Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 24 Agustus 2016

KETIKA PARPOL BERUBAH JADI SARANG PARA PENYAMUN


Ada sahabat yang (mungkin sekedar iseng) bertanya;
"Brother ABM..! Bagaimana caranya agar "Putri Duyung" berubah menjadi "Putra Daud?
Caranya sederhana sekali, yaitu; "Bersekutulah dengan ALLAH. Jangan bersekutu dengan "Maun Bot". Karena hanya ALLAH yang memiliki kuasa merubah " Putri Duyung" menjadi "Putra Daud".

Karena ada "abaga" (angin Bali yang gaib) menghembuskan cerita aneh di telingaku, maka melalui catatan singkat ini, saya ingin mengingatkan para Kader PD (Partido Democrático), bahwa tiga kriteria yang saya sampaikan melalui artikel berbahasa Tetun, edisi 20 Agustus 2016, yang menjadi acuan (referensinya) adalah "mimpi aneh" yang terjadi pada 19 Agustus 2016, sekitar pukul 7 pagi Waktu Bali, sebagaimana sudah saya singgung dalam artikel tersebut.
Jujur saja, sebelum "mimpi aneh" 19 Agustus 2016, tidak terlintas di benak saya sedikitpun (untuk memikirkan) apa yang harus menjadi kriteria utama bagi "suksesor" Maun Bot La Sama"(LS).
Sekali lagi saya ingatkan bahwa, tiga kriteria tersebut, referensinya adalah "mimpi aneh" 19 Agustus 206.
Kalau tidak karena "mimpi aneh" tersebut "ngapain" ikut-ikutan mikirin "kriteria" Calon Presiden Partai Demokrat?
Saya menulis artikel juga, uang-uangku sendiri. Bukan uangnya Partai Demokrat. Jadi saya menulis artikelku, bukan karena saya dibayar Partai Demokrat.
Jujur saja, saya, pada prinsipnya, tidak terlalu "pusing" dengan isu; siapa yang harus menjadi "Presiden Partai Demokrat". Masalahnya saya berada "di luar sistim". Bukan di dalam sistim.
Boro-boro mikirin "Presiden Partai Demokrat". Mikirin isi perutku aja udah pusing tujuh keliling (tiga hari makan satu kali, bukan satu hari makan tiga kali).
Selama ini saya mencoba berpikir dan bersikap prgamatis aja. Siapa yang mau jadi Presiden Partai Demokrat atau jadi Presiden Timor Leste sekali pun, bukan urusanku. Karena tidak akan merubah nasibku.
Nasibku dari dulu semenjak Timor Leste pisah dengan Indonesia, hingga detik ini, tetap menjadi kaum marjinal.
Namun gara-gara "mimpi aneh" tersebut, maka secara iman maupun secara moral, saya merasa berkewajiban menyampaikan (meneruskan) pesan dari "dunia lain".
Diterima ya syukur. Ditolak juga saya tetap syukuri.
Jujur saja, sejujur-jujurnya, dulu saya mengira, kalau Timor-Timur lepas dari Indonesia dan berubah nama menjadi Timor Leste, mungkin kualitas hidupku akan ikut berubah menjadi lebih baik.
Eee gak tahunya malah kebalik. Dulu masih bisa memiliki rumah walau dari "bebak". Kini, jangankan rumah dari bebak, dari alang-alang sekali pun kagak ada.
Sering saya bertanya pada diriku sendiri; "Sebenarnya apa esensi dan manfaat Kemerdekaan Timor Leste bagi saya pribadi?"

NANTI SAYA BANTU SUMBANG KARDUS MIE INSTAN
Suatu hari saya sempat chatting dengan seorang sahabt saya (Jotha So) yang dulu lama tinggal di Surabaya.
Berikut ini sebagian isi chatting kami;
"Broo..Jaman Klandestin sudah berakhir. Timor Leste sudah merdeka. Kenapa kok masih betah tinggal di Indonesia? Kenapa tidak balik-balik ke Timor Leste? Masih suka Klandestin ya?"
Saya jawab secara jujur;
"Broo..saya sejatinya mau pulang ke Timor Leste, tapi mau tinggal di mana? Rumah aja kagak punya".
Tanpa saya duga-duga, sahabat itu balas begini;
"Jangan khawatir bro..Di Dili banyak kok kardus Mie Instan yang bisa dibuat jadi gubug di pinggir jalan. Nanti saya sumbang kardus".

Saya jawab sekenanya saja;
==============================================
Kalau harus mendirikan rumah dari kardus dan tinggal di pinggir jalan, jujur saja bor, saya kagak tahan tinggal di Dili.

Masalahnya di Dili itu serba panas. Iklimnya panas. Apalagi para "Maun Bot". Lebih panas lagi. Dikit-dikit OBOR. Dikit-Dikit OBOR (O bok O rahun).

Belum lagi di Dili banyak nyamuk Anopheles, dan Aedes Aegipty. Kalau tinggal di rumah gedongan, khan enak. Bisa terlindung. Bayangkan saja, tinggal di rumah yang tebruat dari kardus mie instan di pinggir jalan.

Dijamin kurang dari seminggu, kalau kagak tewas karena malaria cerebral, pasti tewas karena demam berdarah.

Kalau kagak tewas karena malaria cerebral dan demam berdarah, pasti tewas karena OBOR. Masalahnya kardus itu gampang terbakar kalau ada OBOR di dekatnya.

Kalau di Bali khan enak. Walau jadi "gepeng" (gelandangan dan pengemis) dan tidur di pinggir jalan, namun iklimnya kagak terlalu panas. Apalagi orang-orangnya lebih lembut dan baik hati.


Nyamuk Anopheles kagak ada. Aeges Aegypti ada, tapi masih memiliki rasa kemanusiaan, walau sedikit.

KETIKA PARTAI BERUBAH MENJADI SARANG PENYAMUN
Walau saya tidak terlalu memikirkan siapa yang kudu jadi Sukseor Maun Bot LS, tapi karena saya masih memiliki "hubungan pertalian darah" dengan Almarhum (Leluhur kami berasal dari sumber yang sama, yaitu; 222), maka saya ikut berharap, semoga siapun yang terpilih sebagai Presiden Partai Demokrat nantinya, mampu merubah wajah PD menjadi lebih baik lagi di masa datang dan semoga tidak malah menjadikan PD sebagai "sarang para penyamun" (untuk memperkaya diri sendiri, kelompok dan golongan).
Karena kalau saya lihat kondisi kehidupan masyarakat Timor Leste saat ini, saya tiba pada satu kesimpulan bahwa;
"Banyak Parpol di Timor Leste", khususnya Parpol yang memiliki Wakil, baik di Lembaga Legislatif maupun di Lembaga Executif, telah menjadikan Partai mereka lebih cocok menjadi "sarang para penyamun", ketimbang berjuang untuk kepentingan kaum marjinal".
Kalau memang Timor Leste itu miskin, seharusnya kagak boleh ada orang kaya. Tapi kok yang saya amati, ada "kaum borjuis", yang hidupnya mewah sekali. Sementara ada banyak orang di luara(an) sana yang hidupnya setengah mati. Ini artinya apa?
Kalau miskin khan seharusnya kita semua sama-sama miskin lah. Kalau ada yang kaya, ya kaya dikit boleh lah. Tapi jangan kaya secara berlebihan. Karena jika kaya secara berlebihan, ada kemungkinan besar, cara memperoleh kekayaan tersebut, bukan dengan cara-cara halal.
Timor Leste miskin begitu kok ada kaya berlebihan? Khan aneh?
Jika Partai (terutama di saat pemilu), menggembar-gemborkan "solidaritas dan kesetia-kawanan serta keadilan sosial, khan seharusnya, kita semua, kalaupun berdiri tidak sama tinggi, duduk tidak sama rendah, minimal ya saat tidur sama rata lah.
Tapi yang saya lihat, kok saat tidur (terlentang), tidak sama rata karena ada yang perutnya menggelembung membumbung tinggi.
Perut yang menggelembung itu (selain karena wanita hamil), apa karena udah "bawaan orok" (anomali congenital) atau karena setelah menajdi "Kader Partai?" Ini kudu dilakukan penelitian untuk menemukan jawaban yang pasti.

"Di sepanjang sejarah, hampir tidak pernah bisa ditemukan pemerintahan yang benar-benar merakyat. Yang sering dijumpai adalah pemerintahan yang mengabaikan kaum miskin, kelompok minoritas, dan mereka yang tergencet dan saling menyikut untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan" (Hugo Grotius; 1583-1645).
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam dan putih). Amin.

Catatan Kaki;

Dengan munculnya "cerita aneh" yang dibawa "abaga" mengenai reaksi sejumlah Kader PD terhadap artikel saya sebelumnya, maka untuk sementara seri ke-3 artikel berjudul; PARTIDO DEMOCRATICO MAU TETAP MEMPERTAHANKAN STATUS SEBAGAI "PUTERI DUYUNG" ATAU MAU BERUBAH MENJADI "PUTERA DAUD", ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Terima-kasih. Salam kasih dan doa dalam Nama TUHAN YESUS Yang Mahasuci untuk semuanya.

Tidak ada komentar: