Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 31 Oktober 2016

KEIKUTSERTAAN TIMOR LESTE DI D'ACADEMY ASIA II BISA MEMBUAT MUSIK DANGDUT MEMASUKI DARATAN EROPA ((Kisah Lucu Bersama Maun Anito Matos Jaman Doeloe)





Tadi saat saya online, ada teman yang dulu sama-sama menjadi mahasiswa di Bali, bertanya via inbox;

"ABM nonton acara D'Akademy Asia II tidak? Tadi malam maun Anito Matos menjadi salah satu Komentator di D'Akademy Asia II?"


Teman yang bertanya ini, kami sangat-sangat akrab dengan Maun Anito Matos saat masih sama-sama menjadi mahasiswa di Bali. Dan artikel ini ada karena pertanyaan sahabat lama tersebut.

Jujur, saya salah satu orang yang selalu setia menonton acara "D Academy Asia II", semenjak saya tahu Timor Leste menjadi salah satu negara kontestan dalam acara itu bersama 5 negara lainnya (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura & Brunei Darussalam).

Hitung-hitung, acara ini sangat menghibur (gratis lagi) dan bisa menstimulasi "kelenjar endokrin" untuk mengeluarkan "endorfin" (zat kimia) lebih banyak lagi ke dalam "sistim sirkulasi sistemik" guna membantu metabolisme tubuh berfungsi maximal, karena endorfin bisa menimbulkan "rasa senang". Rasa senang itu bisa mengurangi stress.

Dengan berkurangnya stress, akan mengurangi peredaran "hormon kortiosal" secara berlebihan dalam peredaran sistemik yang memancing munculnya berbagai masalah kesehatan.

Salah dua cara untuk menstimulasi (merangsang) peningkatan endorfin dalam sirkulasi sistemik adalah; "tersenyum dan tertawa".

Nah, untuk bisa tersenyum dan tertawa, kita butuh media hiburan. Dan salah satu media hiburan itu adalah; "D'Academy Asia".

Karena yang terlibat di dalam acara itu adalah "orang-orang yang bawaannya heboh dan rempong habis, seperti;

- Mbak Soimah
- Mbak Rina Nose
- Mas Andika
- Mas Irfan
- Mas Ramzi
- Mas Ivan Gunawan
- kini ditambah Maun Anito Matos


D'ACADEMY ASIA II: MEDIA INTERKASI ANTAR BUDAYA

Maun Anito Matos adalah salah satu MC (Master of Ceremony) termahal di Timor Leste saat ini, yang juga merupakan salah satu Penyanyi Pop Timor Leste, yang pada jaman "doeloe" (jaman masih menjadi mahasiswa di UNDIKNAS Denpasar Bali), selalu meraih juara umum, setiap kali mengikuti kompetisi "Pop Singer" di Bali (jadi boleh dibilang Maun "Memi" adalah macan festival).

Karena Maun Anito Matos itu jago berbahasa Portugis, maka kalau saya boleh usulkan (semoga saja ada orang Indosiar ikut membaca catatan ini), sekiranya di tengah-tengah acara, ada waktu tersisa, maka sebagai selingan (intermezzo), sebaiknya beri kesempatan lebih banyak kepada Maun Anito Matos untuk berbicara dalam "Bahasa Portugis".

Saya memberikan usulan ini dengan alasan; karena saya melihat "D'Academy Asia", selain bisa berfungsi sebagai media pemersatu antar bangsa, juga bisa difungsikan sebagai media di mana terjadinya "interkasi antar berbagai kebudayaan dari berbagai bangsa di dunia".

Coba saja Maun Anito diberi kesempatan untuk lebih banyak menggunakan Bahasa Portugis dalam acara itu, saya yakin akan menarik minat orang-orang Portugis yang berada di berbagai belahan bumi, terutama di Eropa, khususnya di Portugal, untuk ikut menyaksikan acara tersebut, hanya karena "Bahasa Portugis" kerap kali dimunculkan dalam acara tersebut. Bisa-bisa CR7 juga ikut menonton (Just guessing anyway. Who knows?)

Keikutsertaan Timor Leste dalam event D'Academy Asia, menurutku, selain bermanfaat memperat hubungan persaudaraan di antara bangsa-bangsa Asia (Tenggara), khusunya antara Indonesia & Timor Leste yang pernah bertikai di masa lalu, juga akan memotivasi generasi muda di Timor Leste untuk mencintai "musik dangdut" di masa-masa yang akan datang.

Dan ujung-ujungnya, musik dangdut yang menjadi salah satu "Identitas Peradaban Indonesia", akan benar-benar go internasional di masa-masa mendatang.

Dengan demikian, Indonesia, dan bukan hanya Bali, akan lebih dikenal secara luas oleh masyarakat internasional, sehingga orang luar tidak lagi kebingungan bertanya; "Indonesia itu letaknya di sebelah mananya Bali???


TIMOR LESTE BISA MEMBAWA DANGDUT MEMASUKI EROPA

Untuk adik-adik dari Timor Leste, manfaatkanlah semaximal mungkin event ini. Jadikanlah D'Academy Asia II, sebagai ajang (media) sekaligus sebagai "batu loncatan" untuk meningkatkan "karir dan popularitas Anda". Ini point terpentingnya. Masalah juara atau tidak, jangan dijadikan sebagai tujuan dan prioritas utama.

Saya sangat yakin, dengan keikutsertaan Timor Leste dalam event akbar "D'Academi Asia II", minat terhadap musik dangdut di kalangan generasi muda Timor Leste akan meningkat drastis di masa-masa mendatang, karena, sebagaimana Maun "Jose Manuel" (salah satu Juri dari Timor Leste) bilang;

"Di atas 90% masyarakat Timor Leste yang memiliki TV, ikut menyaksikan acara tersebut. Kecuali mereka yang tidak memiliki TV. Dan keesokan harinya ketika mereka memasuki kantor, salah satu topik yang menjadi isu sentral adalah; D'Academy Asia II".

Ada sahabat saya yang saat ini tinggal di salah satu negara Eropa, yang begitu tahu Timor Leste ikut mengambil bagian dalam "D'Academy Asia II", selalu berusaha untuk mengikuti acara ini.

Untuk itu, kalau boleh (ini hanyalah secuil harapan), jangan terlalu cepat menggugurkan (memberikan nilai yang terlalu rendah kepada) peserta dari Timor Leste kecuali kalau memang performa mereka terlalu fatal. Sayangnya "Jerry Kong" sudah gugur duluan.

Di antara dua pilihan berikut ini, kira-kira mana yang jauh lebih penting bagi masyarakat Indonesia? Mencetak juara dangdut di dalam negeri? Atau menjadikan musik dangdut sebagai media (channel khusus) untuk membawa Indonesia go internasional karena dangdut adalah salah satu "Identitas Peradaban Indoensia?"

Siapa tahu, keikutsertaan Timor Leste dalam event D'Academy Asia II, terlepas juara atau tidak, bisa berimbas (positif) bagi musik dangdut karena kehadiran Timor Leste bisa membuat perbedaan karena menarik perhatian mereka yang tinggal di Eropa dan akhirnya mengajak masyarakat Eropa ikut bergoyang dangdut".

Ical boleh saja juara. Irsya boleh saja juara. Weni boleh saja juara. Rani boleh saja juara. Lesty boleh saja juara. Evi boleh saja juara. Aty boleh saja juara. Karena mereka memang layak untuk itu. Suara mereka sangat bagus, khususnya untuk gengre dangdut.

Tapi masalahnya adalah; kalau mereka tidak bisa membantu membawa musik dangdut memasuki dan menggoyang daratan Eropa, maka sebaiknya berikanlah kesempatan lebih banyak kepada (KW) "Whitnye Elizabeth Houston" alias "Maria Vitoria" dan Gerson Oliveira untuk "beraksi".

Siapa tahu kehadiran "Maria Vitoria" (yang suaranya melengking tinggi) dan teman-temannya dari Timor Leste dalam event D'Academy Asia II, bisa membuat perbedaan dan kemudian membawa Indonesia lebih go internasional lagi melalui musik dangdut.

Karena di antara "6 negara" yang menjadi kontestan dalam D'Academy Asia II, hanya Timor Leste yang memiliki "channel khusus" ke daratan Eropa melalui Portugal.

Banyak sekali generasi muda Timor Leste yang saat ini bisa bekerja di berbagai negara Eropa hanya karena adanya "hubungan khusus" antara Timor Leste dan Portugal. Mereka memasuki "pasar kerja Eropa" dengan menggunakan Paspor Portugal" (kebetulan Konstitusi Timor Leste mengijinkan warga negara Timor Leste untuk menyandang status "Dwi Kewarganegaraan).

TERIMA-KASIH YANG TULUS UNTUK TEH IIS DAHLIA

Dengan tetap menghormati "hak prerogatif" Juri dari Thailand, secara pribadi saya ingin sekali memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan terima-kasih yang sangat tulus kepada
Teh Iis Dahlia, yang telah berusaha keras "membela Maria Vitoria", ketika Juri dari Thailand memberikan nilai yang sangat rendah kepada Maria Vitoria pada penampilan pertama.

Semoga Teh Iis Dahlia yang dari "sononya" memang sudah "guelis pisan" (Bahasa Sunda yang artinya: cantik sekali), akan semakin "guelis" karena telah dengan tulus membela Maria Vitoria.

Dan semoga suatu saat, Teh Iis Dahlia bisa kembali mengunjungi Timor Leste bersama "Feto Foun Timor Leste" (Mbak KD = Krisdayanti) guna menikmati keindahan Pantai Dili untuk yang kedua kalinya. Karena walau Dili tidak semegah Jakarta, namun ada sesuatu di Dili yang tidak akan Teteh temukan di Jakarta atau di Indramayu (Jawa Barat).

MAUN ANITO MATOS AWET BAGAIKAN KOREK API KEBANGGAAN TENTARA AMERIKA

Tadi malam Maun Anito Matos muncul di D Academy Asia II sebagai salah satu Komentator. Saya sudah lama sekali (sekitar 19 tahun lebih/sejak 1997) tidak pernah lagi bertemu Maun Anito Matos (face to face).

Maka semalam begitu melihat Maun Anito Matos "nongol" di Indosiar, membangkitkan kembali salah satu kenangan terindah bersama Beliau "jaman doeloe" saat kami masih sama-sama menjadi mahasiswa di Bali. Ternyata bawaannya masih saja kaya' dulu; heboh, kocak dan rempong habis (walau ain tur sudah mamuk).

19 tahun lebih tidak bertemu sahabatku itu. Eh begitu bertemu (muncul di TV), masih saja tetap seperti dulu, awet dan tahan lama, kayaq "Zippo" (korek api kebangaan Tentara Amerika).
Dulu saya pernah mendengar iklan tentang "Zippo". Ada sebagian penggalan iklan tersebut yang kata-katanya masih saya ingat;

=================================
"Zippoooo...!!! (ada echonya...)
Tiga puluh tahun tenggelam dalam Laut Vietnam.
Ditemukan masih seperti dulu.
Dinyalakan masih seperti aslinya.
Zippoooooo.....!!!
Korek Api kebangaan Tentara Amerika".
=================================


KISAH LUCU BERSAMA MAUN MEMI (METAN MIDAR)

Tadi malam Maun Anito Matos mendapat julukan baru "Memi" (Metan Midar = Hitam Manis) dari 4 Host yang kocak.

Maun Anito kemudian berkomentar; "Manisnya telah habis, kini hanya tersisa hitamnya doank" (itu kata Memi di TV semalam).

Jaman "doeloe", saya bersama Maun Memi tinggal satu kos. Saat itu saya dan Maun Memi bersama sejumlah mahasiswa Timor Leste, (dua di antaranya kini telah menjadi Dokter Ahli Bedah dan Ahli Penyakit Dalam), sama-sama tinggal di Jl. Pulau Seribu no. 17 Sanglah Denpasar Bali.

Kebetulan saat itu, kamarku bersebelahan persis dengan kamar Maun Memi. Tinggal bersama Maun Memi itu senang sekali. Tiada hari tanpa tertawa. Pagi-pagi bangun, sarapan sudah tersedia.

Ada satu kisah lucu bersama Maun Memi yang sampai saat ini masih saya ingat dengan baik. Kisah lucu ini terjadi, sebelum saya dan Maun Memi sama-sama pindah ke Jl. Pulau Seribu 17 Sanglah.
Pada suatu malam, ada pertemuan di Jl. Pulau Ambon no. 51 Sanglah Denpasar. Menjelang tengah malam, rupanya banyak yang lapar. Termasuk saya tentunya.

Mau "ngutang" makanan di warung, kagak bisa karena sudah tengah malam, warung di Jl. Halmahera 35 sudah tutup. Mau urunan (patungan) sekedar buat beli cemilan, kagak bisa karena banyak yang "kere" (tidak punya uang, maklum, mahasiswa).

Akhirnya Maun Memi bertindak. Maun Memi ini termasuk royal dan sangat solider terhadap sahabat-sahabatnya. Maun Memi mengambil sejumlah uang dari dompetnya dan meminta saya bersama salah satu teman terbaik saya (akun FB-nya bernama; Antonio Maria Soares), untuk pergi beli nasi goreng di Waturenggong Sanglah.

Akhirnya saya bersama "Atoi Maria" (sering dipanggil dengan julukan: Kepala Desa) berjalan kaki menuju Waturenggong. Jaraknya sekitar dua kiloan lah.

Begitu tiba di sana, kami berdua pesan lebih dulu dua piring nasi goreng, karena sudah sangat lapar.
Nah, sambil makan, kami berdua menunggu nasi goreng lain buat Maun Memi dan teman-teman yang lain yang sedang kelaparan menunggu di kos. Tapi saat itu tiba-tiba turun hujan. Maka kami berdua tidak bisa cepat-cepat pulang.

Mau nekat menerobos hujan, takut basah kuyup karena kami harus jalan kaki. Dan entah kenapa, di tengah menunggu hujan reda, tiba-tiba saja ada ide konyol muncul di benakku.

Akhirnya saya usulkan kepada temanku "Kepala Desa";

"Kita gak usah bawa nasi goreng buat mereka. Kita ke kosku saja, kita main catur sambil makan nasi goreng ini. Gimana? Mau gak?"

Karena saya dan Kepala Desa itu sama-sama manusia yang "suka sekali iseng "kerjain" teman-teman, maka tanpa berpikir dua kali, Kepala Desa langsung setuju.

Tapi saya ingatkan temanku itu; "Gimana kalau Anito marah?"
Kepala Desa bilang; "Aah gampang, bisa diatur. Paling-paling Anito marahnya cuma bertahan sebulan doank, setelah itu baikan lagi".

Akhirnya setelah hujan sedikit reda (hanya tinggal rintik-rintik), kami berdua bergerak menuju Jl. Pulau Seribu no. 8 Sanglah (saat itu saya kos di sana).

Di sana, malam itu kami berdua main catur sampai pagi sambil nikmati nasi goreang. Kami berdua bermain dalam suasana bisu, kagak banyak bicara, supaya kagak ada yang tahu kalau kami sedang berada di dalam kamar. Kalau ketahuan, berabe.

Pintu ditutup dan dikunci. Kuncinya dicabut. Sedang keasikan bermain catur, tiba-tiba pintu digedor-gedor. Rupanya teman-teman mencari kami karena lama menunggu kami tidak juga balik-balik.

Kami berdua berusaha untuk tidak membuka pintu. Untung kunci sudah dicabut. Sehingga kalaupun diintip dari luar, akan terlihat kalau kunci tidak sedang terpasang di sana. Itu artinya tidak ada manusia dalam kamar. Biasanya khan begitu yang dikira.

Lama gedor pintu, tidak ada tanda-tanda kehidupan, akhirnya mereka balik. Saya mulai cemas. Saya bilang sama Kepala Desa; "Atoi, gimana nih. Mereka sudah mulai mencari kita? Apa yang harus kita katakan ke mereka besok, terutama ke Anito?"

Kepala Desa membesarkan hati saya; "Gampang Mon. "Mon" ini maksudnya "Monteiro". Jangan diplesetkan jadi "monyet". Kalaupun diplesetkan, jangan sampai saya tahu, karena saya sudah lama kagak bunuh orang.

Kepala Desa bilang; "Kita berdua usahakan, selama sebulan ke depan jangan dulu bertemu Anito".
Okee, kataku, tapi dalam hati was-was juga, karena saya tidak yakin, gimana caranya agar selama sebulan bisa menghindari Anito Matos, sementara temanku ini gampang beredar di mana-mana? Orangnya sangat-sangat supel.

Belum lagi saat itu saya adalah "Ketua Umum IMPETTU Bali". Jadi rasanya sangat sulit kalau tidak bertemu Anito Matos, walau hanya seminggu. Apalagi sebulan?


KEPALA DESA DISIRAMI AIR GOT

Setelah bermain catur sampai pagi, saya masih tidur, Kepala Desa pamit untuk pulang. Saya wanti-wanti; "Jangan sampai ketemu Anito. Kalau sampai ketemu; "Mate ka lae?"

Saat itu, Kepala Desa yakin tidak akan secepat itu bertemu Anito Matos. Saat dia akan melewati Jalan Pulau Ambon 51, rupanya dari kejauhan sudah ketahuan oleh Anito Matos.

Anito Matos, begitu melihat Kepala Desa di kejauhan, langsung buru-buru ambil ember dan dan diisi dengan "air got sampai penuh, lalu "ngumpet di balik tembok pagar.

Begitu Kepala Desa tiba tepat di mana Anito Matos lagi "ngumpet", Anito Matos langsung mengangkat ember yang berisi penuh air got dan menyiramkannya ke tubuh Kepala Desa, sambil mengumpat;

"O mate ka lae? O nia colega ida fali ne iha nebe ona agora? Hodi kalan ami konta hanoin kareta shoke mate tiha ona imi rua. Ami tama sai hospital sira ne cek keta kareta shoke mate tiha ona imi rua, afinal kuit etu rua ne sei moris hela? Nusa la mate tiha deit ona, sei mosu fali tan mai halo seda?" Demikian dan setarusnya. 

Terjemahan;

"O mate ka lae? Mana temanmu yang satu lagi? Semalam kami semua sibuk keluar masuk rumah sakit di Denpasar karena kami mengira kalian berdua telah tewas tertabrak mobil. Tidak tahunya masih hidup. Kenapa tidak sekalian aja tewas, pake nongol lagi".

Semoga catatan ini ada manfaatnya buat kita semua. Sekiranya Maun Memi ikut membaca catatan ini, saya meminta MAAF yang besar-besarnya karena keisengan "jaman doeloe".

"Would you please forgive me, dear Memi". Pasti dalam hati Maun Memi berkata; "No mercy for you buddy".

TUHAN YESUS memberkati kita semua, terutama memberkati "D'Academy Asia II". Semoga D'Academy Asia semakin jaya.



Catatan Kaki;

Dalam artikel ini saya sengaja menggunakan frasa "kere" (tidak ada uang), karena frasa ini juga ditemukan dalam Bahasa (Suku) Kemak, yang artinya "kodok" alias "katak".

O MATE KA LAE" adalah Bahasa Tetun (Bahasa Nasional Timor Leste). Makna lexicalnya (makna kamus), artinya; "Kamu mati atau tidak?"

Tapi di kalangan anak muda Timor Leste, makna dari "O mate ka lae", telah mengalami pegesaran makna, menjadi sebuah "idiom", sebagaimana tadi malam Memi jelaskan; "Rasain kamu".

Kalau diartikan ke dalam Bahasa Jawa artinya; "Rasa'no kowe" atau "rasa'no kon". Ini agak kasar. Halusnya adalah; "Rasa'no sampeyan". Kalau mau lebih halus lagi; "Rasa'no jenengan".

Frana "jenengan" itu direduksi dari frasa "panjenengan", sebuah frasa yang sering muncul dalam komunikasi di kalangan "Ningrat" (Bangsawan) Jawa.

Kowe atau kon level kasarnya sama dengan Bahasa Sunda; "aing" (saya). Misalnya; "Aing mah tue nyaho", yang artinya; "Saya sich tidak tahu".

Kalau mau gunakan bahasa halusnya, frasa "aing", bisa diganti dengan kata "abdi" yang lebih halus. Aing = abdi, artinya: saya.

Saya bisa sedikit-sedikit Bahasa Sunda karena "Bapak Angkatku seorang Pria Muslim, bernama Muhammad, yang dulu menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia/Satuan Armed V/Kodam III Siliwangi Jawa Barat, bertugas di Timor Leste sebanyak 3X.

Beliaulah yang mengajari saya Bahasa Sunda. Kalimat dalam Bahasa Sunda yang pertama kali saya dengar adalah;

"Si budak bere dahar". Yang artinya; "Anak kecil itu diberi makan". Dalam Bahasa Sunda (Jawa Barat), "budak" artinya anak kecil.

Saya pertama kali mendengar kalimat ini pada suatu hari di tahun 1977, saat saya sangat kelaparan karena berhari-hari tidak makan dan kemudian pingsan tepat di depan Gereja Tua Santo Yosef Atsabe, di mana banyak sekali Tentara Sunda mendirikan tenda-tenda mereka mengelilingi Gereja Tua Santo Yosef.

Tahun 1977 adalah jaman di mana banyak orang yang tewas hampir tiap hari. Yang dewasa tewas karena terbunuh, sementara anak-anak tewas karena kelaparan yang amat sangat.

Maklum tahun 1977 adalah termasuk tahun yang sangat-sangat sulit di mana Timor-Timur saat itu benar-benar berubah menjadi "ladang pembantaian" dan dunia luar tidak ada yang tahu karena dunia luar tidak memiliki akses (informasi) ke dalam (Timor-Timur).

Untung saja tahun 1988, saat Gubernuar Mario Viegas Carrascalao muncul, Timor-Timur mulai dibuka untuk "dunia luar" walau harus bersitegang dengan Jenderal TNI Laurensius Benediktus Moerdani yang menjabat sebagai Menhankam/Pangab saat itu. Namun akhir Timor-Timur dibuka untuk dunia luar dan saat itulah "demonstrasi Kaum Muda Timor Timur" bermuncul di mana-mana.
Senhor Mario Viegas Carrascalao adalah salah satu Leader Timor Leste yang sangat-sangat saya kagumi karena "Leadershipnya" sangat-sangat kuat (sangat melindungi kaum marjinal).

Tidak ada komentar: