Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 04 November 2016

"OOH PANGERAN HATI: "Riwayatmu Dulu Kini & Esok" (bagian: 1)



Siapakah Yang Akan Terpilih Jadi Gubernur Jakarta?"
Pengantar Singkat;
Semenjak penarikan undian (nomor urut) oleh 3 kandidat tempo hari, banyak sekali pertanyaan masuk ke inbox saya;
"Siapakah yang akan terpilih jadi Gubernur Jakarta?" Bahkan pertanyaan tersebut bukan hanya datang dari sahabat yang tinggal di Indonesia, juga datang dari sahabat yang tinggal di Timor Leste.
Tadinya saya sama sekali tidak ingin menulis artikel ini. Namun setelah saya renungkan baik-baik, akhirnya saya memutuskan untuk menulis artikel ini, sebagai bentuk;
- tanggung-jawab iman, 
- tanggung-jawab moral, 
- tanggung-jawab cosmis,
- dan tanggung-jawab keilmuan (Ilmu Bilangan).
Saya berkewajiban wanti-wanti (mengingatkan) dari awal bahwa saya menuliskan artikel ini dalam dua kapasitas, yaitu sebagai seorang "mistikus" dan sebagai seorang "peneliti bilangan".
Jadi saya tidak menuliskan artikel ini sebagai seorang "politikus" karena saya memang bukan seorang politikus.
Karena saya bukan politikus, maka saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan "outcome" (hasil) dari "Pilkada DKI" yang akan diperebutkan oleh 3 kandidat.

Dengan demikian, maka jika Anda (terutama para politikus) yang ikut membaca artikel ini, merasa ada pernyataan atau pandangan saya yang bertentangan dengan sudut pandang Anda, maka hal itu terjadi bukan karena "Bunda kita salah mengandung".
SILAHKAN MEMERIKSA TELAPAK TANGAN ANDA
Dalam artikel ini saya sengaja melampirkan foto "Tunas Kelapa" (yang warnanya hitam gelap). Warna hitam ini artinya; "Kita belum tahu siapa sesungguhnya PANGERAN HATI yang di telapak tangan kanannya ada simbol; TUNAS KELAPA, hasil ukiran ALLAH sendiri.
Saya menulis seri pertama ini sambil menonton TV yang sedang menyiarkan secara "live" acara DD (Demo Damai) 4 November 2016" yang sedang berlangsung di Jakarta saat ini.
Untuk itu saya ajukan pertanyaan berikut ini;
"Apakah ada di antara 3 kandidat yang akan memperebutkan Kursi DKI 1 memiliki "simbol Jakarta" di telapak tangan Anda?"
Simbol Jakarta yang saya maksudkan ada dua, yaitu;
(1). JACK HEARTEN 
(2). TUNAS KELAPA
Anda mungkin menganggap pertanyaan di atas adalah pertanyaan konyol. Tapi saya ingin sekali memastikan bahwa jika di antara 3 kandidat yang maju dalam Pilkada DKI, tidak memiliki dua simbol Jakarta sebagaimana saya sebutkan di atas, yang diukir ALLAH di telapak tangannya, maka siapapun yang memenangkan Pilkada DKI, tidak akan bertahan lama. Mungkin tokoh itu akan cepat sekali "tergusur" (lengser) dan kemudian digantikan oleh Wakilnya.

Saya sengaja memunculkan dua simbol Jakarta, yaitu; "Jack Hearten" dan "Tunas Kelapa" pada seri pertama ini karena dua alasan berikut ini;
Pertama;
Pemenang Pilkada DKI 2017 sangat berhubungan erat dengan ID(entitas) Presiden Joko Widodo. Nanti saya akan jelaskan di seri kedua artikel ini berdasarkan hasil undian "nomor urut" yang telah membentuk "polarisasi 213".
Pokoknya apapun yang terjadi, apapun yang dilakukan manusia, namun kandidat yang akan memenangkan Pilkada DKI, akan terikat total kepada "polarisasi 213".
Kedua;
Berkaitan erat dengan "nama" Kota Jakarta. Sebagaimana diketahui, awal mula nama Kota Jakarta adalah "Sunda Kelapa". Karena itulah saya sengaja memunculkan isu "Tunas Kelapa" dalam artikel ini.
Sementara nama terakhir yang saat ini disandang Ibu Kota NKRI tersebut adalah "Jakarta". Frasa "Jakarta" memiliki kemiripan bunyi (homophone) dengan frasa "Jack Hearten".
Anda boleh membaca "Jack Hearten" menjadi "Jack Hati" alias "Pangeran Hati" alias "Pangeran Cinta".


BILANGAN TIDAK PERNAH MEMBOHONGI MANUSIA
Sebagaimana saya katakan di awal artikel ini, bahwa sejatinya saya sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan para sahabat FB'ers untuk menulis artikel ini. Karena saya masih harus meneruskan lanjutan artikel mengenai Pemilihan Presdien Amerika (seri ke-5).
Namun banyak sahabat yang bertanya dan karena saya "takut ALLAH murka" jika saya tidak menjawabnya, maka saya merasa terpanggil, baik secara iman, secara moral, maupun secara cosmis untuk harus menuliskan artikel ini tanpa memiliki kepentingan apapun dengan hasil Pilkada DKI.
Artinya, siapapun dari 3 kandidat yang akan memenangkan Kursi DKI 1, tidak akan merubah nasib saya (menjadi lebih baik).
Pythagoras, Filsuf sekular asal Yunani, yang juga Ahli Matematika (cabang Ilmu Ukur) dan sekaligus Ahli Bilangan (Bapak Ilmu Bilangan) berkata bahwa;
"Dilahirkan pada saat tertentu dengan memperoleh nama tertentu, bukan suatu peristiwa kebetulan".
Mengacu kepada ungkapan Pythagoras di atas maka jika kita melakukan penelusuran secara retrospektif (ke belakang), ternyata, bilangan yang merupakan hasil konversi nama lengkap saya (Antoninho Benjamin Monteiro) sangat "matching" (kongruen) dengan bilangan kelahiran Kota Jakarta, 22 Juni 1527.
Bilangan itu "kagak" pernah bisa membohongi manusia. Kalau Anda "kagak" percaya, silahkan Anda lakukan konversi sendiri, dengan demikian kita berbicara berdasarkan "data & fakta".
Nama lengkap saya jika dilafalkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia akan menjadi; ANTONINHO BENJAMIN MONTEIRO.
Kalau nama lengkap saya dikonversikan ke dalam bilangan berdasarkan sistim konversi "Latin Gematria", maka hasilnya akan sama persis dengan bilangan yang muncul dari hasil konversi tanggal kelahiran Kota Jakarta (22 Juni 1527), sama-sama menghasilkan bilangan "287".
ANTONINHO = 110
BENJAMIN = 68
MONTEIRO = 109
Jumlahkan; 110 + 68 + 109 = 287.
Nah, tanggal kelahiran Kota Jakarta; 22 Juni 1527, kita buat formasinya menjadi; 2261527. Angka "6" adalah bulan 6 (Juni).
Kemudian kita lafalkan bunyi 2261527 menjadi; DUA DUA ENAM SATU LIMA DUA TUJUH. Lalu kita konversikan semua huruf yang ada dalam 7 kata; DUA DUA ENAM SATU LIMA DUA TUJUH, ke dalam bilangan berdasarkan sistim konversi "Latin Gematria".
Hasilnya pasti = 287. Kalau Anda kagak percaya, silahkan Anda konversikan sendiri. Jika hasilnya tidak sama dengan "287", silahkan potong jari "telunjuk" saya.
Atas alasan kesamaan nilai numerik antara bilangan namaku dan bilangan kelahiran Kota Jakarta inilah, mengapa saya ingin sekali menulis artikel berseri ini. Jika tidak karena kesamaan nilai numerik ini, "ngapaen" juga saya menulis artikel ini. Dibayar juga kagak.

Yang menjadi pertanyaan kini adalah; "Mengapa bilangan hasil konversi nama lengkap saya harus sama dengan hasil konversi bilangan kelahiran Kota Jakarta?"
Hanya sekedar kebetulankah? Tentunya hanya TUHAN Yang Mahatahu. Saya sendiri juga tidak tahu.
Oleh karena itu, saran saya, sebaiknya jangan mengabaikan "pesan" saya bahwa siapapun dari 3 kandidat yang memenangkan Pilkada DKI, jika tidak memiliki dua simbol Jakarta (Jack Hearten & Tunas Kelapa) di telapak tangannya, maka setelah terpilih, banyak-banyaklah berdoa, karena Anda akan cepat sekali "tergusur".

Sementara ini saja dulu. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: