinea I yang berbunyi;
============================================
"Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan".
===========================================
Pertanyaannya adalah;
"Jika INVASI BERDARAH 7 Desember 1975 bertentangan dengan hukum-hukum  positif buatan manusia, termasuk hukum internasional, namun apakah demikian juga di Mata TUHAN?"
===========================================
Jika saya yang ditanyai dengan pertanyaan di atas, maka saya akan tanpa sedikitpun ragu untuk mengatakan;
"Seandainya saja INVASI BERDARAH tersebut dilakukan BUKAN pada "7 Desember 1975" maka saya tidak akan "berkomentar". Namun karena INVASI BERDARAH tersebut dilakukan tepat pada "7 Desember 1975," maka karena saya seorang "mistikus" (tapi bukan politikus) dan juga karena namaku adalah; ANTONINHO BENJAMIN MONTEIRO, maka saya harus jujur mengatakan bahwa INVASI BERDARAH 7 Desember 1975, sama sekali tidak bertentangan dengan Hukum-Hukum TUHAN".".
"Lho, kok bisa begitu? Apa dasarnya?" Temukan jawabannya di seri ke-5 artikel ini yang akan diterbitkan 7 Desember 2016.

Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman"

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: