Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 15 Agustus 2016

PRESIDEN TAUR MATAN RUAK TINGGAL MEMILIH DI ANTARA: "TAPAK KAKI SULAIMAN ATAU BANGSA TERKUTUK" (bag: 8)



"Adakah INTERNIST di Timor Leste, yang benar-benar mengasihi ALLAH dengan segala kekuatan akal budinya dan dengan segenap jiwa raganya?".

Hari ini 15 Agustus 2016. Menurut Kalender Liturgis Gereja Katolik Roma, setiap tanggal 15 Agustus, dirayakan sebagai "Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga".

Maka melalui seri ke-8 artikel ini, saya share kembali kejadian aneh yang terjadi 13 tahun lalu, tepatnya, Hari Jum'at, 15 Agustus 2003, di Dili Timor Leste. yang berhubungan erat dengan "bilangan triple 888".
Karena artikel tersebut sebelumnya sudah pernah dimuat di laman ini maupun di blog saya, maka bagi mereka yang sudah pernah membacanya, bisa dilewati saja. Karena isinya masih tetap sama.
Tapi bagi yang belum sempat membaca kejadian aneh yang terjadi 15 Agustus, 13 tahun lalu, saran saya, sebaiknya meluangkan waktu Anda beberapa menit untuk membaca artikel tersebut, terutama untuk para sahabat yang berprofesi sebagai "dokter", khususnya para "INTERNIST" (Dokter Spesialis Penyakit Dalam).
GARA-GARA TITIPAN DOKTER ANTONIO GUSMÃO
Jujur saja, isi artikel seri ke-8 yang telah saya siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, bukan untuk menampilkan kembali kejadian aneh 13 tahun lalu di Dili.
Namun gara-gara "titipan aneh" dari dokter Antonio Gusmão yang baru saja saya ambil sekitar satu jam yang lalu, di Asrama 741 Kompi Senapan A Batalyon Infanteri 900 Raider/SBW, Kuta Tuban Bali, maka saya berkewajiban untuk harus menampilkan kembali kejadian aneh yang terjadi pada 15 Agustus 2003 (13 tahun lalu).
Segala sesuatunya yang berhbungan dengan "titipan aneh" dari dr. Antonio Gusmão, belum saya bahas saat ini. Lain kali saja. Yang menjadi prioritas untuk harus saya sampaikan dalam seri ke-8 ini adalah kejadian aneh 15 Agustus 2003.
Jujur saja, sejujur-jujurnya, saya termasuk penganut Katolik Roma yang "sangat takut" terhadap Bunda Suci Perawan Maria Yang Dikandung Tanpa Noda.
Semoga Anda pernah membaca "hierarki rasa takut" yang sudah beberapa kali saya share melalui sejumlah artikel saya.
Jangankan ALLAH (KRISTUS YESUS). Bunda Maria saja saya takut. Karena itulah saya harus share kembali kejadian 13 tahun lalu, sebagaimana kisah aneh itu dapat Anda baca berikut ini.

MIMPI ANEH 15 AGUSTUS 2003 DI DILI
Saya kembali ke Bali untuk memulai Puasa VVV pada tahun 2003 hingga detik ini. Tepatnya saya meninggalkan Dili pada Hari Sabat, 16 Agustus 2003.
Sehari sebelum meninggalkan Dili, yaitu Jumat, 15 Agustus 2003, saya masih sempat ke Kampus Undil (Universidade Dili), untuk mengambil gaji bulan Agustus dan sekaligus mengumumkan nilai UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Anatomi yang saya asuh saat itu.
Sekedar info; Saat masih mengajar di Undil, saya mengasuh dua mata kuliah, yakni; FISIKA KESEHATAN & ANATOMI.
Setelah mengumumkan "nilai Anatomi" dan mengambil gajiku bulan Agustus, saya balik ke rumah. Tiba di rumah saya langsung istirahat siang.
Pada saat tidur siang itulah, saya memperoleh mimpi yang sangat aneh. Tiba-tiba langit terbelah bagaikan tirai yang terbuka secara perlahan. Dan dari langit tampak Bunda Suci Perawan Maria muncul dengan segala kemuliaannya dan kemudian masih berada di langit, Bunda Maria memberikan "sejumalh pesan rahasia".
Salah satu pesan rahasia tersebut; "saya diminta untuk bebas mengajukan "dua pertanyaan" kepada Bunda Suci Perawan Maria.
Begitu diberi kesempatan untuk mengajukan "dua pertanyaan", maka saat itu juga, saya langsung mengajukan dua pertanyaan krusial. Entah dapat inspirasi dari mana, saat itu, masih dalam mimpi, saya langsung mengajukan "dua pertanyaan".
Jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut sangat-sangat aneh. Maka begitu sadar dari mimpi, saya langsung meminta dua keponakanku, untuk pergi membeli satu pack "kartu remi" di kios yang ada di dekat rumah.
Setelah kartu remi tersebut dibawa ke rumah, saya mengajak seorang pria paruh baya berinisial MM masuk ke kamar.
Saya mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam kamar saya membuka kartu remi yang masih baru tersebut dan meletakkan di atas sebuah "kursi plastik" berwarna "hijau".
Saya dan Pak MM duduk berhadapan dan kursi plastik tersebut berada di antara kami berdua.
Saya mengajak Pak MM untuk berdoa lebih dulu selama sekitar 15 menit. Doa yg sangat kusyuk sekali.
Setelah selesai berdoa, saya memisahkan dua kartu jocker dari 52 kartu yang lain. Kemudian saya mengocok ke-52 kartu remi tersebut sambil mengajukan "dua pertanyaan penting" tapi hanya dalam hati.
Sehabis mengocok 52 kartu tersebut, saya meletakkannya di atas meja. Lalu saya meminta Pak MM menutup matanya dan menggunakan "tangan kanannya" mengambil salah satu kartu dari tumpukan 52 kartu remi tersebut tanpa melihatnya lebih dulu.
Dalam keadaan mata tertutup, Pak MM secara perlahan menyodorkan "tangan kanannya" mencopot secara random (acak) satu kartu dari balik tumpukan 52 kartu remi di atas meja.
Lalu kartu yang diambil Pak MM diletakkan dalam keadaan tertutup. Sehingga kami berdua belum tahu jenis kartu apa yang diambil.
Saya meminta Pak MM untuk membuka matanya. Lalu kami berdua bersama-sama membuka kartu yang diambil Pak MM.
Begitu kartu itu dibuka, ternyata kartu itu adalah “DELAPAN HATI”. Dalam Bahasa Portugis disebut; “OITO COPAS”.
Setelah itu saya memasukkan kembali kartu “DELAPAN HATI” ke dalam tumpukan kartu dan kembali mengocok ke-52 kartu tersebut selama sekitar 2 menit.
Saya mengcok kartu sambil kembali mengajukan "dua pertanyaan" yang sama dalam hati. Setelah selesai mengocok, dengan cara yang sama, saya letakkan ke-52 kartu remi tersebut di atas meja.
Saya meminta Pak MM untuk kembali menutup matanya dan mengambil satu kartu dari tumpukan 52 kartu di atas meja secara acak tanpa melihatnya lebih dulu.
Sama persis dengan cara pertama. Pak MM menuruti permintaanku. Beliau kembali menutup matanya. Dan dengan perlahan menyodorkan "tangan kanannya", mencari-cari tumpukan ke-52 kartu.
Begitu tangannya menyentuh tumpukan kartu remi tersebut, jari-jarinya mengacak-acak seakan mencari-cari sesuatu di antara 52 kartu remi tersebut, lalu Beliau kembali mencopot satu kartu masih dengan kedua matanya dalam keadaan tertutup.
Setelah kartu tersebut diambil, saya meminta Pak MM meletakkan kartu tersebut dalam keadaan tertutup di atas meja, sebagaimana yang pertama tadi.
Setelah itu saya meminta Pak MM membuka matanya, lalu kami berdua kembali secara bersama-sama membuka kartu tersebut.
Ternyata apa yang terjadi? Kartu yang diambil Pak MM secara acak dalam keadaan kedua matanya tertututup, lagi-lagi kartu yang sama; “DELAPAN HATI”.
Perasaanku mulai sedikit aneh. Kenapa harus kembali mengambil DELAPAN HATI? Kenapa bukan kartu yag lain? Bukankah ada 52 kartu di situ?
Tiba pada titik ini, denyutan jantung saya mulai sedikit tidak teratur. Bukan hanya frekwensinya yang meningkat, tapi hentakannya mulai keras. Saya merasa seakan-akan Bunda Maria yang muncul dalam mimpi beberapa menit sebelumnya, sedang berdiri di situ dan sedang mengawasi saya dan Pak MM.
Saat itu Pak MM juga merasakan keanehan. Beliau mulai menatapku dengan pandangan aneh, tapi tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Beliau sekan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak mampu.
Saya kembali memasukkan kartu DELAPAN HATI ke dalam tumpukan 52 kartu remi tersebut.
Sambil menatap Pak MM, dengan jantung yang berdebar makin kencang, saya kembali mengocok ke-52 kartu remi selama sekitar 2 menit sambil kembali mengajukan "dua pertanyaan" yang sama dalam hati.
Setelah selesai mengocok, dengan cara yang sama, saya kembali meletakkan ke-52 kartu remi tersebut di atas meja. Lalu saya meminta Pak MM untuk mengambil salah satu kartu dengan cara yang sama, sebagaimana telah dilakukan 2X sebelumnya.
Namun pada kali yang ke-tiga ini, Pak MM tidak serta merta menuruti permintaan saya. Untuk sesaat Beliau, sambil menatapku dalam-dalam dan berkata;
“Kamu saja yang ambil. Saya tidak berani, karena saya merasa sepertinya ada orang lain yang sedang mengawasi kita di ruangan ini”.
Ini cukup aneh. Pak MM merasa seakan-akan di ruangan yang terkunci rapat, yang hanya ada kami berdua, Pak MM merasa ada orang lain yang hadir di situ dan sedang mengawasi kami berdua.
Ada semacam energi yang sangat kuat yang sedang mempengaruhi saya dan Pak MM. Saya mencoba meyakinkan Pak MM bahwa semua akan baik-baik saja, dan saya meminta Beliau untuk kembali mengambil satu kartu dengan cara yang sama sebagaimana telah dilakjukan 2X sebelumnya.
Akhirnya Pak MM menuruti permintaanku. Beliau menutup matanya dan secara perlahan menyodorkan "tangan kanannya" , menggapai tumpukan ke-52 kartu remi.
Saya melihat tangan Pak MM mengalami tremor (gemetaran). Sepertinya Beliau dikuasai perasaan “takut” terhadap sesuatu. Tapi tidak tahu pasti, takut terhadap apa?
Begitu tangan Pak MM menyentuh tumpukan kartu remi tersebut, saya melihat tangan Beliau makin gemetaran. Tapi kemudian berhasil mengambil satu kartu. Lalu dengan cara yang sama, Pak MM meletakkan kartu tersebut secara tertutup di atas meja dan kembali membuka matanya.
Kami berdua bertatapan beberapa saat sebelum memutuskan untuk membuka kartu tersebut secara bersama-sama. Kami berdua merasakan hal yang sama, yakni sama-sama tidak berani untuk membuka.
Setelah menarik nafas panjang, dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, kami berdua mencoba membuka kartu tersebut. Dan kembali terjadi keanehan. Kartu yang diambil Pak MM adalah, lagi-lagi: “DELAPAN HATI”.
Bagiku, ini peristiwa aneh. Pak MM dan saya bukan “pesulap” atau “Master of Magic”. Tetapi mengapa kartu DELAPAN HATI bisa diambil dengan mata dalam keadaan tertutup sebanyak 3X bertutut-turut?” Mungkinkah ini sekedar kebetulan?
 Tiba di sini, mungkin muncul berbagai pertanyaan di benak Anda; “Apa makna dari DELAPAN HATI yang terambil sebanyak 3X berturut-turut, dan kemudian membentuk bilangan triple "888"?
Belum saatnya dibahas di sini. Namun yang pasti, munculnya "DELAPAN HATI" sebanyak 3X berturut-turut sebanyak 3X sehingga membentuk bilangan triple "888", berkaitan erat dengan judul utama artikel ini.
Itu artinya, nasib (masa depan) Timor Leste, tergantung total kepada keputusan Yang Mulia Presiden Taur Matan Ruak. Apakah mau meletakkan Timor Leste di bawah "Tapak Kaki Sulaiman?" Atau mau membawa Timor Leste memasuki ruang "Bangsa Terkutuk?"
Dan berdasarkan "titipn aneh" dari seniorku dokter Antonio Gusmão yang baru saja saya ambil dari Asrama 741 Kompi Senapan A, Batalyon Infanteri Raider, saya ingin sekali mengakhiri artikel seri ke-8 ini dengan mengajukan kembali pertanyaan di awal artikel ini;
"Adakah INTERNIST di Timor Leste yang benar-benar mengasihi ALLAH dengan segala kekuatan akal-budinya, dengan segenap jiwa raganya? "
=============================================
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran (1 Yohanes; 2:4).
============================================
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: