Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 02 Maret 2016

PAUS TIDAK MENGUNJUNGI TL BUKAN KARENA TULISANKU TAPI KARENA KONSTITUSI TL YANG MENGHARAMKAN NAMA ALLAH



Pada hari Selasa, 1 Maret 2016, seorang sahabat FB'er yang merupakan salah satu Pembaca setia artikelku, mengirimkan pesannya via inbox, dengan menuliskan teks dalam Bahasa Tetun, sebagai-berikut (saya copy-paste langsung);


=================================================
Ola maun dkl?? Artikel ikus n sei hlo igreja roma cap maun nudar bida'a dunik krik?? Hnesan uluk ita rua sempre koalia
Ema nbe kontra igreja nia dutrina sempre tau cap bida'a.
Maun berita TVTL ohin fo sai katak stado timor PM RUI aranka ba vaticano atu koalia ho Papa fransisco kona bijita papa mai timor
Tuir maun nia hnoin papa sei simu undangan stado timor nian n k lae? Sei lembra maun nia artikel uluk katak:
Otoritas roma mos akompanha maun nia artikel sira n nbe koalia makas kona ba hari sabat. Agr maun nia artikel sira n koalia momos hnoin nbe kontradis ho hnorin Roma nian Liu-Liu hari sabat nbe igreja Roma muda ba dominggo.
==============================================

TERJEMAHAN;

Ola kakak, apa khabar? Artikel terakhir ini akan menyebabkan Gereja Roma mencap kakak sebagai bida'ah. Sebagaimana sudah beberapa kali kita bicarakan, orang-orang yang menentang doktrin Gereja (Katolik Roma), selalu dicap bida'ah.

Kakak, berita TVTL hari ini mengabarkan bahwa PM Rui berangkat ke Vatican untuk berbicara dengan Paus Fransiskus mengenai kunjungan Paus ke Timor (Leste). Menurut kakak, kira-kira Paus akan menerima undangan Negara Timor Leste atau tidak? (Saya) masih teringat dengan artikel kakak yang dulu.

Otoritas Roma juga mengikuti artikel-artikel kakak, terutama yang dengan "nada keras" membicarakan isu Sabat. Sekarang artikel kakak secara terang-terangan menyampaikan ida-ide yang bertentangan dengan doktrin Roma, terutama (pengudusan) Hari Sabat yang dirubah Gereja Roma menjadi (Hari) Minggu.



TANGGAPAN SAYA ALA KADARNYA

Pertama;

Khabar saya baik-baik saja. Baik untuk ukuran "seorang musafir" (diak tuir ema lao rai, laos diak tuir ema rai nain). Seorang musafir, biasanya 3 hari makan satu kali. Bukan satu hari makan tiga kali. Karena itulah mengapa wajah seorang musafir itu tirus (pode ser tamba terus mak barak liu). Bukan chubby seperti wajah seorang pejabat. Perut seorang musafir itu kempes, bukan buncit menggelembung (penuh lemak) seperti perut seorang pejabat.

Kedua;

Mengenai; apakah Otoritas Gereja Katolik Roma akan mencap saya sebagai seorang bida'ah, saya akan dengan senang hati menerima cap tersebut. Karena saya lebih memilih taat kepada "Perintah ALLAH", ketimbang taat kepada "perintah manusia".

Yang namanya keselamatan itu datang dari ALLAH. Bukan datang dari manusia. Seseorang masuk Surga atau tidak, hanya KRISTUS YESUS yang memiliki hak prerogatif untuk memutuskannya. Bukan manusia, termasuk bukan pula seorang Paus dan jajarannya (Kardinal, Uskup, Imam Paroki dan seterusnya).

Seseorang yang beriman secara dewasa, tidak dibenarkan mewakilkan, apalagi "mempercayakan keselamtannya" (masuk Surga atau tidak) ke tangan orang lain, siapapun orang itu, termasuk seorang Paus sekalipun.

Manusia harus memahami dan kemudian menyadari, untuk selanjutnya mempercayai dengan segala kekuatan akal budinya, bahwa keselamatan hanya datang dari ALLAH. Hanya ALLAH satu-satunya sumber keselamatan manusia. Maka tidak dibenarkan, kita mempercayai bahwa keselamatan kita terletak di tangan orang lain, walau sesuci dan sekuasa apapun orang itu.

Ketika ALLAH memanggil Nabi Musa naik naik Gunung Sinai untuk menerima Perintah-Nya yang jumlahnya 10, tidak satupun dari 10 Perintah ALLAH itu, yang menyebutkan perintah untuk menguduskan Hari Minggu.

Di sana, pada Perintah ALLAH yang berada di urutan 4, ALLAH memerintahkan manusia untuk menguduskan Hari SABAT (Loron SABADO). Bukan Hari Minggu. Anda bisa membaca sendiri 10 Perintah ALLAH dalam teks dalam foto terlampir.

Ketiga;

Pada Februari 1994, ketika ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya memanggil saya datang ke Bukit Sio(n), yang terletak di Kaki Gunung Ramelau, untuk memberkati Program CATUR MOBILISASI, di sana, ALLAH berbicara dengan suara-Nya yang terdengar bagaikan desau air bah, sambil mengacungkan Lengan Kanan-Nya, dan menyatakan bahwa "TANAH Timor itu (tanpa Leste) adalah TANAH YAHUDI.

Maka wajib hukumnya, siapapun yang hidup di atas TANAH YAHUDI, harus menguduskan Hari SABAT, sesuai dengan PERJANJIAN KEKAL yang telah ALLAH adakan dengan nenek moyang orang Yahudi. Dan ALLAH tidak akan mungkin mengingkari Perjanjian Kekal itu dengan menghapus Hukum ke-4 tersebut hingga Akhir Jaman, di mana KRISTUS akan kembali sebagai Hakim Agung".

Bacalah Kitab Suci dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Adakah di sana, Anda menemukan satu ayat saja, ALLAH memerintahkan manusia untuk menguduskan Hari Minggu?

Atas alasan itulah mengapa saya "getol" membicarakan mengenai "pengudusan Hari SABAT". Tapi jangan mengira saya ini seorang nabi. Saya sudah berkali-kali mengingatkan Pembaca artikel saya, bahwa saya bukan nabi, bukan orang suci, bukan Teolog, bukan Ahli Kitab Suci, bukan peramal, bukan paranormal, bukan cenayang, bukan tukang tenung, apalagi dukun. Saya hanyalah seorang "mistikus" yang tidak menempati kelas sosial terhormat.

Keempat;

Mengenai kunjungan Perdana Menteri Rui Maria de Araujo (kakak tingkat saya di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali), ke Vatican untuk membicarakan (mengundang) kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Timor Leste, saya tidak tahu, apakah Bapa Suci akan mengabulkan permintaan Pemerintah Timor Leste atau tidak?

Karena banyak faktor yang akan menjadi bahan pertimbangan bagi seorang Paus untuk mengunjungi wilayah tertentu. Misalnya, "jumlah kaum Katolik di wilayah termaksud", dan juga faktor yang tidak kalah penting adalah "kepentingan" dari kunjungan tersebut.

Sekedar flash-back, mengapa saat mengunjungi Filipina beberapa waktu yang lalu, Paus tidak memanfaatkannya untuk mengjungi Timor Leste? Padahal kan jaraknya sudah dekat sekali.
Barangkali saja Timor Leste tidak masuk dalam agenda kunjungan Paus, karena banyak alasan.

Kelima;

Saya memiliki 4 buku sakti dalam 4 bahasa (Indonesia, Tetun, Inggris dan Portugis) dengan judul: KONSTITUSI Timor Leste. Setelah membaca ke-4 buku sakti tersebut, dari ujung ke ujung, saya tidak menemukan, satu kata pun nama ALLAH, TUHAN, MAROMAK, GOD, LORD, DEUS, YESUS atau KRISTUS.

Maka jika saya berada di posisi Paus Fransiskus, ketika audiensi dengan Perdana Menetri Timor Leste (dr. Rui MAria de Araujo,MPH), saya akan berkata begini;

"Pulang lah ke Timor Leste, kumpulkan semua semua elemen bangsa, di level vertikal, termasuk Pimpinan Gereja Katolik Timor Leste, lakukanlah amandemen Konstitusi Timor Leste, dengan menyebutkan sebanyak 77X Nama Suci TUHAN di dalamnya, karena saat ini, yang saya lihat, Timor Leste yang di atas 99% warganya beragama Katolik Roma, telah merubah Timor Leste menjadi sebuah negara yang menganut "sistim ultra sekuler".

"Setelah selesai, sahkan Konstitusi baru tersebut, lalu kembali ke sini. Maka saat itu saya akan memutuskan untuk mengunjungi Timor Leste. Tapi untuk saat ini, saya belum bisa mengunjungi negara yang telah "mengharamkan Nama ALLAH" dalam Konstitusinya" (ida ne hau mak nar-natan imajina hodi inventa arbiru deit).

Tapi saya percaya sekali bahwa, kalau pun Bapa Suci Paus Fransiskus tidak bersedia mengunjungi Timor Leste, itu bukan karena tulisan-tulisan saya. Hanya satu orang "yang berkotek", sama sekali tidak akan mampu membentuk opini publik secara luas untuk kemudian mempengaruhi keputusan seorang Paus, untuk mengunjungi Timor Leste atau tidak.

Setelah membaca lima poin tanggapan saya di atas, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa saya telah dan sedang jatuh ke dalam satu kondisi yang disebut; "kesombongan spiritual".

Poin terpenting yang menjadi pesan sentral dari catatan pendek ini adalah; "Bahwa Hukum SABAT itu wajib ditegakkan di atas TANAH YAHUDI".

Selebihnya, saya tetaplah menjadi seorang manusia biasa, seperti orang awam kebanyakan. Saya tetap menghormati dan menghargai peran yang diemban para "Rasul Kristus" (mulai dari Paus, Kardinal, Uskup, sampai Imam tingkat Paroki), karena mereka adalah orang-orang pilihan yang dirahmati ALLAH untuk ikut berperan maximal dalam Karya Penyelamatan KRISTUS.

Apa buktinya kalau saya tetap menghormati dan menghargai peran mereka? Biasanya kalau ketemu salah satu Pastor, di manapun, saya akan tetap "cium tangan mereka", karena saya bukanlah siapa-siapa, sementara mereka orang-orang pilihan yang dekat dengan ALLAH. Tiap hari mereka melayani TUHAN.

Bertemu Rektor Unpaz yang "telah memecat" saya sebagai dosen, saya masih tetap cium tangan Beliau. Apalagi bertemu para Imam.

Masalah mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran tertentu, apapun itu pelanggarannya, bukanlah hak kita untuk menghakimi mereka. ALLAH telah telah memberikan pesan dengan jelas dalam Injil dengan berkata; "Pembalasan adalah hak-Ku".

Perbedaan sudut pandang dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan profesionalitas, tidak haus membuat kita menghancurkan relasi sosial kita dengan orang lain.

Dalam 10 Perintah ALLAH, pada perintah yang ke-5, mengajarkan mengenai "Hukum menghormati Orang Tua (Ibu-Bapa)".

Yang dimaksud dengan "Orang Tua" itu kan bisa saja; orang tua biologis, orang tua teologis (Bund Suci Perawan Maria, St. Yosef, inan sarani-aman sarani, Padrinho-Madrinha Casamento etc, etc), orang tua sosiologis (Guru, Dosen, dan seterusnya dan sebagainya).

Saya melabeli para Guru (Dosen) sebagai "Orang Tua Sosiologis", karena merekalah yang biasanya membuat status sosial kita terdongkrak di masyarakat. Kalau tidak ada Guru (Dosen), apa mungkin kita memiliki gelar akademis mentereng, yang menyebabkan atribut (simbol stratifikasi alias kelas) sosial kita terangkat secara terhormat di masyarakat?

Semoga tanggapan terbuka ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.




Tidak ada komentar: