Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 12 Maret 2016

HARI SABAT HARI KERAMAT


HARI SABAT HARI KERAMAT


Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Jika engkau mengasihi sahabat
Ajak sahabat mengasihi Sabat



Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Jika engkau mencintai kerabat
Ajak kerabat mencintai Sabat

Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Jika engkau menghormati nurani rakyat
Ajak rakyat menghormati Sabat

Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Tuan Sabat Tuan Terhormat
Tempat Sabat tempat terhormat

Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Sahabat kerabat cepat mendekat
Menggenggam erat maklumat ke-empat

Hari Sabat hari keramat
Perintah ALLAH yang ke-empat
Mari bertobat menguduskan Sabat
Biar selamat tiba di akhirat

Tenggara Nusantara, 12 Maret 2013

Karya: Rama Cristo



Catatan Kaki;


Penggalan puisi berjudul; HARI SABAT HARI KERAMAT, sebagaimana dapat Anda baca di atas, pertama kali diposting di laman FB Rama Cristo, pada 12 Maret 2013. Kebetulan hari ini adalah Hari SABAT (Sabtu), dan juga jatuh tepat pada tanggal 12 Maret (2016). Saya share kembali puisi ini, kali-kali aja ada sahabat yang suka.

Anggap saja, saya share kembali puisi tersebut, dalam rangka ikut mengenang "permintaan maaf" yang disampaikan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II di Basilika St. Petrus pada Hari Minggu, 12 Maret 2000 (16 tahun lalu).

Saat itu dalam "homilinya" tokoh asal Polandia yang telah dikanonisasi menjadi "Orang Kudus", pada Minggu, 27 April 2014 itu berkata bahwa; "Permintaan maaf tersebut, wajib disampaikan, karena di masa lalu ada tindakan-tindakan tertentu dari Gereja Katolik Roma yang barang kali saja dianggap dan dipandang melampaui "batas-batas kepatutan".

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah Gereja Katolik Roma, seorang Paus, secara terbuka menyampaikan "permintaan maaf". Dan itu dilakukan bukan oleh "Orang Italia", tapi oleh Orang Polandia, yang pernah mengunjungi Indonesia pada Oktober 1989, mengunjungi Dili Timor-Timur, pada Kamis, 12 Oktober 1989.

Dan sempat menghadiri "Perjamuan-Makan Siang" di Gedung Negara Lahane Dili. Selama makan siang berlangsung, Bokapku (Benjamim Goncalves) berdiri tepat di samping Paus ke-264 tersebut selama perjamuan berlangsung.

Mungkin karena Bokap melayaninya secara total selama perjamuan berlangsung, saat akan meninggalkan Gedung Negara Lahane Dili, Suksesor St. Petrus ke-263 tersebut memberikan "kenang-kenangan" kepada Bokapku.

Dan entah kenapa, Bokap kemudian memberikan "benda keramat" tersebut kepada saya, dan saya masih menyimpannya hingga detik ini.

Mungkin karena itulah, pada Februari 1994, ketika ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya meminta saya untuk pergi ke Bukit Sio(n), di luar dugaan, di sana, saya kembali bertemu tokoh yang juga terkenal dengan ucapannya; "non abbiate paura" (jangan takut).

Saat itu, Minggu dini hari, 20 Februari 1994, dalam barisan yang saya sebut sebagai; "Barisan Para Paus", tokoh Polandia tersebut berdiri di ujung barisan (paling timur), dan mengajukan sejumlah penting pertanyaan kepada ALLAH.

Salah satu pertanyaan krusial yang diajukan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II kepada ALLAH, adalah mengenai; Konflik Israel-Palestina.

Dari jawaban ALLAH terhadap pertanyaan Paus Yohanes Paulus II inilah, dapat saya ketahui kalau ternyata takdir Palestina itu, adalah MONARKIA, bukan REPUBLICA. Itu poin yang sangat-sangat krusial, menurutku.

Dan dari jawaban ALLAH terhadap pertanyaan Bapa Suci inilah, dapat saya rumuskan dalam bahasa manusia; bahwa; konflik antara Israel dan Palestina, bakalan menjadi "konflik abadi", jika rakyat Palestina tidak merubah KONSEP perjuangan, termasuk ALASAN dan TUJUAN mendirikan "Negara Palestina".

ALLAH mampu memeriksa setiap isi hati manusia. Perjuangan rakyat Palestina, sebaiknya diletakkan dalam konteks; JANJI TUHAN. Tapi bukan sebaliknya. Bangsa mana pun di atas bumi ini yang berjuang dengan tujuan menghapus Israel dari muka bumi, sama saja dengan bangsa tersebut "ingin menyangkal" PERJANJIAN KEKAL antara ALLAH dengan Nenek Moyang Orang Yahudi?"

Kembali kepada isu permintaan maaf oleh Paus. Yang menjadi pertanyaan & sekaligus bahan refleksi adalah; apa jadinya, jika kita letakkan "permintaan maaf" Paus Yohanes Paulus II, dalam koridor (konteks) "INFALIBILITAS" (???).

Selamat berakhir pekan bersama Keluarga tercinta. Juga selamat merayakan Sabat Suci bagi mereka yang merayakannya.

Semoga TUHAN YESUS Yang Maha Kuasa & Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: