Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 30 Maret 2016

SATRIO PININGIT MEWARISI DARAH TIGA NEGARA


Pengantar Singkat;
Bagi mereka yang percaya bahwa Satrio Piningit itu benar-benar ada, silahkan baca catatan ini. Sementara bagi mereka yang tidak percaya, sebaiknya tidak perlu membaca catatan ini. Anda hanya akan membuang waktu dan tenaga Anda.

Kalau sudah tidak percaya, tapi masih juga tetap mau membaca catatan yang mengangkat isu tentang Satrio Piningit, itu namanya antara "rasio" dan "rasa", tidak sejalan (tidak sinkron).
Jika ada manusia yang "rasio" dan "rasanya" tidak sinkron, itu namanya manusia aneh yang mengalami "gangguan kepribadian".
Melalui catatan pendek ini, saya hanya mau berbagi sekilas info mengenai "latar belakang" Satrio Piningit. Sebelum melanjutkan, saya mau mengingatkan saja, bahwa gambar atau foto yang saya lampirkan dalam artikel ini, termasuk artikel yang kemarin, bukan karya saya. Tapi saya menemukannya di internet.
Kepada siapapun yang memiliki karya tersebut, saya ucapkan terima-kasih banyak atas karyanya. Karya Anda, yang mendesign MAHKOTA berwarna KUNING EMAS, dengan kata-kata; KEEP CALM and WAITING FOR SATRIO PININGIT, sangat menarik.
ADA DARAH MESIR DALAM DIRI SATRIO PININGIT
Melalui catatan pendek kali ini, saya hanya mau smapaikan saja bahwa dalam diri Satrio Piningit itu, mengalir DARAH TIGA NEGARA. Salah satu di antara 3 negara tersebut, adalah MESIR.
Anda boleh percaya, boleh tidak. Saya hanya menyampaikan PENGETAHUAN saya, tapi bukan OPINI saya. Karena yang saya sampaikan adalah PENGETAHUAN, tapi bukan OPINI, maka saya tidak bisa diadili (dihakimi).
Jika ada di antara Anda yang menghakimi PENGETAHUAN saya, maka Anda sadar atau tidak, Anda sedang menghakimi SUMBER dari PENGETAHUAN saya. Jadi Anda bukan sedang menghakimi saya. Maka hati-hatilah dengan penghakiman Anda.
Pentingkah Anda melakukan penghakiman itu saat ini, sementara segala sesuatunya baru saja dimulai?

BENARKAH SATRIO PININGIT MEWARISI DARAH MESIR?
Jika ada pertanyaan seperti itu, tanpa ragu saya akan menjawab YA. Kalau Satrio Piningit tidak mewarisi DARAH MESIR, mengapa ketika Raja Herodes berencana akan membunuh "Kanak-Kanak YESUS", Malaikat muncul dalam mimpi Santo Yosef (Yusuf), dan meminta kepada St Yosef untuk membawa Kanak-Kanak YESUS beserta Ibu-Nya menyingkir ke Mesir? Mengapa harus menyingkir ke Mesir? Mengapa tidak ke tempat lainnya di Timur Tengah?
Atau apa susahnya ALLAH Yang Maha Kuasa, saat itu memutuskan "mencabut nyawa" Raja Herodes? Jika ALLAH mau, ALLAH bisa melakukan apa saja. Termasuk menghabisi saja si Raja Herodes yang jahat. Lebih praktis. Ketimbang harus meminta St. Yosef capai-capai membawa bayi dengan Ibu-Nya yang masih sangat muda belia, menyingkir jauh-jauh ke Mesir, yang tentunya menempuh satu perjalanan yang sangat-sangat melelahkan???
Tetapi kenapa justeru cara itu (menyingkir ke Mesir) yang harus dipilih ALLAH? Sekedar asal pilihkah ALLAH saat itu? Saya yakin tidak. Artikel ini mungkin tidak akan pernah ada, jika ribuan tahun yang lalu, ALLAH tidak merancang "sejarah penyingkiran Sang MESIAS Agung ke Tanah Mesir".
SUMPAHKU YANG MENJADI BAHAN TERTAWAAN
Bulan Mei 1998, Presiden Soeharto melakukan lawatan kenegaraan ke Mesir. Tapi gara-gara perkembangan politik dalam negeri yang mengancam stabilitas bangsa dan negara, termasuk kerusuhan 12 Mei 1998, akhirnya Pak Harto harus mempersingkat lawatannya di Tanah Mesir dan kembali ke Indonesia pada 13 Mei 1998.
Selang 3 hari setelah Pak Harto kembali ke tanah air, tepatnya Hari Saptu 16 Mei 1998, melalui demo akbar di Kampus Palma Universitas Udayana (Unud), di hadapan ribuan massa yang memadati Kampus Pusat Unud, Jl. PB Sudirman Denpasar Bali, saya menyampaikan pidatoku bertajuk; MISTERI SUPER SEMAR.
Pidatoku yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, saya akhiri dengan "sumpah", yang saya beri label sebagai "S3". Yang dimaksud dengan "S3" di sini, bukan "Pendidikan Doktor". Boro-boro "S3-Doktor". S1 saja kagak beres-beres.
Begitu pidatoku selesai, saya menutupnya dengan mengikrarkan "S3". Xerita lengkap mengenai "S3", sudha beberapa kali saya kisahkan. Jadi tidak perlu saya ualng di sini.
Poin dari "S3" adalah bahwa dalam waktu 5 semenjak S3 diikrarkan, Pak Harto akan lengser, meninggalkan takhta yang telah didudukinya selama 32 tahun.
Apakah ada yang percaya saat itu? Sama sekali kagak. Boro-boro percaya. Yang ada, saya malah diteriaki "orang gila".
Ribuan massa yang sebelumnya mengelu-elukan pidato saya, hanya berselang sekian detik, berubah drastis, berbalik menghujat saya.
"Dasar manusia gendeng (gila). Mana ada dalam waktu 5 hari Pak Harto mau lengser?" Lengser mungkin saja, tapi kalau harus dalam waktu 5 hari, kagak mungkin. No way...!!!"
Tetapi apa yang terjadi 5 hari kemudian? Ternyata, pada Hari Kamis, 21 Mei 1998 (bertepatan dengan Hari Kenaikan ISA ALAMSIH), pagi-pagi sekali Pak Harto sudah menyerahkan map merah (kekuasaan) kepada Pak Habibie?
Di manakah "kekuatan rahasia S3?" Jawabannya sederhana. Karena sejatinya, Sumpah Super Semar, adalah versi lain dari cara saya membahasakan "keseluruhan eksistensi Satrio Piningit".
Sekiranya saja Satrio Piningit itu tidak ada, atau kalaupun ada, tapi tidak mewarisi DARAH MESIR, maka Sumpah Super Semar, tidak akan pernah bertuah. Dan artikel ini tidak akan pernah ada.
Tapi pertanyaannya adalah; "Mengapa Pak Harto lengsernya harus pada 21 Mei 1998? Mengapa bukan pada tanggal lainnya?"
Kata kuncinya ada pada bilangan 515. Kapan-kapan, jika ada waktu, saya akan membuka rahasia yang ada di balik bilangan "515" ini dan hubungannya dengan hari lengsernya Pak Harto.
Poin terpenting dari artikel ini hanyalah ingin mengabarkan bahwa dalam diri Satrio Piningit itu mengalir DARAH 3 NEGARA. Salah satu dari 3 negara tersebut adalah MESIR. Dua negara lainnya jangan dibuka dulu. Belum saatnya berkisah. Karena orang bijak bilang; "Setiap kisah ada masanya. Setiap masa ada kisahnya".
Bagi yang percaya syukurlah. Bagi yang tidak percaya, tunggu saja, setelah GSP benar-benar datang, maka sebaiknya mulailah untuk meninjau kembali "sikap skeptis" (keraguan) Anda.
Semoga catatan ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.
==============================================

CATATAN KAKI;
Lampiran artikel lama;
Berikut ini saya tampilkan kembali artikel yang sudah beberapa kali saya posting di laman ini maupun di blog pribadi saya, untuk sekedar flash back. Bagi mereka yang sudah pernah membacanya, bisa di-skip saja, karena saya copy-paste dari artikel sebelumnya.
*********************************************************************

KENANGAN TAK TERLUPAKAN SAAT PAK HARTO LENGSER
Hari itu, pagi hari, Kamis 21 Mei 1998, bertepatan dengan hari libur nasional (Perayaan Hari Kenaikan isa Almasih) saya masih tertidur lelap di sebuah kamar kos di Jl. Pulau Ambon 28X Sanglah Denpasar.
Saya tinggal satu kamar dengan temanku Clemen Soares. Senang tinggal satu kamar dengan temanku yg satu ini karena orangnya tidak pernah bisa marah. Bawaannya santai, tidak terlalu "ngoyo" menghadapi hidup yang penuh masalah.
Hari itu, saat saya sedang bermimpi indah, tiba-tiba mimpiku terputus, saya kaget dan terbangun karena adanya bunyi keras.
Ternyata bunyi mengagetkan itu dikarenakan temanku Clemen Soares menendang pintu kamar kos, sampai-sampai engsel pintu itu terlepas.
Temanku itu menendang pintu kamar kos sebagai ekspersi untuk melepaskan "ketegangan" yang terpendam selama 5 hari penuh, dalam rangka menunggu hasil SUMPAH-ku.
Begitu saya terbangun, dan belum sempat reda rasa kagetku, Clemen dan teman-teman yg lain sudah ramai-ramai menggendong saya keluar dari kamar menuju beranda Pak Made (induk semang) untuk menonton TV.
Waktu itu sudah pukul 10 lewat. Acara TV saat itu sedang menayangkan "peristiwa bersejarah", di mana Presiden Soeharto memutuskan LENGSER dari kursi RI Satu yang telah didudukinya selama 32 tahun dan menyerahkan kekuasaan kepada Pak Habibie.
Saat itu, saya yg sudah duduk di depan TV, masih belum percaya dengan apa yg saya saksikan di TV. Saya masih belum yakin, apakah yang saya saksikan di TV itu nyata atau sekadar mimpi.
Saya mencoba mencubit pahaku. Ternyata sakit. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Teman-temanku dengan ekspresi penuh kegembiraan yang terpancar dari wajah-wajah polos mereka, mengucapkan selamat atas bertuahnya SUMPAH-ku, “Sumpah Super Semar”. Saya menerima ucapan selamat dari teman-teman sambil mengucapkan terima-kasih.
Hari itu di satu sisi, saya sangat-sangat “happy”. Benar-benar “happy” habis sampai adrenalinku seakan-akan bertumpah ruah, karena “Sumpah Super Semar” benar-benar bertuah. Tapi di sudut hatiku yang lain, ada rasa cemas. Sangat-sangat cemas memikirkan keselamatanku.
Saya memikirkan sesuatu. Tiba-tiba terlintas di benakku; "Tongkat Ular Kuning " yang diserahkan Eyangku Musa, sebelum Beliau tewas tertembak pada malam na'as itu.
Saya tidak lagi konsentrasi menonton TV, karena rekan-rekan sesama "Aktivis Mahasiswa Reformasi” yang tergabung dalam wadah Pospera (Posko Perjuangan Rakyat) mulai berdatangan ke Pulau Ambon 28X untuk memberikan ucapan selamat atas bertuahnya S3 pada 5 hari lalu.
Tapi di antara tamau-tamu yg berdatangan, ada yang sama sekali tidak saya kenal. Wajah mereka sangat asing. Firasat saya mulai tidak enak. Saya mencemaskan kalau-kalau sesuatu yang serius akan terjadi. Keselamatanku terancam.
“S3" memang bertuah. Pak Harto telah lengser. Tapi belum tentu sayanya akan aman dan selamat dengan lengsernya Pak Harto.
Saya harus segera meninggalkan tempat ini”, gumamku dalam hati.
Saya membisikkan sesuatu kepada temanku Clemen Soares, satu-satunya orang yang paling saya percaya di antara teman-teman yang lain. Temanku itulah yang selama 5 hari penuh tekanan, pasca saya mengikrarkan S3, selalu mendukungku, bahwa S3 akan bertuah. Dan akhirnya memang itu yang terjadi.
Setelah berbisik kepada Clemen, saya berdiri, mohon pamit pada teman-teman dengan alasan mau mandi dulu. Saya masuk kamar, cepat-cepat mandi. Lalu packing (berkemas). Saya memasukkan pakaian ala kadarnya ke sebuah tas kecil (tas ransel).
Saya memeriksa dompetku. Ternyata cukup untuk bisa melarikan diri dari Denpasar menyeberang ke Pulau Jawa. Saya telah menarik semua sisa uangku dari tabungan beberapa hari sebelumnya sebagai persiapan amankan diri.
Saya keluar dari kamar, berjalan melewati teman-teman yang sedang keasyikan menonton acara Penyerahan Kekuasaan yang masih berlangsung. Saya mohon pamit mau keluar sebentar cari “modal” dan akan segera kembali untuk merayakan bertuahnya Sumpah Super Semar bersama-sama rekan-rekan sesama Mahasiswa Aktivis Reformasi.
Mereka tersenyum mendengar kata-kataku. Ada yang senyumnya tulus, tapi ada juga yang tidak, terutama wajah-wajah asing yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya, dengan tongkrongan yang beda.
Mereka percaya begitu saja pada kata-kataku. Wajahku yang tirus, polos dan memelas, membuat orang-orang gampang percaya pada kata-kataku. Meskipun sebenarnya, saya tidak polos-polos amat. Akal bulusku terlalu banyak. Tapi akal bulusku tidak untuk mencelakakan siapapun. Hanya sekadar untuk menyelamatkan diri.
Mereka mungkin berpikir; "saya akan segera kembali untuk merayakan bertuahnya Sumpah Ular Kuning dari Bukit Sio(n)”. Tidak tahunya, saya malah kabur menghilang, mengamankan diri ke Pulau Jawa!
Saya meninggalkan kerumunan manusia di Pulau Ambon 28X Sanglah. Di Jl. Teuku Umar, saya menyetop taxi. Ya, saya naik taxi biar lebih cepat mencapai terminal Ubung, terminal antar kota (Jawa-Bali). Tiba di Ubung, saya memutuskan naik “bis estafet”.
Tiba di penyeberangan Gilimanuk, saya turun dari bis dan pindah naik kapal feri. Saya tiba di Ketapang Banyuwangi dengan aman.
Di Ketapang saya ganti naik bis estafet. Saya meneruskan perjalananku (lebih tepatnya pelarianku) dengan tujuan Surabaya. Pada malam harinya, saya berhasil tiba dengan selamat di Surabaya, tepatnya Terminal Bungurasih Surabaya, satu terminal yang tidak pernah tidur. Selalu ramai 24 jam.
Saya benar-benar merasa sangat lelah. Saya memutuskan mandi di Terminal Bungurasih. Karena di sana ada kamar mandi (ala kadarnya) yang disediakan bagi yang membutuhkan untuk mandi tapi dengan syarat harus bayar Rp 2000.-
Selesai mandi, saya makan malam ala kadarnya di terminal. Sekadar ganjal perut. Selesai makan, saya booking ticket bis malam; Surabaya-Jogja. Malam itu saya meninggalkan Surabaya menuju Jogjakarta.
Tiba di Jogjakarta saya sempat “nginap” di sebuah penginapan murah, "berkelas "melati". Nama penginapan itu juga Melati. Saya sengaja pergi ke Jogja karena ada janji sebelumnya dengan teman lama yang, orang Jawa yang sangat-sangat baik.
Pada keesokan harinya saya meneruskan perjalananku menuju Sleman (konon nama Kabupaten Sleman diadopsi dari nama Sulaiman alias Salomo, Raja paling kaya dalam sejarah peradaban manusia, yang Raja Sulaiman ini, merupakan Anak Kandung Raja Daud, yang dihormati sebagai Pendiri Bangsa Israel).
Dari Sleman saya meneruskan perjalananku menuju Kecamatan Batu Gamping. Dari Batu Gamping, saya sewa ojek menuju Desa Bale Catur. Dari Bale Catur saya teruskan perjalananku menuju Dusun Temuw Lor. Di Dusun Temuw Lor saya menginap di tempat seseorang yang pekerjaaanya menjaga sebuah “Makam Suci”.
Selama 3 hari saya tinggal bersama "penjaga makam suci itu".
Makam suci itu masih ada hubungan erat dengan "Darah Majapahit". Setelah itu saya meninggalkan Dusun Temuw Lor kembali ke Desa Bale Catur, kembali ke Batu Gamping, terus ke Sleman dan seterusnya sampai saya tiba kembali di Surabaya pada 27 Mei 1998.
Saat tiba di Surabaya, saya maunya kembali ke Denpasar. Tapi saya memperoleh “mimpi aneh”. Malaikat RAFEL muncul dalam mimpi saya dan menyampaikan pesan agar saya jangan kembali dulu ke Denpasar, karena Denpasar belum aman. Masih banyak orang yang mencari saya karena mereka mengincar “Tongkat Ular Kuning”.
Saya dianjurkan St. Rafael untuk mengungsi ke Ujung-Pandang (saat ini telah ganti nama jadi Makassar). Tanggal 28 Mei 1998, saya meninggalkan Bandara Juanda Surabaya terbang menuju Ujung-Pandang. Di Ujung-Pandang saya tinggal di Wisma Rama (Asrama Mahasiswa Kristen) yang terletak di Jl. Sunu Ujung-Pandang Sulawesi Selatan.
Selama 2 hari di Ujung-Pandang, saya meng-aman-kan diri di Pulau SAMALONA bergantian dengan Pulau KHAYANGAN (dua pulu kecil yg terletak di tengah laut, tapi masih sangat dekat dengan Kota Ujung-Pandang). Pulau Samalona memiliki pemandangan yg sangat indah karena terkenal dengan PASIR PUTIH-nya.
Saya sedikit penasaran dengan nama “Samalona’ Ini. Karena frasa Samalona dalam Bahasa Tetun, Bahasa Nasional Timor Leste, artinya; “menginjak terpal”. Atau menginjak selimut.
Tanggal 30 Mei 1998, saya kembali ke Denpasar. Tanggal 31 Mei 1998 ada dialog (pertemuan) antara Mahasiswa IMPETTU Bali dengan Rev. Romo Filomeno Jacob,SJ, bertempat di Komsos St. Yosef Denpasar.
Pada Jum'at 5 Juni 1998, saya dan satu rombongan kecil (di antaranya Ibu Negara Timor Leste saat ini, Dona Isabel Ferreira) meninggalkan Denpasar dengan bis menuju Banyuwangi. Dari Banyuwangi kami naik kereta api menuju Jogjakarta.
Pada keesokan harinya, Minggu, 7 Juni 1998, kami mengikuti Perayaan Ekaristi di Asrama Mahasiswa Tim-Tim yang terletak di Jl. Kaliurang KM 7 Jogja. Missa hari itu dipimpin oleh Almarhum Romo Mangun. Hari itu Romo Mangun, di tengah-tengah homilinya, sempat menitikkan air mata karena alasan-alasan tertentu.
Pada hari Rabu, 10 Juni 1998, kami meninggalkan Jogja, menumpang kereta api menuju Jakarta dengan tujuan utama untuk mengikuti "Demo Akbar" yang terkenal dengan nama; "Demo Deplu" pada Jumat, 12 Juni 1998. Dalam Demo Deplu itulah, lahir apa yang saya sebut; “Sumpah Referendum”.
Benar-benar sebuah perjalanan (pelarian) yang sangat-sangat melelahkan. Saya mengakhiri kisah pelarianku pada 17 tahun yang lalu sampai di sini.
Saat ini saya sedang menjalani PUASA VVV di Indonesia. Puasa VVV sudah memasuki tahun ke-12 karena saya memulainya dari tahun 2003. Salah satu tujuan utama melakukan PUASA VVV adalah untuk “membayar nazarku” kepada ALLAH Yang Maha Kuasa, karena telah memberkati sumpahku, “Sumpah Super Semar”, sehingga sumpah itu bertuah pada hari ke-5. Seandainya saja “S3" tidak bertuah, maka artikel ini tidak akan pernah ada.
Terima-kasih banyak saya sampaikan kepada rekan dan sahabat yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca catatan ini. Semoga TUHAN YESUS KRISTUS, Putera ALLAH Yang Maha Pengasih, Hakim Agung Akhir Jaman, yang akan mengadili seluruh mahkluk, memberkati kita semua (hitam & putih, Indonesia & Timor Leste). Amin.

Tidak ada komentar: