Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Selasa, 07 Juni 2016

KAMU PILIH GELAR DOKTER ATAU PILIH CATUR MOBILISASI?

 

Nama Timor Ada Di Balik Frasa Catur Mobilisasi = 171

Saya mempersembahkan catatan sederhana ini untuk mengenang Romo Mangun. Hari ini 7 Juni 2016. Genap 18 tahun lalu, tepatnya Minggu, 7 Juni 1998, saya berada di Jogjakarta, tepatnya di Asrama Mahasiswa Tim-Tim, Jl. Kaliurang KM 7 Jogja, menghadiri Perayaan Ekaristi (Missa) yang dipimpin Alm. Romo Mangun.

Saat saya mencari gambar yang bagus untuk dilampirkan dalam catatan ini, ketika browsing di internet, saya temukan satu gambar yang unik di mana Presiden RI ke-4, Gus Dur (Abdurrachman Wahid) sedang bermain catur dengan Romo Mangun, seperti tampak dalam salah satu foto terlampir.
==============================
Nama kita adalah misi kita di dunia ini 
==============================
Ahli Matematika cabang Ilmu Ukur, yang juga "filsuf sekuler", Pythagoras, meninggalkan banyak warisan untuk kita.
Ilmuwan Yunani yang dikenal sebagai "Bapa Matematika", yang nisannya terletak di Croton Italia Selatan ini, sebagaimana dikutip oleh banyak "Ahli Bilangan", mengatakan begini;
"Nama Anda adalah misi Anda di dunia ini".
Dengan demikian, maka ketika saya munculkan pertanyaan elementer; "Berasal dari manakah nama TIMOR itu?"
Pertanyaan ini sama saja dengan saya hendak bertanya begini; "Apa misi bangsa Timor di dunia ini?"
Dengan demikian, maka begitu ke-5 tokoh nasionalis yang masuk dalam daftar "top five list", berhasil menemukan etimologis nama Timor, dan dengan demikian, akan menemukan makna sejati di balik nama Timor, maka wajib hukumnya, ke-5 tokoh nasionalis harus merumuskan hal-hal fundamental seperti;

(1). Identitas Bangsa Timor
(2). Falsafah Bangsa Timor
(3). Tujuan Nasional Bansga Timor
(4). Dan seterusnya dan sebagainya


"Menurut Anda, apa falsafah bangsa Timor (Leste)?" 
Jika kita tidak menemukan asal-usul nama TIMOR yang mrupakan identitas nasional kita, bagaimana kita bisa merumuskan falsafah bangsa kita? Dan ini adalah tugas para pahlawan (pendiri bangsa). Bukan tugas "orang geger" seperti saya.

"Hal berharga apa yang akan harus diwariskan para pahlawan bangsa kepada generasi penerus di masa depan?" Mewarisi falsafah bangsa atau mewarisi hutang-hutang yang membumbung menyundul atap langit Tanah Timor?



==========================================
Kita tunggu dulu Keputusan ALLAH, dari ke-5 tokoh nasionalis itu, siapakah yang akan dipanggil ALLAH lebih dulu?
==========================================
Semenjak saya munculkan pertanyaan tentang asal-usul nama "Timor", banyak sahabat FB'res yang mencoba menjawabnya.
Ada yang bilang nama Timor berasal dari Bahasa Portugis. Ada yang bilang nama Timor itu berasal dari Bahasa Latin. Ada yang bilang nama Timor berasal dari Bahasa China. Ada pula yang bilang, nama Timor berasal dari Bahasa Fataluku (Temur).
Nama Timor tidak berasal dari salah satu bangsa yang disebutkan di atas. Lalu berasal dari bahasa apakah nama Timor itu?
Hanya para "Pahlawan Kemerdekaan Timor Leste" yang tahu jawabannya, termasuk mereka yang berstatus sebagai pejabat negara Timor (Leste), seperti; Presiden, Perdana Menteri, Menteri, Panglima Militer, dan seterusnya dan sebagainya.
Ukuran logikanya sederhana saja. Tidak mungkin mereka yang telah menyandang simbol-simbol kemuliaan karena nama Timor, tidak tahu asal-usul nama Timor.
Jika mereka tidak tahu, kok bisa jadi "pejabat Negara TIMOR?" Bukankah ini sebuah "anomali besar". Menyandang status sebagai "pejabat Negara TIMOR", menerima gaji ribuan dollar US per bulan, tapi tidak tahu asal-usul nama TIMOR, ini benar-benar bukan sekedar sebuah anomali, melainkan (maaf) "uma grande vergonha" (suatu "ke-malu-an besar). Karena kita-kita ini telah makan "gaji buta".
Banyak sahabat yang meminta kepada saya untuk menjelaskan asal-usul nama Timor. Saya bukanlah pejabat negara Timor (Leste) yang menikmati gaji ribuan dollar US per bulan. Maka bukanlah kewajibanku untuk menjelaskan asal-usul nama Timor. Ini adalah kewajiban para pejabat negara Timor (Leste)
Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, jika hingga 30 Juni 2016 berakhir, ke-5 tokoh nasionalis ini tidak bisa menjelaskan asal-usul nama Timor, maka Anda boleh percaya, boleh tidak, ALLAH akan benar-benar murka atas mereka.
Maka satu per satu dari ke-5 tokoh ini akan dipanggil ALLAH. Tahun 2016 ALLAH memanggil satu. Tahun 2017 kembali panggil satu. Tahun 2018 panggil satu lagi. Demikian dan seterusnya sampai tahun 2020. Kita akan menyaksikan "Kuasa ALLAH" terjadi.
Siapakah dari ke-5 tokoh tersebut yang akan dipanggil lebih dulu? Itu adalah "hak prerogatif ALLAH" sepenuhnya. Jadi kita serahkan segala sesuatunya kepada "Penyelenggaraan Ilahi", sambil menunggu apa yang bakal(an) terjadi?
====================================
Nama Timor ada di balik frasa "Catur Mobilisasi"
====================================
Untuk membantu ke-5 tokoh nasionalis menemukan asal-usul nama Timor, saya ingin sedikit berkisah tentang "Catur Mobilisasi" (171).
Sekedar informasi untuk diketahui.
IMPETTU = Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Timor-Timur. Dulu, jumlah Anggota Impettu Bali mencapai ribuan orang. Ada yang resmi terdaftar, tapi ada juga yang tidak terdaftar secara resmi.
Ketua Impettu Bali yang pertama adalah Lucas da Costa (saat ini menjabat sebagai Rektor UNPAZ/Universidade Da Paz Dili).
Ketua Impettu Bali kedua; Sdr. Jose Pompeia.
Ketua Impettu Bali ketiga adalah Sdr. Adolfo Fontes.
Ketua Impettu Bali kelima; Sdr. Sergio Hornay (saat ini menjadi salah satu Pengacara top di Timor Leste).
Pada Minggu, 18 April 1993, diselenggarakan Pemilihan Ketua Impettu Bali, yang berlangsung di Aula Makorem 163 WS/Wira Satya Denpasar Bali.
Tanggal 18 April 1993, untuk pertama kalinya saya memperkenalkan istilah "Catur Mobilisasi" kepada sejumlah Perwira Militer selaku Pembina Impettu Bali dan Anggota Impettu Bali yang mengambil bagian dalam Pemilihan Ketua Impettu Bali hari itu.
Saat itu ada 4 kandidat yang maju untuk memperebutkan kursi Ketua Umum Impettu Bali. Salah satu nama penting yang wajib saya sebutkan di sini adalah, salah satu sahabat terbaik saya (membro jurado Renetil); Sdr. Longuinhos Monteiro yang saat ini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Timor Leste (sebelumnya menjabat sebagai Jaksa Agung dan Kapolri-nya Timor Leste).
Dua kandidat lannya adalah salah satu teman terbaik saya, Sdr. Zito Turquel, pernah menjalani fungsi sebagai Staf Presiden Ramos Horta dan Sdr. Lorenco Colo (Alumnus Fakultas Pertanian Unud/saya tidak tahu keberadaan temanku asal Oe-Cussie ini?).
Dari 135 Wakil Impettu Bali yang memberikan suaranya saat itu, saya terpilih dengan meraih “78” suara (57,77778%). Sisanya diperoleh 3 kandidat yang lain.
Saya memenangkan pemilihan hari itu, hanya karena program yang saya namakan; "Catur Mobilisasi" (171). Tanpa kekuatan besar yang ada di balik frasa "Catur Mobilisasi" (171), saya tidak mungkin memenangkan Pemilihan Ketua Impettu Bali saat itu.
Tapi sayangnya, setelah saya terpilih, saya ditolak kalangan Militer. Ada dua alasan penolakan. Salah satunya adalah karena saya menolak usulan kalangan Milietr, untuk merubah nama program; "Catur Mobilisasi" menjadi "Panca Mobilisasi".
Saat itu saya dipanggil berkali-kali menghadap kalangan Perwira Militer, mulai dari Kasiter (Kepala Seksi Teritorial), sampai Danrem (Komandan Militer), sampai dipanggil menghadap Wakasdam (Wakil Kepala Staf kodam) IX Udayana.
Tujuannya hanya untuk merubah "Catur Mobilisasi" menjadi "Panca Mobilisasi". Tapi saya tetap menolak merubah "Catur Mobilisasi".
Gubernur Timor-Timur saat itu, Bapak Abilio Jose Osorio Soares, mengirim stafnya beberapa kali bertemu saya. Saya diminta merubah "Catur Mobilisasi" menjadi "Panca Mobilisasi".
Tapi tetap saya tolak. Akibatnya, saya "diambil" malam-malam (saya tidak tahu mereka dari satuan mana). Mereka membawa saya kemana-mana, termasuk merendam saya di tepi laut.
Saya tidak tahu apakah saat itu saya dibawa ke Pantai Sanur atau dibawa ke Pantai Kuta? Atau pantai lainnya? Tujuan mereka hanya satu; meminta saya merubah "Catur Mobilisasi" menjadi "Panca mobilisasi".
Tapi saya tetap "keukeuh". Saya diancam dan "ditekan" habis-habisan;
"Kamu tinggal pilih. Mau gelar dokter atau mau Catur Mobilisasi?"
"Kamu tahu tidak. Kita sudah mengirim Batalyon 515 dari Kodam V Brawijaya untuk mengawasi orang tuamu. Jadi kamu jangan pernah bercerita aneh-aneh bahwa kita membawa kamu ke sini".
"Kalau sampai kami dengar kamu bercerita aneh-aneh, bukan hanya kepalamu yang akan kami penggal buang ke laut, tapi orang tuamu di kampung juga akan tamat riwayatnya".
Dalam keadaan ketakutan yang amat sangat, saya memutuskan untuk memilih "Catur Mobilisasi", ketimbang "gelar dokter". Que seraa..seraa...! Apa yang akan terjadi, terjadilah. Saya pasrah.

Kalau saya memilih gelar dokter, memang enak. Status sosial saya terdongkrak. Hidupa saya nyaman dna mapan. Dihargai..! Dihormati...!!! Itu pasti...!!!

Tapi berapa lama hal itu akan berlangsung. Paling 30 tahun atau 40 tahun. Tapi setelah itu saya akan menganggalkan yang fana dan mengenakan yang baka. Tidak ada yang abadi di dunia ini.
Saat itu saya merasakan ketakutan yang amat sangat, tapi bukan karena takut terhadap mereka yang mengelilingi saya saat itu di tepi laut dengan menempelkan pistol di kening saya.
Tapi saya takut kepada ALLAH. Karena jika sampai saya merubah "Catur Mobilisasi" menjadi "Panca Mobilisasi", maka ALLAH akan benar-benar murka, dan niscaya, jika waktunya telah genap, ALLAH pasti akan melemparkan ke dalam neraka jahanam, di mana ulat tidak pernah mati dan api tidak pernah padam.
Jujur, saat itu saya tidak berani bercerita kepada siapapun mengenai saya diambil malam-malam, dibawa ke mana-mana.
Yang aneh, saya tidak pernah dipukul atau disiksa secara fisik. Hanya satu kali saya direndam di pantai dengan moncong pistol menempel ketat (dingin) di kening saya, tapi tanpa penyiksaan fisik lainnya. Tapi secara mental dan emosi, saya tertekan habis.
Dulu, saat saya dibawa ke mana-mana dan ditekan habis-habisan, saya sama sekali tidak tahu kalau orang tuaku di kampung, Dusun Talici Desa Laclo, dijaga ketat oleh Pasukan 515 dari Kodam V Brawijaya. Saya tahunya di kemudian hari.
Saya mengira, mereka hanya sekedar gertak sambal. Dalam hati saya berkata;

"Dari mana kalian kenal orang tuaku. Orang tuaku hanyalah orang-orang kecil, petani miskin yang buta huruf. Bukan tokoh pejuang Kemerdekaan Timor Leste yang terkenal".
Saat itu komunikasi tidak selancar sekarang. Jangankan HP, telfon rumah saja tidak ada. Infromasi hanya diperoleh melalui surat.
Kirim surat kapan sampainya. Berbulan-bulan. Itupun kalau suratnya selamat sampai.
Ternyata benar. Di kemudian hari barulah saya tahu kalau ternyata, ada Pasukan 515 dari Kodam V Brawijaya yang datang mendirikan pos mereka di samping rumah orang tuaku di Dusun Talici Desa Laclo. Sampai-sampai Dusun Talici berubah nama menjadi; KOMANDO TALICI.
Puji TUHAN YESUS Yang Maha Kuasa. Orang tuaku yang sering mendapat tamparan dan tendangan "Pasukan Rajawali", telah meninggal. Tapi saya masih dilindungi TUHAN YESUS, sehingga masih hidup sampai hari ini dan mengajukan pertanyaan;
"Nama TIMOR itu berasal dari bahasa apa?"
Kini saya telah memberikan "clue" (petunjuk) bahwa nama Timor itu ada di balik frasa "Catur Mobilisasi" (171).
Kalau nama Timor tidak ada di balik "Catur Mobilisasi" (171), untuk apa ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya memanggil saya ke Bukit Sio(n) pada Februari 1994.
Sebagaimana telah beberapa kali saya kisahkan melalui sejumlah artikel sebelumnya, bahwa di sana, di Bukit Sio(n), pada Hari Minggu, 20 Februari 1994, ALLAH, dari balik Takhta-Nya yang megah, menjulang tinggi di atas Langit Gunung Ramelau, memberkati "Catur Mobilisasi" dengan "Tangan Kanan-Nya".
Yang sangat aneh adalah, saat itu, ketika Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II yang berdiri dalam barisan yang saya namakan: "barisan para paus", mengajukan pertanyaan kepada ALLAH, ALLAH mengucapkan "Sabda-Nya" (kalimat pertama) untuk memulai menjawab pertanyaan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, kalimat pertama ALLAH yang terdiri dari "6 kata", dan kata terakhir dari 6 kata tersebut, bunyinya adalah "empat", sejatinya, saat itu, ALLAH sedang menyinggung mengenai "Nama TIMOR".
Akhirnya, sesudah pemberkatan ALLAH di Bukit Sio(n), 20 Februari 1994, tepat pada hari yang ke-601 (setelah saya terpilih), saya benar-benar dilantik secara resmi sebagai Ketua Impettu Bali ke-4, pada Hari Sabat Suci, 10 Desember 1994, oleh seorang Perwira Militer TNI berhati Malaikat, bernama (Kolonel) "Soentoro".
Harap disimak baik-baik makna di balik durasi waktu "601 hari". Saya terpilih pada Minggu, tanggal 18 April 1993. Dan setelah genap 601 hari, baru dilantik pada Sabat, 10 Desember 1994.
Jika kita menghitung jarak waktu dari 18 April 1993 sampai 10 Desember 1994, rentang waktunya = 601 hari.

Dulu saya sama sekali tidak tahu apa makna di balik bilangan "601". Setelah melaui doa berbulan-bulan, barulah Malaikat muncul dalam mimpi saya dan mengatakan;
"Angka 601 tersebut adalah simbol (bilangan) BATSYEBA".
Ternyata nama (Ratu) BATSYEBA jika dikonversikan ke dalam "Warisan Pythagoras", nilai numeriknya = 601.

Nilai numerik BATSYEBA; B=2, A=1, T=100, S=90, Y=400, E=5, B=2, A=1. Jumlah = 601.
Alkitab mencatat bahwa BATSYEBA adalah Ibunda kandung "Raja SALOMO". "Wanita" yang diperisteri "Raja Daud" ini melahirkan 4 anak untuk Raja Daud. Dan Raja Salomo merupakan "ANAK CATUR" (anak ke-4) yang lahir dari rahim Ratu BATSYEBA.
Ini artinya; ketika saya menggadaikan kepala saya untuk mempertahankan kata CATUR, sama halnya dengan saya menggadaikan kepala saya untuk mempertahankan simbol-simbol yang berhubungan erat dengan Raja SALOMO.
Maka itu artinya; "asal-usul nama Timor", berhubungan erat dengan "POHON SILSILAH" (Keturunan Daud, Ketrunan SALOMO, dan seterusnya). POHON SILSILAH adalah "kata kunci" (clue krusial) untuk menemukan "asal-usul Nama TIMOR".
Yang memiliki mata hendaklah ia melihat.
Yang memiliki telinga hendkalah ia mendengar.
Semoga catatan ini bermanfaat. Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: