Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 16 Juli 2016

PRESIDEN TAUR MATAN RUAK TINGGAL MEMILIH DI ANTARA: "TAPAK KAKI SULAIMAN ATAU BANGSA TERKUTUK" (bag: 4)



"Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu; supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir jaman" (Yohanes; 6:40).
Pada seri ke-4 ini saya ingin kembali berkisah mengenai; "misteri di balik bilangan 4". Bilangan yang sengaja tidak dimunculkan saat saya mengumumkan daftar nominasi juara Euro Cup 2016, yang terdiri dari 4 negara kerajaan, pada tahun lalu, tepatnya 9 Mei 2015.

Dalam seri ini saya sengaja memunculkan kembali satu artikel lama, yang telah diterbitkan di laman FB saya, pada tahun lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2015, sebagai satu flash back, untuk mengingatkan kembali bahwa, saya "memainkan bilangan 4" itu karena memang ada maknanya.
Bukan karena setelah semua negara kerajaan berguguran di Euro Cup, lalu saya tiba-tiba kaget, kemudian buru-buru merubah angka 4 menjadi angka 5 untuk mencari "pembenaran".
Bagi mereka yang sudah membaca artikel berjudul; KENANGAN TERINDAH BERSAMA MAYOR MATAHARI DARI THAILAND, sebaiknya tidak perlu membacanya kembali, karena isinya tetap sama. Namun bagi mereka yang belum sempat membacanya, mungkin ada baiknya membaca.
Dalam artikel tersebut di bawah, yang dapat Anda baca pada lampiran, saya berkisah mengenai "Manusia Sabat", yang tinggal di Jl. Hayam Wuruk Denpasar Utara, yang saya temui bersama Mayor Matahari pada bulan Agustus 1999, 17 tahun yang lalu, setelah saya "taruhan" dengan Mr. Mike Montegano untuk "memotong jari kelingking" saya, jika hasil Referendum tidak diumumkan pada Hari SABAT Suci, 4 September 1999.
Manusia Sabat itu memiliki tanda-tanda lahir yang sangat ajaib, yang tentunya merupakan "rancangan ALLAH". Bukan rancangan manusia. Termasuk adanya angka 4 di bawah telapak kaki kirinya.
Dalam artikel di bawah, Anda juga bisa membaca kisah antara saya dengan sorang Suster dari Kongregasi RVM (Religious of the Virgin Mary).

Suatu hari Suster YN meminjam novel THE DA VINCI CODE dari saya. Dalam novel THE DA VINCI CODE, ada disinggung mengenai ""pedang".

Saat bertemu Suster YN di Gereja Santo Yosef Kepundung Denpasar, saya menanyakan; "Suster tinggal di mana? Dijawab; "Tinggal di Jl. Hayam Wuruk".

Bagaimana isi novel THE DA VINCI CODE? Menarik khan? Dijawab; "Ya, lumayan menarik".
Kalau begitu tolong Suster menghitung; berapa jumlah kata "pedang" yang tertulis dalam 4 Injil pertama?"
Suster YN kembali bertanya; "Untuk apa menghitung kata pedang?"
"Soalnya, sebentar lagi Bapa Suci Paus Benediktus XVI akan mengucapkan kata "pedang" dari mulutnya".
Suster yang baik hati itu menatapi wajah saya dalam-dalam. Beliau mengira saya "orang gila". Namun ternyata apa yang terjadi?
Silahkan baca saja artikelnya. Semoga Anda suka.
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria Merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.
Lampiran;

KENANGAN TERINDAH BERSAMA MAYOR MATAHARI DARI THAILAND
Anda hanya bisa memahami artikel ini jika sudah membaca artikelku tertanggal 2 Agustus 2014 berjudul; MENGIRIM PATUNG DEWA SIWA KE KANADA. Artikel tersebut masih ada di timeline FB saya.

Foto di samping adalah foto lama yang dibuat 17 tahun lalu, tepatnya dibuat pada tanggal 17 Juli 1999. Dari kiri ke kanan; 
(1). Antoninho Benjamim Monteiro. 
(2). Acacio Branco De Oliveira
(3). Ari Sanjaya
(4). Mr. John asal Kanada
(5). Mrs. Nicole, asal Kanada
(6). Mr. Mike Montegano, asal Kanada
(7). Mrs. Marilyn Maison, asal Kanada
(8). Mayor Matahari alias Mayor Tinakorn, Anggota Angkatan Laut asal Thailand

MENGAJAK MAYOR TINAKORN MENEMUI MANUSIA SABAT 
Setelah berselisih dengan Mr. Mike Montegano mengenai tanggal pengumuman hasil Referendum (Mr. Mike ngotot bahwa tanggal pengumuman hasil Referendum adalah Hari Selasa, 7 September 1999, sesuai kesepakatan Tri Partied, sementara saya keukeuh dengan Hari SABAT Suci, 4 September 1999), pada sore harinya, saya mengajak Mayor Tinakorn, asal Thailand, yang saat itu menjalani fungsinya sebagai MLO (Military Liaison Officer = Penghubung Militer) pergi ke Pasar Kumbasari yang terletak di JL. Gajah Mada Denpasar untuk membeli Patung Dewa Siwa.
Tapi sebelum ke sana, kami berdua mampir dulu ke Panjer untuk mengambil Laundry-nya Mayor Tinakorn sekaligus Laundry-nya Letkol Arifin, salah satu Anggota MLO asal Malaysia.
Letkol Arifin masih bisa berbahasa Indonesia, tapi Mayor Tinakorn sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Inggris. Tinakorn itu, dalam Bahasa Thailand, artinya "matahari". Ini menurut penuturan Mayor Tinakorn.
Dalam perjalanan, Mayor Tinakorn yang merupakan Angkatan Laut Thailand ini bercerita panjang lebar mengenai situasi di Timor-Timur. Beliau bilang;
"Saya khawatir sekali, pasti akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran pasca pengumuman hasil Referendum".
Mendengar Mayor Tinakorn memprediksi akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran, maka yang tiba-tiba muncul di benakku adalah "Pintu gerbang dengan gorden hitam" di Bukit Sio(n), yang saya kunjungi tanggal 19 Februari 1994.
Sekedar kilas balik saja. Hari itu, 19 Februari 1994, seorang Pastor berwajah Kaukasian-kaukasoid (kulit putih, hidung mancung, rambut pirang, mata biru), mengenakan jubah ungu bergaris merah, mengantarkan saya menuju "dunia orang mati".
Saya dan Imam Kaukasian itu menempuh perjalanan yang sangat jauh dan rasanya sangat lama, lalu kami tiba di sebuah wilayah di mana ada Pintu gerbang dengan gorden hitam". Imam itu memencet tombol di sebelah barat, lalu gorden hitam itu terbuka ke arah Timur.
Saya dan Imam itu memasuki sebuah wilayah yang keadaannya sangat-sangat mengerikan. Saya skip (lewati) saja dulu. Kalau diteruskan, terlalu panjang ceritanya. Kapan selesainya artikel ini? Kita kembali ke Mayor Tinakorn.
Lalu Mayor Tinakorn bertanya; "Kamu telah berani taruhan dengan Mike untuk "potong jari kelingking", karena kamu yakin, hasil Referendum akan diumumkan pada 4 September. Pasti kamu tahu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang Referendum?"
Mendengar pertanyaan Mayor Tinakorn, saya mulai memikirkan seseorang di benakku.
Lalu saya menjawab pertanyaan Mayor Tinakorn;
"Saya tidak tahu. Tapi ada seseorang yang tahu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang Referendum", jawab saya.
Mayor Tinakorn penasaran. "Orang itu peramal?", beliau bertanya. Bisa ya bisa tidak. Nanti pulang dari Kumbasari kita mampir ke tempat orang itu. Dia tinggal di Jl. Hayam Wuruk Denpasar. Nanti kita akan tahu siapa pemenang Referendum?
Setelah membeli Patung Dewa Siwa, kami berdua langsung meluncur ke Jl. Hayam Wuruk, menemui seseorang. Saat kami tiba di sana, orang itu ada di tempat.
Padahal saya sudah khawatir, jangan-jangan orang itu tidak ada di tempat. Saat itu tidak ada HP untuk bisa memastikan apakah orang itu ada di rumah atau sedang keluar?
Di sana saya perkenalkan orang aneh itu kepada Mayor Tinakorn. Saya memegang "tangan kanan" orang itu, lalu saya menunjukkan sebuah "tanda ajaib" yang berada tepat di dekat pangkal "jari telunjuk" tapi sebelah luar.
Saya meminta Mayor Tinakorn memperhatikan baik-baik tanda itu dan memberitahukan kepada saya; "Tanda apa yang sedang Mayor Tinakorn lihat?"
"Dua segi tiga" yang ujungnya bertemu, jawab Mayor Tinakorn dengan sangat cepat, dengan wajah yang penuh rasa heran, sambil terus mengamati tangan kanan "manusia ajaib" yang tinggal di Jl. Hayam Wuruk Denpasar".
Saya meminta Mayor Tinakorn memperhatikan "dua angka" yang diletakkan berhadapan yang seakan-akan berfusngsi sebagai "dua tiang" yang diletakkan sejajar untuk menopang dua segitiga" (yang terlihat seperti "dua bendera" yang ujungnya bertemu).
Saya bertanya kepada Mayor Tinakorn; "Perhatiakan baik-baik " dua tiang" yang menopang "dua segitiga" itu, bentuknya seperti angka apa?"
"Ini dua angka 7-7 (tujuh-tujuh)", jawab Mayor Tinakorn dengan cepat. Ya benar sekali, dua tiang itu berbentuk angka 77. Itu artinya fihak yang akan memenangkan Referendum, akan menang dengan persentase sekitar 77%.
Begitu saya mengatakan; "Simbol angka 77 itu mengindikasikan bahwa kemungkinan besar fihak yang akan memenangkan Referendum, akan menang besar, menang telak, dengan persentase minimal 77%, Mayor Tinakorn langsung berbicara dengan sangat semangat;
"Monteiro, saya yakin sekali fihak Otonomi akan menang dengan persentase besar. Paling sedikit 77%. Saya telah taruhan dengan teman saya yang juga Anggota MLO yang bertugas di Dili, bahwa fihak Otonomi akan menang besar".
Saya merasa kaget, tapi cuma dalam hati. Karena begitu mendengar Mayor Tinakorn mengatakan; "Fihak Otonomi akan menang dengan angka besar; minimal 77%, pikiran saya kembali melayang jauh ke Bukit Sio(n) mengenang kembali JANJI TUHAN melalui SUMPAH-Nya pada Minggu 20 Februari 1994.
Saya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Lho, kalau Mayor sudah tahu, fihak Otonomi lah yang akan menang besar, mengapa tadi di jalan, bertanya kepadaku; "Siapa yang akan memenangkan Referendum?"
"Tadi itu sebenarnya saya hanya mau memastikan saja, karena kamu berani taruhan dengan Mike. Maka saya yakin kamu pasti tahu siapa pemenangnya? Tapi jujur saja, sebenarnya saya sendiri sudah memiliki keyakinan bahwa fihak Otonomi lah yang akan menang besar", kata Beliau bersemangat.
Rupanya Mayor Tinakorn bersemangat sekali karena Mayor Tinakorn telah diam-diam pasang taruhan besar dengan temannya sesama Anggota MLO asal Thailand.
"Ada alasan kuat, mengapa Mayor begitu yakin fihak Otonomi akan menang besar?", tanya saya karena saya ingin tahu alasan Sang Mayor yakin fihak Pro Otonomi akan memennagkan Referendum .
"Monteiro, selama berada di Timor Leste, saya sering berkeliling Timor Leste menggunakan Helikopter. Setiap saya mampir di manapun, saya selalu melihat, di mana-mana, massa dari fihak Otonomi sangat membludak. Inilah yang membuat saya yakin fihak Otonomi akan menang besar".
Saya tidak ingin berbantah dengan Mayor Tinakorn. Saya bilang saja; "Kalau begitu ya syukurlah. Nanti kalau menang besar, taruhannya bagi-bagi ya?
"Begini Mayor. Kita berdua memiliki keyakinan dengan alasan yang berbeda. Kalau Mayor berani taruhan besar; karena yakin fihak Otonomi lah yang akan memenangkan Referendum.
Sementara saya berani taruhan potong jari kelingking" dengan "boss" kita Mike Montegano, karena berdasarkan rahasia di bawah telapak kaki orang ini, dan terlepas dari fihak mana yang akan memenangkan Referendum, namun satu hal yang pasti, saya percaya pada JANJI TUHAN bahwa hasil Referendum akan diumumkan pada Hari SABAT Suci, 4 September 1999 ".
Sambil berkata demikian, saya meminta kesediaan "si manusia ajaib" yang tinggal di Jl. Hayam Wuruk itu untuk memperlihatkan "telapak kaki kirinyanya".
Begitu "telapak kaki kiriny nya diangkat, saya perlihatkan sebuah tanda ajaib di sana kepada Sang Mayor.
"Mayor, ini angka berapa?", tanya saya. Setelah mengerutkan dahinya sebentar sambil melihat tanda ajaib yang saya tunjukkan, Sang Mayor menjawab tanpa ragu; "Monteiro, ini jelas-jelas angka 4 (empat).
Lalu Sang Mayor kembali berkomentar;
"Monteiro, yang di samping angka 4 ini kok kaya' ada huruf Y atau kaya' CAWAN ya? (Dengan Bahasa Inggris-nya yang sedikit kagok, Mayor Tinakorn berkata;
"Monteiro..Look at this. This one, beside the number 4, looks like letter Y or like a CUP?" (Monteiro...Lihat ini. Yang berada di samping angka 4, terlihat seperti huruf Y atau seperti sebuah CAWAN?).
Rupanya Mayor Tinakorn bingung untuk memastikan apakah tanda yang berdampingan dengam angka 4 itu adalah huruf Y atau CAWAN? Tanda itu ada di "telapak kaki kiri" Manusia Sabat.
Lalu Mayor Tinakorn beralih pada "tapak kaki kanan". Begitu mata sang Mayor Matahari memperhatikan "tapak kaki kanan", yang meluncur keluar dari mulut Sang Mayor Matahari adalah; "Ini LIDAH atau PEDANG ya? Ini binatang apa ya? Kok kaya' BUAYA? Mengapa lidahnya kelihatan terjulur keluar tampak kayak PEDANG?"
Mendengar jawaban Mayor Matahari alias Mayor Tinakorn, saya komat-kamit (tapi cuma dalam hati); "Terima-kasih ya TUHAN. Engkau telah memberi pencerahan kepada Mayor yang beragama Budha ini untuk mengenal rancangan-Mu yang ajaib".
Sekian dulu "obrolan ngalor ngidul" kita pada hari ini, Hari SABAT Suci. Selamat berakhir pekan. Selamat merayakan SABAT Suci bagi sahabat-sahabt FB yang masih setia merayakan SABAT Suci, karena ALLAH tidak pernah dan tidak akan pernah menghapus Hukum-Nya mengenai "Pengudusan Hari SABAT".
Sampai hari ini, tahun 2015, usia manusia bumi, yang telah menginjak-injak HUKUM SABAT (alias menginjak-injak "bilangan 4) di bawah kakinya, sudah berlangsung selama 1651 tahun (364 - 2015).
Tapi jika dihitung dari keputusan yang dikeluarkan pada tahun 313, maka sampai tahun 2015 ini, Hukum Sabat telah diinjak-injak selama 1702 tahun.
Salam DUA HATI dari BUKIT SULAIMAN. Semoga DUA HATI senantiasa melindungi Nusantara dan memberkati kita semua (hitam dan putih). Amin.
Catatan Kaki;
Setelah selesai membaca obrolan "ngalor-ngidul" yang tidak penting ini, jika Anda masih memiliki waktu dan minat untuk membaca, coba membaca kembali artikelku (kalau saya tidak salah), tertanggal 16 Januari 2015. Judulnya saya lupa. Tapi tanggalnya sepertinya 16 Januari 2015, karena berkaitan dengan HUT Suster Yashinta Noe.
Setelah menemukan artikel itu, tidak perlu membaca seluruh isinya. Langsung menuju ke bagian; Catatan Kaki.
Di sana ada kisah singkat, mengenai pertemuan saya dengan Suster Yashinta Noe ke sekian kalinya, pada bulan Juli 2006, di Gereja Santo Yosef Kepundung Denpasar pada suatu Hari Minggu untuk mengikuti Kebaktian sore.
Saat itu, saya bertanya kepada Suster Yashinta. Suster tinggal di mana? Dijawab; "Saya tinggal di Jl. Hayam Wuruk Denpasar".
Setelah tahu Anggota Ordo RVM (Religious of the Virgin Mary) ini tinggal di Jl. Hayam Wuruk, saya langsung berkata;
"Suster, tolong hitung berapa jumlah kata Pedang yang tertulis di dalam 4 Injil pertama Perjanjian Baru?"
Suster Yashinta bertanya; "Untuk apa menghitung kata Pedang?"
"Bukankah Suster sudah lama meminjam novel saya; THE DA VINCI CODE? Pasti sudah sudah membaca mengenai kata "Pedang" yang tertulis dalam novel THE DA VINCI CODE khan?
Karena sebentar lagi kata Pedang akan meluncur dari mulut Bapa Suci Paus Benedictus XVI", jawabku sekenanya.
Suster Yashinta menatapi wajah saya dalam-dalam, seakan-akan hendak berkata; 'Saya telah bertemu orang gila".
Tapi ternyata apa yang terjadi? Selang dua bulan, tepatnya pada 17 September 2006, Suster Yashinta mengetuk-ngetuk pintu kamar kos saya, yang ada tulisan; MR. NONOCK.
Saya tidak mau bukakan pintu MR. NONOCK. Namanya saja MR. NONOCK alias MR. PENDIAM, ya harus taat penuh pada apa yang tertulis di pintu. Maka hari itu, 17 September 2006, saya terus DIAM, tidak membukakan pintu untuk menyambut Suster Yashina dengan cara menyaringkan suara.
Akhirnya setelah menunggu 40 menit, Suster Yashinta menuliskan pesannya di secarik kertas dan menyelipkan di bawah (celah) pintu.
Setelah yakin Suster Tashinta pergi jauh, saya beranjak dari tempat tidur, dan menarik pelan-pelan kertas itu. Di sana tertulis jumlah kata Pedang yang ternyata dihitung Suster Yashinta Noe bersama keponakannya bernama Meta (suatu saat saya akan perlihatkan catatan/pesan Suster Yashinta). .
Rupanya Suster Yashinta (ditambah keponakannya Meta) baru mau menghitung berapa jumlah kata Pedang yang tertulis di dalam 4 Injil Perjanjian Baru yang pertama (Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas & Injil Yohanes), setelah gelombang demonstrasi muncul di berbagai belahan bumi, yang dilakukan Umat Muslim, hanya gara-gara Bapa Suci Paus Benedictus XVI, mengucapkan kata Pedang saat memberikan Kuliah Umum di salah satu Universitas di Jerman.
Padahal Bapa Suci Paus Benedictus XVI saat itu hanya mengutip ucapan Pemimpin Kekaisaran Bizantium abad XIV, Kaisar Manuel Palaelogus II.
Tapi kutipan itu telah menimbulkan kemarahan besar di hati Umat Muslim. Seandainya saja gelombang demonstrasi Umat Muslim tidak di-blow-up pers dan disiarkan ke berbagai pelosok bumi, termasuk di Indonesia, mungkin Suster Yashinta akan tetap pada keyakiannya, bahwa Beliau telah bertemu orang gila. Maka untuk apa harus menghitung berapa jumlah kata Pedang dalam Injil?

Semoga catatan pendek ini bermanfaat bagi kita semua. Salam kasih dan doa dalam Nama TUHAN YESUS Yang Mahasuci, Nama yang mengatasi segala nama, Nama yang berkuasa kini dan sepanjang segala abad. Amin.





Foto ini dibuat di Kota MATA-RAM, pada 12 tahun yang lalu, tepatnya bulan Juni 2004, saat saya menjalani praktek sebagai "dokter muda" di Bagian Kebidanan & Kandungan (Obstetry and Gynecology) Rumah Sakit Umum Mata-ram NTB.





Saya sengaja memunculkan kembali foto ini karena berkaitan erat dengan dua artikel sebelumnya, yaitu;



(1). KITA AKAN EXODUS DARI "MATANYA" MENUJU "MATA-RAM".
(2). GEMPA PANGERAN MATA-RAM

Tidak ada komentar: