Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 19 Maret 2016

PESAN ILAHI DI BALIK "DARAH PIETA" DI PULAU BALI



"Mengapa SBY (Sang Bangsawan Yahudi) harus menjadi orang pertama yang mengetahui Identitas Presiden Timor Leste ke-6?"



Tanggal 5 Maret 2016 saya memposting satu artikel. Dalam artikel tersebut saya sampaikan sekilas info bahwa nama Presiden Timor Leste ke-6 telah saya beritahukan kepada temanku SBY (Sang Bangsawan Yahudi). Padahal Pilpres Timor Leste masih setahun lagi (Pilpres digelar 2017).

Begitu artikel tersebut diterbitkan, banyak sahabat yang menanyakan; "Mengapa rahasia nama Presiden TL ke-6 hanya disampaikan kepada SBY? Mnegapa yang lain tidak diberitahu?"
MISTERI DI BALIK DARAH PIETA
Pada tahun 2010 saya mengedarkan satu makalah yang cukup tebal (ada 11 bab). Mereka yang memiliki makalah tersebut, boleh membacanya kembali saat membaca artikel ini.
Makalah tersebut berjudul; XANANA WITHOUT BANANA IS FACELESS. BANANA WITHOUT XANANA IS LANDLESS.
Anda mungkin merasa agak janggal membaca judul makalah tersebut di atas. Terutama tentang frasa "BANANA". Frasa "Banana" yang saya maksudkan dalam kalimat judul tersebut, adalah sebuah bentuk "simbolisasi". Bukan sekedar "banana-bananaan". Apalagi jika diplesetkan menjadi; Timor Leste adalah Republica Banana".
Dari segi pemilihan "dixi" (kosa kata), penggunaan frasa "Banana" dan "Xanana", sengaja saya pilih dengan alasan karena adanya kemiripan "homophone" (kemiripan bunyi).
Xanana & Banana, kedengarannya lebih indah di telinga, dapat menggetarkan kalbu. Secara leteral juga sedap dipandang mata, kalau menggunakan frasa "Banana & Xanana" ketimbang "Xanana & pisang". Banana adalah Bahasa Portugis, yang artinya pisang.
"Banana" atau "pisang", diterjemahkan ke Bahasa Tetun (Bahasa Persatuan Timor Leste), artinya HUDI. Nah, begitu membaca frasa HUDI, maka terasa semakin dekat ke frasa YA-HUDI.
Sepertinya antara HUDI dan YAHUDI memiliki hubungan "kekerabatan" yang kuat. Kedua frasa tersebut menghasilkan satu "fibrasi cosmic", yang bersifat sinergis, tapi bukan antagonis. Inilah yang saya maksudkan dengan; "simbolisasi" itu.
Kini mulai muncul titik terang mengenai makna yang sengaja saya letakkan di balik kalimat judul; XANANA WITHOUT BANANA IS FACELESS. BANANA WITHOUT XANANA IS LANDLESS.
Makna sebenarnya dari kalimat judul tersebut adalah;
XANANA TANPA YAHUDI TIDAK MEMILIKI IDENTITAS. YAHUDI TANPA XANANA TIDAK MEMILIKI TANAH AIR.
Jadi frasa berbahasa Inggris FACELESS itu dapat diterjemahkan sebagai; TANPA IDENTITAS. Jangan diterjemahkan; "Pak Xanana tidak memiliki muka". Nanti saya dipecat lagi sebagai Warga Negara Timor Leste. PD (Partido Democratico) yang saya tahu persis sangat loyal kepada Xanana saja, dipecat dari koalisi. Apalagi saya.
Pertanyaannya kini menjadi; "YA-HUDI yang mana yang tidak memiliki TANAH AIR, jika tanpa seorang Xanana?"
Jika Anda ada waktu, silahkan baca kembali artikel edisi 17 Juli 2015 di laman ini. Di sana, di artikel tersebut, ada foto terlampir yang di dalamnya ada 8 orang (4 orang Staf Internasional asal Canada, 1 orang MLO/Anggota Marinir Thailand, 1 orang Indonesia dan 2 orang Timor Leste).

Foto tersebut dibuat ketika saya direkrut UNAMET sebagai "local staff", untuk menjalani fungsi sebagai interpreter dalam rangka Referendum 1999 (UNAMET = United Nations Mission for East Timor).
Foto tersebut dibuat pada HUT INTEGRASI yang ke-23, tepatnya tanggal 17 Juli 1999 di Renon Denpasar Bali. Yang mengambil foto tersebut Kolonel Arifin dari Malaysia, salah satu staf internasional PBB, yang saat itu ditugaskan UNAMET sebagai MLO = Military Liaison Officer/Penghubung Militer, di TPS Renon Denpasar Bali.
Saat foto itu akan dibuat, saya sengaja berdiri sejajar (garis lurus) dengan dua POHON HUDI di belakang saya. Ketika Kolonel Arifin meminta saya menggeser, saya menolak.
"Jika saya mau diikutsertakan dalam foto, maka saya harus berdiri sejajar (garis lurus) dengan dua POHON HUDI yang di belakang saya. Kalau tidak, kalian saja yang foto, saya tidak perlu ikut".
Nah, untuk membuktikan bahwa di NUSANTARA ini ada TANAH AIR YAHUDI, maka perlu ada "verfikasi". Jika di antara Anda, ada yang tidak setuju dengan HIPOTHESA (spekulatif) ini, silahkan Anda membuktikan secara terbalik dengan melakukan "falsifikasi".
Jadi makna sejati dari foto itu, di mana tepat di belakang saya, terlihat ada dua POHON HUDI, melambangkan (mengandung pesan) bahwa di bumi ini ada "DUA TANAH AIR YAHUDI".
Kedua TANAH AIR YAHUDI tersebut, yang satu ada di TIMUR TENGAH. Dan yang satu lagi ada di NUSANATRA ini. Anggaplah ini sebagai sebuah HIPOTHESA (spekulatif).
Verifikasi untuk membuktikan bahwa di NUSANTARA ini ada TANAH AIR YAHUDI, boleh dimulai dari "hulu", boleh juga dimulai dari "hilir". Saya memilih memulai verfikasi dari "hilir". Karena itulah sejak tahun 2012, saya menyematkan gelar SANG BANGSWAN YAHUDI kepada salah satu teman terbaikku Yahudi SB Yahudi.
Pertanyaannya adalah; "Atas dasar apa, saya menyematkan gelar SBY kepada temanku tersebut, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bandara Internasional Nicolau Lobato Dili?"
Atau pertanyaan tersebut di atas dibuat dalam bentuk lain;
"Layakkah gelar SANG BANGSAWAN YAHUDI disematkan kepada Putera Sulung dari Adjunto LAIS, salah satu tokoh senior Fretilin/letingnya Pak Mari Alkatiri, yang dieksekusi (ditembak mati) Anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia), pada tahun 1979?"


PESAN ILAHI DI BALIK DARAH PIETA
Dalam makalah XANANA WITHOUT BANANA IS FACELESS. BANANA WITHOUT XANANA IS LANDLESS, di salah satu babnya, saya berkisah mengenai misteri DARAH PIETA di Pulau Bali.
Selain melalui makalah tersebut, juga melalui laman akun FB ini juga saya pernah berkisah mengenai DARAH PIETA. Yang saya maksudkan dengan DARAH PIETA di sini adalah, di Bali, tepatnya di sebuah wilayah, dengan nama wilayah dimulai dengan huruf "J", ada sebuah PIETA aneh. Pieta aneh itu mengeluarkan darah (saking banyak darah yang keluar, darah itu mengalir membasahi bawah kolong meja di mana Pieta tersebut disimpan).
Huruf "J" yang merupakan inisial wilayah di mana Pieta aneh tersebut berada, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, akan paralel (setingkat sama) dengan nilai numerik dari frasa BANGSA YAHUDI, yakni sama-sama menghasilkan bilangan 763.

Dengan demikian, jika saya menggunakan "bahasa numerologis", maka dapat saya katakan bahwa; Pieta aneh tersebut ada di wilayah bernama BANGSA YAHUDI yang ada di Pulau Bali.

Pertanyaan menggodanya adalah; "Apakah dengan demikian maka BALI adalah bagian dari BANGSA YAHUDI? Belum saatnya membahas pertanyaan ini. Kita tunggu dulu setelah adanya GEMPA.

Saya pertama kali melihat Pieta aneh tersebut pada tanggal 17 Oktober 2009, sebagaimana sudah pernah saya kisahkan.
Semenjak saya melihat Pieta aneh tersebut, saya mengalami serangkaian kejadian aneh yang sulit dicerna dengan kemampuan logika manusia yang terbatas.
Dari serangkaian kejadian aneh tersebut, membawa saya tiba pada satu kepastian bahwa ternyata Pieta aneh yang mengeluarkan banyak DARAH tersebut, membawa PESAN ILAHI, bahwa di Nusantara ini ada DD (Darah Daud) secara biologis (Keturunan Daud secara biologis), yang diwarisi dari DARAH SALOMO (Anak Kandung Raja Daud).
Pertanyaannya adalah; "Nusantara ini terlalu luas. Di Nusantara yang manakah ada Darah Daud secara biologis yang diwarisi dari DARAH SALOMO?"
"Banyak jalan menuju Roma". Ada banyak cara untuk melacak keberadaan "Darah Daud" secara biologis di Nusantara ini. Salah satunya pelacakan melalui Ilmu Bilangan.
Ternyata dari perspektif Ilmu Bilangan, jika frasa DARAH PIETA dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, nilai numerik yang muncul, paralel dengan nilai numerik dari frasa TIMOR, yakni sama-sama menghasilkan bilangan "269".
DARAH PIETA = 269
TIMOR = 269.
Selain itu, ternyata antara frasa SALOMO & TIMOR, sama-sama menghasilkan nilai numerik 75, jika dikonversikan menurut Bilangan Latin. Jadi SALOMO = TIMOR = 75.
Atas alasan (numerologis) itulah, saya mengarahkan perhatian saya ke Pulau TIMOR. Bahwa Darah Daud secara biologis yang diwarisi dari DARAH SALOMO itu ada di Pulau TIMOR.
Kali ini saya fokus TIMOR LESTE karena sejumlah alasan yang belum saatnya dijelaskan. Tapi ini tidak menutup kemungkinan bahwa "Darah Daud" secara biologis, juga ada di wilayah lain, selain TIMOR LESTE.
Atau bisa juga ada yang berpendapat; "Darah Daud" yang di Timor Leste itu PALSU. Yang asli itu ada di sini. Atau di sana. Si ini atau si itu. Silahkan saja diajukan. Semuanya bebas dan terbuka
Bayangkan saja, Raja SALOMO, yang merupakan Anak Kandung Daud, memiliki 700 isteri bangsawan, sebagaimana dapat dibaca di Perjanjian Lama (Kitab 1 Raja-Raja, pasal 11, ayat 3).
Yang mempunyai satu isteri saja, kadang keturunanya tidak pernah habis sepanjang jaman, apalagi yang mempunyai isteri sebanyak 700. Apalagi jika "turunan" itu berurusan dengan JANJI TUHAN. Maka keturunan itu akan terus eksis hingga Akhir Jaman.
Untuk itu, jika ada fihak lain yang menyatakan bahwa di wilayah lain juga ada "Darah Daud" secara biologis, silahkan saja Anda ajukan, tentunya melalui "pembuktian bertingkat" yang secara iman, secara moral, maupun secara cosmis, bisa dipertangguang-jawabkan .
Pertanyaannya adalah; Di Timor Leste itu ada lebih dari satu juta manusia. Bagaimana dapat menemukan Darah Daud? Apakah perlu dilakukan tes DNA? Tes DNA dilakukan jika ada "komparatornya". Kalau tidak ada komparator, bagaimana melakukan tes DNA?
Kita bisa meminta bantuan (bimbingan) ROH KUDUS. Di Timor Leste saat ini ada 65 wilayah Kecamatan. Dulu pada jaman Portugis maupun pada jaman Indonesia, hanya ada 64 Kecamatan.
Dari semua Kecamatan tersebut, setelah saya inventarisasi, saya hanya menemukan satu Kecamatan yang nilai numeriknya = ANAK DAUD = 57, yaitu; Kecamatan MAUBARA.
ANAK DAUD = 57
MAUBARA = 57.
Itu artinya; Darah Daud bisa ditelusuri jejaknya dari Kecamatan MAUBARA. Kalau ada orang Timor Leste yang yakin bahwa di Kecamatan lain juga ada Darah Daud, silahkan ajukan saja.
Pertanyaannya; "Di Maubara itu ada ribuan manusia. Siapa sebenarnya, dari ribuan manusia itu yang merupakan Darah Daud?
Lagi-lagi saya kembali merujuk ke PIETA aneh. Ternyata frasa PIETA, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, menghasilkan nilai numerik; "175".
PIETA; P=60, I=9, E=5, T=100, A=1. Total = 175.
Nah, dari tiga digit angka ini (175), kita bisa jadikan sebagai "hilir" (point entry = pintu masuk) untuk menelusuri sebuah "lorong yang sangat panjang" yang sangat-sangat gelap, guna menemukan; "Siapa sebenarnya Darah Daud yang diwarisi dari Darah Salomo?
Setelah melalui satu penelusuran yang panjang dan melelahkan, akhirnya saya menemukan satu referensi tertulis yang sangat sahih, yakni buku hasil karya; Yang Mulia; Uskup Mgr. Dom Carlos Filipe Ximenes Belo,SDB, Pemenang Nobel Perdamaian 1996.
Buku berbahasa Portugis, berjudul; OS ANTIGOS REINOS DE TIMOR LESTE (yang berisi kisah raja-raja jaman dulu di Timor Leste), yang diterbitkan Diosese Baucau, tahun 2011, membawa saya tiba pada satu kesimpulan, untuk tidak sedikitpun ragu, menyematkan gelar "Sang Bangsawan Yahudi", kepada Putera Sulung Adjundo LAIS, sejak tahun 2012.
Jika Anda di rumah, memiliki buku tersebut, silahkan baca topik tentang MAUBARA, dari halaman 236 sampai 241. Berdasarkan sejumlah dokumen tertulis lainnya yang saya miliki saat ini, bahwa sejatinya yang menjadi Raja Maubara yang asli itu, adalah Dom JOSE DOS SANTOS, leluhurnya temanku Yahudi SB Yahudi.
Saya tidak dibayar mahal oleh temanku SBY untuk mengeluarkan pernyataan ini secara subyektif. Kebenaran yang didirikan di atas hasil SUAP, tidak akan berumur panjang.

Coba Anda konversikan nama; JOSE DOS SANTOS ke dalam Bilangan Latin. Pasti hasilnya paralel dengan "175" (yang juga merupakan simbol Bilangan PIETA).
Nah, bertitik tolak dari sinilah (dari Bilangan PIETA 175 ini), saya ingin sekali menjadikannya sebagai sebuah THESIS dalam rangka ikut meramaikan PILPRES Timor Leste 2017.
Oleh karena itulah, pada 5 Maret 2016, saya telah menyampaikan NAMA Presiden Timor Leste ke-6 kepada Yahudi SB Yahudi, orang pertama yang saya pilih untuk mengetahui "rahasia" tersebut.
Jadi pemilihan SBY sebagai "orang pertama" yang mengetahui ID(entitas) Presiden Timor Leste ke-6, bukan karena hasil KKN.
"Bagaimana jika ternyata, NAMA yang muncul sebagai Presiden Timor Leste ke-6 bukanlah NAMA yang telah saya setorkan ke SBY pada 5 Maret 2016?"
Jika itu yang terjadi, maka selain DARAH PIETA tidak memiliki "Pesan Teologis", juga gelar BANGSAWAN YAHUDI yang telah saya sematkan kepada Putera Sulung Adjunto LAIS harus dicabut pasca hasil Pilpres ditetapkan secara defenitif. Tentunya yang dicabut hanya YAHUDI-nya, bukan BANGSAWAN-nya, karena memang dalam diri temanku itu benar-benar ada DARAH BANGSAWAN.
Pertanyaan lebih lanjut adalah; "Apakah jika tenryata Presiden Timor Leste ke-6 yang muncul adalah benar-benar nama yang telah saya sampaikan kepada temanku Yahudi SB Yahudi, maka apakah itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa benar-benar ada DARAH DAUD secara biologis di Nusantara ini?"
Tentu tidak. Perlu ada SATNDARISASI lebih kanjut. Masih akan ada serangkaian "pembuktian bertingkat" di masa depan yang sangat panjang dan melelahkan, sampai mencapai puncaknya yang berhubungan erat dengan isu konflik PALESTINA-ISRAEL. Jadi bukan hanya berhenti di Pilpres 2017.


Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Selamat berkahir pekan bersama Keluarga tercinta. Selamat merayakan SABAT Suci bagi mereka yang merayakannya.
Semoga TUHAN YESUS Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: