Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 09 September 2016

MISTERI DI BALIK KAMAR 201 HOTEL PATHRA KUTA BALI (ID Presiden Timor Leste Ke-6 Ada Di Balik Bilangan 201)


"Roti yang menumpuk di gudangmu adalah milik si lapar, jubah yang tersimpan di petimu adalah milik mereka yang telanjang, dan emas yang kalian sembunyikan di bawah tanah adalah milik si miskin" (Santo Basilius Agung; Uskup Caesarea; 330-379).
Melalui cacatan pendek ini saya hanya ingin sampaikan pesan untuk rekan-rekan di Partai Demokrat, bahwa besok malam, 10 September 2016, saya akan meneruskan lanjutan (seri 3) artikel berjudul;
"ADA PESAN ILAHI DI BALIK KEMATIAN PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT"; Sebuah Kajian Dari Perspektif Ilmu Bilangan".

Untuk itu mohon jangan lewatkan artikel tersebut. Dalam seri ke-3 artikel tersebut, saya akan membahas misteri di balik kamar 201 Hotel Pathra Kuta Bali.
Tanggal 1 April 2009, Presiden Parlamen Nasional Timor Leste telfon dari Dili dan minta bertemu saya di Bali hari itu juga.
Namun begitu Beliau tiba di Bali, banyak tamu yang harus menemui Beliau, maka pada sore harinya Beliau kembali kontak saya dan mengtakan bahwa pertemua ditunda.
Maka keesokan harinya, tanggal 2 April 2009, saya bertemu Beliau di kamar 201 Hotel Pathra Kuta pada sekitar jam 10 pagi. Dan sore harinya Almarhum meneruskan perjalannya ke Ethiopia.
Menurutku pertemuanku dengan Almarhum di kamar nomor "201" Hotel Pathra itu, bukan suatu kebetulan. Sepertinya ada satu kekuatan (Supranatural) yang mengatur pertemuan tersebut.
Coba Anda simak sejumlah fakta berikut ini;
Lihat foto yang saya lampirkan, di mana Presiden Parlamen Nasional Timor Leste tersebut "mencium tangan" Bapa Suci Paus Benedictus XVI. Ternyata di kemudian hari, Paus ke-8 asal Jerman tersebut mengundurkan diri dan digantikan oleh Kardinal bernama; "JORGE MARIO BERGOGLIO yang kemudian bergelar Paus Fransiskus.
"Lalu apa hubungannya dengan kamar 201 Hotel Pathra Kuta?"
Bukankah Hotel Pathra itu letaknya sangat dekat dengan Gereja Santo FRANSISKUS XAVERIUS?
"Ya, tapi apa hubungannya dengan bilangan (kamar) "201?"
Coba Anda konversikan nama lengkap Kardinal JORGE MARIO BERGOGLIO ke dalam Bilangan Latin. Dijamin, hasilnya pasti sama dengan "201".
JORGE = 55
MARIO = 56
BERGOGLIO = 90
Jumlahkan; JORGE + MARIO + BERGOGLIO = 55 + 56 + 90 = 201.
Ini artinya ketika Presiden Parlamen Nasional Timor Leste mencium tangan Paus Benedictus XVI, seakan-akan Beliau hendak berkata;
"Paus berikutnya adalah Kardinal bernama "201".
Mungkin masih belum cukup untuk meyakinkan Anda bahwa pertemuanku dengan tokoh yang sempat menduduki posisi Wakil Perdana Menteri Timor Leste (VI Governo) di kamar "201" Hotel Pathra bukan suatu kebetulan.
Tanggal 1 Juni 2015, temanku Yahudi SB Yahudi mengirim SMS ke saya dan mengabarkan bahwa Maun Nando La Sama jatuh pingsan di Suai.
Saat rasa kagetku belum sempat reda membaca SMS tersebut, tiba-tiba SBY menelfonku dan mengatakan begini;
"Bro...saya sedang membaca artikelmu tertanggal 13 November 2014, di mana dalam artikel tersebut brother mengatakan bahwa salah satu dari 7 tokoh nasional yang nama-namanya tertulis dalam 7 ROTI yang saya kirim ke Bali, akan mendapat masalah serius dan tidak akan bertahan hingga memasuki tahun 2017".
Karena saya menulis banyak artikel, maka saat itu saya sebenarnya sudah tidak ingat lagi bahwa saya pernah menuliskan artikel tersebut dan mengatakan seperti itu.
Setelah menerima telfon dari belun SBY, saya buru-buru online untuk kembali membaca artikle tersebut, guna memastikan apa benar saya 
pernah menuliskan artikel seperti itu?
Ternyata benar. Di sana, di dalam artikel berjudul; TANPA MENYEMBELIH "GALLUS BANKIVA" MAKA WILAYAH TIMOR LESTE TIDAK SAH MENYANDANG STATUS “TANAH PERJANJIAN”, saya menuliskan teks berbunyi sebagai-berikut;
============================================
"Berdasarkan mimpi aneh yang saya alami pada 12 November 2014, saya menduga dengan sangat kuat bahwa, salah satu dari “7 Tokoh Nasionlais” Timor Leste akan menghadapi masalah besar sebelum memasuki 2017, kecuali TUHAN melakukan intervensi-Nya.
Inisial ke-7 Tokoh Nasionalis Timor Leste dapat Anda baca pada gambar yang saya lampirkan di bawah. Inisial mereka tertera pada “7 ROTI” kiriman Belun SBY= Sang Bangsawan Yahudi, yang saya terima pada 17 September 2014 (dititipkan melalui “Bansgawan Luca”).
============================================
Kata-kata di atas sudah ada semenjak tanggal 13 November 2014. Bukan baru ditambahkan setelah Maun Bot La Sama meninggal.
Untuk memastikannya, mereka yang ahli IT boleh melakukan cross-check. Atau teman-teman yang memiliki kebiasaan suka menyimpan artikel saya ke file pribadinya, saat artikel-artikel saya diterbitkan, bisa membaca kembali filenya.
Artikel tersebut masih ada di laman FB saya (Antoninho Benjamim Monteiro). Yang mau membacanya silahkan. Kilk saja highlight FB saya edisi 13 November 2014. Sambil melihat-lihat berbagai komentar yang bermunculan saat artikel tersebut diterbitkan (November 2014).
Yang membuat saya seakan tidak percaya adalah; jika kita menghitung rentang waktu dari tanggal di mana artikle tersebut diterbitkan, 13 November 2014, hingga tanggal di mana Maun Bot La Sama mengehembuskan nafas terakhir, 2 Juni 2015, jarak waktunya tepat "201" hari. Kok bisa tepat "201" hari???
Apakah saya memilih tanggal "13" (karma maut) karena dalam Pilpres 2012, Maun Bot La Sama menempati nomor urut; 13?
Jujur saja, saya sendiri bingung, karena tidak tahu persis, mengapa saya harus menerbitkan artikel tersebut pada hari itu, 13 November 2014 dan berselang "201" hari, Maun Bot La sama meninggal?

REKTOR UNUD BERTANYA; "KOK TAHUNNYA TERTULIS "201"?
Masih mengenai bilangan misteri "201". Jika artikel seri ke-3 tersebut jadi diterbitkan besok, maka saya akan harus melampirkan sebuah surat yang ditanda-tangani Rektor Unpaz, di mana surat tersebut ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana (Unud) dan Direktur Pascasarjana Unud.
Saya sendiri yang mengantarkan surat tersebut dari Dili menuju Bali, pada tanggal 21 Maret 2011. Begitu saya bertemu Rektor Unud saat itu, Prof. Dr. dr. I Made Bhakta, dan menyerahkan surat tersebut di Kampus Bukit Jimbaran, Beliau tiba-tiba bertanya;
"Lho, gimana nih? Kok tahun suratnya "201"???
Saat itulah baru saya tahu kalau ternyata surat yang seharusnya tertanggal 19 Maret 2011, malah berubah menjadi; "19 Maret 201".
Yang juga aneh adalah, dan ini masih berkaitan erat dengan tanggal pertemuanku dengan Maun Bot La sama, adalah kematian Yang Mulia Uskup Dili, Mgr. Dom Alberto Ricardo da Silva, pada tanggal 2 April 2015. 
Pada tanggal 19 Maret 2015 saya menerbitkan proposal di laman FB saya, dan meminta Renetil untuk menyembelih "Gallus Bankiva" (Ayam Hutan), tepat pada Kamis Putih, tanggal 2 April 2015.
Dalam artikel tersebut saya mengatakan bahwa wajib hukumnya, Gallus Bankiva harus di sembelih pada Kamis Putih tanggal 2 April 2015, di Lapangan Pramuka (Kampu Demokrasi) Dili.
  
Saya meminta harus menyembelih pada tanggal 2 April 2015, untuk mengenang genap 6 tahun pertemuanku dengan Maun Bot La Sama di kamar 201 Hotel Pathra Kuta Bali,2 April 2009. Tapi sayangnya Renetil menolak. Bukan hanya menolak. Saya dihujat habis-habisan. Anda bisa membaca artikel tersebut karena masih ada di laman FB saya. Klik saja highlight 19 Maret 2015.
Yang mengagetkan, ternyata pada Kamis Putih, 2 April 2015, bukannya Gallus Bankiva yang disembelih di Dili, tapi malah Uskup Dili, Dom Alberto Ricardo da Silva yang meninggal. Saya sendiri heran. Kok bisa begitu ya?
Saya sengaja mengangkat isu "201" ini sebagai thema sentral karena berhubungan erat dengan ID(entitas) Presiden Timor Leste ke-6.

"Agama dan ilmu pengetahuan, jika keduanya sejati, maka akan berupa saudara kembar. Mengucilkan salah satu, berarti menjadi kematian bagi keduanya" (Thomas Henry Huxley; Penulis dan Biolog Inggris; 1825-1872).
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman"
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: