Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Minggu, 25 September 2016

BUNDA MARIA MENAMPAKKAN DIRI 25 SEPTEMBER 1996 (99% Presiden Timor Leste Ke-6 Berasal Dari Fretilin)



Hari ini 25 September 2016. Genap 20 tahun lalu, tepatnya 25 September 1996, dini hari, saya mendapatkan mimpi yang menurutku sangat aneh dan juga sangat menakjubkan.

Berdasarkan mimpi 25 September 1996 itulah, saya begitu sangat-sangat yakin bahwa tokoh yang akan memenangkan Pilpres 2017, akan berasal dari Fretilin. Pokoknya tokoh tersebut "orang Fretilin".

Berdasarkan mimpi aneh 25 September 1996 itulah, di pertengahan tahun 2011 (setahun sebelum Pilpres 2012), saya telah memastikan kepada sejumlah kader PD (Partai Demokrat), bahwa Maun Bot Fernando La Sama de Araujo, tidak akan terpilih sebagai Presiden di Pilpres 2012.

Sekedar kilas balik, tahun 2011, saya menyebarkan berita kepada sejumlah orang (terutama Renetil & PD), bahwa yang akan muncul sebagai Presiden Timor Leste ke-5, bukan Maun Bot La Sama.

Salah satu orang yang ikut saya khabari mengenai isu tersebut adalah salah satu kader PD, Companheiro Leonito Ribeiro.

Kalau kagak percaya, Anda bisa tanyakan sendiri untuk memastikan bahwa saat itu, 2011, sahabatku itu juga ikut menerima khabar "tidak menyenangkan" tersebut.

Jika saya tidak salah, ketika Pilpres 2012 berlangsung, sahabatku itu sedang mengikuti pendidikan di Brasil. Melalui akunnya, sahabatku itu memperkuat "kesaksian saya" bahwa saya telah mengatakan setahun sebelumnya, bahwa Maun Nando bukanlah Presiden Timor Leste ke-5.

Selain itu, saat itu (2011), saya juga sempat berdebat dengan salah satu kader PD, Companheiro Caeiro Domingos gara-gara berita yang saya sebarkan.

Melalui SMS, sahabatku itu "marah-marah";

"Atoi hakarak maun Lucas (Rektor Unpaz) sai Presidente la buat ida, mas keta mempengaruhi fali ema seluk sebarkan SMS dehan maun Nando labele manan Eleisoens Presidensial 2012"

SAYA DICURIGAI GARA-GARA MUNCUL EDARAN DI KAMPUS

Pertengahan Mei 2011, sebuah edaran tiba-tiba muncul di Kampus Unpaz, yang isinya; "Rektor Unpaz, Prof. Dr. Lucas da Costa,SE,MSi, akan maju sebagai salah satu Kandidat Presiden dalam Pilpres 2012, melalui jalur independen.

Tanggal 21 Mei 2011, sore hari, maun Buras langsung menemui saya di ruang Sekretariat FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) Unpaz untuk memastikan; Apakah sayalah yang menganjurkan agar Prof. Lucas harus maju melalui jalur indenpenden?".

Sumpah mati, walau saat itu saya aktif mengajar di FKM Unpaz, namun justeru baru hari itulah, 21 Mei 2011, saya mengetahui dari mulut maun Buras Martins, kalau ternyata Prof. Lucas akan maju.

Saya sama sekali tidak pernah sedikitpun mengambil inisiatif memberikan dorongan kepada Prof. Lucas untuk maju. Anda boleh tanyakan sendiri kepada Prof. Lucas, apakah sebelum edaran tersebut muncul, saya berada di balik edaran tersebut?

Sekali lagi, saya justeru mengetahui edaran tersebut dari mulut maun Buras Martins tanggal 21 Mei 2011. Namun justeru edaran tersebut memancing "kemarahan" sejumlah kader PD. Karena mereka mengira, Prof. Lucas tidak akan mungkin maju, kalau saya tidak memberikan "dorongan" atau bahkan menjadi "pemrakarsa".

SAYA DIPECAT SEBAGAI DOSEN TETAP FKM UNPAZ GARA-GARA MENOLAK BERGABUNG DALAM TIM SUKSES

Tahun 2011, saya dikirim Unpaz mengikuti testing di Program Pascasarjana di Unud (Universitas Udayana) Bali. Saya berhasil lulus testing di Program Magister IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat). Namun ternyata apa yang terjadi kemudian?

Rektor Unpaz meminta saya untuk bergabung dalam "Tim Sukses". Beberapa kali Beliau menyarankan saya untuk daftar saja dulu, namun tahun ajaran berikutnya (2012) baru mengikuti kuliah. Karena Beliau bermaksud menarik saya untuk bergabung dalam Tim Sukses.

Namun saya tetap "ngotot" berangkat ke Unud tahun itu juga (2011). Bahkan menjelang hari keberangkatan, ticket pesawat sudah saya pegang, untuk flight (penerbangan 4 September 2011), pada 1 September 2011, Beliau mengirim dua "Pembantu Rektor", yaitu; PR II (Bidang Keuangan/Bapak Francisco Vicente) dan PR I (Bidang Kemahasiswaan/Bapak Elidio de Araujo).

Saya masih ingat betul. Hari itu, 1 September 2011, menjelang tengah hari, PR II mendatangi saya di Sekretariat FKM. Dengan sangat sopan (memakai kemasan bahasa yang lembut) PR II bilang;

"Atoi, Reitor haruka hau mai ne atu hato ba atoi, atoi tahan lai, lalika ba lai. Husik Juvi ho Honoria mak ba uluk. Atoi tinan oin mak tuir ba". Tamba Reitor dehan atoi tenki hela hodi haree lai servisu".

Tapi dengan bahasa yang sangat lugas, saya katakan kepada PR II, bahwa saya menghormati dan menghargai permintaan Rektor, namun bagaimanapun saya akan tetap berangkat tahun ini.

Kemudian PR II meninggalkan ruangan Sekretariat FKM di lantai II, untuk kembali ke bawah. Tak berselang lama, hanya kurang dari 10 menit PR II meninggalkan saya, PR I menelfon saya untuk harus bertemu Beliau di ruang kerjanya saat itu juga karena penting.

Saya bergegas turun menemui PR I. Saat itu saya berbicara cukup lama (lebih dari satu jam) dengan Pak Elidio yang bawaannya sangat 'kocak" (karena orangnya memang sangat humoris).

Saat itu PR I, di sela-sela guyonannya, menyampaikan permintaan Rektor agar saya jangan dulu berangkat, karena konon, Rektor mengatakan; "ada tugas besar yang harus saya kerjakan".

Tapi saya katakan hal yang sama kepada PR I bahwa saya akan tetap berangkat ke Bali. Apalagi ticket sudah saya beli.

Selang tiga hari, 4 September 2011, saya meninggalkan Dili menuju ke Bali. Saya tidak sempat pamit ke Rektor. Tiba di Bali, jujur saja, saya begitu menggebu-gebu "kuliah". Karena saya mengira, Unpaz akan konsisten membeyai studi saya. Maka saya harus lulus tepat waktu, dengan nilai yang harus bagus. Bila perlu lulus dengan predikat "Cummulaude". Pokoknya semangat 75-lah.

Ternyata, entah kebetulan atau tidak, tepat tanggal 25 September 2011 (hari ini 25 September 2016, genap 5 tahun), saya menerima SMS "mengejutkan" dari salah satu Dosen ISH (Ilmu Sosial & Humaniora) Unpaz yang mengatakan bahwa melalui Rapat Dewan Rektorat, Pak Rektor telah mengumumkan bahwa Unpaz tidak akan membeyai studi Antoninho Benjamim Monteiro.

Unpaz hanya bersedia membeayai studi dua dosen lainnya, yaitu Ibu Juvi Goncalves dan Ibu Honoria Pereira Carvalho. 

TIAP KETEMU REKTOR TETAP CIUM TANGANNYA

Saat menerima SMS tersebut, walau sedih, tapi saya ikhlas menerima keputusan tersebut. Mungkin ini sudah takdirku untuk dipecat. Barangkali bukan rezeki saya. Jadi saya harus ikhlas.

Saya membayangkan saja, jika saya yang berada di posisi Rektor, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Semua orang "mbalelo" (tidak taat dan tidak loyal kepada keputusanku sebagai seorang Rektor), harus menerima segala konsekuensi logisnya.

Karena Rektor adalah "pamanku sendiri", maka walau "hubungan profesional memburuk", namun "hubungan pertalian darah" (paman-keponakan), tidak bisa ikut memburuk, apalagi putus.

Maka setiap ketemu Beliau, saya tetap "cium tangan". Karena memang sudah tradisi yang turun-temurun. Memegang teguh "etika", antara "paman dan keponakan" adalah prioritas. Masalah memburuknya "hubungan profesionalitas", saya tempatkan dalam ranah yang berbeda. Tidak boleh dicampur aduk.


Dengan demikian, maka yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa satu-satunya alsan saya dipecat, gara-gara saya tidak memberikan dukungan kepada Rektor dalam Pilpres 2012. Tidak ada alasan lain di luar alasan tersebut.

Mengapa saya tidak memberikan dukungan kepada Beliau? Padahal dia adalah pamanku sendiri. Darah dagingku sendiri. Alasan satu-satunya adalah, jika pada dalam penampakan 25 September 1996, Bunda Maria mengatakan bahwa pamanku akan menjadi Presiden di tahun 2012, maka saya akan dengan sangat senang hati bergabung dengan "Tim Sukses". 

SAYA TAKUT TERHADAP BUNDA SUCI PERAWAN MARIA

Anda mungkin masih mengingat artikel saya yang menguraikan tentang "hierarki rasa takut". Pertama-tama saya takut kepada ALLAH (baca: TUHAN YESUS KRISTUS).

Kedua, saya takut kepada Bunda Suci Perawan Maria Yang Dikandung Tanpa Noda. Berikutnya, saya takut kepada Santo Yosef, Keturunan Daud yang termashyur, Pelindung Keluarga Kudus Nazareth".

Ketika saya tidak memenuhi permintaan Rektor untuk bergabung dalam Tim Sukses, karena jujur saja, saya takut sekali kalau sampai "Bunda Maria murka", hanya gara-gara saya tidak "taat".

Hari ini, 25 September 2016. Genap 20 tahun yang lalu, 25 September 1996, saya bermimpi aneh.

Mula-mula Bunda Maria membawa saya berjalan menelusuri sebuah taman bunga yang sangat indah. Sambil berjalan, Bunda Maria berbicara dengan sangat lembut menyampaikan sejumlah pesan.

Setelah berjalan agak lama, kami berdua memasuki sebuah hutan belantara. Kami terus berjalan dengan arah menuju sebuah bukit. Begitu akan tiba di bukit, Bunda Maria tiba-tiba saja menghilang. Saya tidak lagi melihat Bunda Maria.

Lalu saya meneruskan perjalanan menuju bukit. Begitu tiba di bukit, dari kejauhan saya melihat Almarhum Maun Bot Fernando La Sama de Araujo, sedang berbincang-bincang dengan seorang tokoh nasional Timor Leste.

Keduanya berdiri di sebuah "jembatan kecil". Jembatan kecil tersebut melintasi sebuah sungai, namun saat saya melihat ke bawah, sungai tersebut kering, sama sekali tidak ada air.

Saya terus berjalan mendekati Almarhum dan tokoh nasional tersebut yang sedang berdiri di tanah tandus yang kering. Tanah kering itu berwarna merah. Begitu saya tiba di sana, keduanya menyalami saya sambil tersenyum. 
Kemudian kedua tokoh itu mengantar saya menuju sebuah rumah yang terbuat dari "ilalang" (umu duut). Rumah ilalang tersebut berukuran sangat besar. Terlihat luas sekali.

Saya melihat ke dalam. Ternyata di dalam rumah ilalang tersebut penuh dengan massa Fretilin yang berdiri berdesakan. Yang duduk di barisan paling depan adalah "tokoh-tokoh Fretilin".

Kemudian saya melihat Maun Bot Marie Alkatiri, Maun Bot Lu-Olo beserta Maun Rui Maria de Araujo (saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste), berdiri menyalami saya, Maun La sama dan tokoh nasional yang namanya tidak akan saya sebutkan di sini, karena dari "7 nama" yang saya umumkan bulan Desember 201, sebagaimana bisa Anda lihat dalam gambar 7 ROTI terlampir, tokoh inilah yang akan menyusul Maun La Sama.

Setelah 3 tokoh Fretilin menyalami kami bertiga, tiba-tiba Maun La Sama memegang sebuah "kamera foto" berukuran besar, mengambil foto.

Maun La Sama mengambil foto sebanyak 3X. Tiap kali tombol kamera tersebut dipencet, "blitznya" menyala bagaikan sinar petir. Blitz kamera menyala sebanyak 3X.

Setelah itu, Maun La Sama meletakkan "kamera foto" yang berukuran besar tesrebut di "pundak kiri saya". Rasanya berat sekali. Sampai-sampai saya berkata kepada Maun La Sama;

"Maun Nando, kamera ne todan loos ne?"

Almarhum hanya tersenyum, kemudian saya bersalaman dengan Maun Nando dan tokoh nasional yang akan "menyusul" Maun Nando" suatu saat.

Setelah itu sayapun terbangun dari mimpi aneh tersebut. Ternyata jam di Hp saya menunjukkan pukul 3 lewat 37 menit. Itu saja mimpinya. Namun berdasarkan mimpi aneh tersebutlah, bulan November 2006, saya menuliskan sebuah makalah tebal (7 bab/77 halaman), dan menitipkan sebanyak 4 exemplar ke Timor Leste, lewat Bapak Cristino Gusmao, yang saya temui di Airport Ngurah Rai Tuban Bali, hari Selasa, 21 November 2006.

Di dalam makalah berjudul; KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB, di halaman 17, saya menuliskan dua angka triple (666 & 888). Di kemudian hari, maksudnya setahun kemudian, tahun 2007, dua Kandidat Presiden yang memiliki nomor urut 6 dan 8, berhasil menjabat sebagai PRESIDEN.

Nomor urut "6", Jose Manuel Ramos Horta memenangkan Pilpres Timor Leste 2007, dan terpilih sebagai Presdien Republika Timor Leste ke-4, sementara yang memiliki nomor urut "8", Maun La Sama, berhasil menjadi Presiden Parlamen Nasional.

Bahkan di kemudian hari, ketika Presiden Ramos Horta tertembak dalam tragedi beradarh 11 Februari 2008, dan harus dirawat di Royal Hospital Darwin Australia, Maun Nando sempat merangkap jabatan "Presidente Republica", disebabkan "secara normatif", Konstitusi Timor Leste mengatur demikian.

Bulan Desember 2011, ketika saya mengumumkan 7 nama yang masuk dalam daftar "top seven", saya sengaja mengumumkan nama Presiden Jose Maria Vasconcelos (Taur Matan Ruak), pada urutan 5, yang diumumkan pada tanggal; 29 Desember 2011.

Jujur saja, ketika saya dengan sengaja memilih untuk mengumumkan nama "Taur Matan Ruak" di urutan ke-5, tanggalnya 29 (Desember 2011), sejatinya saya sedang "memainkan steganos" (pesan tersembunyi) yang ada di balik makalah berjudul; KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB, yang telah beredar 7 tahun sebelumnya (2007).

Coba Anda konversikan frasa; KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB ke dalam Bilangan Latin, hasilnya pasri sama dengan 295.

Bilangan "29" adalah tangga 29 (Desember 2011), sementara bilangan "5", adalah nama Presiden Taur Matan Ruak yang sengaja saya letakkan di urutan ke "5".

Dengan demikian, maka kesimpulannya adalah bahwa, baik Kandidat Presiden yang akan memenangkan Pilpres 2007, Pilpres 2012 dan Pilpres 2017, semuanya telah ada dalam makalah berjudul; KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB.

Jika Anda masih memiliki makalah tersebut, coba silahkan baca-baca kembali, sekedar refreshing, sekaligus sebagai "pengusir rasa kantuk".

Hati-hati dengan halaman "17" di mana saya meletakkan angka cantik "666 & 888" di sana. Karena berhubungan erat dengan event politik nasional 2017. Namun lebih hati-hati lagi saat Anda baca Bab 4 yang berjudul; MISTERI JUM'AT AGUNG 10 APRIL 1998 DI TERMINAL JOYOBOYO SURABAYA.

Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam Dua Hati dari Bukit Sulaiman.

TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: