Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 14 Oktober 2016

TEATRUM GLORIAM DEI & KEMUNCULAN HILLARY RODHAM CLINTON SEBAGAI PRESIDEN USA KE-45 (bagian: 3)


“Bilangan tidak pernah membohongi manusia. Cepat atau lambat Timor Leste akan menjadi Negara Protektorat Amerika
Pengantar Singkat;
Artikel ini sedianya akan diterbitkan tanggal 11 Oktober, namun karena “laptop saya lagi bermasalah”, maka baru bisa diterbitkan hari ini. Berhubung fokus utama seri kedua artikel ini (telah) menyinggung isu CATUR MOBILISASI (171), maka fokus utama dalam seri ketiga ini mengangkat topik utama yang masih ada hubungan dengan thema sentral di seri kedua, yaitu; “PERJANJIAN CAMP DAVID” (171).

Adakah hubungan antara CATUR MOBILISASI (yang telah dibahas di seri kedua) dengan isu “PERJANJIAN CAMP DAVID” (171)?
Jawabannya: YA. Karena antara frasa CATUR MOBILISASI (171) dan frasa PERJANJIAN CAMP DAVID” sama-sama menghasilkan energi bilangan yang sama yaitu bilangan “171”.
Tolong dicermati bahwa “kekuatan energi cosmic” yang ada di balik angka “171” menjadi salah satu titik kekuatan (ponto forte) yang akan membawa kemenangan bagi Kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat; “Hillary Rodham” dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat, 8 November 2016 (Waktu Amerika).
Jika Anda konversikan nama asli “Hillary Rodham” berdasarkan sistim konversi “Gematria Yahudi” (tanpa menyertakan nama suaminya; Clinton), maka angka yang muncul adalah; “711”.
Antara “711” dan “171”, jika dilafalkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia menjadi; “tujuh satu satu” atau “satu tujuh satu”, lalu dikonversikan ke dalam sistim “Simple Gematria”, akan muncul angka 202, yang mana, banyak sekali rahasia ada di balik angka 202 ini.

Tapi jika 711 (nama Hillary Rodham) dilafalkan dengan bunyi; “tujuh ratus sebelas”, dan dikonversikan ke dalam sistim konversi “Simple Gematria”, maka kita akan temukan angka triple cantik; “222”.
Angka cantik 222 ini, berdasarkan hasil penelitian saya, jarang sekali ditemukan. Jika kita kumpulkan sampel secara acak sebanyak “5000 orang”, maka paling banyak, kita hanya akan menemukan 3 orang di antara 5000 orang tersebut yang memiliki angka cantik ini.
Tokoh-tokoh yang memiliki angka triple cantik 222 ini antara lain; Presiden Soeharto, Presiden Taur Matan Ruak dan sahabatku: SBY (Sang Bangsawan Yahudi) = Yahudi SB Yahudi.
Saya sengaja menyebutkan ID(entitas) sahabatku Sang Bangsawan Yahudi (Yahudi SB Yahudi) dalam artikel ini karena judul utama artikel ini, ada frasa; TEATRUM GLORIAM DEI.
Tadinya saya ingin menggunakan Bahasa Indonesia dengan memilih frasa; PENTAS KEMULIAAN ALLAH. Karena TEATRUM GLORIAM DEI, secara “hurfiah” artinya sama dengan PENTAS KEMULIAAN ALLAH.
Namun karena dari perspektif ilmu bilangan, nilai numerik dari frasa PENTAS KEMULIAAN ALLAH tidak sama dengan nilai numerik dari SANG BANGSAWAN YAHUDI (191), maka saya mencari “bahasa lain” di luar Bahasa Indonesia, yang nilai numeriknya harus sama dengan SANG BANGSAWAN YAHUDI (191).
Oleh karena itulah saya memilih menggunakan Bahasa Latin, maka muncullah 3 kata berbunyi; TEATRUM GLORIAM DEI.
Jika kita konversikan frasa TEATRUM GLORIAM DEI dan frasa SANG BANGSAWAN YAHUDI dengan menggunakan sistim konversi; “Simple Gematria”, maka kedua item (entitas) ini akan sama-sama menghasilkan nilai numeric “191”.
TEATRUM GLORIAM DEI = 191
SANG BANGSAWAN YAHUDI = 191
Dengan demikian maka sejatinya, “pesan sentral” yang ingin saya sampaikan melalui artikel ini adalah;
“Jika Hillary Rodham yang telah menapakkan kakinya di Tanah TIMOR (6 September 2012) , kalah dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016, maka Timor Leste bukan TANAH TERJANJI. Padahal untuk menyandang status TANAH TERJANJI, hukumnya wajib, Tanah TIMOR harus pernah mengandung dan melahirkan SANG BANGSAWAN YAHUDI” (191).

ADA PERBEDAAN DI ANTARA KEDUANYA
Sekedar mengingatkan saja, tujuan saya meletakkan angka 171 di belakang frasa PERJANJIAN CAMP DAVID, adalah untuk membedakan PERJANJIAN CAMP DAVID yang berhubungan dengan “Pertemuan Presiden Soeharto dan Presiden Gerald Ford” di Camp David Maryland USA, 5 Juli 1975 dengan PERJANJIAN CAMP DAVID yang berhubungan dengan isu Perdamain Israel-Palestina, yang dimulai dari tanggal 17 September 1978, dan berlangsung secara marathon selama 12 hari, yang melibatkan 3 tokoh dari 3 negara, yaitu Presiden Mesir (Anwar Sadat), Perdana Menteri Israel (Menachem Begin) dan Presiden Amerika Serikat (Jimmy Carter/sebagai penengah).
Sebelum membahas PERJANJIAN CAMP DAVID (171), sekedar flash back (untuk menambah wawasan/kali-kali saja ada yang belum tahu), saya tampilkan kembali kutipan singkat mengenai “Perjanjian Camp David” yang membahas isu Perdamaian Israel-Palestina, yang saya sadur dariKompas.com, edisi 14 Juli 2014 berikut ini (semoga bermanfaat);
=================================================
Untuk kesekian kalinya, Israel dan Palestina terlibat baku tembak yang sudah menewaskan ratusan orang, sebagian besar adalah warga sipil.
Perang ini merupakan bagian dari sebuah konflik panjang lebih dari 60 tahun di kawasan tersebut. Sejak berakhirnya Perang Enam Hari pada 1967, dunia internasional mulai bergerak mendorong terciptanya perdamaian di kawasan itu.
Kompas.com mencoba mengupas sejumlah proses perdamaian di Timur Tengah baik yang berhasil maupun yang masih terkatung-katung hingga kini.
SEJAK Perang Enam Hari 1967, terdapat sejumlah rencana perdamaian, tetapi belum satu pun terlaksana sebelum berakhirnya Perang Yom Kippur pada Oktober 1973. Awal mula perundingan damai Arab-Israel dimulai dengan kunjungan bersejarah Presiden Mesir Anwar Sadat ke Jerusalem pada November 1977.
Situasi yang mulai membaik itu ditangkap Presiden AS Jimmy Carter yang kemudian mengundang Presiden Sadat dan PM Israel Menachem Begin untuk berunding di rumah peristirahatan Presiden AS di Camp David, tak jauh dari Washington DC, pada 17 September 1978.
Presiden Sadat dan PM Begin ditengahi Presiden Carter melakukan perundingan maraton sepanjang 12 hari yang kemudian menghasilkan dua kesepakatan.
Kesepakatan pertama disebut "Sebuah Rencana Kerja untuk Perdamaian di Timur Tengah". Isi kesepakatan itu adalah meletakkan dasar-dasar dan prinsip perdamaian, memperluas resolusi DK PBB nomor 242, menyelesaikan apa yang disebut sebagai "masalah Palestina", menyetujui perdamaian Mesir-Israel, serta perdamaian antara Israel dan negeri-negeri tetangganya yang lain.

Resolusi DK PBB nomor 242 diterbitkan pada 22 November 1967 yang isinya menyerukan agar Israel menarik mundur militernya dari semua wilayah yang didudukinya setelah Perang Enam Hari yaitu Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan.
Kelemahan kesepakatan pertama ini adalah pada bagian terkait masalah Palestina. Rencana dasar dari kesepakatan ini adalah membentuk sebuah "pemerintahan sendiri" di Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum status final ditentukan. Sayangnya, perwakilan Palestina tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini.
Kesepakatan kedua di Camp David adalah "Kerangka Kerja Camp David untuk Perjanjian Damai Israel-Mesir". Kerangka kerja ini kemudian diwujudkan dengan penarikan mundur pasukan Israel dari Sinai pada 1979.
Perjanjian ini merupakan pengakuan pertama dari sebuah negara Arab utama terhadap eksistensi Israel. Perundingan Camp David ini dianggap menjadi salah satu yang tersukses dalam seluruh rangkaian perjanjian damai Timur Tengah.
Perjanjian damai Israel dan Mesir masih berlangsung hingga hari ini dan secara substansial memperkuat posisi Israel di kawasan itu. Sayangnya, perdamaian kedua negara baru berlangsung sesaat, Presiden Sadat kemudian tewas dibunuh pada 6 Oktober 1981.
Anwar Sadat, yang kemudian mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian bersama PM Menachem Begin, tewas dibunuh kelompok kanan yang kecewa dengan keputusan berdamai dengan Israel.
Tak diragukan, perjanjian Camp David ini mengubah peta politik di Timur Tengah, salah satunya adalah berubahnya status Mesir di mata negara-negara Arab lainnya. Bahkan Mesir sempat dikeluarkan dari Liga Arab mulai 1979-1989.
Selain itu, kalimat-kalimat menggantung yang digunakan untuk merujuk masalah Palestina dalam perjanjian ini terbukti telah mengakibatkan isu Palestina menjadi masalah utama proses perdamaian Timur Tengah dan tak kunjung terselesaikan hingga hari ini.
Sementara itu, meski perjanjian Camp David ini didukung sebagian besar warga Israel, tidak demikian dengan warga Mesir. "Perdamaian" yang tercipta antara Mesir dan Israel cenderung dingin karena hanya dianggap perdamaian antara Israel dengan Presiden Anwar Sadat, dan bukan perdamaian antar-kedua bangsa.
=============================================
NAMA "ATARA & HILLARY RODHAM" MUNCUL DALAM TEKS PERTEMUAN CAMP DAVID 5 JULI 1975
Tentu di antara Anda, banyak yang sudah membaca teks lengkap berbahasa Inggris tentang kisah “Pertemuan Camp David, 5 Juli 1975, antara Presiden Soeharto (dari Indonesia) dengan Presiden Gerlad Ford dari Amerika Serikat yang saat itu membahas 3 isu utama, yang salah satunya adalah; "Dekolonisasi Timor Portugis".
Bacalah teks asli yang berbahasa Inggris. Karena dalam teks-teks terjemahan, termasuk terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Portugis, saya tidak temukan ID(entitas) "Atara & Hillary Rodham" ada di sana.
Entah kenapa, teks-teks terjemahan tentang Pertemuan Camp David 5 Juli 1975, bagian yang sangat penting itu, tidak ikut diterjemahkan oleh para penulis. Mungkin karena mereka bukan “peneliti bilangan”, maka bagian tersebut dianggap tidak memiliki makna sama sekali. Jadi “ngapain” juga diterjemahkan. Kagak ada guna. Yang ada malah bikin cape doank.
Padahal di bagian yang terabaikan dan kemudian terlupakan itulah terdapat “rahasia Ilahi”, mengapa Indonesia dan Amerika Serikat harus terlibat dalam sejarah Timor Leste yang penuh dengan lumuran darah manusia (lebih dari 200.000 rakyat sipil tewas).
Ribuan TNI (Tentara Nasional Indonesia) harus gugur di sana, hanya gara-gara munculnya nama “Atara & Hillary Rodham” dalam teks “Perjanjian Camp David” (171).
Saya sama sekali tidak sedikitpun ragu untuk memastikan bahwa Hillary Rodham akan memenangkan Pilpres (Pemilihan Presiden) 8 November nanti, karena hanya nama “Atara & Hillary Rodham” yang muncul dalam teks “Pertemuan 5 Juli 1975”. Sementara nama “Donald John Trump” tidak muncul dalam teks yang berkisah tentang PERJANJIAN CAMP DAVID (171), yang terjadi pada Hari SABAT suci, dan berlangsung dalam rentang waktu “80 menit”, dimulai dari pukul; 12:40 p.m. – 2.00 p.m. (Waktu Amerika).
PRESIDEN SOEHARTO MENGANGKAT ISU TIMOR PORTUGIS
Dalam Pertemuan 5 Juli 1975, yang dihadiri 5 orang, termasuk penerjemah dari Indonesia bernama; Widodo, ada 3 isu krusial yang dibahas. Dari 3 isu krusial tersebut, isu ketiga adalah mengenai “Dekolonisasi Timor Portugis”.
Saat itu Presiden Soeharto berkata kepada Presiden Gerald Ford, yang saya kutip dari teks asli berbahasa Inggris, sebagai-berikut;
“Setelah pembicaraan secara bilateral di antara kita berlangsung, isu ketiga yang ingin sekali saya angkat adalah ‘Dekolonisasi Portugis’. Secara prinsip dan mengacu kepada Konstitusi UUD 1945, Indonesia tidak akan melakukan agresi (militer) terhadap teritori (negara) lain. Jadi intinya; Indonesia tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk melakukan anexasi terhadap wilayah negara lain. Dengan menghormat hak-hak rakyat Timor, kami mendukung proses dekolonisasi melalui penentuan nasib sendiri. Dalam mencermati kehendak rakyat Timor, kami melihat ada 3 kemungkinan, yaitu; merdeka, tetap menjadi bagian dari Portugal, dan yang terakhir adalah berintegrasi dengan Indonesia. Dengan melihat wilayah yang begitu kecil dan tidak ada sumber daya, terlalu sulit untuk menjadi sebuah negara merdeka. Tetap dengan Portugal, akan menjadi beban yang berat karena secara geografis, letak Portugal yang begitu jauh. Berintegrasi dengan Indonesia sebagai sebuah negara, tidak mungkin karena Indonesia adalah Negara Kesatuan. Maka satu-satunya cara adalah “integrasi ke dalam negara kesatuan Indonesia”.
====================================
Kemudian Presiden Gerald Ford bertanya;
“Apakah Pemerintah Portugis telah menetapkan waktu (tanggal) dang mengijinkan rakyat Timor untuk menentukan pilihan mereka?”
Jawaban Presiden Soeharto;
“Belum ada penetapan tanggal untuk itu. Namun secara prinsip kelihatannya Otoritas Lisbon setuju bahwa pada akhirnya kehendak rakyat Timor akan terwujud. Yang menjadi masalah; kelompok yang ingin merdeka adalah mereka yang telah terpengaruh oleh ideologi komunis. Mereka yang ingin berintegrasi dengan Indonesia menjadi subjek yang ditekan habis-habisan oleh mereka yang beraliran komunis. Sejumlah elemen komunis melakukan sabotase terhadap pertemuan baru-baru ini di Macao. Saya ingin memastikan bahwa Indonesia tidak ingin mencampuri dalam urusan proses penentuan nasib sendiri. Tapi yang menjadi masalah adalah bagaimana mengatur proses penentuan nasib sendiri, sementara mayoritas rakyat Timor ingin bergabung dengan Indonesia? Inilah isu-isu yang ingin saya angkat dalam pertemuan yang sangat menguntungkan dengan anda kali ini”.
==========================================
Teks asli berbahasa Inggris adalah sebagai-berikut;
Suharto:
Talks have been conducted bilaterally between us already. The third point I want to raise is Portuguese decolonization. Starting with our basic principle, the new Constitution of 1945, Indonesia will not commit aggression against other countries. So Indonesia will not use force against the territory of other countries. With respect to Timor, we support carrying out decolonization through the process of self-determination. In ascertaining the views of the Timor people, there are three possibilities: independence, staying with Portugal, or to join Indonesia. With such a small territory and no resources, an independent country would hardly be viable. With Portugal it would be a big burden with Portugal so far away. If they want to integrate into Indonesia as an independent nation, that is not possible because Indonesia· is one unitary state. So the only way is to integrate into Indonesia.
President (Gerald Ford):
Have the Portuguese set a date yet for allOwing the Timor people to make their choice?
Suharto:
There is no set date yet, but is is agreed in principle that the wishes of the people will be sought. The problem is that those who want independence are those who are Communist-influenced. Those wanting Indonesian integration are being subjected to heavy pressure by those who are almost Communists. The Communist elements practically sabotaged the recent meeting in Macao. I want to assert that Indonesia doesn't want to insert itself into Timor self-determination, but the problem is how to manage the self-determination process with a majority wanting unity with
Indonesia. These are some of the problems I wanted to raise on this
auspicious meeting with you"
=========================================
Saya akhiri dulu seri ketiga hingga di sini. Semoga bermanfaat.
Selamat merayakan Sabat suci bagi mereka yang merayakannya.
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
BERSAMBUNG;


Tidak ada komentar: