Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 29 Juni 2016

KITA AKAN EXODUS DARI "MATANYA" MENUJU "MATA-RAM" (Kursi Nomor 4 Itu Akan Diisi Oleh ALLAH Sendiri)

 Lidah kita bisa berubah menjadi racun
Mulut kita bisa berubah menjadi kuburan
Semakin sering lidah kita bergetar
Akan semakin banyak racun beredar
Semakin lebar mulut kita terbuka
Akan semakin banyak kuburan menganga
Engkau selalu berkata kepadaku:
Lukamu adalah sukaku
Lukaku adalah dukamu
Jika demikian adanya
Manakah di antara engkau dan aku 
Yang adalah orang baik?
Kamu atau aku?
Yang pasti bukan "atau".
===============================================
“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13:12)
==============================================

OKI (oleh karena itulah) orang-orang bijak berkata;
"Tahanlah lidahmu, agar jangan terlalu sering bergetar. Katup dan mingkemkanlah mulutmu, agar jangan terlalu lebar terbuka.
Bukankah Alkitab mencatat; "Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20).
"SIAPA MENABUR ANGIN DIA AKAN MENUAI BADAI-SIAPA PIARA KERBAU DIA AKAN MEMINUM GRATIS SUSUNYA"
Dulu, saat saya masih tinggal di kos lama (Jl. Pulau Seribu no. 15 Sanglah Denpasar Bali Indonesia), saya tinggal serumah dengan salah satu sahabat terbaik saya, yang biasa saya sebut; "Bangsawan Luca" (baca: Luka).
Sebutan "Bangsawan Luca" ini bukan tanpa alasan. Dulu di Tanah TIMOR ada banyak sekali Kerajaan. Salah satunya adalah "KERAJAAN LUCA".
Jika Anda yang di Timor Leste memiliki buku yang ditulis oleh Uskup Belo (Pemenang Nobel Perdamaian 1996), berjudul; OS ANTIGOS REINOS DE TIMOR-LESTE (Kerajaan-Kerajaan Tua Timor Leste), coba buka bab 58, halaman 329.
Di sana, di bab 58, halaman 329, tertulis judul; VIQUEQUE. Dari judul tersebut, Anda baca terus, nanti tiba di halaman 3(36), Anda akan bertemu dengan frasa; "Reino de Luca" (Kerajaan Luca).
Di halaman 3(36) tertulis kisah mengenai "Kerajaan Luca" di masa lalu (jaman penjajahan Portugis).
Sayangnya buku tersebut berbahasa Portugis. Maka mereka yang tidak memahami Bahasa Portugis (termasuk saya di dalamnya), (akan) sulit memahami dengan baik isi buku tersebut, yang diterbitkan Diocesana Baucau tahun 2011.
Nah, sahabatku yang saya sebut "Bangsawan Luca" ini adalah "Keturunan Kerajaan Luca". Temanku ini termasuk orang yang lidahnya tidak gampang bergetar, dan mulutnya jarang terbuka lebar-lebar (baca: tidak suka menjelek-jelekkan orang lain).
Orang-orang yang berasal dari "kelas beradab" (bukan kelas primitf), umumnya getaran lidahnya maupun bukaan mulutnya tidak mengaduk-aduk nilai-nilai kemanusiaan individu lain, apalagi mangacak-acak "keadaban publik".
Mungkin karena sobatku itu berasal dari Keluraga Bangsawan yang mendapat didikan mengenai "tata-krama". Sehingga lidahnya tidak gampang bergetar, dan mulutnya jarang terbuka lebar-lebar.
Salah satu pamannya, pada jaman pendudukan (bukan penjajahan) Indonesia atas Timor-Timur, menjadi Anggota DPR RI.
Setelah Timor-Timur pisah (bukan merdeka) dari NKRI, salah satu kakak kandungnya mendapat amanah dan bertugas sebagai Duta Besar Timor Leste untuk Amerika Serikat.
Kemudian ditarik kembali ke Timor Leste sebagai Wakil Perdana Menteri dan terakhir menduduki pos Menteri Luar Negeri Timor Leste pada V Governo (Kabinet V) yang dipimpin Pak Xanana Gusmao (selaku Perdana Menteri).
Salah satu kakak kandungnya juga saat ini menduduki pos Menteri Sosial Timor Leste. Tapi jangan Anda menafsirkan bahwa saya sedang mengangkat isu; "PPO" (Praktek Politik Oligarki).
Yang dimkasud dengan PPO di sini adalah suatu bentuk kebijakan politik yang umumnya ditempuh oleh mereka yang berjiwa "penguasa" (tapi bukan berjiwa pemimpin) untuk memilih dan menempatkan orang-orang yang masih ada hubungan pertalian darah dalam menduduki pos-pos penting dalam suatu sistim pemerintahan, karena sejumlah alasan (umumnya karena alasan-alasan yang bersifat primordialis-me).
Mengenai PPO ini tergantung dari sisi mana kita menilai. Tapi saya secara pribadi menempatkan PPO sebagai sesuatu yang bersifat "paradox", atas sejumlah alasan.
Misalnya; ada salah satu Perintah ALLAH yang melarang kita untuk tidak boleh sirik terhadap hak milik orang lain. Termasuk kita tidak boleh sirik terhadap rezeki orang lain (termasuk jabatan atau kedudukan yang diperoleh orang lain, baik dalam "kelas politik" maupun "kelas sosial").
Pertanyaannya adalah; "Apakah mereka itu berdosa karena mereka (keluarga-keluarga yang masih memiliki hubungan pertalian darah) ketiban rezeki nomplok, menduduki berbagai jabatan penting?"
Kali-kali saja dulu, leluhur mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik. Lalu tidak sempat menikmati "karma" yang mereka tanam (menikmati hasil dari perbuatan baik mereka).
Di kemudian hari, karma itu berbuah dan anak-cucunyalah yang menikmatinya. Karena, bukankah setiap perbuatan kita, entah baik atau buruk, akan selalu dikembalikan ALLAH dan "alam" untuk kita?
Maka ketika ALLAH memerintahkan kita untuk tidak boleh sirik terhadap hak milik orang lain (Orang Timor bilang; keta laran moras ema nia sasan), itu karena ada maknanya yang sulit kita cerna.
==================================
"Pembalasan adalah hak-Ku" (Ibrani; 10:30)
==================================
Kalau ternyata rezeki yang mereka peroleh itu datangnya dari ALLAH karena perbuatan baik "leluhur mereka" di masa lalu, maka ketika kita merasa sirik atas rezeki orang lain, sadar atau tidak, sengaja atau tidak, kita telah mempertanyakan "Keadilan ALLAH".
Tapi kalau ternyata rezeki yang mereka peroleh itu tidak halal, lalu suatu saat mereka harus masuk neraka, apakah kita-kita yang hari ini telah merasa sirik, maukah kita ikut masuk ke neraka? Kalau tidak mau ikut masuk ke neraka, mengapa harus sirik?
Untuk itu, sebaiknya kita berusaha sebisa mungkin, menguasai hati dan pikiran kita. Karena di balik segala sesuatu yang dimiliki orang lain, selalu ada hubungan kausalitasnya masing-masing.
Bukankah perbuatan kita itu layaknya tabungan. Suatu saat kitalah yang akan menikmatinya. Kalau bukan kita, ya minimal darah-daging kita (baca: anak cucu kita). Karena tidak akan pernah ada pencuri yang mampu mencuri hasil dari setiap perbuatan yang kita tabung di alam ini.
===========================================
Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya sendiri, kalau tidak dikarunikan dari sorga (Yohanes; 3:27).
===========================================
 Yang Mulia Mgr. Dom Carlos Filipe Ximenes Belo,SDB, tercatat dalam sejarah dunia sebagai Imam pertama dari Gereja Katolik Roma yang menerima Nobel Perdamaian (1996). Tentunya sejarah ini tercatat bukan tanpa alasan.
Apakah setiap tokoh yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, selalu dianugerahi Nobel Perdamaian? Tentu tidak khan? Lalu mengapa Uskup Belo menerima Nobel? Ada banyak alasan di baliknya.
Salah satunya adalah; "Karena karunia ALLAH". Siapa tahu, leluhur Beliau dulu banyak berbuat baik, namun belum sempat menikmati buah dari perbuatan baiknya. Maka Uskup Belo sebagai turunannya, berhak menikmati buah dari kebaikan tersebut.
Alam semesta ini berlaku "hukum keteraturan". Segala sesuatu bergerak dengan ritme yang konstan. Pernahkah Anda melihat matahari itu terlambat terbit satu menit karena alasan macet? Kagak pernah khan? Segala sesuatunya secara absolut terikat dan tunduk total kepada sebuah "hukum universal" yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan oleh kodrat kehendak bebas manusia.
Oleh karena itu; "Buat ida naran "virtus ou gloria ne", la naran mosu deit sem razoens forte (yang namanya "keutamaan atau kemuliaan" itu tidak asal muncul tanpa alasan-alasan yang kuat). Karena di baliknya selalu ada "rahasia Ilahi".
Kalau ternyata "Raja MATANYA" pada masa hidupnya banyak berbuat jahat, sebagaimana Kitab Suci telah mencatatnya, maka layakkah "Keturunannya" berhak memperoleh "virtus" (kemuliaan) untuk menjadi "Raja di Tanah IBRANI (baca: Tanah TIMOR)?"
==============================================
"ALLAH itu tidak buta. Maka jika thesis KETURUNAN MATANYA sengaja diangkat, untuk kemudian harus digugurkan guna mengingatkan kita akan pentingnya akibat dari perbuatan kita bagi anak cucu kita di masa depan, maka haruskah kita mempertanyakan Keadilan ALLAH ketika ALLAH mau mengingatkan kita dengan cara-cara-Nya yang adi-kodrati, menggugurkan negara-negara kerajaan di Euro Cup 2016?"
==============================================
Di alam semesta ini, ada dua jenis hukum, yang mana, satu adalah hukum tertulis yang tertera di dalam kitab para hakim. Sementara yang satu lagi adalah "hukum karma", yang tidak tertulis di kitab manapun, tapi dia ada dan selalu hadir di mana-mana.
Kemana pun kita pergi, di mana pun kita berada, setiap kali kita membuka pintu, dia akan senantiasa mengulurkan tangannya dan berbisik; "Kenalkan...! Namaku hukum karma".
Jika Anda memiliki anak cucu, perbanyaklah perbuatan baik. Karena siapa tahu, tiba-tiba Anda dipanggil Sang Khalik, dan belum sempat menikmati perbuatan baik Anda, niscaya, suatu saat, cepat atau lambat, hasil dari perbuatan baik Anda akan dinikmati anak-cucumu. Ini bukan menggurui, tapi sekedar mengingatkan saja.
======================================================================
Minumlah susu kerbau secara gratis dari kerbau yang Anda piara sendiri. Jangan meminum susu gratis dari kerbau milik orang lain, "
======================================================================
KETAATAN TOTAL TERHADAP PERINTAH ILAHI
Poin utama dari ulisan ini, sejatinya hanya mau berkisah tentang "ketaatan total" kepada hukum-hukum Ilahi".
Manusia itu, atas alasan apapun, tidak memiliki kuasa seujung kukupun untuk merubah "hukum-hukum Ilahi".
Anda masih ingat kisah aneh mengenai kartu "dua hati" dan uang lima ribuan rupiah yang ada nomor seri; "PAW 666402?" (Anda bisa membaca kisah aneh ini di artiel edisi awal Juni 2014).
Pada tanggal 1 Mei 2014 dini hari saya diperintahkan melalui mimpi untuk harus pergi memungut kartu "dua hati". Karena, katanya, kartu tersebut merupakan simbol kemenangan Presidan RI ke-7.
Sayapun menuruti petunjuk mimpi itu. Begitu saya tiba di sana, ternyata saya melihat ada tumpukan kartu yang jatuh berserakan. Anehnya semua kartu yang jatuh berserakan tersebut, semuanya tertutup dan hanya satu kartu yang terbuka, yaitu; DUA HATI (duki kopas).
Saya memutuskan untuk memungut kartu "dua hati" tersebut. Kebetulan di samping kartu dua hati, ada lembaran uang lima ribu rupiah dengan nomor seri; PAW 666402. Saya pungut juga uang tersebut.
Selang sebulan setelah saya memungut kartu dua hati, dilakukanlah penarikan nomor urut. Ternyata Pak Prabowo mendapat nomor urut SATU. Sementara Pak Jokowi mendapat nomor urut DUA.
Itu artinya, berdasarkan kartu yang saya pungut pada edisi 1 Mei 2014, Pak Jokowi yang akan terpilih jadi Presiden RI ke-7.
Tapi berita yang saya lihat di TV dan baca melalui berbagai media di Indonesia, bahkan media asing, saat itu hampir sebagain besar Lembaga Survey di Indonesia (maupun media asing), mengunggulkan Capres nomor urut SATU.
Sahabat karibku, Bangsawan Luca, setiap kali dia membaca media atau menonton TV, dia akan datang berdiri dekat jendela dan berkata dengan volume suara yang nyaris tak terdengar;
"Mon...!!! Kalau kartu yang mon pungut itu adalah angka SATU, boleh dibuka. Tapi kalau kartu itu adalah angka DUA, sebaiknya jangan buka kartu itu kepada publik, karena saya lihat Pak Prabowo unggul di mana-mana melalui hasil survey sejumlah LSI (Lembaga Survey Indonesia).
Bangsawan Luca mengingatkan saya seperti itu, karena sebelumnya, saya telah berkisah mengenai kartu tersebut melalui sejumlah artikel dan berjanji akan membuka "kartu tersebut" kepada publik.
Melihat setiap perkembangan yang ada, saya mulai meragukan mimpiku sendiri. Haruskah saya umumkan kartu "dua hati" kepada publik sesuai dengan "perintah" melalui mimpi?
Kalau saya umumkan dan ternyata salah, dan Capres nomor urut SATU yang terpilih, muka ini mau ditaruh di mana?
Tapi kalau saya tidak umumkan, dan ternyata mimpi itu adalah "perintah dari ALLAH", bukan sekedar bunga tidur, bukankah saya telah melakukan pelanggaran besar? Dan upahnya adalah maut?
Hidup ini adalah pilihan. Que seraa..sera...!!! Saya harus memilih. Dan pilihanku adalah mengumumkan "dua hati" kepada publik. Kalau ternyata saya keliru, ya tidak masalah. Yang terpenting saya telah mentaati perintah Ilahi.

====================================================================
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Matius; 10:16).
=====================================================================
Akhirnya tanggal 4 Juni 2014 saya menuliskan artikel dan memberikan pengumuman bahwa saya akan membuka kartu tersebut pada "22 Juni 2014.
Tapi memasuki tanggal 22 Juni 2014, saya tidak jadi membuka kartu tersebut. Melalui artikel edisi 22 Juni 2014, saya umumkan bahwa nanti saja pada tanggal 2 Juli 2014, baru saya akan membuka kartu tersebut.
Tapi memasuki tanggal 2 Juli 2014, lagi-lagi saya menunda untuk mengumumkan kartu tersebut. Melalui artikel edisi 2 Juli 2014, saya mengumumkan bahwa kartu tersebut baru akan dibuka pada 7 Juli 2014. Jika berminat, Anda boleh membaca kembali artikel edisi 2 Juli 2014 yang ada di laman FB saya.
Akhirnya pada 7 Juli 2014, genap 18 tahun "Penampakan KRISTUS" yang pertama, saya benar-benar membuka kartu "dua hati" kepada publik.
Begitu kartu tersebut dibuka, berbagai komentar bermunculan. Ada yang percaya, Capres nomor hurut DUA (HATI) akan benar-benar terpilih menjadi Presiden RI ke-7. Tapi banyak yang tidak percaya, karena berpegang pada hasil Survey.

Ternyata pada akhirnya yang benar-benar muncul sebagai Presiden RI ke-7 adalah Pak Joko Widodo alias DUA HATI alias DOKI KOPAS. 

Yang namanya rancangan ALLAH itu tidak akan ada satu manusia yang mampu membatalkannya.
Anda boleh membaca kembali komen-komen yang bermunculan di artikel edisi 7 Juli 2014 di laman FB saya (Antoninho Benjamim Monteiro), sambil melihat kembali foto (wujud) kartu DUA HATI dan uang lima ribuan rupiah beserta nomor seri PAW 666402 yang saya pungut di "Bukit Sulaiman", tanggal 1 Mei 2014.
Tapi ada satu "permainan kode rahasia" (steganos) berupa bilangan "2227", yang saya "mainkan", tapi kurang disadari (disimak) oleh "Pembaca" setia artikel saya.
Misalnya, pada tanggal 4 Juni 2014, ketika saya mengumumkan bahwa saya akan membuka kartu tersebut pada tanggal 22 Juni 2014, saya sejatinya sedang memulai membuka ID(entitas) Presiden RI ke-7, yang dimulai dari angka "22" (dengan menyebut tanggal 22 Juni).
Begitu memasuki tanggal 2 Juli 2014, lagi-lagi saya tidak jadi membuka kartu tersebut. Saat itu melalui artikel saya, saya nyatakan bahwa kartu tersebut ditunda lagi dan baru akan dibuka pada 7 Juli 2014 (dua hari sebelum Pilpres).
Tiba di sini, sudah terbentuk bilangan "222". Bilangan 222 ini diambil dari tanggal 22 (Juni) dan tanggal 2 (Juli).
Lalu memasuki tanggal 7 Juli 2014, saya benar-benar membuka kartu DUA HATI tersebut kepada publik. Berarti, sejatinya, saya sedang memainkan ID(entitas) Pak Jokowi melalui bilangan "2227".
Bilangan 2227 ini terdiri dari 3 dimensi waktu (3 tanggal); yaitu;
(1). 22 Juni 
(2). 2 Juli 
(3). 7 Juli.
Tiga dimensi waktu di atas membentuk nama JOKO WIDODO yang jika dikonversikan ke dalam "Warisan Eyang Pythagoras", akan menghasilkan angka "2227".
Jika kagak percaya, coba konversikan nama JOKO WIDODO ke dalam "Bilangan Pythagoras. Dijamin, hasilnya niscaya = 2227. Tapi adakah seseorang di luar(an) sana, yang menyadari bahwa saat itu saya sedang memainkan "steganos" ini? Rasanya kagak ada.
Berkaitan dengan gugurnya thema sentral KETURUNAN MATANYA di Euro Cup 2016, dan juga berkaitan denagn judul artikel yang sedang Anda baca ini, muncul satu pertanyaan menarik.
Mengapa, semenjak mengumumkan nama 4 negara kerajaan yang masuk sebagai nominasi juara Euro Cup 2016, saya sengaja tidak memunculkan "angka 4?"
Bukankah saya selalu menuliskan format (penomoran) sebagai-berikut;
(1). Spanyol
(2). Inggris
(3). Sewdia
(5). Belanda
Jika Anda memiliki banyak waktu Anda bisa membaca kembali artikel saya edisi 9 Mei 2015 dan 10 Mei 2015. Pasti yang tertulis di sana adalah sebuah daftar nominasi sebagai-berikut;
(1). Spanyol
(2). Inggris
(3). Sewdia
(5). Belanda
Banyak yang mengira saya salah tulis, termasuk komentar FB'ers setahun lalu. Padahal kagak sama sekali. Tidak munculnya angka 4 dalam daftar nominasi karena hukumnya seperti itu.
Dan saya hanya mentaati secara total "Perintah TUHAN. Lalu kemana angka 4? Mengapa tidak dicantumkan dalam daftar nominasi? Hanya TUHAN YESUS yang Maha Mengetahui.
Yang jelas ketika saya menuliskan format seperti itu, tanpa angka "4", adalah sebagai wujud (bentuk) "ketaatanku secara total kepada Perintah Ilahi.
DIA adalah TUHAN, Raja Semesta Alam. DIA adalah Hakim Agung Akhir Jaman yang akan menghakimi seluruh makhluk, tanpa pandang bulu dan pilih muka, apalgi pilih agama.
===============================================
"Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia" (Yohanes; 5: 22-23).
================================================
Maka ketaatan total kepada "Kehdendak-Nya Yang Maha Suci", adalah bukan hanya menjadi prioritas, tapi itu pilihan yang terbaik, yang akan membawa keselamatan untuk saya di masa depan.
Termasuk ketika sehari sebelum Sang REAL akan bertarung dengan ATM di Kota Milan dalam laga final Liga Champions edisi ke-61, saya diminta harus mengumumkan kemenangan untuk ATM.
Padahal saya tahu (tentunya karena diberitahu oleh TUHAN), bahwa kemenangan ada di fihak Sang REAL.
Tapi mengapa mengumumkan kemenangan untuk fihak ATM? Bukankah saya telah menyebutkan sebelumnya bahwa saya akan membuat pengumuman pemenang Liga Champions dengan "Teori PI" (Pesan Inversus).
INVERSUS itu adalah Bahasa Latin, yang artinya terbalik (atau kebalikan). Misalnya, secara anatomis, appendix (umbai cacing) itu letaknya di perut kanan bawah, dengan menempel di "Caecum".
Tapi, bisa saja terjadi satu "anomali congenital" (kelainan bawaan), yang dalam istilah Kedokteran disebut; "Situs Inversus", di mana letak umbai cacing seseorang bukan di perut sebelah kanan bawah, tapi malah di sisi perut sebelah kiri bawah.
Mungkin nempelnya di "Colon Descendens". Dan walaupun jarang sekali, kasus 'Situs Inversus' ini bisa dijumpai dalam satu orang di antara sekian juta manusia.
Maka ketika saya mengumumkan kemenangan untuk ATM di Liga Champions, itu artinya saya mengumumkan kemenangan untuk Sang REAL. Tapi yang menjadi masalah adalah; Adakah Pembaca yang teliti membacanya? Kaya'nya kagak ada. Makanya saya dihujat di mana-mana. Nasiiib...nasib...!!!
Kini, di mata dunia, thema sentral (thesis) KETURUNAN MATANYA telah gugur. Saya dihujat dan diolok-olok mana-mana. Ini resiko pekerjaan. Resiko dari "Kesaksian Iman". Saya harus menerimanya.
Maka mengenai hasil Euro Cup 2016, kita serahkan saja sepenuhnya kepada Penyelenggaran Ilahi. Que seraa...seraa...!!!
ALLAH sendirilah yang akan mendudukkan Juara Euro Cup 2016 di angka nomor 4 tanpa kita mengetahuinya saat ini. Bukankah angka 4 itu sering disebut sebagai lambang "KURSI TERBALIK?"
Menurut Anda, kira-kira negara manakah yang akan didudukkan TUHAN di angka nomor 4? Mari kita "menghayal sesuka hati kita. Tidak ada Undang-Undang yang melarang kita untuk menghayal.
Namun satu hal yang pasti, juara Euro Cup 2016, yang akan didudukkan TUHAN di KURSI TERBALIK (nomor 4), akan menyebabkan kita melakukan exodus dari MATANYA menuju MATA-RAM, suatu saat.
Lebih baik hari ini menanggung hujatan karena taat kepada Kehendak-Nya Yang Maha Suci. Siapa tahu di balik hujatan itu pahala Ilahi menanti. Saya selalu percaya pada JANJI TUHAN. Bukankah TUHAN mampu menulis lurus dalam garis bengkok?
Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam "Du Hati" dari "Bukit Sulaiman".
TUHAN YESUS memberkati
Bunda Maria merestui
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam dan putih). Amin.

Catatan Kaki;

Berikut ini adalah "Daftar Bilangan Pytahgoras secara lengkap. Siapa tahu ada di antara Anda yang membutuhkannya.

A=1, B=2, C=3, D=4, E=5, F=6, G=7, H=8, I=9, J=600, K=10, L=20, M=30, N=40, O=50, P=60, Q=70, R=80, S=90, T=100, U=200, V=700, W=1400, X=300, Y=400, Z=500.

Jika Anda membutuhkan uraian lengkap mengenai makna Bilangan Pythagoras, Anda bisa membeli sebuah buku bagus berjudul; MISTERI DI BALIK NAMA, karya Drs. Abdul Hadi Susilo.

Tidak ada komentar: