Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 25 Juli 2016

PRESIDEN TAUR MATAN RUAK TINGGAL MEMILIH DI ANTARA: "TAPAK KAKI SULAIMAN ATAU BANGSA TERKUTUK" (bag: 7)

Kotbah di Bukit: Ucapan bahagia

5:1.Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 
5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
 
5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 
5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita , karena mereka akan dihibur. 
5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut , karena mereka akan memiliki bumi. 
5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 
5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 
5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 
5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 
5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 
5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Injil St. Matius; 5:1-12)
---------------------------------------------------------------------------------
DIKELUARKAN DARI RUMAH SAKIT 12 JANUARI 2005
Hari ini tanggal 25 Juli 2016. Saya memenuhi janji saya sebagaimana telah saya sampaikan melalui artikel kemarin (24 Juli 2016), untuk memperlihatkan surat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Timor Leste 9 tahun lalu, 25 Juli 2007, sebagaimana bisa Anda baca (lihat) pada foto terlampir.
Hari Rabu, tanggal 12 Januari 2005, setelah mengikuti acara "morning report" (laporan pagi), saya langsung menuju Polly Klinik Mata. Di sana saya bersama sejumlah dokter muda lainnya yang hari itu stasi di Polly Mata mulai memeriksa pasien.
Ketika sedang memeriksa seorang ibu yang menderita "katarak", tiba-tiba saya dipanggil dari ruangan perawat;
"Riooo...ada telfon".
Saya bergegas menuju ruang perawat untuk menerima telfon. Ternyata telfon dari "Pak Yehuda". Saya diminta segera menghadap, karena ada yang harus dibicarakan.
Saya kemudian menyerahkan pasien katarak tersebut kepada seorang dokter muda bernama "Erwin", lalu meninggalkan Polly Mata, bergegas menuju Bagian Ilmu Kedokteran Bedah.
Dalam perjalanan saya bertanya-tanya; "Ada masalah apa ya?" Begitu tiba di sana, ternyata; saya diminta untuk harus meninggalkan Rumah Sakit.
Dengan sambil menunduk, tanpa melihat wajah saya, Pak Yehuda berkata;
"Antonio (padahal namaku Antoninho)....!!! Saya sebenarnya tidak tega mengatakan hal ini. Tapi dengan sangat berat hati saya harus mengatakannya, karena ini adalah keputusan dari atas".
Beliau diam sebentar sambil membuka bolak-balik sebuah buku catatan di hadapannya. Tampaknya Pak Yehuda benar-benar merasa tidak nyaman untuk mengatakannya.
Namun akhirnya, setelah menarik nafas agak panjang, beliau kembali bersuara;
"Rio, kemarin, 11 Jnauari 2005, ada pertemuan antara Dekan Kedokteran dengan Rektor di Kampus Bukit. Dan dalam pertemuan tersebut, Dekan dan Rektor telah mencapai kesepakatan dan memutuskan untuk harus mengeluarkan Rio dari Rumah Sakit".
Beliau diam sebentar dan kemudian meneruskan;
"Rio dilarang meneruskan kegiatan praktek sebagai dokter muda, karena Pemerintah Timor Leste tidak lagi membayar SPP Rio yang sudah tertunggak sebesar $3.500 USD (tiga ribu lima ratus dollar Amerika). Kami sudah berkali-kali melakukan kontak dengan Kementerian Kesehatan Timor Leste, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan sama sekali dari sana".
Singkat cerita; saya kemudian mengucapkan terima-kasih kepada Pak Yehuda, keluar dari ruangan beliau, kemudian menanggalkan jas lab saya, dengan tubuh yang lemas, berjalan gontai meninggalkan RSUP dengan penuh "rama" (rasa malu).
Bagaimana tidak malu. Bayangkan saja. Sedang semangat-semangatnya menjalani praktek, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada badai, tiba-tiba dipanggil dan disuruh harus meninggalkan Rumah Sakit di bawah tatapan mata banyak orang, hanya karena saya berstatus sebagai "orang miskin".
Saya sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti bagaimana persisnya PERJANJIAN (bunyi klausul dari MoU/Memorandum of Understanding) antara Pemerintah Timor Leste (Kementerian Kesehatan) dengan fihak Unud (Universitas Udayana)? Karena masalah SPP bukan tanggung-jawab saya.
Tanggal 30 Juli 2003, ketika saya berada di Kantor Kementerian Kesehatan Timor Leste, di Dili, briefing yang saya terima dari Dona Emilia dan Senhor Alvaro (keduanya Staf Keuangan) adalah;
"Segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah keuangan, jangan anda pikirkan. Karena hal itu menjadi tanggung-jawab Pemerintah. Tugas anda adalah belajar yang baik. Jadi manfaatkan waktu yang ada, untuk menyelesaikan studi anda tepat waktu".

SELANG 924 HARI KELUARLAH SURAT SAKTI "SANG SI"
Akhir September 2007, saya menerima telfon dari Mbak Kiki (Sekretaris Konsulat Timor Leste) di Bali. Saya diminta menghadap Pimpinan Konsulat (Bapak Manuel Serano, yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia).
Akhirnya, tanggal 2 Oktober 2007, saya menemui Senhor Manuel Serano di Konsulat Timor Leste, Jl. Muhammad Yamin Renon Denpasar.
Di sana Beliau melayani saya dengan sangat baik. Kemudian saya diberi "surat sakti", yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Timor Leste, sebagaimana dapat Anda baca (lihat) pada foto terlampir.
Saya sudah tidak lagi mempermasalahkan apa yang terjadi 11 tahun lalu, ketika saya dieksekusi (dikeluarkan) dari Rumah Sakit (12 Januari 2005), saat sedang semangat-semangatnya menjalani stasi sebagai seorang dokter muda.
Saya juga sudah tidak lagi mempermasalahkan ancaman "hukuman" (SANG SI, yang benar adalah; SANKSI) yang akan diterapkan Pemerintah Timor Leste kepada saya, 9 tahun lalu, sebagaimana dapat Anda baca pada alinea terakhir (alinea ke-4), surat sakti tertanggal; 25 Juli 2007.
Toh, sudah sekian tahun berlalu. Sudah lumutan dan bulukan sekali masalahnya. Tidak ada lagi yang menarik untuk dibahas. Juga tidak ada gunanya lagi membicarakan isu Kedokteran atau isu gelar dokter. Semuanya telah berlalu dan telah terkubur dalam-dalam.
Namun ada satu isu sentral yang hendak saya perlihatkan melalui surat sakti, edisi 25 Juli 2007, karena ada misteri di balik bilangan yang ada di sana, yang berkaitan erat dengan AIR LAUT yang akan "benar-benar mengunjungi Kota Dili" pada tahun 2017', yaitu; PESAN ILAHI yang terkandung di balik nomor surat sakti; "263".
Jika kita menghitung dari hari di mana saya dikeluarkan dari Rumah Sakit Sanglah Denpasar (12 Januari 2005) sampai tanggal 25 Juli 2007 (tanggal di mana surat sakti tersebut disahkan Kementerian Kesehatan Timor Leste), jarak waktunya, atau rentang waktunya, atau durasi waktunya adalah genap: "924" hari.
Jika tiga digit angka "924", dibaca terbalik maka akan berubah posisi menjadi "429". Nah, coba Anda konversikan frasa; TAKHTA DAUD ke dalam "Bilangan Pythagoras" (Bilangan Pythagoras sudah saya sediakan dalam foto Kampus Unpaz terlampir).
Ternyata hasil konversi TAKHTA DAUD ke dalam Bilangan Pythagoras, hasilnya = 429. Ini sedikit unik, kalau bukan ajaib.
Dan sebagaimana sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa ternyata makna di balik nomor surat sakti "263" (berdasarkan "Pesan Santo Yosef"), adalah merupakan nilai numerik Latin dari frasa; TUR IHA DAVID NIA KADUNAN LETEN.
429 = TAKHTA DAUD (Bahasa Tetun = "David Nia Kadunan").
263 = TUR IHA DAVID NIA KADUNAN LETEN
Apa artinya? Konklusi (kesimpulan) yang bisa sampaikan dengan munculnya dua bilangan gabungan unik (429 & 263) adalah;
Bahwa KURSI KERAMAT yang saat ini sedang diduduki Yang Mulia Presiden Taur Matan Ruak (TMR) adalah; TAKHTA DAUD, yang diciptakan ALLAH khusu untuk memenuhi "Janji-Nya" kepada "Raja Daud" dan "Takhta Daud" itu disediakan ALLAH hanya untuk diduduki "TURUNAN DAUD" (secara bilogis).
Dan jika Presiden TMR berniat untuk tetap menduduki TAKHTA DAUD sampai memasuki tanggal 1 Januari 2017, maka Yang Mulia Presiden TMR harus benar-benar yakin bahwa Presiden TMR adalah sungguh-sungguh; TURUNAN DAUD (secara biologis).
Untuk bisa memastikan bahwa Presiden TMR adalah benar-benar TURUNAN DAUD (secara biologis), maka di "telapak tangan kanan" Presiden TMR harus ada "Bilangan 7" (simbol Sabat).
Dan "Bilangan 7" tersebut posisinya diletakkan di atas kepala seekor buaya, tepat bersentuhan dengan "mata buaya". Dan bilangan 7 tersebut terlihat tepat berada di bawah sebuah "tapak kaki manusia".
Namun jika tanda-tanda di atas tidak ada, maka saran saya, sebaiknya Yang Mulia Presiden TMR mempertimbangkan untuk "lengser" (mengundurkan diri), turun dari TAKHTA DAUD, sebelum 1 Januari 2017, yang mana keputusan lengser sebelum 1 Januari 2017, gunanya adalah; bukan hanya untuk menghindarkan Timor Leste dari status BANGSA TERKUTUK, tapi juga demi dan untuk kepentingan Yang Mulia Presiden TMR.
Hidup ini adalah pilihan. Nasib Timor Leste untuk terbebas dari status BANGSA TERKUTUK atau tidak, kini sepenuhnya ada di tangan Yang Mulia Presiden TMR. Persiden TMR boleh menggunakan kodrat kehendak bebasnya untuk memilih.
Saya hanya berkewajiban menyampaikan apa yang seharusnya saya sampaikan. Selanjutnya terserah kepada Yang Mulia Presiden TMR yang saat ini sedang menduduki TAKHTA DAUD.
Semoga catatan ini bermanfaat. 
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: