Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 05 Oktober 2016

TEATRUM GLORIAM DEI & KEMUNCULAN HILLARY RODHAM CLINTON SEBAGAI PRESIDEN USA KE-45 (bagian; 2)


"Bilangan tidak pernah membohongi manusia. Suatu saat Timor Leste akan menjadi negara Protektorat Amerika".

Pengantar singkat;

Artikel seri ke-dua ini sejatinya diterbitkan kemarin, 4 Oktober 2016. Namun karena kemarin saya harus menerbitkan artikel lainnya berjudul; HILLARY RODHAM CLINTON WILL BE THE NEXT PRESIDENT, maka artikel ini sengaja ditunda dulu.

Selamat membaca. Semoga bermanfaat bagi kita semua...!!!


KENANGAN 3 OKTOBER 1995 DI RUANG PERTEMUAN KODAM IX UDAYANA

Pertama-tama perkenankan saya mengucapkan DIRGAHAYU TNI yang ke-71. Semoga TNI makin jaya dan Nusantara (Indonesia dan Timor Leste), makin aman dan kondusif.

Pada 21 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 1995, pagi-pagi sekali salah satu Anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia), mendatangi kos saya untuk menyampaikan khabar bahwa saya diminta Otoritas Korem 163/Wira Satya (WS) Denpasar untuk harus menghadiri satu pertemuan di Kodam IX Udayana Denpasar.

Karena dikatakan bahwa pertemuan tersebut sangat penting, di mana pertemuan tersebut akan langsung dipimpin oleh Wakasdam (Wakil Kepala Staf Kodam), maka saya tidak boleh mendelegasikan wewenang kepada dua Wakil saya (Ketua I & II), untuk mewakili saya menghadiri acara tersebut.

Jadi saya sendiri, selaku Ketua Umum IMPETTU Bali harus menghadiri pertemuan tersebut.


Akhirnya hari itu saya harus bolos (tidak mengikuti praktek sebagai dokter muda di Rumah Sakit Sanglah). Saya kemudian dibawa Anggota TNI tersebut menuju Kantor Korem 163/WS.

Ternyata di sana, Mayor Aji, selaku Kasiter (Kepala Seksi Teritorial) telah menunggu kedatangan saya. Begitu saya tiba, beliau langsung mengajak saya naik mobil dinasnya dan kami berdua meluncur menuju Kantor Kodam IX Udayana, yang letaknya berhadapan dengan Lapangan Puputan.

Selama dalam perjalanan, saya terus bertanya kepada Mayor Aji yang sabar dan baik hati itu; "Sebenarnya ada pertemuan penting apa?"

Mayor Aji hanya bilang; "Nanti juga Monteiro akan tahu".

Saya mulai merasa cemas mendengar kata-kata Mayor Aji. Dalam hati kecil saya, ada rasa was-was (jangan-jangan saya tidak akan pernah bisa pulang dalam keadaan hidup.

Rasa was-was tersebut cukup beralasan, karena dua tahun sebelumnya, tepatnya, 23 April 1993, hanya berselang 5 hari setelah saya terpilih sebagai Ketua IMPETTU Bali, saya diminta menghadap Kasiter saat itu (Mayor Joko/yang dulu lama bertugas di Maliana Timor-Timur, sehingga mengenal baik Almarhum Senhor Manuel Magalhaes/salah satu tokoh masyarakat Bobonaro yang terbunuh saat terjadi tragedi September Negra 1999), Mayor Joko hari itu, Jum'at, 23 April 1993, memperlihatkan sebuah "Surat Perintah" dari Kodam IX Udayana, yang menyatakan bahwa Ketua Terpilih IMPETTU Bali, masuk dalam "daftar hitam" (black list), karena tercatat sebagai Anggota Militan RENETIL Pro Kemerdekaan Timor Leste, sehingga harus ditolak sebagai Ketua IMPETTU Bali.

Dan dalam "Surat Perintah" tersebut, Otoritas Kodam IX Udayana memerintahkan agar Otoritas Korem 163/WS, selaku Pembina Harian IMPETTU Bali, harus membatalkan hasil Pemilihan Ketua IMPETTU Bali, Minggu, 18 April 1993, dan sesegera mungkin melakukan Pemilihan ulang.

Jadi jujur saja, saat itu, selama dalam perjalanan, walau Mayor Aji mengajak saya untuk "ngobrolin" hal-hal ringan, namun saya benar-benar merasa "keselamatan saya terancam".

Apalagi saat meninggalkan kos, tidak sempat ada teman yang tahu. Jaman itu (1995) belum ada HP seperti saat ini, untuk memudahkan komunikasi. Dengan demikian, jika saat itu saya "dihilangkan", maka tidak akan ada (teman-teman saya) yang tahu.

Bisa saja teman-temanku mengira saya sedang pulang ke Timor-Timur. Padahal saya telah dibawa untuk "meminum air laut".

Saat itu, saya hanya berdoa dalam hati, semoga TUHAN melindungi saya, agar saya bisa selamat dan kembali secara utuh ke kos.

Begitu tiba di Kodam IX Udayana, ternyata saya langsung dibawa Mayor Aji menuju "Ruang Pertemuan Kodam IX Udayana". Itulah untuk pertama kalinya saya memasuki ruangan tersebut.
Saat saya dan Mayor Aji melangkah memasuki ruangan tersebut, sumpah mati, saya benar-benar kaget. Rasanya jantung saya mau copot.

Karena ternyata, di dalam ruang pertemuan tersebut, sudah dipenuhi sejumlah Perwira, yang terbanyak adalah para Danyon (Komandan Batalyon) dari berbagai Satuan yang berada di bawah Kodam IX Udayana.

Saat saya perhatikan baik-baik, ternyata hanya ada satu orang yang berpangkat Kapten (pangkat terendah dalam ruangan tersebut), ditambah saya yang merupakan satu-satunya "orang sipil" (yang sama sekali tidak memiliki pangkat apapun).

Hanya kurang dari (sekitar) 3 menit saya dan Mayor Aji memasuki ruangan tersebut, terlihat Wakasdam memasuki ruang pertemuan. Setelah Wakasdam secara resmi membuka pertemuan, kemudian pertemuan dibagi dalam beberapa sesi.

Dan sesi terakhir, saya yang harus berbicara. Di setiap sesi, setiap Perwira mendapat giliran untuk berbicara mengenai Program di masing-masing Kesatuan yang dipimpinnya.

Dan saat itu barulah Mayor Aji meminta saya untuk harus berbicara di hadapan para Perwira, menyampaikan Program saya; CATUR MOBILISASI (171). Begitu mendengar kata-kata Mayor Aji, di mana saya harus membawakan thema sentral CATUR MOBILISASI (171), jantung saya rasanya seakan-akan berhenti berdenyut.

Saat itu, tiba-tiba saja yang saya rasakan, ruangan tersebut telah berubah menjadi neraka bagi saya. Masalahnya selama ini saya telah menolak mentah-mentah usulan fihak Militer untuk merubah nama Program saya; CATUR MOBILISASI (171), menjadi PANCA MOBILISASI, di mana saya menolak untuk menambahkan satu Program usulan (Wawasan Kebangsaan), dari fihak Militer.

Jadi kalau dipikir-pikir, saat itu, "dosa saya" di mata fihak Militer, jadi berlipat ganda, karena dua alasan berikut ini;

Pertama;

Dalam "buku sakti" fihak Militer, saya telah tercatat dalam daftar hitam sebagai "Anggota Militan Renetil" (sebuah organisasi bawah tanah yang saat itu berideologi; Memperjuangkan Kemerdekaan Timor Leste dari dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia/ini sama dengan organisasi yang dulu didirikan Bung Hatta dan kawan-kawannya, saat melanjutkan studinya sebagai mahasiswa di Negeri Belanda untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia dari dalam Negeri Belanda sendiri).

Kedua;

Saya telah membangkang, menolak mentah-mentah usulan fihak Militer, untuk merubah CATUR MOBILISASI (171) menjadi PANCA MOBILISASI", dengan menolak Program Wawasan Kebangsaan.

CATUR MOBILISASI (171) & PRESIDEN AMERIKA KE-45

Saya memutuskan untuk tidak harus bercerita mengenai "apa yang terjadi" saat saya tampil membawakan thema sentral CATUR MOBILISASI (171) di hadapan para Perwira saat itu.

Karena hanya akan membuat artikel ini terlalu panjang dan ujung-ujungnya akan membuat Anda "boring" (bosan).

Sebab sejatinya, poin sentral yang ingin sekali saya sampaikan melalui seri kedua ini adalah; "Hubungan timbal-balik antara nama (frasa) CATUR MOBILISASI (171) dengan Presiden Amerika ke-45".

Artinya, ketika saya tidak sedikitpun ragu untuk memastikan melalui artikel; edisi 1 Oktober 2016, bahwa Hillary Rodham Clinton akan muncul sebagai Presiden Amerika ke-45, adalah karena kemuncul Hilarry Rodham Clinton sebagai Presiden Amerika ke-45, masih berhubungan erat dengan Program CATUR MOBILISASI (171).

"Kok bisa? Apa hubungannya?" Penjelasannya sangat-sangat panjang. Maka saya hentikan saja dulu di sini dan akan dilanjutkan pada seri berikutnya.

Namun sekedar sebagai bahan "brain storming" (juga bahan renungan), saya ingin menjelaskan secara sambil lalu; mengapa setiap kali saya menuliskan frasa CATUR MOBILISASI (171), saya harus selalu menuliskan bilangan "171" di belakangnya?

Frasa CATUR MOBILISASI, nilai numeriknya dalam Bilangan Latin = 171.

Nah, coba Anda lafalkan dua jenis angka berikut ini; yaitu ; 42 dan 45" dalam Bahasa Indonesia, menjadi; EMPAT DUA EMPAT LIMA, dan kemudian konversikan semua huruf dalam frasa; EMPAT DUA EMPAT LIMA ke dalam "bilangan Latin" lalu jumlahkan. Maka hasilnya pasti = 171.

Jika angka "45" diadopsi dari urutan Presiden Amerika ke-45, yang tentunya akan ditempati Hillary Rodham Clinton, maka dari mana saya memperoleh angka "42" (yang merupakan simbol CAWAN)?

Jawaban satu-satunya adalah; angka "42" (simbol CAWAN) saya harus mengambilnya dari urutan Presiden Amerika ke-42, yang tidak lain, ditempati oleh Presiden Bill Jefferson Clinton, suami dari Hillary Rodham Clinton sendiri (satu-satunya Presiden Amerika yang pernah menapakkan kakinya di Bumi Lorosae).

Karena angka CAWAN (42), Bill Jefferson Clinton, telah menikahi Hillary Rodham Clinton, maka untuk membentuk nama (frasa) CATUR MOBILISASI, wajib hukumnya, angka CAWAN 42, harus menikahi angka "45", agar dengan demikian, terjadilah apa yang disebut' "MUR harus menikahi BAUT"-nya.

Supaya "pernikahan antara MUR & BAUT" tidak melanggar "hukum-hukum Ilahi", termasuk tidak menyalahi hukum-hukum kodrati, maka wajib hukumnya, angka 45 yang akan menikahi CAWAN 42, harus diduduki; Hillary Rodham Clinton.

Untuk itu, wajib hukumnya, Hillary Rodham Clinton, harus muncul sebagai "Presiden Amerika ke-45". Apakah wajar jika "angka CAWAN 42" (Presiden Bill Jefferson Cinton) harus melanggar hukum Ilahi dengan menikahi angka 45 milik "Donald John Trump".

Pernahkah Anda menemukan ayat-ayat suci dalam Alkitab dan Injil, di mana ALLAH mengijinkan "pernikahan sesama jenis?" Jika ada ayat semacam itu, coba tunjukkan kepadaku?

Dengan demikian maka ketika saya, melalui artikel edisi 1 Oktober 2016 memastikan bahwa Hillary Rodham Clinton akan muncul sebagai Presiden Amerika ke-45, ini bukan semata-mata dikarenakan saya adalah fans berat Hillary Rodham Clinton dan musuh bebuyutan Donald John Trump.

Atau bukan karena Donald John Trump tidak mengenal saya semnetara Hillary Clinton mengenal saya dengan baik, sehingga setelah memenangkan kursi keramat bernomor 45, Hillary Rodham Clinton akan menghadiahi saya rumah megah, mobil mewah, tabungan deposito jutaan dollar di bank dan seterunsya.

Kedua tokoh Amerika tersebut sama-sama tidak mengenal saya. Dengan demikian, saya menuliskan artikel saya sebagai fihak yang benar-benar "imparsial" (tidak memihak), dan meletakkan fungsi dari artikel saya sebagai "bagian integral dari kesaksian iman".

Khususnya yang berkaitan erat dengan Program CATUR MOBILISASI (171). Harap dicamkan baik-baik bahwa hanya gara-gara Program CATUR MOBILISASI, ALLAH Yang Mahakuasa, Pencipta jagat raya ini, harus (bela-belain) mengutus dua malaikat-Nya memanggil saya ke Bukit Sio(n) bulan Februari 1994 (sebagaimana telah berkali-kali saya kisahkan) hanya untuk memberkati CATUR MOBILISASI.

Dengan demikian, maka sejatinya, ketika saya mengangkat isu Pemilihan Presiden Amerika 2,016, fokus perhatian saya ada pada tataran iman (teologis) dan tataran filosofis". Bukan pada tataran "politis".

Dari sudut  pandang saya secara pribadi, kemunculan Presiden Hillary Rodham Clinton sebagai Presidan Amerika ke-45, untuk menikahi angka CAWAN 42, adalah guna memastikan bahwa di balik nama Program CATUR MOBILISASI (171), ada rahasia besar yang belum saya ungkap kepada khalayak ramai.

Kalau di balik Program CATUR MOBILISASI (171) tidak ada apa-apanya, buat apa saya harus menggadaikan nyawa saya untuk mempertahankan nama CATUR MOBILISASI (171).

Atau buat apa ALLAH Yang Mahakuasa, harus "bela-belain" mengutus dua Malaikat-Nya memanggil saya ke Bukit Sio(n) untuk memberkati Program CATUR MOBILISASI (171), sekiranya di balik CATUR MOBILISASI tidak ada apa-apanya.

Bayangkan saja, CATUR MOBILISASI baru disahkan secara resmi, ketika saya benar-benar dilantik secara resmi sebagai Ketua Umum IMPETTU Bali, pada Hari Sabat, 10 Desember 1994, oleh Danrem baru 163/Wira Satya Denpasar (Kolonel Soentoro/seorang Perwira TNI yang berhati Malaikat), setelah selama "601" hari, saya mati-matian menggadaikan nyawaku sendiri untuk tidak bersedia merubah CATUR MOBILISASI (171) menjadi PANCA MOBILISASI, dengan menolak permintaan fihak Militer jaman itu.

Pertanyaan yang paling menggoda adalah;

"Saya begitu yakin bahwa Hillary Rodham Clinton akan muncul sebagai Presiden Amerika ke-45, apakah saat di Bukit Sio(n), ketika ALLAH memberkati CATUR MOBILISASI, dengan mengangkat "Tangan Kanan-Nya" dari balik Tahkta-Nya yang megah, ALLAH berbicara mengenai Hillary Rodham Clinton?"

Biarlah ini menjadi rahasia besar buat saya sendiri. Setidak-tidaknya untuk saat ini. Kita semua tunggu saja, apakah Calon Presiden dari "Partai Demokrat" ini akan benar-benar memenangkan Pilpres Amerika 2016?

Semoga catatan ini bermanfaat.
TUHAN YESUS memberkati.
Bunda Maria merestui.
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

IMPETTU = Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Timor-Timur.

Umumnya Institusi Militer memiliki sistim pengelolaan arsip yang baik. Jika ada Anggota Kodam IX Udayana yang ikut membaca artikel ini, bisa membuka kembali arsip (catatan harian) Kodam IX Udayana, edisi 3 Oktober 1995, untuk melihat kembali kegiatan Kodam IX Udayana hari itu (3 Oktober 1995).

Tidak ada komentar: