Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Kamis, 15 September 2016

KUNJUNGAN ANGKATAN LAUT AMERIKA BERSAMA ASAP PUTIH DI KAMPUS UNPAZ MEMBAWA PESAN TENTANG KUNJUNGAN AIR LAUT




Pengantar Singkat;
Artikel ini diterbitkan untuk pertama kalinya di laman FB Rama Cristo, tanggal, 13 Juni 2015. Saya sengaja memunculkan kembali hari ini, sekedar sebagai satu "flash back" (kilas balik), sebelum saya menerbitkan lanjutan (seri ke-3) artikel berjudul; ADA PESAN ILAHI DI BALIK KEMATIAN PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT.

Untuk itu bagi mereka yang sudah membaca artikel ini, bisa di-skip (dilewati) saja. Karena tidak ada yang dirubah dalam artikel ini.
Tapi jika Anda mau membaca ulang, juga kagak apa-apa. Lebih bagus malah. Karena dengan demikian, Anda akan memiliki pemahaman yang lebih.
Yang kudu diingat adalah bahwa saya menuliskan artikel-artikelku, termasuk yang sedang Anda baca ini, dalam kapasitasku sebagai seorang "mistikus" dan "penggemar Ilmu Bilangan".
Dengan demikian, jika ada isu-isu tertentu yang kurang Anda fahami, atau bertentangan dengan sudut pandang Anda, maka hal itu terjadi, bukan karena "Bunda kita salah mengandung".
MUNCULNYA ASAP PUTIH DI KAMPUS UNPAZ
Tanggal 21 Juni adalah HUT Presiden Jokowi (yang lahir 21 Juni 1961). Juga tanggal di mana Presiden pertama RI, Bung Karno meninggal (21 Juni 1970). Maka sepertinya 21 Juni adalah tanggal yang sedikit "unik".
Hari itu, 21 Juni 2011, adalah jadwal di mana saya harus memberikan "her" (ujian ulang) kepada mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah "FISIKA KESEHATAN" yang saya asuh.
Hari itu, sejumlah mahasiswa FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UNPAZ sudah duduk dengan manis di hadapanku. Saya memutuskan untuk memberikan "her" secara lisan.
Sebelum her dimulai, saya telah menyiapkan sebuah surat yang harus saya berikan kepada Angkatan Laut Amerika, sesuai dengan permintaan Eyang Subur yang menampakkan dirinya padaku tanggal 20 Juni 2011 (malam hari) sebagaimana sudah saya kisahkan dalam salah satu artikel sebelumnya.
Sebelum her dimulai, saya meminta bantuan mahasiswa untuk menyampaikan surat kepada Angkatan Laut Amerika, yang saat itu sedang memberikan Kuliah Umum di Ruang Auditorium NOBEL DA PAZ.
Tapi sayangnya tidak satu pun mahasiswa yang bersedia memenuhi permintaan saya, dengan alasan mereka tidak bisa Bahasa Inggris. Saya dapat memakluminya.
Akhirnya, sambil meminta mahasiswa yang akan ikut her untuk menunggu di Sekretariat FKM, saya sendiri yang mengantarkan surat tersebut.
Jarak dari Sekretariat FKM ke Auditorium, kalau berjalan kaki, lumayan jauh. Saat saya tiba di sana (lantai dua), dan melongok ke dalam, ruangan itu penuh sesak. Tampak salah satu Anggota Marinir Amerika Serikat sedang tampil sebagai pembicara.
Setelah berpikir sejenak (masuk gak ya?), saya memutuskan untuk masuk saja. Begitu saya memasuki ruangan itu, semua mata dalam ruangan tertuju ke saya. Apalagi saat saya, tanpa ba-bi-bu langsung berjalan ke depan, berbicara dengan salah satu Anggota Marinir US yang duduk paling pinggir.
Setelah saya membisikkan beberapa penggalan kata dalam Bahasa Inggris, Anggota Marinir itu menunjuk ke arah temannya yang duduk di tengah. Berarti Bahasa Inggris yang saya pakai masih berlaku.
Rupanya temannya yang duduk di tengah itu adalah Komandan mereka. Saya menghampiri Sang Komandan dan kembali membisikkan sejumlah kata.
Komandan itu lalu berdiri, dan kami berdua melangkah beriringan meninggalkan ruangan di bawah tatapan mata manusia yang memenuhi ruangan tersebut.
Setelah berada di luar, kami berkenalan. Rupanya nama Komandan itu adalah MARK. Pangkatnya adalah Letnan. Di saat kami berdua sedang terlibat obrolan hangat, tiba-tiba muncul Pak Edu (PD = Pembantu Dekan II FKM Unpaz).
Pak Edu tidak terlibat dalam obrolan saya dengan Letnan Mark. Pak Edu asli Oe-Cussie itu rupanya sadar bahwa Beliau tidak boleh ikut bebricara. Beliau hanya mendengarkan pembicaraan saya dengan Letnan Mark sambil sesekali ikut tersenyum.

Setelah itu saya berjabatan tangan dan berpisah dengan Letnan Mark.
"Nice to meet you" (nais tumit yu = tidak serta merta bahwa tumitku nais). Itulah kalimat yang diucapkan Letnan Mark saat kami berpisah. Saya juga ikut mengucapkan kalimat yang sama, sambil menambahkan kata "too" (Nice to meet you too" = nais tumit yu tu).
Saya kembali ke Sekretariat FKM untuk memberikan her kepada mahasiswa yang sedang menunggu. Hari itu semua urusan terlaksana dengan baik. Terutama pesan Eyang Subur untuk harus memberikan surat kepada Angkatan Laut Amerika. Isi surat itu biarlah ALLAH, saya dan Letnan Mark yang tahu.
Menjelang petang hari, perasaan saya mulai tidak tenang (dag-dig-dug). Karena Eyang Subur berjanji bahwa jika saya mengikuti semua pesannya, akan muncul ASAP PUTIH di ruangan FKM. Dan saat ASAP PUTIH itu muncul, saya diminta untuk tenang-tenang saja. Biarkan mereka yang lain yang sibuk dengan ASAP PUTIH itu.
Saat itu saya sendirian di Sekretariat FKM. Staf yang lain sudah pada pulang. Karena memang seperti itulah yang biasanya terjadi.
Saya biasanya masuk kampus jam 6 pagi pada saat semua orang belum datang ke Kampus. Dan saya meninggalkan kampus rata-rata jam 10 malam, pada saat semua orang telah pulang dan Kampus Unpaz berubah bagaikan "kuburan".
Kadang saya bertanya pada diri sendiri;
"Saya ini sebenarnya dosen atau rangkap security ya? Kok masuk jam 6 pagi saat kampus masih sepi, pulang jam 10 malam, saat kampus sudah berubah menjadi kuburan?"
Di tengah-tengah saya sedang menanti ASAP PUTIH dengan ketegangan tinggi, sampai-sampai adrenalinku bertumpah ruah di mana-mana, tiba-tiba dari atas plafon ruangan Sekretariat FKM mulai muncul ASAP PUTIH.
Begitu melihat ASAP PUTIH mulai muncul, jujur saja, denyutan jantungku tidak teratur. Rasanya saat itu saya seakan mau pingsan. Hentakan jantungku memukul-mukul dinding dadaku.
Jika saat itu dipasang EKG (Elektro Kardio Grafi) di dadaku, maka pasti hasil (gambaran) EKG (Elektro Kardio Gram); yang muncul, "jantungku akan terlihat mengalami "fibrilasi atrium" (dan seharusnya saya pingsan saat itu).

Tapi saya mencoba untuk tetap kuat dan tenang. Berkali-kali saya menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Makin lama ASAP PUTIH makin memenuhi ruangan Sekretariat FKM yang terletak di lantai 2 dan ASAP PUTIH tersebut mulai bergerak keluar ruangan.
Tapi anehnya, walau ASAP PUTIH itu memenuhi ruangan, MATA saya sama sekali tidak pedis, layaknya terkena asap biasa. Makin lama ASAP PUTIH makin banyak mengepul dan terbang ke mana-mana.
Tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang dari bawah;
"FKM kebakaran...FKM kebakaran...FKM kebakaran...!!!"
Rupanya orang-orang yang ada di bawah sana, mulai melihat ASAP PUTIH tersebut.
Tidak berselang lama, Saudara Beni, Sekpri (Sekretaris Pribadi) Rektor Unpaz muncul di depan pintu, melongokkan kepalanya dari balik pintu sambil bertanya;
"Maun, ahi han buat ruma ka?" (Kakak, apa ada sesuatu yang terbakar?).
Saya mengatakan kurang tahu pasti. Lalu saya meminta Sdr. Beni untuk mengecek seluruh ruangan yang ada di lantai 2 guna memastikan di mana sumber api? Bukankah orang bijak berkata; "Ada asap pasti karena ada api".
Sdr. Beni melaksanakan apa yang saya sampaikan. Seluruh ruangan diperiksa. Sampai ke ruang SRU (Stasion Radio Unpaz).
Sementara Sdr. Beni sibuk ke sana-kemari memeriksa seluruh ruangan, muncul Sdr. Alex (salah satau mahasiswa Unpaz/asal Maliana).
Kedua orang yang sama-sama berasal dari Maliana itu memeriksa seluruh ruangan. Tapi tidak ada sumber api (????).
Anehnya, ternyata ASAP PUTIH hanya muncul di ruangan Sekretariat FKM. Ruangan yang lain yang terletak di lantai 2 tidak ada ASAP PUTIH.
Lalu saya meminta keduanya untuk cek di bawah, tepatnya di belakang gedung. Apakah ada yang membakar sampah. Setelah keduanya periksa ke bawah, saat itu, penuduk yang tinggal di belakang gedung itu tidak sedang membakar sampah.

Dari mana datangnya ASAP PUTIH itu? Di mana sumber apinya?
Setelah tidak menemukan sumber api, Sdr. Beni dan Sdr. Alex kembali ke tempat mereka. Saya sendirian di ruangan tersebut. Bulu kudukku berdiri semua. Saya merasa seakan-akan; Eyang Subur saat itu sedang berdiri di di ruangan tersebut dan tentunya jika benar, Beliau pasti sedang memperhatikan saya.
Saya tidak tahan. Lalu segera berbenah, membereskan buku-buku dan juga soal-soal FISIKA yang saya periksa, lalu bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
Hari itu, maksudnya malam itu, 21 Juni 2011, saya meninggalkan kampus dengan perasaan dan pikiran yang sangat gado-gado (bercampur aduk).

BERTEMU TEMAN BERHATI MULIA DI PINTU GERBANG KEDUTAAN AMERIKA

Akhirnya, pada tanggal 10 Desember 2012, sebagian kecil misteri ASAP PUTIH itu terjawab. Artinya, melalui kejadian 10 Desember 2012, kita bisa mereduksi makna di balik munculnya ASAP PUTIH ke tingkatan lebih bersifat "filosofis-numerik".

Hari itu, 10 Desember 2012, saya dan temanku SBY, menemui seorang teman di Pintu Gerbang Kedutaan Besar Amerika yang terletak di Farol Dili, persis di tepi pantai.

Begitu tiba di sana, saya tetap berada dalam mobil. Belun SBY yang turun dan menemui teman yang baik hati itu.

Saat itu, dari dalam mobil, saya melihat kerumunan manusia sedang berdiri di depan Pintu Gerbang Kedutaan Amerika Serikat.

Rupanya hari itu, 10 Desember 2012, ada acara di Kedutaan Amerika Serikat. Acara itu berkaitan dengan orang-orang Timor Leste yang berhasil mengikuti testing untuk melanjutkan studi mereka di Negeri Pam Sam.

Jika ada Staf Kedutaan USA di Timor Leste ikut membaca artikel ini, coba buka arsip edisi 10 Desember 2012. Pasti di sana ada acara yang saya sebutkan.

Temanku Yahudi SB Yahudi kembali ke mobil sambil memegang sebuah "amplop putih". Rupanya teman itu (yang merupakan Lulusan Magister salah satu Universitas di Amerika Serikat) yang memberikan amplop putih tersebut.

Setelah berada dalam mobil, SBY menyodorkan amplop putih itu ke tanganku dan isinya adalah $200 US. Aksara $200 US ini simbol penting. Lalu kami berdua langsung meluncur ke Land-Mark, Kantor Pesawat Merpati untuk membeli ticket.
Karena saya harus kembali ke Bali untuk mengikuti UAS (Ujian Akhir Semester) di Program Magister Kedokteran Olahraga Pascasarjana Unud, pada 17 Desember 2012.
Saat itu harga ticket melambung tinggi menyentuh angka di atas $300 US. Karena menjelang Natal & Tahun Baru, permintaan tinggi. Sampai-sampai Merpati harus menambah "extra flight" (penerbangan extra).
Tapi berhubung SBY yang mendampingi saya, maka saya merasa aman. Entah bagaimana caranya, harga ticket Pesawat Merpati hari itu, khusus untuk saya diturunkan ke level; $199 US.
Saya sangat berterima-kasih kepada SBY. Karena bukan hanya ticket pesawat yang mendapat korting. Tapi saya yang sebenarnya sudah tidak mendapatkan "seat" (tempat duduk), akhirnya bisa dapat seat karena jasa SBY (yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bandara Internasional Nicolau Lobato Dli).
Padahal sehari sebelumnya, 9 Desember 2012, saya sempat bertemu Companheiro Joao Travolta (salah satu Pendiri RENETIL) di Timor Plaza bersama Isterinya yang juga hendak membeli ticket untuk tujuan Jakarta.
Hari itu, di Timor Plaza, saya dapatkan info; semua seat full. Saya coba cek ke Kupang. Tapi khusus untuk tujuan Kupang- Denpasar, seminggu ke depan semua seat full.
Saya berencana, jika Kupang Denpasar ada seat kosong, saya akan booking ticket di Dili, lalu menempuh perjalanan darat Dili-Kupang, baru meneruskan dengan perjalanan udara Kupang-Denpasar. Yang terpenting saya bisa ikut UAS.
Dalam keadaan nyaris kehilangan harapan, di detik-detik terakhir itulah, saya dan SBY "bergerak". Visa yang biasanya "3 hari" baru jadi, ternyata hanya satu hari langsung jadi.
Seat yang tadinya full, akhirnya tersedia. Mungkin salah satu penumpang (terpaksa) digeser. Harga ticket yang telah menyentuh angka di atas 300, dirurunkan ke level $199.
Hari itu, 10 Desember 2012, saya dan SBY meninggalkan Land-Mark dengan mengantongi ticket pesawat Merpati ditambah ONE DOLLAR. Saya menyimpan baik-baik ONE DOLLAR itu (uang kembalian beli ticket pesawat) ke dalam dompet.

Malamnya saya bermimpi aneh, bertemu kembali Letnan Mark. Dalam mimpiku, Letnan Mark, Anggota Angkatan Laut Amerika yang tongkrongannya tinggi menjulang itu memberikan sebuah pesan rahasia tentang uang kembalian ONE DOLLAR yang saya terima dari seorang wanita cantik di Land-Mark Dili.
Saya tersadar dari mimpiku dan langsung membuka dompet untuk melihat nomor seri yang tertera dalam lembaran ONE DOLLAR (25990923). Ternyata semua rahasia mengenai AIR LAUT yang akan mengunjungi Kota Dili ada di dalam nomor seri ONE DOLLAR (25990923).
Setelah menerjemahkan makna di balik Bilangan 25990923 ONE DOLLAR, saat itulah baru misteri ASAP PUTIH itu terpecahkan.
Rupanya sumber ASAP PUTIH yang muncul pada 540 hari sebelumnya di Kampus Unpaz, ada di di blik bilangan ONE DOLLAR (25990923), yang merupakan "uang kembalian" saat saya bersama belun SBY membeli ticket Pesawat Merpati pada 10 Desember 2012.
Saya meninggalkan Kota Dili pada 14 Desember 2012. Itulah terakhir kalinya saya menapakkan kakiku di Kota Dili hingga detik ini.
Jika GPS II tidak jadi mengunjungi Dili sebelum 15 Agustus 2015 berakhir, maka untuk selamanya saya tidak akan pernah lagi menapakkan kakiku di Kota Dili.
Salah satu point (pesan) terpenting dalam artikel ini adalah;
"Munculnya ASAP PUTIH di Kampus Unpaz, bersamaan dengan kehadiran ANGKATAN LAUT Amerika Serikat, adalah sebagai "tanda pasti" mengenai "kedatangan AIR LAUT di Kota Dili" tahun 2017. Bukankah antara ANGKATAN LAUT dan AIR LAUT itu adalah "saudara kembar?"
Masyarakat Kota Dili, diharapkan untuk, bukan hanya rajin melakoni 3B (Berdoa, Bertobat & Bertirakat), melainkan kudu latihan (lakukan) simulasi, bagaimana caranya "lari", saat AIR LAUT benar-benar datang. "Apakah harus berlari dengan cara; melangkahkan kaki kiri duluan atau kaki kanan yang duluan dilangkahkan?"

"Tempat di mana TUHAN secara terang-terangan menampakkan Diri-Nya, telah terkepung oleh sejumlah kontradiksi. Inilah dinding Firdaus itu, di mana pintu gerbangnya dijaga ketat oleh roh akal yang sangat angkuh. Jika sang penjaga ini berhasil disingkirkan, baru terbuka pintu Firdaus, tempat TUHAN tersembunyi" (Nicholas de Cusa; Teolog dan Kardinal Perancis; 1401-1464).



Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: