Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Kamis, 24 November 2016

OOH PANGERAN HATI; Riwayatmu Dulu Kini & Esok (bagian; 3)



"NKRI hanya bisa diselamtakan dengan menyembelih ANAK DOMBA. Tanpa menyembelih ANAK DOMBA maka cepat atau lambat NKRI akan harus runtuh. Tapi sayangnya ANAK DOMBA itu, walau kelahiran NUSANTARA namun berdarah YAHUDI dan beragama NASRANI".

Pengantar Singkat;
Artikel seri ketiga ini saya tulis karena sebelumnya, melalui seri kedua artikel ini, ada salah satu sahabat FB'er menanyakan mengenai "Ahli Anesthesi" dan obat "Halotan" itu apakah "beneran" atau sekedar sebuah "kiasan atau perumpamaan?"
Semoga setelah membaca kisah nyata berikut ini, saya berharap sahabat yang menanyakan isu tersebut bisa menyimpulkannya sendiri.
GARA-GARA PASIEN DARI PERANCIS
Tanggal 2 Februari 1994, malam hari, saya yang saat itu berstatus sebagai "dokter muda", sedang melakukan observasi ketat terhadap seorang pasien asal Perancis yang baru saja selesai menjalani operasi "Laparatomy" di Rumah Sakit Sanglah Denpasar, karena menderita "peritonitis akut".
Setelah operasi, pasien dipindahkan ke ruang HCU (High Care Unit). Karena pasien hanya bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, maka sayalah yang ditugaskan dr. Alex Suranadi (Residen Anesthesi saat itu) untuk melakukan observasi ketat terhadap pasien tersebut (seorang pria bule berbadan besar).
Yang namanya "Operasi Laparatomy" tergolong operasi besar (bedah mayor), di mana seluruh isi perut dibedah, maka pasien harus dibius total (anesthesi umum).
Maka bisa dipastikan, sesaat setelah operasi dan pasien sadar, pasien akan merasa sangat nyeri dan kebanyakan berteriak kesakitan karena luka operasi. Demikian pula yang dialami bule tersebut. Karena bule itu berbadan besar, bayangkan kalau dia berteriak kencang. Rasa-rasanya dinding ruangan HCU bergetar.
Karena bule terus berteriak, maka itu artinya "pain killer" (obat anti nyeri) yang telah disuntikkan dalam dosis besar, tidak berfungsi maximal. Maka harus memikirkan alternatif lain.
Saya lalu menelfon dr. Alex yang saat itu sedang berada di ruang operasi. Saya mengabarkan pasien bule terus berteriak, tidak henti-henti. Dan dr. Alex bilang; "Oke saya ke sana sekarang. Tampaknya kita harus suntik morfin".
Tak berselang lama, dr. Alex Suranadi bersama salah satu dokter muda (seniorku) bernama; Sahadewa, memasuki ruang HCU.
Setelah segala sesuatunya siap, kami bertiga akan mulai "mengobok-obok" sang bule. Namun sebelum "obok-obok", dr. Suranadi bilang;
"Monteiro, karena kita harus memasukkan morfin lewat tulang belangkang, maka tolong jelaskan kepada pasien mengenai tujuan tindakan ini, termasuk alasan mengapa kita harus suntik morfin lewat tulang belakang karena umumnya orang-orang bule sangat kritis dan bertanya ini itu, termasuk bertanya; kenapa harus disuntik lewat tulang belakang?
Umumnya suntikan biasa akan diberikan lewat area "gluteus maximus" atau yang orang awam bilang (maaf), area bokong". Namun untuk cepat meredakan rasa nyeri yang dialami sang bule, kami harus menyuntikkan morfin langsung lewat saraf utama yang ada di tulang belakang.
Akhirnya segala sesuatunya berlangsung lancar dan sukses. Dan ternyata manjur sekali. Sang bule tertidur tenang tak bersuara.
Karena bule tertidur, saya juga ikut-ikutan tertidur karena sangat mengantuk. Soalnya malam sebelumnya saya baru saja selesai jaga. Dan malam itu saya harus kembali dipanggil untuk jaga lagi, hanya gara-gara masalah bahasa (masalah komunikasi).
Maaf, saat itu dr. Alex Suranadi sendiri belum menguasai bahasa asing, termasuk Bahasa Inggris.
Demikian juga setali tiga uang dengan teman-teman kelompok jagaku yang lain. Maka mau tidak mau saya harus dipaksa untuk jaga dua malam berturut-turut, hanya gara-gara ada bule dari Perancis yang hanya bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.
Tapi saat ini mereka semua telah jago berbahasa asing. Apalagi dr. Alex Suranadi, bukan hanya jago berbahasa Inggris, namun juga Bahasa Perancis. Beliau salah satu Ahli Anesthesi terbaik saat ini.
Sementara seniorku dr. Putu Sahadewa kini telah menyandang status sebagai seorang "Ahli Kandungan".
Seniorku dr. Sahadewa, pada jamanku, adalah salah satu mahasiswa aktivis FK Unud yang sangat kondang. Dulu kami pernah sama-sama duduk di BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FK Unud. Waktu itu Ketua BPM-nya adalah Almarhum dr. Sumantera (Seniorku sangat cerdas dan rendah hati ini meninggal di Rumah Sakit Sanglah gara-gara demam berdarah).
DUA MALAIKAT MENEMUIKU DALAM MIMPI
Malam itu, di ruang HCU yang suhunya sangat-sangat dingin, saya tertidur dibalut selimut tebal di salah satu bed dengan sangat pulas. Nah, dalam tidur itulah saya mendapatkan mimpi aneh.
ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya menemuiku dalam mimpi dan memintaku harus (wajib hukumnya) datang ke Bukit Sio(n) yang terletak di Kaki Gunung Ramelau (gunung tertinggi di Timor-Timur saat itu. Tentu saja hingga saat ini masih tetap merupakan gunung tertinggi di Pulau TIMOR).
Alasan ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya memanggilku ke Bukit Sio(n) adalah untuk memberkati CATUR MOBILISASI. Saya tidak usah lagi menjelaskan CATUR MOBILISASI karena saya sudah menjelaskannya berkali-kali melalui sejumlah artikel.
Dalam mimpiku malam itu, sebenarnya terjadi "penolakan" dari fihak saya. Maksudnya, saya menolak untuk pergi ke Bukit Sio(n) dengan berbagai alasan, termasuk alasan tidak memiliki beaya untuk membeli ticket pesawat Denpasar - Dili.
Ketika saya menyampaikan alasan; tidak memiliki dana untuk membeli ticket pesawat, kedua Malaikat bilang; "Akan ada orang yang memberi kamu uang untuk membeli ticket".
Setelah itu kedua Malaikat menghilang. Saya tersadar dari tidurku dan merenungkan mimpi aneh tersebut.
BERTEMU BAPAK MANUEL CARRASCALAO
Selang 4 hari setelah mimpi aneh tersebut, suatu sore, tepatnya tanggal 7 Februari 1994, salah satu sahabatku bernama; Tadeu Francisco Soares (alumnus Fakultas Ekonomi Undiknas), mengajakku ke Tiara Dewata (super market tertua di Bali saat itu).
Tiba di sana kami berdua naik ke lantai atas, untuk baca buku. Setelah sekitar dua jam-an baca buku kami memutuskan untuk pulang ke kos.
Pas turun ke bawah, di lantai satu, di bagian jual pakaian, kami bertemu dengan Sdr. Artur Natalino Corte Real de Araujo, asal Ainaro, yang saat ini sudah menyandang status sebagai seorang INTERNIST (Ahli Penyakit Dalam).
Dan saat itulah ketika sedang "ngobrol" dengan Artur, tanpa disengaja kami melihat Bapak Manuel Viegas Carrascalao (kakak kandung Ir, Mario Viegas Carrascalo/Gubernur Timor-Timur ke-3 jaman Indonesia) sedang turun dari lantai atas.
Saat itulah untuk pertama kalinya saya mengenal Almarhum, yang ketika itu bersama Isterinya (wanita asli indonesia), sedang berbelanja di Tiara Dewata.
Rupanya saat itu Pak Manuel mewakili DPRD Timor-Timur diundang menghadiri hajatan milik Kodam IX Udayana.
Kami terlibat obrolan serius dengan Pak Manuel, ketika Beliau bertanya mengenai keadaan kami. Kami laporkan bahwa Pemerintah Timor-Timur telah mengeluarkan satu keputusan untuk menghentikan beasiswa kami.
Beliau bertanya; "Apakah ada keputusan tertulis dari Pemerintah Timor-Timur?"
Kedua sahabatku langsung menunjuk saya; "Ini Ketua Imppetu Bali. Mungkin dia bisa menjelaskan tentang isu ini".
Saya yang "ditodong" secara tiba-tiba harus menjawab. Untung saya masih hafal betul nomor surat tersebut. Sambil menatap wajah Pak Manuel, saya menyebutkan surat tertulis tersebut;
"Pemerintah Timor-Timur menghentikan beasiswa kami melalui surat dengan nomor; 142/SKG/IV/1993, tertanggal 20 April 1993".
Surat tersebut diantar langsung ke Bali oleh sebuah Tim yang dipimpin langsung Kepala Biro IV (Biro Kepegawaian) yang saat itu dijabat oleh Bapak Sebastiao Dias Ximenes,SH,M.Hum (kini menjalani fungsi sebagai Assesor di Kementerian Pertanian Timor Leste).
Yang masih saya ingat betul, saat itu April 1993, Bapak Sebastiao Dias Ximenes bersama timnya mengantar dua jenis surat ke Bali. Surat yang satu bernomor; 142/SKG/IV/1993, tertanggal 20 April 1993, yang intinya mengatur mengenai pemberhentian beasiswa, sementara surat yang satu lagi bernomor; 143/SKG/IV/1993, tertanggal 20 April 1993, yang intinya mengatur mengenai "pembenahan Imppetu" di seluruh Indonesia.
Kedua surat tersebut ditanda-tangani langsung oleh Bapak Gubernur Timor-Timur saat itu, Abilio Jose Osorio Soares. Karena itulah surat tersebut berlabel SKG (Surat Keputusan Gubernur).
Setelah "ngobrol" agak lama, Pak Manuel bersama Isterinya menawari kami bertiga untuk makan malam bersama. Namun bagaikan koor, kami menjawab; "Terima-kasih. Kami sudah makan".
Padahal sejatinya; perut kami lagi keroncongan karena belum makan, tapi karena malu, kami bilang saja sudah makan.
Akhirnya Pak Manuel merogoh saku celananya dan mengeluarkan segumpal uang kertas. Beliau, tanpa menghitung lebih dulu, langsung menyodorkan gumpalan uang kertas tersebut ke arah kami, sambil berkata;
"Saya tidak bawa apa-apa dari Dili. Saya diundang mewakili DPRD Timor-Timur untuk menghadiri hajatan Kodam IX Udayana. Terimalah ini sekedar ongkos transport balik ke kos".
Yang menerima uang tersebut adalah dr. Artur. Begitu uang berada di tangan dr. Artur, kami berpisah. Pak Manuel dan Ibu meneruskan belanja. Kami bertiga keluar menuju pelataran parkir.
Kami mencari sudut yang tersembunyi untuk membagi uang tersebut secara merata (bagi tiga). Ternyata setelah dibagi tiga, sisanya ada Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah).
Karena Rp 10.000 tidak bisa dibagi tiga, kami sepakat untuk makan malam di Depot Adi yang ada di Jl. Waturenggong Sanglah. Saya dan Sdr. Tadeu menumpang bemo, sementara dr. Artur naik motor. Kami bertemu di Depot Adi untuk menikmati makan malam.
Tahun 2003, saat saya kembali dari Timor Leste, saya sudah tidak lagi melihat Depot Adi. Gedung dua lantai itu masih ada, namun sudah beralih fungsi.
Jaman "doeloe" (1994) makanan masih sangat murah. Jadi dengan modal Rp 10.000, sudah bisa makan enak untuk jatah 3 orang.
SAYA LANGSUNG BOOKING TICKET MALAM ITU JUGA
Setelah makan, kedua sahabatku balik ke kos. Saya langsung pergi "booking ticket". Malam itu saya langsung packing. Keesokan harinya, 8 Februari 1994, saya meninggalkan Denpasar menuju Dili menumpang Pesawat Merpati.
Tanggal 14 Februari 1994, saya meninggalkan Dili menuju Atsabe, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 94 Kilometer sebelah barat daya Kota Dili.
Kamis, tanggal 17 Februari 1994, saya bersama 4 orang pria berangkat menuju Bukit Sio(n). Namun di tengah perjalanan, kami lari kocar-kacir karena saat itu sedang terjadi "kontak senjata" antara TNI (Tentara Nasional indonesia) dan Falintil (Gerilyawan Pejuang Kemerdekaan Timor Leste).
Kami tiba kembali di Atsabe secara sendiri-sendiri. Keesokan harinya, saya sendiri berangkat ke Bukit Sio(n) hanya ditemani seekor "Anjing Gaib" kiriman Santo Yosef.
Saya harus berangkat sendiri, karena orang-orang yang sehari sebelumnya telah bersedia mengantar saya ke Bukit Sio(n), trauma untuk mengantarkan saya, gara-gara kejadian kemarin.
Saya berada di Bukit Sio(n) selama 3 hari. Pada Minggu dini hari, 20 Februari 1994, ALLAH memberkati CATUR MOBILISASI. Saat itu, ALLAH berbicara dari balik Takhta-Nya yang agung dan megah, sambil mengacungkan "Lengan Kanan-Nya" menjulang ke atas.
Saya sama sekali tidak melihat "Wajah ALLAH". Saya hanya melihat sebuah "Lengan Kanan Raksasa" yang teracung dari balik Takhta yang sangat agung dan megah sambil mendengar ALLAH berbicara dengan suara-Nya yang kadang menggelegar bagaikan suara petir yang menyambar, dan kadang terdengar bagaikan desau air bah.
Saya tiba kembali di Atsabe pada Minggu malam, 20 Februari 1994, dengan tubuh yang nyaris kaku, karena sepanjang perjalanan pulang, saya diguyur hujan yang amat-amat deras disertai petir.
Sayangnya saya kembali tanpa "Anjing Gaib" kiriman Santo Yosef yang telah berjasa mengantarkan saya ke Bukit Sio(n).
Berdasarkan rahasia yang saya saksikan di Bukit Sio(n) Februari 1994, tanpa ragu, saya tiba pada pernyataan (kesimpulan) bahwa;
====================================================================
"NKRI itu hanya bisa diselamtakan dengan menyembelih ANAK DOMBA. Tanpa menyembelih ANAK DOMBA maka cepat atau lambat, suatu saat, NKRI akan harus runtuh. Sayangnya ANAK DOMBA itu walau kelahiran NUSANTARA namun berdarah YAHUDI dan beragama NASRANI".
====================================================================

Dan untuk menyembelih ANAK DOMBA itu, ada 5 syarat yang harus dipenuhi. Dua dari 5 syarat tersebut adalah; kita membutuhkan Ahli Anesthesi (Ahli Bius) dan obat bius yang bernama "HALOTAN".
Mengapa harus obat bius bernama HALOTAN? Mengapa tidak menggunakan obat bius lainnya? Karena makna HALOTAN ini berhubungan erat dengan MATAHARI dan juga berhubungan erat dengan BATU REFERENDUM.
Namun dua syarat ini (Ahli Anesthesi & Halotan) hanya akan kita butuhkan jika 3 syarat yang kedudukannya lebih tinggi, dipenuhi lebih dulu.
Artinya, kita boleh saja memiliki ribuan Ahli Anestehsi. Kita boleh saja memiliki ribuan gudang obat bius Halotan. Tapi semuanya itu tidak ada artinya, jika ALLAH tidak merubah judul utama artikel ini (OOH PANGERAN HATI) ke dalam Bahasa Tetun menjadi; OHO KONDI KOPAS".
Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Bersambung;

Tidak ada komentar: