Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 14 November 2016

TRUMP SEBENARNYA INGIN MENYERAHKAN KURSI KEPRESIDENAN KEPADA HILLARY CLINTON SEBAGAI PEMENANG SUARA RAKYAT


"Mungkinkah Rusia telah terlalu jauh mencampuri pemilihan presiden Amerika kali ini?"
Walaupun gaya bicaranya suka "ceplas-ceplos" dalam menyatakan isi hatinya, namun rupanya Presiden terpilih ini menyadari betul bahwa memenangkan "suara rakyat" secara langsung jauh lebih "terhormat" ketimbang hanya memenangkan "suara Parlamen".

Dalam salah satu wawancara dengan catchnews.com yang diekspos hari ini, 14 November 2016, ketika ditanya tentang isu "suara parlamen" (yang telah membawanya menuju Gedung Putih), Donald Trump dengan terus terang mengakui bahwa meskipun ia telah memenangkan suara parlamen lebih banyak ketimbang Hillary Clinton, namun ia ingin sekali menyerahkan kursi kepresidenan kepada pemenang suara rakyat (Hillary Clinton).
Coba baca salah satu penggalan (kutipan) berikut ini;
When asked about the issue of Electoral College, Trump, despite winning more electoral votes than Hillary Clinton, said that he still favours ditching the Electoral College and handing the presidency to the winner of the popular vote. (sumber; http://www.catchnews.com/world-news/14 November 2016)
===========================================


Mungkin Mr. Trump mengatakan hal ini karena dia menyadari sepenuhnya bahwa pertanyaan ini adalah "pertanyaan jebakan", lebih tepatnya "pertanyaan ejekan".
Karena di tahun 2012 ketika hitungan elektoral vote memastikan bahwa Barrack Obama akhirnya akan kembali menduduki Gedung Putih, sementara perhitungan suara "popular vote" saat itu masih belum berakhir, Trump langsung menulis di twitternya, dengan mengatakan bahwa; "Electoral vote is a disaster for democracy" (elektoral vote adalah sebuah bencana untuk demokrasi).

Namun hingga hitungan suara selesai, ternyata Barrack Obama secara meyakinkan memenangkan keduanya, baik elektoral vote maupun popular vote.
Di kemudian hari (2016), ternyata apa yang dianggap Donald Trump adalah "bencana bagi demokrasi", justeru telah menyelamatkannya untuk menduduki "White House" dan Trump langsung menghapus kicauan di twitter-nya 4 tahun lalu.
Mungkin wartawan sejatinya ingin sekali bertanya begini;
"Bagaimana pendapat anda tentang elektoral vote? Bukankah 4 tahun lalu, melalui twiitter, anda telah mengatakan bahwa elektoral vote adalah "bencana bagi demokrasi?"
Dan ternyata Trump berusaha keras untuk "konsisten" mengatakan bahwa dia sejatinya "mengabaikan elektoral vote" dan ingin rasanya menyerahkan kursi kepresidenan kepada Hillary Clinton yang telah memenangkan suara rakyat.
Seandainya saja Amerika menganut sistim "pemilihan langsung", di mana Presiden dipilih langsung oleh rakyat (sebagaimana sistim demokrasi yang saat ini dianut di Indonesia dan Timor Leste), maka Hillary Clinton lah yang akan menduduki Gedung Putih.
MARGIN POPULAR VOTE MAKIN MELEBAR
Saat ini, ketika artikel ini ditulis, marjin perolehan suara "popular vote" (suara rakyat), antara Donald Trump dan Hillary Clinton makin melebar. Hillary semakin jauh meninggalkan Donald Trump.
Saat ini Hillary telah jauh mengungguli Trump dengan suara rakyat sebanyak; "668.483". Suara Hillary telah menyentuh angka 61 juta lebih, persisnya; 61.039.676, sementara Trump masih berada di kisaran 60 juta-an, tepatnya; 60.371.193 (sumber; http://edition.cnn.com/election/results/14November 2016/).
Dan marjin ini akan terus melebar, mengingat ada 9 negara bagian yang dimenangkan Hillary yang suaranya belum selesai dihitung.
Mungkin hal inilah yang menyebabkan Donald Trump merasa kurang nyaman memenangkan elektoral vote dan mengakui dengan jujur bahwa dia sebenarnya ingin menyerahkan kursi kepresidenan kepada Hillary Clinton, walau tentunya ini hanyalah sebuah "bahasa diplomasi" (Trump mak fo duni, manu Timor nehan moris hotu).
MUNGKINKAH RUSIA TELAH MENCAMPURI?
Tanggal 9 November 2016, salah satu TV nasional Indonesia mengtakan bahwa ada dugaan (disinyalir) Rusia telah menyebarkan ribuan "hackers" untuk mengalihkan kemenangan buat Trump.
Dalam berita berbahasa Inggris berjudul; Russia was 'in touch' with Donald Trump's team during US election campaigning" (Rusia ada kontak dengan tim Donald Trump selama berlangsungnya masa kampanye), di mana Rusia mengakuinya dengan jujur telah ada kontak dengan timnya Donald Trump, namun dari fihak Donald Trump menyangkal habis-habisan bahwa itu tidak benar sama sekali.


Coba Anda baca sendiri berita yang dirilis catchnews.com, edisi 11 November berjudul; "Russia was 'in touch' with Donald Trump's team during US election campaigning".
The Russian government has claimed that it was in touch with the representatives from Donald Trump's presidential campaign, however, the President-elect's team has firmly denied the report.
This development comes after Clinton camp continuously accusing Trump over his close ties to the Russian regime, which Trump has constantly denied.
"During this entire period, we not only sent some signals through some representatives, or private messages," the CNN quoted Russian Foreign Ministry spokeswoman Maria Zakharova as saying on Thursday about the communications with the Trump staff.
Sumber kutipan;
Pertanyaannya adalah; "Mungkinkah Rusia telah terlalu jauh mencampuri pemilihan presiden Amerika kali ini?"
Jujur saja, saya tidak percaya dengan isu ini, walau tidak sama sekali mengabaikannya.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: