Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 07 September 2016

MANUSIA BOLEH MENGGUNAKAN KODRAT KEHENDAK BEBASNYA UNTUK MEMILIH DI ANTARA BERKAT & KUTUK


ALLAH memberikan pilihan menerima berkat atau kutuk kepada umat-Nya. Jikalau mereka taat kepada firman ALLAH dan tetap terpisah dari dosa bangsa-bangsa di sekitar mereka, maka berkat ALLAH akan turun atas mereka dan menyertai mereka (lih. Ul 28:1-14). Pada pihak lain, jikalau mereka menyesuaikan diri dengan jalan-jalan orang fasik, kutukan ALLAH akan menimpa mereka (lih. Ul 28:15-68).

Penampakan KRISTUS Dalam Mimpi Bersama Malaikat Rafael Dan Paus Yohanes Paulus II Pada 3 September 2014

---------------------------------------------------------------------------------
Pengantar Singkat;
Artikel ini dimunculkan kembali untuk dijadikan sebagai bahan renungan. Sebelumnya sudah pernah diposting. Maka bagi mereka yang sudah pernah membacanya, bisa dilewati saja.
Sejatinya artikel ini ditampilkan kembali pada tanggal 3 September 2016 untuk mengenang 3 tahun "penampakan KRISTUS". Namun baru diterbitkan kembali hari ini, 7 September 2016.
Pesan sentral dalam artikel ini adalah; "Mengenai KUTUKAN KRISTUS terhadap sebuah SIMBOL BILANGAN". SImbo Bilangan tersebut, bisa melambangkan seseorang, bisa melambangkan sebuah Institusi, dan bisa juga melambangkan "sebuah bangsa".
Semoga Anda menyukainya. Selamat membaca...!
=======================================
Pada tanggal 3 September 2014 (dua tahun lalu) saya memperoleh mimpi aneh. Dalam mimpi aneh tersebut, langit terbuka, kemudian tampaklah “Takhta ALLAH”.
Lalu tiba-tiba dari tengah-tengah Takhta yang bentuknya sulit digambarkan dengan kata-kata, TUHAN YESUS muncul bersama Malaikat Agung St. Rafael.
Kemudian TUHAN YESUS berjalan turun sambil menapaki ribuan anak tangga. Di belakang TUHAN YESUS, Malaikat Rafael juga berjalan mengikuti TUHAN YESUS dari belakang menuruni tangga yang menjulang tinggi menghubungkan bumi dan langit.
Yang saya lihat saat itu, TUHAN YESUS mengenakan jubah putih kemilau penuh sinar. Demikian juga Malaikat Rafael, menggunakan jubah putih yang juga bersinar kemilau.
Setelah tiba di bumi, TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael terus berjalan menghampiri lautan manusia yang sedang menunggu di sebuah lapangan yang sangat-sangat luas.
Tapi sayanganya saya tidak tahu persis lapangan tersebut berada di wilayah mana? Atau berada di kota mana?
Saya yang saat itu sedang berada di tengah-tengah lautan manusia yang memenuhi lapangan tersebut hanya bisa mengidentifikasi bahwa saat itu kami sedang menanti dengan penuh ketegangan, sambil mata kami semua tertuju kepada TUHAN YESUS yang sedang berjalan dari kejauhan diikuti Malaikat Rafael.
Sebelum mencapai lokasi di mana kami berdidi, dari jarak sekitar 30-an meter, saya melihat, tiba-tiba TUHAN YESUS mengangkat Tangan Kiri-Nya menunjuk kepada “satu gabungan bilangan” yang terdiri dari “tiga digit”. Saya belum saatnya menyebutkan tiga digit bilangan itu di sini, setidak-tidaknya untuk saat ini.
TUHAN YESUS menggunakan Tangan Kiri-Nya menunjuk tiga digit bilangan itu sambil mengucapkan sejumlah pernyataan. Pernyataan yang diucapkan TUHAN YESUS tidak boleh saya publikasikan di sini.
Setelah mengucapkan pernyataan tersebut, tiba-tiba TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael bukannya berjalan ke arah kami yang sedang menunggu dengan penuh ketegangan, melainkan berjalan ke arah lain dan berjalan menjauhi kami.
Lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa saya bukannya sedang berada di sebuah lapangan yang luas bersama banyak orang, melainkan saya telah berada di dalam sebuah gedung yang sangat besar dengan manusia yang memenuhi ruangan tersebut.
Di dalam gedung yang sangat luas tersebut, saya melihat mendiang Paus Yohanes Paulus II sedang memegang “sebuah patung”. Ternyata Patung tersebut memvisualisasikan TUHAN YESUS bersama Malaikat Rafael yang sedang berjalan beriringan.
Dalam hati saya bergumam; “Kok TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael berubah menjadi Patunga ya? Kok Patung TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael malah berada di tangan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II? Kok bisa ya?”
Ketika saya sedang terus bergumam bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II memberi pengumuman bahwa “Patung TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael akan diberikan kepada seseorang yang telah dipilih ALLAH untuk mengemban misi bla..bla..bla….!!!”
Lalu saya mendengar suara gemuruh orang-orang yang berdesak-desakan berebutan maju ke depan mendekati tokoh Polandia yang pernah mengunjungi Indonesia dan Timor-Timur pada 12 Oktober 1989 itu untuk meminta kepada Paus ke-264 itu agar Patung tersebut diberikan kepada mereka.
Sementara saya hanya berdiri diam terpaku di tempat, jauh di belakang sambil menonton orang-orang yang berebutan maju ke depan dengan harapan, Paus yang dikanonisasi menjadi Santo pada Minggu 27 April 2014 di Vatican itu akan memberikan Patung itu kepada mereka.
Tapi tiba-tiba Paus Yohanes Paulus II berkata begini (namun menggunakan Bahasa Tetun-Bahasa Nasional Timor Leste);
“Patung ini telah ditetapkan ALLAH untuk harus diberikan kepada bla…bla..bla…!!!” (Paus menyebutkan nama seseorang yang saya kenal baik).
Tapi atas alasan tertentu, saya merasa tidak perlu menyebutkan nama orang tersebut di sini, setidak-tidaknya untuk saat ini.
Jujur saja, saya kaget sekali mendengar nama orang tersebut disebutkan tokoh Katolik Roma yang pernah memimpin Missa Agung di Tassi Tolu Dili Timor-Tumur pada Hari Kamis, 12 Oktober 1989.
Semua orang yang tadinya berebutan maju ke depan untuk mengambil Patung itu dari tangan tokoh Polandia tersebut, tiba-tiba saja diam terpaku di tempat setelah mendengar nama orang yang disebutkan Paus.
Wajah-wajah mereka mengkespresikan rasa kecewa yang amat dalam, karena ternyata bukan merekalah yang yang dipilih ALLAH untuk memiliki Patung TUHAN YESUS dan Malaikat Rafael.
Akhirnya orang yang namanya disebutkan Paus, maju ke depan dan menerima Patung aneh tersebut. Semua orang yang memenuhi ruangan besar tersebut meneriakkan (mengelu-elukan) nama orang tersebut.
Lalu tiba-tiba mimpi saya berubah. Saya tidak lagi berada dalam gedung besar bersama lautan manusia. Melainkan saya sedang berjalan di dalam hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon besar, menelusuri jalanan yang bukan jalan beraspal, melainkan berbentuk tanah liat yang berwarna kemerah-merahan. Jalanan tersebut sangat-sangat sepi. Tidak ada satu manusia pun.
Setelah lama berjalan, tiba-tiba muncul di belakangku Pak Xanana Gusmao bersama Gubernur Timor-Timur ke-4, Bapak Abilio Jose Osorio Soares (saya terakhir kali bertemu Beliau, Minggu, 13 Juli 1997 di Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban Bali, bersama iparnya, Senhor Eurico Lemos).
Kedua tokoh Manatuto yang memiliki ideologi berlawanan ini terus berjalan mengikutiku dari belakang dengan jarak yang sangat dekat, sekitar satu meter.
Tapi anehnya, saya sama sekali tidak berbicara dengan kedua tokoh tersebut. Saya tetap berjalan dengan sikap diam membisu, sementara kedua tokoh itu terus berbicara, mendiskusikan hal-hal tentang Timor Leste.
Setelah lama berjalan, tiba-tiba mimpi saya menyadari bahwa saya bukannya sedang berjalan dalam hutan belantara dengan diikuti Pak Xanana dan tokoh Integrasi tersebut, melainkan saya telah berada di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato Dili.
Saya berjalan memasuki pintu gerbang Bandara dan disambut temanku SBY (Sang Bansgawan Yahudi = Yahudi SB Yahudi) yang saat ini menjabat sebagai Manager Bandara Presidente Nicolau Lobato Dili Timor Leste.
Temanku SBY menyambutku di pintu gerbang dan langsung membawaku memasuki lapangan pacu, karena katanya Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II sudah akan terbang untuk kembali ke Vatican.
Kami berdua berlarian menuju pesawat yang siap take off. Saya dan SBY menaiki tangga pesawat dan langsung masuk ke dalam pesawat. Tiba di dalam pesawat, saya melihat pesawat itu sangat penuh.
Saya dibawa temanku SBY langsung menghampiri Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II. Begitu tiba di kursi di mana Bapa Suci duduk, saya kaget. Ternyata yang sedang menduduki kursi itu, bukan lagi Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, melainkan Malaikat Rafael.
Dalam keadaan kaget, saya yang saat itu sudah berada di depan Malaikat Rafael, mencoba tetap tenang. Kemudian Malaikat Rafael membisikkan pesan sesuatu di telingku. Saat sedang mendengarkan bisikan Malaikat Rafael, mata saya menyapu ruangan pesawat.
Anehnya, saya melihat Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II sedang duduk di tengah-tengah penumpang yang lain, hanya berjarak sekitar 2 meter dari tempat saya sedang berdiri menerima bisikan Malaikat Rafael.
Yang juga aneh, saya melihat penumpang-penumpang dalam pesawat tersebut, ada yang wajahnya berseri-seri diliputi cahaya, namun ada yang wajahnya berwarna hitam-gosong seperti baru habis terbakar. Saya kaget melihat wajah-wajah yang hitam gosong karena tampak menakutkan sekali.
Di antara penumpang yang memenuhi pesawat tersebut, saya melihat seseorang yang saya kenal dengan sangat baik, berada dalam pesawat, dan orang tersebut menduduki sebuah “kursi” di mana nomor kursi terebut adalah merupakan (simbol) “Bilangan Raja Daud” (dalam buku-buku Ilmu Bilangan yang saya baca, dua digit angka ini selalu disebutkan bahwa dua angka itu adalah Simbol Raja Daud, Pendiri Bansga Israel).
Bilangan Raja Daud yang merupakan nomor kursi yang diduduki orang yang saya kenal baik tersebut, adalah bilangan yang terdiri dari dua digit.
Jika kedua digit bilangan tersebut dilafalkan dengan Bahasa Indonesia kemudian dikonversikan ke dalam “Bilangan Pythagoras” hasilnya = MAJAPAHIT = 810.
Dan anehnya lagi, entah kebetulan atau tidak, temanku yang menduduki kursi tersebut, nama depannya jika dikonversikan ke dalam “Bilangan Latin”, menghasilkan nama; MAJAPAHIT.
Saya lalu bertanya kepada temanku SBY;
“Bro, ini penerbangan tanggal berapa? Dan tujuannya ke mana?” Temanku SBY menjawab; “Ini penerbangan tanggal 2 September 2014 dengan tujuan Denpasar Bali”. Namun mimpi saya terjadi pada tanggal 3 September 2014. Bukan tanggal 2 September 2014. Kemudian saya pun tersadar dari mimpi.

MEMINTA TEMANKU SBY MEM-PRINT OUT DAFTAR PENUMPANG
Berdasarkan mimpi aneh tersebut, saya lalu melakukan kontak dengan temanku SBY, meminta tolong kepada Beliau untuk memprint-out nama-nama (daftar penumpang) Pesawat Sriwijaya, edisi 2 September 2014, dengan rute penerbangan; Dili-Denpasar.
Ternyata apa yang terjadi? Selang 14 hari setelah mimpi tersebut baru daftar nama penumpang tiba di tangan saya, diantarkan oleh “Bansgawan Luca” dari Kabupaten Viqueque.
Temanku SBY mengirimkan daftar penumpang bersama “7 roti” yang saya minta, sekaligus dikirim bersama “Simbol Pangeran Surya” yang dibawa dari Portugal yang ada dalam kantong plastik putih, beserta uang dengan nominal yang umumnya jika dilafalkan dengan Bahasa Indonesia, akan berbunyi; "Alamasi Rafael Rama Cristo".
Saya tidak tahu persis, kenapa temanku Yahudi SB Yahudi, harus mengirimkan uang dengan simbol namaku (Alamasi Rafael Rama Cristo).
Padahal saya hanya meminta “7 roti”, dikirim bersama daftar penumpang & “Simbol Pangeran Surya” yang dibawa dari Portugal mmapir ke Inggris terus ke Indonesia dan tiba di Timor Leste.
Tapi sebelum kiriman daftar penumpang 2 September 2014 tiba pada 17 September 2014, hanya berselang 4 hari setelah mimpi aneh tersebut, tepatnya pada tanggal 7 September 2014 (hari ini genap 2 tahun) , saya telah bertemu dengan orang yang dalam mimpiku, menduduki kursi bernomor; “Bilangan Raja Daud”.
Saya bertemu orang tersebut di sebuah hotel di kawasan Sanglah Denpasar. Bukan di kawasan Kuta. Nama hotel tersebut berhubungan erat dengan makna nama Raja SALOMO (SUlaiman) dalam Bahasa Ibrani.
Begitu memasuki kamar hotel, sambil “ngobrol” santai dengan temanku tersebut, saya mengambil remote untuk menyalakan tv. Begitu tanganku mengarahkan remote ke arah tv, saya kaget, ternyata di tv tersebut, ada sticker dengan simbol “Bilangan Malaikat Rafael”.
Begitu mataku melihat “Bilangan Malaikat Rafael” yang melekat di tv 21 inchi tersebut, saya urungkan niatku menyalakan tv. Saya letakkan kembali remote tv di tempatnya semula, lalu duduk kembali di kursi, sambil merenungkan kembali serangkaian kejadian aneh tersebut.
Temanku bertanya; “Lho, kenapa tidak jadi nyalakan tv?”
Saya menjawab; “Tidak jadi karena jam segini acara tv tidak ada yang menarik”.
Setelah ngobrol sekitar 10 menit, temanku dan rombongan meninggalkan kamar hotel tersebut.
Karena ternyata temnaku dan rombongan berniat menginap di kawasan kuta. Maka mereka tidak jadi menggunakan hotel tersebut. Dan ujung-ujungnya, saya lah yang menginap di hotel tersebut semalam, karena sudah terlanjur dibayar. Dari pada mubazir, ya saya manfaatkan tidur di sana, mumpung ada yang bayar(in).
Malam itu, saya sedikit menikmati hidup dengan menginap sendirian di kamar hotel yang melambangkan “Bilangan Malaikat Rafael”.
Akhirnya pada tanggal 17 September 2014, daftar penumpang pesawat bersama sejumlah “item” lainnya, termasuk “Simbol Pangeran Surya” yang dibawa dari Portugal, tiba di Denpasar, diantarkan langsung oleh Bangsawan Luka.
Begitu saya membaca daftar penumpang, saya kaget, karena ternyata, temanku yang dalam mimpi, menduduki kursi engan “Bilangan Raja Daud”, dalam daftar yang saya terima, faktanya, nama temanku itu benar-benar berada di urutan daftar dengan nomor yang melambangkan “Bilangan Raja Daud”.
Ini benar-benar aneh tapi nyata. Karena antara mimpi dan fakta yang terjadi, terdapat sinkronisasi.
Dalam daftar pesawat, dengan rute penerbangan; Dili-Denpasar, edisi 2 September 2014, dengan nomor Flight; SJ271, tertulis; nama 7 kru pesawat dan jumlah penumpang sebanyak 123 orang dengan rincian; 115 penumpang dewasa, 4 anak-anak dan 4 bayi.
Pesawat tersebut dipiloti oleh Kapten Penerbang bernama; Hariyo Wilianto, dengan First Officer (Co-Pilot); Enrique L, dan 5 nama Flight Attendents (Pramugari-Pramugara) seperti; Emilia, Meritya, R. Rakib, Chitranagara & Gilang. Saya masih menyimpan daftar pesawat tersebut hingga saat ini.

USULAN KEPADA PEMERINTAH & NEGARA TIMOR LESTE
Kisah mimpi aneh yang saya ceritakan di sini, banyak yang saya skip (lewati). Jika diceritakan semuanya, tulisan ini tidak bakal(an) selesai.
Berdasarkan apa yang saya alami dalam mimpi aneh 3 September 2014, saya mengusulkan, bagaimana kalau sekiranya nama Bandara Internasional Presidente Nicolao Lobato Dili diganti menjadi; BANDARA INTERNASIONAL SANTO RAFAEL DILI TIMOR LESTE.
Ini hanyalah usulan. Diterima, saya syukuri. Ditolak juga saya maklumi. Usulan ini didasarkan kepada salah satu "misi utama" yang diemban Malaikat Rafael, yakni; melindungi orang-orang dalam perjalanan, selain misi utamanya yang lain sebagai; "juru sembuh Ilahi", sesuai dengan makna namanya dalam Bahasa Ibrani; Raphael = Juru sembuh Ilahi".
Semenjak lahir ke dunia fana ini, ALLAH telah menganugerahi setiap insan kemampuan "akal budi" untuk membedakan yang baik dari yang jahat.
ALLAH juga menganugerahi manusia "kodrat kehendak bebas" untuk memilih yang dikehendakinya. Maka manusia boleh menggunakan kodrat kehendak bebasnya untuk memilih di antara;
Perintah & larangan
Berkat & kutukan
Pahala & Hukuman
=============================================
“Tempat di mana TUHAN secara terang-terangan menampakkan Diri, telah terkepung oleh sejumlah kontradiksi. Inilah dinding Firdaus. Pintu gerbangnya dijaga ketat oleh roh akal yang sangat angkuh. Jika sang penjaga ini berhasil disingkirkan, baru terbuka pintu Firdaus, tempat TUHAN tersembunyi” (Nicholas de Cusa: Teolog & Kardinal Perancis, 1401 – 1464).
============================================
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Du Hati dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: