Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Selasa, 06 September 2016

DOKTER JUGA MANUSIA; "Jika Salah Memilih Presiden Partai Demokrat Maka Siapkan Saja Peti Mati" (bagian: 4)



"Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup = Non schola, sed vitae discimus" (Ucapan Seneca kelahiran Cordoba Spanyol, dalam suratnya kepada Lucius, abad 4).
Melalui seri ke-4 ini, saya memenuhi janji saya sebelumnya untuk memperlihatkan kepada publik mengenai obat yang diresepkan "Dokter Spesialis" di Bagian "Dinasti David" Rumah Sakit Guido Valadares (RSNGV) Bidau Dili Timor Leste pada tanggal 25 Agustus 2016.
Obat yang saya maksudkan, umumnya dilafalkan dengan bunyi; KARBAMAZEPIN. Dalam Bahasa Latin, secara leteral, nama obat ini ditulis dengan nama; CARBAMAZEPINE, namun cara bacanya juga sama, yaitu; KARBAMAZEPIN.
Karena itulah dalam seri sebelumnya, saya mengatakan bahwa nama obat yang diresepkan Dokter Spesialis di Bagian Dinasti David RSNGV Bidau Dili, adalah obat berlogo; RAMA CRISTO.
Berlogo RAMA CRISTO, dengan alasan, karena jika kita konversikan semua huruf dalam frasa KARBAMAZEPIN ke dalam Bilangan Latin, akan menghasilkan nilai numerik yang sama dengan nilai numerik RAMA CRISTO dalam Bilangan Latin.
KARBAMAZEPIN = 117
RAMA CRISTO = 117
Jika Anda yang membaca artikel ini adalah seorang "hater" dan merasa "alergi" (anti) dengan nama RAMA CRISTO, Anda bisa mengganti nama RAMA CRISTO dengan frasa; HUKUM SABAT.
Karena nilai konversi dari HUKUM SABAT ke dalam Bilangan Latin, juga menghasilkan angka; 117.
Pertanyaannya kini adalah;
"Atas indikasi medis yang mana, Dokter Spesialis di Bagian Dinasti David harus meresepkan obat berlogo; RAMA CRISTO, yang merupakan obat golongan; ANTI KONVULSAN (anti kejang)?
Padahal keponakanku sama sekali tidak pernah satu kalipun mengalami "konvulsi" (kejang)???
Saya yakin, obat tersebut diresepkan karena dokter pasti telah menegakkan diagnosa; EPILEPSI (BIBI MATEN). Padahal saya yakin, seyakin-yakinnya, keponakanku tidak sedang menderita BIBI MATEN alias EPILEPSI.
Lalu mengapa Dokter meneggak diagnosa EPILEPSI? Silahkan baca kembali seri sebelumnya.
Jadi satu-satunya jawaban untuk membela kebijakan Dokter Spesialis di Bagian Dinasti David RSNGV Bidau Dili yang telah meresepkan obat golongan ANTI KONVULSAN, karena Beliau sedang digunakan ALLAH untuk menyatakan "sesuatu".
Mengapa harus obat golongan "ANTI KONVULSAN, sementara keponakanku sama sekali tidak mengalami "konvulsi" (kejang)? Karena orang-orang Timor Leste adalah golongan orang-orang yang "Anti Anak Kandung Daud".
Lho? Apa hubungan antara "Anti Konvulsan" dengan "Anti Anak Kandung Daud?"
Karena jika kita konversikan frasa; KONVULSAN ke dalam Bilangan Latin, nilai numeriknya = ANAK KANDUNG DAUD, sama-sama menghasilkan bilangan "129".
KONVULSAN = 129
ANAK KANDUNG DAUD = 129
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Dokter Spesialis yang bersangkutan, saya harus jujur katakan bahwa dari sisi medis, terlepas dari intervensi ALLAH yang telah memilih dan menggunakan Dokter di Lab Dinasti David RSNGV Bidau Dili, untuk menyatakan Kehendak-Nya, Dokter Spesialis yang bersangkutan telah mengalami "missing link".
Mengalami "missing link", karena saya sama sekali tidak menemukan alasan untuk membenarkan kebijakan Dokter tersebut yang telah meresepkan KARBAMAZEPIN buat keponakan saya.
Sekali lagi pertanyaannya adalah;
"Keponakanku sama sekali tidak mengalami kejang (konvulsi). Lalu apa indikasi medis yang menlandasi kebijakan Dokter tersebut meresepkan obat golongan "Anti Konvulsan" (KARBAMAZEPIN)?

Indikasi medis lain dari penggunaan Karbamazepin adalah; neuralgia trigemninus, gangguan bipolar dan skizofrenik. Tapi keponakanku sama sekali tidak menunjukkan semua gejala klinis di atas. Satu-satunya keluhan utamanya adalah; RENETIL (SINKOP).
Atas alasan itulah, saya melarang keponakanku mengonsumsi obat tersebut. Saya meminta mereka menyimpan obat tersebut baik-baik dan nantinya diberikan ke saya jika saya pulang ke Timor Leste.
Satu-satunya jalan untuk "menyelamatkan" (baca: membenarkan) tindakan Dokter Spesialis tersebut meresepkan KARBAMAZEPINE untuk keponakanku adalah karena saat itu Dokter yang bersangkutan sedang berada di bawah kendali ALLAH.
Sebagaimana telah saya jelaskan di seri-seri sebelumnya, bahwa KRISTUS telah memilih Dokter Spesialis tersebut untuk menyatakan "Kehendak-Nya" yang "Mahasuci".
Untuk itu segala sesutaunya yang berkaitan dengan;
(1). Gejala klinis" yang dialami keponakanku
(2). Dua Dokter Spesialis yang menanganinya
(3). Diagnosa yang ditegakkan
(4). Obat-obatan yang diresepkan
(5). Dan seterusnya dan sebagainya,
harus "dikontekskan". Untuk itu kita harus menemukan "konteksnya". Dengan menemukan "konteksnya", maka kebijakan Dokter Spesialis meresepkan KARBAMAZEPIN (termasuk kebijakan satu Dokter Spesialis sebelumnya yang telah meresepkan dua jenis obat lainnya, yaitu obat berlogo; DEMOCRATICO dan UNPAZ) bisa dibenarkan.
Untuk menemukan KONTEKS tersebut, maka isu ini harus dibawa keluar dari "ranah medis" dan masuk ke "ranah ambal-ambal".
Ranah ambal-ambal akan dibahas lebih lanjut pada seri-seri yang akan datang. Pembahasan di ranah ambal-ambal, saya akan membahas juga hubungan antara pemilihan obat KARBAMAZEPIN sebagai "drug of choice" dengan kematian "Wakil Perdana Menteri VI Governo".
Oleh karena itulah, dalam sejumlah gambar terlampir, saya sengaja memperlihatkan salah satu bentuk "penampilan fisik" obat KARBAMAZEPIN, yang ada bilangan "268".
Apa hubungan antara obat KARBAMAZEPIN dengan kematian "Presiden Partido Democratico" yang pertama?
Jawabannya adalah; "Bukankah Presidente Partido Democratico yang juga Sekjen pertama Renetil itu, meninggal pada "2 Juni 2015" di RSNGV Bidau Dili"???
Bukankah kita bisa mereduksi "dimensi waktu" 2 Juni 2015 menjadi; "268?" Bilangan "2" melambangkan tanggal, bilangan "6" melambangkan bulan Juni, dan bilangn "8" melambangkan tahun 2015 yang diperkecil menjadi satu digit (2+0+1+5 = 8).
Tiba di titik ini, saya ingin merasa tergoda untuk mengatakan begini;
"Jangan-jangan saat Dokter Spesialis akan meresepkan obat KARBAMAZEPIN, saat itu juga, Roh Maun Nando La Sama hadir di sana. Bukankah Beliau meninggalnya juga di RSNGV Bidau Dili?

SILAHKAN BUKA BUKU IONI JIKA ANDA MEMILIKINYA
Dalam artikel ini, saya sengaja melampirkan buku berjudul IONI dan halaman "PAULO XIMENES" alias halaman; "154", yang membahas segala sesuatunya mengenai obat KARBAMAZEPIN.
Jika Anda di rumah memiliki buku tersebut, coba buka halaman Paulo Ximenes. Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa dinamakan halaman "Paulo Ximenes" karena nilai konversi nama Paulo Ximenes, hasilnya = 154.
Pemilihan nama ini berkaitan erat dengan artikel "kocak" edisi 27 Agustus 2016, dengan sub judul; "Pimpinan Konsulat Timor Leste Di Bali Melarikan Diri".
Untung aja saat itu Maun Bot Apau melarikan diri. Coba kalau tidak melarikan diri (simu kedan masin kaut iha 27 Agosto 2008).
Kalau Anda merasa tidak nyaman mengkonversikan halaman "154" dengan nama "Paulo Ximenes", maka silahkan ganti dengan frasa; MURID YESUS. Karena frasa MURID YESUS, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Latin, juga menghasilkan angka; "154".
PAULO XIMENES = 154
MURID YESUS = 154
Dalam buku IONI, halaman MURID YESUS, obat KARBAMAZEPIN dibahas secara lengkap di sana. Termasuk cara penulisannya juga sama persis dengan cara melafalaknnya (KARBAMAZEPIN).
Dengan demikian, ketika saya membahas isu ini, referensinya adalah"literatur" yang sahih (sah & valid). Bukan sekedar berdasarkan "teori ambal-ambal".

Agar dengan demikian, tidak ada kecurigaan bahwa saya sengaja melafalkan obat yang nama generiknya dalam Bahasa Latin, secara leteral ditulis dalam bentuk CARBAMAZEPIN, menjadi KARBAMAZEPIN, agar untuk dicocok-cocokkan dengan nama RAMA CRISTO dan HUKUM SABAT.
============================================
"Pengetahuan tak bisa dipermainkan. Jika sebuah hipothesis dengan begitu jelas membawa akibat langsung, dan juga mempengaruhi seluruh fenomena sejarah, maka harus diterima.
Menerimanya berarti mengajarkannya.
Kenyataannya yang hanya sekedar mengharu-birukan tatanan sosial, tak perlu mempengaruhi kita. Masyarakat boleh mengiyakan atau menolaknya, tetapi kita harus menjadi cahaya baru, entah kemanapun dia menggring kita" (Henry-Brooks-Adams; Sejarawan Amerika; 1838-1918).
=============================================
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
BERSAMBUNG;
Catatan Kaki;
Di dunia medis (dunia Kedokteran), ada satu istilah yang disebut; science and art" (ilmu dan seni).
Istilah ini muncul karena, seorang dokter, dalam menangani pasien, (mulai dari anamnesis/wawancara, melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi), mengusulkan pemeriksaan Laboratorium, menegakkan diagnosa, membuat prognosa, menentukan therapi (termasuk dalam hal memilih obat), berdasarkan "science" dan "art" (selera) yang dimiliki dokter tersebut.
Dengan demikian, dalam menghadapi pasien yang sama, bisa saja terjadi penegakan diagnosa yang berbeda dan kemudian memilih obat yang juga berbeda yang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Untuk itu, berkaitan dengan kasus yang dialami keponakanku, sebagai bahan diskusi, saya ingin katakan bahwa ada kemungkinan besar, Dokter Spesialis di Lab Dinasti David RSNGV Bidau Dili telah menegakkan diagnosa EPILEPSI atas keponakanku.
Karena itulah dokter tersebut meresepkan KARBAMAZEPIN. Yang menjadi pertanyaan sebagai bahan diskusi terbuka adalah;
"Apa KARDINAL SIGN yang ditemukan Dokter pada keponakanku, sehingga harus menegakkan diagnosa EPILEPSI dan kemudian meresepkan KARBAMAZEPIN?"

Tidak ada komentar: