Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 17 Agustus 2016

ADA PESAN ILAHI DI BALIK KEMATIAN PRESIDEN PARTAI DEMOKRAT; Suatu Kajian Dari Perspektif Ilmu Bilangan (bagian: 1)

PD memilih jadi "Putri Duyung" " atau "Putra Daud"?


SIS (Satu Introduksi Singkat)
Artikel ini saya tulis secara khusus untuk memberikan semacam "pandangan" yang sifatnya "pribadi" (tidak mewakili grup politik manapun), yang saya tujukan kepada rekan-rekan seperjuangan (sesama pejuang Kemerdekaan Timor Leste), yang kebetulan saat ini tergabung dalam tubuh "Partido Democratico" (PD) di Timor Leste.
Saya terdorong untuk menulis artikel ini karena sejumlah sahabat seperjuangan dalam tubuh PD (bela-belian) datang ke Bali ingin bertemu saya namun gagal, karena kondisiku tidak mengjinkan untuk bertemu saat ini.

Karena itulah saya menulis artikel ini. Dengan demikian, walau secara fisik tidak ada kontak fisik di antara kita, namun setidak-tidaknya, rekan-rekan di tubuh PD bisa mengetahui sisi lain dari pandangan-pandangan saya yang bisa saya sumbangkan untuk PD, karena terdorong oleh rasa "solidaritas dan kesetia-kawanan".
Itu artinya yang menjadi sasaran (segmen pasar) dari artikel ini adalah "rekan-rekan sesama pejuang Kemerdekaan Timor Leste", yang dulu tergabung dalam tubuh Renetil (terspesial: Membro Jurado Renetil), memperjuangkan Kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia dan saat ini tergabung dalam tubuh PD.
Meskipun "konten" (isi) artikel ini membahas isu-isu "politik", namun saya menuliskan artikel ini dalam kapasitasku sebagai seorang "mistikus". Bukan sebagai seorang "politikus", karena sejatinya, saya bukan seorang "politikus".
Dengan demikian, maka jika Anda (khususnya politikus) yang ikut membaca artikel ini (dan lanjutannya nanti) merasa bahwa ada pandangan atau opini saya, kurang berkenan (mengena) di hati Anda, harap dimaklumi. Karena hal itu muncul, causanya bukan karena; "Bunda karena kita salah mengandung", melainkan karena "takdir" kita berbeda. Anda terlahir sebagai "politikus" yang memiliki nama, sementara saya terlahir sebagai "mistikus" tanpa nama.
Bahasa "mistikus" dan bahasa "politikus" itu umunya berbeda bentuk, berbeda rasa, berbeda warna, dan berbeda dalam hal lainnya.
Bahasa mistikus" itu cenderung "statis" dan bercorak "hitam-putih". Sementara bahasa "politikus" itu lazimnya sangat "dinamis" dan senang sekali diletakkan di wilayah "abu-abu".
Kemudian dari "wilayah abu-abu" ini, mau dibawa ke "wilayah putih" atau "wilayah hitam", itu titik tolaknya bukan tergantung kepada "kebenaran", melainkan tergantung kepada "kepentingan".
Mistikus itu sangat mementingkan "azas solidaritas dan kesetia-kawanan. Sementara "politikus" tidak mementingkan azas itu.
Kalaupun azas itu (solidaritas dan kesetia-kawanan) dianut, maka hanya sekedar sebagai "retorika strategis & taktik politik". Tapi bukan dianut sebagai "prinsip politik" yang harus dijunjung tinggi.
Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah;
"Terdepaknya PD dari Koalisi". Saya sebenarnya ingin sekali menggunakan kalimat; "Didepaknya PD dari Koalisi".
Tapi karena saya belum tahu causa primanya, maka saya merasa lebih nyaman menggunakan kalimat; "Terdepaknya PD dari Koalisi".
Kali-kali aja kesalahan bukan melulu ada pada fihak yang mendepak, tapi ada pada fihak yang "terdepak".
Tapi, walau causa primanya saya belum tahu persis, karena saya tidak tinggal di Timor Leste, namun bisa diduga, bahwa perilaku saling tendang itu adalah lebih dikarenakan "kultur para politikus".
Kalau para politikus menganut ketat azas "solidaritas dan kesetia-kawanan", maka rasanya sulit (terlalu tega), untuk harus mendepak PD dari Koalisi. Apalagi jika keputusan tersebut diambil oleh tokoh selevel Xanana Gusmão sebagai Pimpinan tertinggi CNRT.
Karena, sejauh yang saya tahu, PD itu di masa lalu, pernah "tanam jasa" untuk Pak Xanana secara khusus dan CNRT secara umum. Bahasa yang paling tepat untuk menggambarkan terdepaknya PD dari Koalisi, adalah ibarat; "Habis manis sepah dibuang", dengan catatan; PD tidak memiliki "dosa".

SAYA MENOLAK BERTEMU KAWAN-KAWAN SEPERJUANGAN
Ada sejumlah Kader PD yang datang ke Bali bermaksud bertemu saya. Saya beberapa kali dihubungi untuk minta bertemu.
Namun karena saya lagi menjalani "Puasa VVV", maka saya selalu menolak untuk bertemu. Padahal mereka yang ingin bertemu saya adalah teman seperjuangan (sesama Membros Jurado Renetil).
Sampai detik ini, saya tidak tahu untuk apa sahabat-sahabat saya itu mau bertemu saya?
Tapi kalau tujuan bertemu saya adalah karena ingin meminta saya "bergabung ke PD", saya bersedia, tapi dengan sejumlah syarat yang niscaya sulit dikabulkan, yaitu antara lain;
Syarat Pertama;
Dalam daftar, wajib hukumnya, "nama" saya harus berada di urutan 5 teratas. Kalau "nama" saya berada di urutan 6 ke bawah, apalagi menempati nomor buncit, "ngapain" saya bergabung ke PD.
Kenapa saya meminta nama saya wajib hukumnya berada di "urutan 5 teratas" dalam daftar? Karena saya akan bergabung ke PD dalam kapasitas saya sebagai "Ular Kuning" dari Bukit Sio(n).
Mengapa saya ingin bergabung ke PD sebagai "Ular Kuning dari "Bukit Sio(n). Alasannya sederhana sekali. Karena PD lahir pada tahun Ular, yaitu tahun 2001. Dan LUCKY BLUE dari PD itu ada pada seekor ular kuning yang saya jumpai di Bukit Sio(n).
Secara kodrati, atau secara hukum alam, PD sangat membutuhkan "LUCKY BLUE" ("kekuatan energi dari alam" Timor Leste) untuk, bukan hanya sekedar bisa menolong PD agar tetap "survive" di Timor Leste, minimal jangan sampai "gulung tikar" pada Pemilu 2017, tapi PD akan sangat berjaya di Pemilu berikutnya (2022).
Tapi dengan catatan; Kalau saya bergabung. Kalau saya tidak bergabung, apa yang bakalan terjadi?
Anda boleh percaya, boleh tidak, karena PD lahir pada tahun ular, maka jika PD lengah sedikit saja, PD akan "gulung tikar" (tidak mendapatkan satu kursi pun di Parlamen Nasional) pada Pemilu 2017.
Masalah terbesarnya adalah; "PD lahir pada tahun ULAR (2001)".
Karena saya meminta "namaku" wajib berada di urutan 5 teratas, maka itu artinya, saya menjamin, jika saya bergabung, minimal (paling sedikit), akan ada 5 Kursi PD di Parlamen Nasional dalam Pemilu Legislatif 2017.
Itu artinya, karena nama saya berada di urutan 5 teratas, maka niscaya, saya akan harus mewakili PD untuk ikut "duduk" di Kursi Parlamen Nasional dalam rentang waktu 5 tahun mendatang.
Ingat baik-baik; Companheiro Fernando La Sama sebagai "maskot" atau "ikon" PD telah pergi. Kira-kira apa yang akan menjadi andalan PD untuk dijual kepada rakyat di Pemilu 2017?
PD mau jual "program?" Silahkan saja. Tapi camkan baik-baik. Variabel yang menjadi "daya tarik" dalam Pemilu saat ini di Timor Leste, bukan "program" yang berupa "janji-janji" muluk.
PD boleh saja mengandalkan "janji-janji" melalui berbagai "program" yang ditawarkan? Namun menurutku, saat ini, selera rakyat Timor Leste terhadap janji-janji muluk para politikus, telah melewati ambang batas "saturation point" (titik jenuh).
Belum lagi, banyak Parpol besar di Timor Leste saat ini, yang menurutku memiliki program yang jauh lebih "permeable" terhadap isu-isu nasional. OKI (Oleh karena itu) PD kudu hati-hati.
Yang dibutuhkan PD saat ini untuk "menggerakkan nurani rakyat" agar mau memilih PD dalam dalam Pemilu 2017 "bukanlah program", melainkan LUCKY BLUE (keberuntungan) yang dimiliki "seekor Ular Kuning" yang saya jumpai di Bukit Sio(n) yang terletak di Kaki Gunung Ramelau (Gunung tertinggi di Timor Leste yang di atasnya berdiri megah simbol Wanita Suci Berdarah IBRANI).
Kalau "Ular Kuning" yang saya jumpai di Bukit Sio(n) itu adalah "ular palsu", bagaimana mungkin SUMPAH ULAR KUNING yang saya ikrarkan 16 Mei 1998 di Kampus Palma, bisa bertuah dalam waktu 5 hari untuk "melengserkan "Pak Harto?".
Saya sengaja menyinggung isu: SUMPAH ULAR KUNING DARI BUKIT SIO(N) karena saya tahu persis, banyak Kader PD yang menjadi "saksi" saat saya mengikrarkan SUMPAH ULAR KUNING di hadapan ribuan audience (Kalangan Akademisi) yang memadati Kampus Palma Universitas Udayana (Unud) Denpasar Bali.
Siapa tahu dengan bergabungnya saya ke tubuh PD. bisa membawa angin segar yang merubah banyak hal di Timor Leste.
Syarat Kedua;
PD kudu melakukan "revitalisasi", pasca kepergian Presiden PD. Revitalisasi ini harus dimulai dengan "melakukan restrukturisasi".
Di dalam restrukturisasi, akan terjadi hal-hal seperti; regenerasi, kaderisasi, mutasi, promosi, decadensi, dan seterunsya.
Dan sebagai konsekuensi dari semuanya, niscaya akan ada beberapa kader PD yang akan mengalami "degradasi kedudukan di level struktural" (semoga bukan degradasi iman dan moral).
Terlepas dari saya bergabung atau tidak, saran saya (anggaplah saran ini sebagai "balas jasa" atas kebaikan PD yang di Pemilu 2012, mengirimkan ticket pesawat sebanyak 2X, namun hangus karena saya menolak menggunakan ticket tersebut), jika rekan-rekan mau menyelamatkan "Kursi PD di Parlamen Nasional 2017", ambillah resiko dengan "mendobrak status quo" dalam tubuh PD.
Apanya yang harus didobrak? Begini; Umumnya setiap organisasi itu, termasuk Parpol, niscaya memiliki "kultur". Nah kultur ini, kadang membawa untung, namun sering juga membawa "buntung".
Nah, kultur yang membawa "buntung" sebaiknya dieradikasi saja.
Pertimbangannya sederhana sekali. Mana yang jauh lebih penting; Mempertahankan "kultur" yang selama ini telah menjadi "locus minorus" dan ujung-ujungnya nanti akan membawa PD menuju jurang kehancuran? Atau melakukan eradikasi terhadap kultur yang membawa buntung, demi kejayaan PD?
Saya melihat dalam tubuh PD ada kultur yang membawa buntung (kesialan yang terus-menerus). Kultur sejenis ini, ada baiknya dieradikasi secara total.
Syarat Ketiga;
Ada syarat ketiga yang sengaja saya pasang menjadi satu paket dengan dua syarat sebelumnya, yaitu; "Ganti Logo PD".
Saya melihat ada hal yang sangat "janggal" dengan "Logo PD". Anda boleh percaya atau tidak, Logo PD sangat bertentangan dengan "kekuatan energi cosmis" yang dikandung "Alam Timor Leste".
Maka dengan tetap menghargai orang-orang yang telah mendesign Logo PD, saya ingin sekali mengatakan bahwa, jika Logo PD tidak diganti, saran saya, sebaiknya, siapun yang kelak terpilih menjadi "Presiden PD" menggantikan posisi Almarhum Fernando La Sama de Araujo, kudu hati-hati.
Karena "kekuatan negatif" yang mengalir dari Logo PD, tampaknya akan kembali "meminta tumbal". Bisa-bisa Presiden PD berikutnya akan "pergi" secara tiba-tiba. Karena, sekali lagi, Logo PD itu, menurutku sedikit aneh (janggal).
Coba Anda perhatikan baik-baik Logo PD. Saya melihat Logo PD memunculkan dua bentuk, yaitu;
Pertama;
Logo PD dilihat secara sekilas, mirip sekali dengan: bla...bla...bla... Saya telah sampaikan kepada temanku Yahudi SB Yahudi. Jadi silahkan tanyakan sendiri kepada Beliau.
Kedua;
Logo PD di bagian episentrum (yang berwarna coklat), sekilas, mirip sekali "peti mati" yang ditumpuk.

SEKEDAR KILAS BALIK SINGKAT
Pada awal-awal PD akan berdiri, nama saya sempat muncul sebagai salah satu pendiri. Karena awal mula diskusi mengenai berdirinya PD dimulai di rumah Prof. Lucas di Kampung Baru.
Namun entah kenapa namaku "hilang" dari daftar.
Setelah PD resmi berdiri (dideklarasikan pada 10 Juni 2001/saya ikut menghadiri acara Deklarasi), ketika itu saya sempat didatangi Presiden PD (Companheiro Fernando La Sama de Araujo) di Klinik St. Antonio Motael, untuk meminta saya menjadi salah satu dari "5 orang" Jurkamnas (Juru Kampanye Nasional) PD.
Lima orang tersebut, 4 di antaranya adalah;
(1). Comp. Fernando La Sama (Mantan Wakil Perdana Menteri)
(2). Comp. Gastão Sousa (Menteri Pekerjaan Umum saat ini)
(3). Comp. Mariano Sabino Assanami (mantan Menteri Pertanian)
(4). ...........(????)
(5). Saya sendiri (Antoninho Benjamim Monteiro).
Tapi saat itu saya menolak bergabung sebagai "Jurkamnas" karena saya sibuk sekali mengurus "pasien" di Klinik St. Antonio Motael Dili.
Sampai di titik ini, saya belum membahas judul artikel in. Nanti saja dibahas di seri berikutnya. Soalnya saya menulis artikel ini di warnet. Modalku sudah tidak cukup untuk melanjutkannya.

"Ada tiga sumber dasar-dasar moral dan politis yang mengarahkan manusia, yaitu; wahyu, hukum alam dan kesepakatan-kesepakatan sosial. Itulah sebabnya muncul tiga perbedaan dalam keutamaan dan kejahatan, yakni yang bersifat keagamaan, alam dan politis"
(Cesare Bonesana; Ekonom Italia, Ahli Ilmu Kemasyarakatan; 1735-1794).
Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
BERSAMBUNG;
Catatan Kaki;
Saya ingin sekali jujur mengatakan bahwa; 3 syarat yang saya tawarkan di seri pertama artikel ini, sejatinya sebagai cara saya untuk menolak bergabung dengan PD, jika memang saya diminta.
Karena tidak mungkin 3 syarat ini dikabulkan. Kalau sampai PD mengabulkan 3 syarat ini, maka bisa-bisa ayam giginya tumbuh dan kuda tanduknya muncul.

Namun setidak-tidaknya, artikel ini bisa memainkan peran sebagai "brain stroming" untuk membuka cakrawala baru, paradigma baru dan atau mengahdirkan satu "perspektif" berbeda, bagi rekan-rekan seperjuangan yang tergabung dalam tubuh PD guna mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan besar yang akan terjadi, dikarenakan akan adanya banyak drama, termasuk "berpulangnya tokoh-tokoh senior ". Dan serangkaian drama itu akan memunculkan "turbulensi politik" yang "sedikit mengguncang" di mana guncangan itu akan membentuk "konstelasi politik dengan (pola)risasi yang baru", dengan corak yang jauh berbeda dengan kondisi saat ini.

Tidak ada komentar: