Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 April 2016

SALAH SATU REKTOR DI TIMOR LESTE IKUT MEMAKAN KEKAYAAN SALOMO (SIAPAKAH REKTOR TERSEBUT?)


Apa Hubungan Sepak Bola Dengan Kekayaan Salomo?"

Dalam artikel saya, edisi 22 April 2016, untuk pertama kalinya saya mengangkat isu "KEKAYAAN SALOMO".
Jadi selama saya menuliskan artikel-artikel saya semenjak tahun 2009 hingga April 2016, pertama kalinya, saya sengaja memilih bilangan "22 April 2016", untuk mempublikasikan isu sentral mengenai KEKAYAAN SALOMO.
Tentunya Salomo yang saya maksudkan di sini bukanlah Salomo, tetangga Anda yang mungkin tidak begitu kaya. Atau Salomo rekan bisnis Anda dan seterusnya.
Tapi Salomo yang saya maksudkan di sini adalah "Raja Salomo", anak kandung Raja Daud, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru).
Begitu artikel tersebut terbit, saya dihujani sejumlah pertanyaan;
"Apa hubungan sepak bola dengan kekayaan Salomo?"
"Apa hubungan Liga Champions dengan kekayaan Salomo?"
"Siapakah yang sampai saat ini menyimpan kekayaan Salomo?"
"Di manakah kekayaan Salomo itu disimpan?"
"Apa mungkin kekayaan Salomo masih ada saat ini?"
Demikian dan seterusnya, berbagai pertanyaan bermunculan.
Tanggapan saya terhadap sejuamlah pertanyaan di atas, tidak akan semuanya saya tulis di sini. Tapi Anda dapat membacanya dalam calon novel saya berjudul; DUA BUMI SATU LANGIT, dengan sub judul; "30 Tahun Melacak Jejak Satria Piningit".
Novel tersebut saat ini masih dalam proses penulisan. Banyak informasi menarik dalam novel tersebut. Termasuk di dalamnya, saya menuliskan isu mengenai "lengsernya Presiden RI ke-7 di tengah jalan, karena di telapak tangan Presiden RI ke-7, tidak terdapat lukisan mengenai "Burung Matahari" alias Burung Garuda".

=================================================
"Siapakah Rektor yang telah ikut memakan kekayaan Salomo?"
=================================================
Pada kesempatan ini, isu sensitif yang ingin sekali saya angkat (lemparkan ke publik) adalah; "Salah satu Rektor di TL (Timor Leste) ikut memakan kekayaan Salomo". Isu ini kemungkinan besar akan memancing munculnya sejumlah pertanyaan, di antaranya;
"Jika benar demikian, bahwa salah satu Rektor di TL ikut memakan kekayaan Salomo, maka siapakah Rektor itu?"
Lagi-lagi pertanyaan ini jangan dijawab saat ini. Jawabannya ada dalam novel saya (DUA BUMI SATU LANGIT). Jadi untuk sementara ini, saya melihat tidak ada urgensinya membahas; "Siapakah Rektor di TL yang telah ikut memakan kekayaan Salomo???".
Sementara ini biarkanlah pertanyaan yang lumayan menggoda ini digantung saja dulu. Biarkanlah Anda semua merasa penasaran, terutama mereka-mereka yang saat ini menjabat sebagai Rektor di TL, termasuk di dalamnya Keluarga dari sang Rektor.
"Jika Anda tidak penasaran, bagaimana novel saya bisa laku?"
===============================================
"Dengan apakah TL bertahan setelah kekayaan Timor Gap habis?"
===============================================
Pada suatu hari saya berangkat dari Denpasar menuju Dili menumpang pesawat Batavia (yang sudah tidak beroperasi lagi karena jatuh pailit). Padahal saya suka sekali dengan Batavia. Sayang sekali, Batavia cepat pergi (How poor you are, dearest)
Dalam pesawat saya duduk bersebelahan dengan salah satu penumpang yang mengaku pengusaha dan berasal dari China tapi sudah 10 tahun tinggal di Surabaya (tapi sering mampir ke Bali).
Selama dalam perjalanan, kami berdua ngobrol sebisanya, karena susah sekali berkomunikasai dengan pria China satu ini. Bahasa Indonesia-nya masih sangat kagok. Bahasa Inggris-nya juga pas-pasan. Jadinya komunikasi sangat terbatas.
Rupanya hari itu, untuk pertama kalinya dia mengunjungi Timor Leste. Beliau bertanya; "Airport Dili dan Ngurah itu, besaran mana?"
"Ya besaran Airport Dili lah", saya menjawab sekenanya saja.
"Waaoo...!, kata itu yang keluar dari mulutnya ketika mendengar jawabanku, Airport Dili lebih besar dari Airport Ngurah Rai.
Bagi Anda yang sudah pernah menapakkan kaki di Airport Ngurah Rai dan Airport Dili, Anda bisa bayangkan sendiri, apa yang ada dalam benak orang China satu ini, ketika dengan begitu yakinnya saya mengakatan; "Airport Dili lebih besar dari Airport Ngurah Rai".
Dalam hati, saya merasa sangat-sangat geli. Rasanya mau tertawa ngakak habis, tapi saya mencoba sebisa mungkin menahannya.
Karena saya duduk dekat jendela, saya pura-pura memalingkan wajahku keluar jendela, karena tidak ingin keisenganku (kebohonganku) diketahuinya.
Dia kembali bertanya (mungkin karena saking penasarannya).
"Berarti Timor Leste itu sudah sangat maju ya? Airport Dili itu dibangun Indonesia atau Portugis?"
"Jelas dibangun Indonesia, karena orang Portugis itu tidak mungkin mau habisin duitnya untuk memajukan daerah jajahannya. Coba mas simak baik-baik data sejarah. Semua daerah jajahan Portugis, apakah ada yang sarana infra strukturnya dibagun bangsa Portugis?"
Boro-boro bangun airport yang ukurannya besar. Selama 460 tahun menjajah Timor Leste, orang Timor Leste yang jadi sarjana, jika dihitung pakai jari sebelah tangan, kagak bakalan habis kepakai.
Paling-paling hanya dua jari yang kepakai, yaitu; Ir. Mario Viegas Carrascalao (Gubernur Timor-Timur ketiga) dan Jose Goncalves (Putera sulung Raja Guilherme Maria Goncalves/Gubernur Timor-Timur kedua), yang juga merupakan Keluarga dari Irmaun SABAT (Sang Bangsawan Atsabe), salah satu Pendiri Renetil, Companheiro; Jose Amx Goncalves.
Sekedar mengingatkan saja; "Saya pertama kalinya menyematkan gelar SABAT (Sang Bangsawan Atsabe) kepada Companheiro Jose Amx Goncalves, melalui artikel edisi 4 April 2015.
Jika Anda berminat membaca artikel tersebut, silahkan saja karena artikel tersebut masih ada di sana (maksdunya di laman akun FB Rama Cristo ini).
Kita kembali ke pesawat Batavia. Setelah pesawat menempuh perjalanan sekitar satu jam, pengusaha China itu terlihat ketiduran. Saat pesawat sudah mau mendarat di Bandara Dili, saya membangunkannya.
Begitu pesawat sudah benar-benar mau landing, orang yang baru saja saya "tipu", mencoba melihat keluar jendela. Dia kaget sekali melihat keadaan Bandara Presiden Nicolao Lobato.
"Lho, kok kita mendarat di sini? Ini kok kayak di hutan? Apa darurat ya?"
"Ya, katanya afturnya habis. Jadi terpaksa pilot harus mendaratkan pesawat untuk isi aftur dulu baru kemudian melanjutkan perjalanan", lagi-lagi jawabku sekenanya saja. Namanya orang baru bangun ya ditipu kesekian kalinya juga kagak bakalan tahu.
Saat pesawat sudah benar-benar berhenti, ketika semua penumpang berdiri, mulai membuka kabin untuk mengambil barang-barang mereka, saya melihat wajah China satu ini yang mulai kebingungan.
Saya berusaha sebisa mungkin untuk cepat-cepat berdiri meninggalkan pengusaha itu. Pokoknya sebisa mungkin menjauhinya. Malu kalau terus berada di dekatnya.
Saya langsung keluar dari tempat duduk, membuka kabin, mengambil bawaanku lalu menyusup di antara penumpang yang berdiri berdesakan dan terus melangkah menjauh darinya.
Ketika akan masuk ke ruang antrian untuk cek passport, khan penumpang dibagi dua. Yang Warga Negara Timor Leste pisah dengan WNA (Warga Negara Asing).
Saya sempat-sempatnya menoleh ke barisan antrian WNA. Sialnya pas saya toleh, terjadi "eye contact". Rupanya orang China itu juga sedang menoleh ke arahku. Tatapan mata kami bertemu.
Dia tersenyum lebar sambil mengacungkan tinjunya (tangannya dikepal). Rupanya dia baru sadar kalau dia telah tertipu habis.
Dari kepalan tangannya, barangkali dia ingin berkata;
"Dasar manusia usil. Saya tertipu habis-habisan. Katanya besaran Bandara Dili dibanding Ngurah Rai. Mana..???"
Saya balik tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Tapi jujur, dalam hati saya malu sekali. Maklum saya masih memiliki "rama" alias "rasa malu". Urat maluku belum putus soalnya.
Pesan sederhana yang sebenarnya ingin saya sampaikan dalam kisah (tipu-tipuan) di atas adalah;
"Begitu orang asing mendarat di Bandara Presidente Nicolau Lobato Dili, kesan pertama yang paling menonjol adalah; Timor Leste memang benar-benar NEGARA TERMISKIN di dunia".
Tidak perlu orang bercerita. Dengan melihat kondisi bandara saja, orang sudah tahu bahwa negeri kecil itu memang sangat miskin.
Bayangkan saja, pengusaha China itu sempat-sempatnya melontarkan kalimat kaget; "Lho kok kita mendarat di hutan ya?"
Jujur saja, sejujur-jujurnya, sebagai "orang kelahiran Timor Leste" (saya tidak mengatakan sebagai Warga Negara Timor Leste karena saya sudah tidak lagi diakui sebagai Warga Negara Timor Leste), saya merasa sangat sedih ketika orang asing menggambarkan bandara yang berlabel "Bandara Internasional", kelasnya ternyata hanya selevel "bandara kecil di pinggiran hutan belantara".
Tapi masalahnya, ini fakta. Kita tidak bisa memungkirinya. Pertanyaan sentralnya untuk dijadikan bahan refleksi adalah;
"Setelah minyak di Laut Timor terkuras habis, dengan apa Timor Leste akan "survive" (bertahan) sebagai sebuah bangsa?"
Menurutku satu-satunya jawaban adalah; "KEKAYAAN SALOMO".
Atas alasan itulah, mengapa pada tanggal 22 April 2016, untuk pertama kalinya saya mengangkat isu; KEKAYAAN SALOMO.
Untuk memastikan; "Apakah di Timor Leste benar-benar ada KEKAYAAN SALOMO, kita akan mengetahuinya dari hasil Liga Champions edisi ke-61 yang akan berlangsung di Kota Milan?"
Oleh karena itu, saya mengajak rakyat Timor Leste untuk mengikuti jalannya final Liga Champions. Sehari sebelum laga final, yang akan dilangsungkan di Kota Milan, pada 28 Mei 2016 Waktu Milan Italia atau 29 Mei 2016, Waktu Nusantara, saya akan menerbitkan sebuah artikel untuk memastikan; tim yang akan menjuarai Liga Champions.
Jika ternyata tim yang saya pastikan untuk mengangkat PIALA Liga Champions edisi ke-61 itu gagal, maka isu mengenai KEKAYAAN SALOMO gugur. Dan itu artinya di bawah TANAH Timor Leste tidak tersimpan KEKAYAAN SALOMO, seperti yang saya ketahui.
Tapi jika ternyata tim yang saya pastikan itu benar-benar muncul sebagai juara Liga Champions edisi ke-61, berarti 99% di bawah TANAH Timor Leste ada tersimpan KEKAYAAN SALOMO.
Maka masyarakat Timor Leste sebaiknya mulai menjadikan isu KEKAYAAN SALOMO sebagai WACANA NASIONAL untuk membangkitkan harapan baru bagi Generasi Muda Timor Leste, agar tidak terlalu pesimis menghadapi masa depan Timor Leste.
Pertanyaan krusial yang kiranya perlu dijawab saat ini adalah;
"Apakah munculnya Timor Leste sebagai sebuah negara adalah karena produk kodrat kehendak bebas manusia atau takdir ALLAH?"
Jika jawabannya adalah karena takdir ALLAH, maka dipastikan bahwa KEKAYAAN SALOMO itu benar-benar ada. Karena tidak mungkin ALLAH menghendaki Timor Leste muncul dan eksis sebagai sebuah negara tanpa menyediakan "RAHMAT MATERIAL" guna menopang keberlangsungan negara tersebut???
Tapi sejauh (rahasia) yang saya ketahui adalah;
"ALLAH menghendaki Timor Leste itu muncul sebagai sebuah NEGARA KERAJAAN. Bukan Negara REPUBLIK".

Dengan konstruksi bahasa yang berbeda saya ingin sekali mengatakan; Timor Leste itu tidak lain dan tidak bukan; merupakan kelanjutan DINASTI DAUD. Maka yang harus menjadi Kepala Negara adalah KETURUNAN DAUD.
Ini adalah PENGETAHUAN saya. Tapi bukan OPINI saya. Untuk memastikan bahwa PENGETAHUAN saya tidak keliru, maka sebagaimana sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa;
"Presiden Taur Matan Ruak (TMR) tidak akan mampu menduduki kursi keramat itu sampai 1 Januari 2017. Karena kursi keramat itu adalah KURSI ANAK DAUD. Itu artinya, hukumnya wajib, yang berhak menduduki KURSI ANAK DAUD, haruslah KETURUNAN DAUD yang bergelar; PANGERAN SURYA.
Di manakah PANGERAN SURYA berada saat ini? Untuk memastikan keberadaan PANGERAN SURYA, saya telah menyampaikan usulan untuk melemparkan koin berlambang Ratu Elizabeth II sebanyak 7+7 kali (14 kali), pada 5 Mei 2016.
Hanya saja saya belum tahu, apakah ada kelompok tertentu yang mau mengorganisir lemparan koin tersebut di Kota Dili? Tadinya saya berharap, salah satu sahabat terbaik saya, irmaun Yahudi SB Yahudi, mengorganisir lemparan koin tersebut.
Tapi informasi terakhir yang saya dapatkan dari beliau, katanya ada kemungkinan besar, pada 5 Mei 2016, beliau tidak berada di Dili karena sedang mengadakan perjalanan keluar negeri.
Jika tidak ada, ya sementara biarkan saja keberadaan PANGERAN SURYA menjadi sebuah misteri. Tidak perlu diungkap dulu saat ini.
Faktanya menunjukkan bahwa, orang Timor Leste lebih menghendaki Negara Republik. Tapi sekali lagi, menurut PENGETAHUAN saya, tapi bukan OPINI saya, Negara REPUBLIK itu adalah produk kodrat kehendak bebas manusia. Bukan merupakan kehendak ALLAH.
Maka pertanyaan lanjutannya adalah;
"Mungkinkah ALLAH akan memunculkan KEKAYAAN SALOMO yang tersimpan (tersembunyi) di bawah perut bumi Timor Leste, jika orang Timor Leste masih tetap mempertahankan Negara Republik?"
Untuk itulah saya sengaja mengangkat thema mengenai KEKAYAAN SALOMO dalam rangka ikut meramaikan Liga Champions edisi ke-61 ini. Mengapa thema ini harus diangkat pada Liga Champions edisi ke-61? Nanti saja saya jelaskan dalam artikel mendatang.

Yang perlu dicamkan adalah; Jika ternyata tim yang berhasil mengangkat tropi Liga Champions edisi ke-61 adalah tim yang benar-benar saya pastikan melalui artikel edisi 28 Mei 2016, maka jangan lantas berharap bahwa KEKAYAAN SALOMO akan segera dimunculkan ALLAH untuk dikorupsi habis-habisan oleh para "pencuri" (koruptor) yang saat ini bergentayangan di Timor Leste.
Anda boleh percaya, boleh tidak. Anda boleh menganggap isu ini sekedar sebuah utopia (hayalan) belaka. Tapi sejauh (rahasia) yang saya ketahui, KEKAYAAN SALOMO itu benar-benar ada.
Karena saya TAHU persis (jadi bukan sekedar percaya), bahwa KEKAYAAN SALOMO itu benar-benar ada, maka saya ingin sekali menjadikannya sebagai thema sentral dalam rangka ikut meramaikan Liga Champions edisi ke-61 ini.
Tapi untuk memunculkan seluruh KEKAYAAN SALOMO, ada prasyaratnya, yaitu Timor Leste harus lebih dulu bertransformasi dari Negara Republik menjadi Negara Kerajaan.
Transformasi ini masih membutuhkan satu "fase transisi yang penuh drama" guna merubah Negara Republik menjadi Negara Kerajaan, sebelum ALLAH memunculkan KEKAYAAN SALOMO.
Sebelum mengakhiri catatan kali ini, saya kembali mengulang pernyataan berikut untuk membangkitkan harapan baru bagi Generasi Muda Timor Leste (tapi bukan bagi generasi tua, maaf; yang sudah mulai terciaum "bau tanah").
Bahwa ALLAH itu Maha Pengasih dan Maha Pemurah. Rancangan-Nya kekal dan abadi. Ketika DIA menciptakan baut, DIA pasti tidak akan lupa menciptakan murnya juga. Masa ada baut tanpa mur?".
Semenjak alam semesta ini tercipta, ALLAH telah menetapkan Timor Leste untuk harus muncul guna meneruskan DINASTI DAUD. Maka mungkinkah ALLAH akan membiarkan DINASTI DAUD bangkrut?"
Yang wajib dilakukan oleh orang Timor Leste saat ini adalah;
"Rendahkanlah diri, serendah-rendahnya di hadapan ALLAH. Jangan terlalu tegar tengkuk dan congkak hati dengan terlalu banyak menghitung jasa-jasa kita. Karena ketegaran tengkuk dan kecongkakan hati hanya akan membangkitkan murka ALLAH".
Sejarah masa lalu selalu memberikan pesan bahwa ketika para pahlawan di sebuah negara terlalu banyak menghitung jasa-jasa mereka, karena mereka mengira bahwa mereka adalah "causa prima" atas lahirnya bangsa itu, maka pintu terakhir dari hasil menghitung jasa para pahlawan adalah merupakan pintu gerbang menuju kehancuran bangsa yang massif.
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

Catatan Kaki;
Entah kebetulan atau tidak, selain 4 tim yang lolos ke semifinal, semuanya berasal dari kota yang dimulai dengan huruf "M", uniknya, kalau tidak dibilang aneh, kota yang akan menyelenggarakan partai final juga dimulai dengan huruf "M".
Manchester City berasal dari Kota Manchester di Inggris
Real Madrid berasal dari Kota Madrid di Spanyol
Atletico Madrid berasal dari Kota Madrid di Spanyol
Bayern Munchen berasal dari Kota Munchen di Jerman
MILAN adalah merupakan kota berlangsungnya partai final di Italia.
Sekedar kebetulankah? Anda bebas berpendapat.
Setelah leg pertama semifinal berlangsung, hasilnya, ke-4 tim relatif masih memiliki peluang yang sama untuk lolos ke babak final.
Siapakah tim yang akan benar-benar mengangkat tropi Liga Champions ke-61 ini? Kunjungi akun ini pada 28 Mei 2016.
Sehari sebelum babak final berlangsung, saya akan menerbitkan satu artikel untuk memastikan tim mana yang akan menjadi juara.

Tidak ada komentar: