Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 12 Maret 2016

AKAR INDONESIA BERINSERSIO PADA DARAH YAHUDI (bag: 2)



Seruan Presiden Jokowi Berdimensi Paradoksal & Kontra Produktif


WARMING-UP (PEMANASAN)

Gara-gara satu kalimat (pernyataan) yang saya sampaikan pada seri pertama artikel ini dengan kemasan bahasa yang lugas, yaitu kalimat yang berbunyi; “Takdir Palestina itu MONARKIA, bukan REPUBLICA”, akibatnya tadi begitu buka inbox, saya kaget karena isi inbox, dari ujung ke ujung, penuh dengan komentar dan pertanyaan tentang “PALESTINA & MONARKIA”.

Salah satu sahabat terbaikku yang rajin sekali membaca artikel-artikelku bertanya begini;

“Bro Rama, dari mana dapat teori mengejutkan itu, bahwa takdir Palestina adalah Negara MONARAKIA, tapi bukan REPUBLICA? Ini pertama kalinya saya mendengar teori ini??”

Kepada sahabat sekalian yang dimuliakan ALLAH. Dari awal artikel ini, saya telah menegaskan di sana (untuk mengingatkan semuanya) bahwa apa yang saya sampaikan dalam artikel ini, adalah PENGETAHUAN saya, tapi bukan OPINI saya. Dan saya menyampaikan PENGETAHUAN saya sebagai seorang “mistikus” yang menggemari Ilmu Bilangan.

Jadi saya tidak berbicara dalam kapasitas sebagai seorang “politikus”, karena saya memang bukan politikus. Boro-boro jadi politikus, bakat nipu aja gak ada. Saya orangnya kalau bicara, bahasanya lugas sekali, apa adanya, bukan ada apanya.

Ketika pada 20 Februari 1994, ALLAH menjawab pertanyaan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dengan menggunakan “bahasa Langit” sambil mengacungkan Lengan-Nya, dan dari sanalah saya mengetahui kalimat ALLAH, maka kini, saya membahasakan kalimat ALLAH kepada manusia, dalam kemasan bahasa yang sangat lugas dan sederhana, bukan bahasa tinggi yang sering digunakan para politikus, para teolog, para ilmuwan, dan seterusnya.

Jadi ketika saya nyatakan dalam kalimat sederhana, bahwa takdir Palestina itu adalah MONARKIA, tapi bukan REPUBLICA, itu adalah PENGETAHUAN saya, tapi bukan OPINI saya.

Saya merasa tidak berhak sama sekali untuk beropini. Apalagi beropini mengenai isu “Palestina-Israel”. Saya hanya merasa berkewajiban untuk harus "bersaksi" menyampaikan PENGETAHUAN saya.

Dan penyampaian pengetahuan saya ini, diletakkan dalam konteks; “sebagai kesaksian iman” (tapi bukan sebagai kesaksian politis).

Kalau dunia menganggap bahwa apa yang saya sampaikan tidak lebih dari lelucon kosong atau komedi basi di abad 21, maka yang akan menanggung akibtanya tentu bukan saya, tapi rakyat Palestina sendiri yang akan menderita sepanjang jaman, karena konflik antara Palestina dan Israel, jika dirumuskan secara salah, dan rumusan yang salah akan berakibat kepada pengelolaan juga salah, maka konflik Palestina-Israel, akan menjadi KONFLIK ABADI.

Sekali lagi saya ingatkan; bahwa apa yang saya sampaikan diletakkan dalam konteks; “kesaksian iman”.

Beda “kesaksian iman” dan “kesaksian politis” itu, adalah; kesaksian iman diletakkan dalam kerangka “iman dan moralitas” yang bersifat diametralis-imparsial (tidak memihak).

Sementara “kesaksian politis” itu cenderung bersifat parsial-memihak dan umumnya diletakkan dalam kerangka “kekuasaan” dengan tujuan akhir yang ingin dicapainya adalah GMO.

Jangan keburu salah faham tentang GMO. Yang dimaksud dengan GMO di sini bukan suatu handycap yang dikenal dalam dunia Kedokteran, yaitu; Gangguan Mental Organik, melainkan GMO yang saya maksudkan adalah; Gloria Mundi Oriented.

Referensi GMO di sini adalah: orang-orang (khususnya kaum sekularistis) yang orientasi hidupanya ingin membangun hegemoninya baik secara pribadi maupun secara kelompok atas fihak lain, dan ujung-ujungnya ingin menggapai kemuliaan-kemuliaan sekuler (duniawi), bahkan jika dunia tidak memuliakan mereka, maka mereka, entah secara indivdu maupun secara kelompok, bahkan kelompok dalam level bangsa, akan memuliakan diri mereka sendiri tanpa “rama” (rasa malu) sedikit pun, mungkin karena urat malu mereka sudah pada putus. 
 
A PRIORI ATAU A POSTERIORI?

Warming up-nya cukup dulu, kita beralih ke isu lain. Para pakar (ilmuwan), terutama para Filsuf, berkata bahwa dari sisi “epistemology”, jika seseorang mengaku memiliki pengetahuan tentang faham tertentu atau subjek tertentu, maka pengetahuan yang dimiliki orang itu, perlu ditelusuri, apakah pengetahuan orang itu terjadi secara “a priori”?? Atau terjadi secara “a posteriori??”

Pengetahuan "a priori" adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya pengalaman atau tanpa melalui pengalaman terlebih dahulu, baik pengalaman inderawi maupun pengalaman bathiniah. Sementara pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman tertentu.

Dengan demikian pengetahuan "a posteriori" ini bertumpu pada realitas obyektif (bukan bertumpu pada hayalan tanpa arah).

Nah, mengacu kepada rumusan “a priori dan a posteriori” di atas, maka saya dapat meletakkan pengetahuan saya (PALESTINA yang MONARKIA), pada kategori; “pengetahuan a posteriori”.

Itu artinya, sebelum saya memperoleh (dan akhirnya memiliki) pengetahuan bahwa Palestina itu ditakdirkan ALLAH sebagai Negara Monarkia, tapi bukan Republica, tentu harus ada kejadian lebih dulu. Yang namanya kejadian, pasti dibentuk oleh elemen ruang dan waktu, serta elemen lainnya, yaitu runutan & jenis peristiwa yang melibatkan orang-orang tertentu di dalamnya. 
 
 

PANGGILAN ALLAH SETELAH 16 TAHUN DIPECAT DARI PEKERJAAN SEBAGAI PENYEMIR SEPATU

Coba Anda simak kejadian (fakta-empiris) berikut ini, yang menghubungkan dua titik waktu, antara 17 Juli 1978 dan 17 Februari 1994 (jarak waktu 16 tahun), yang hasilnya, menyebabkan saya memiliki pengetahuan bahwa Palestina itu ditakdirkan ALLAH sebagai Negara MONARKIA, tapi bukan REPUBLICA.

Pada Hari Senin, 17 Juli 1978 (bertepatan dengan HUT Integrasi kedua), saat itu saya yang masih kanak-kanak, duduk di bangku SDN WIJAYA Atsabe, kelas III, mengalami tragedi memilukan, dipecat dari pekerjaanku sebagai “penyemir sepatu”, oleh Anggota Militer, Satuan Armed 5/Kodam III Siliwangi/Jawa Barat, beragama ISLAM, bernama MUHAMMAD RONNY, yang bersama 3 temannya yang juga sama-sama berstatus sebagai Anggota Satuan Armed 5, masing-masing bernama; Pak Jaka (Hindu), Pak Ketut (Budha) & Pak Frans (Protestan).

Dari sini terlihat bahwa 4 orang pria dewasa, berstatus Militer, dengan agama yang berbeda, mencapai mufakat, memecat seorang anak kecil yang beragama KATOLIK Roma, dari pekerjaannya sebagai “penyemir sepatu”, tepat pada HUT Integrasi.

Tapi 16 tahun kemudian, ketika ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya untuk memanggil “mantan penyemir sepatu” ke Bukit Sio(n) karena ALLAH berkenan memberkati karya mantan penyemir sepatu, yang dinamakan: CATUR MOBILISASI, justeru pria beragama ISLAM, bernama MUHAMMAD inilah, yang dipilih ALLAH untuk mengantarkan anak kecil yang dipecat 16 tahun lalu, guna menemui ALLAH dan menerima “Pesan Ilahi” bahwa ternyata: “Takdir Palestina itu adalah MONARKIA, bukan REPUBLICA”.

Karena ini malam minggu, dan saya mau “hang out”, pergi main CATUR di Puputan (dari pada boring di kamar terus), maka kisah lengkap yang sangat memilukan, mengenai pemecatan oleh 4 Anggota Militer pada 17 Juli 1978, baru akan saya ceritakan pada seri ke-3 artikel ini.

Saya mau cepat-cepat mengakhiri seri kedua ini dengan menyampaikan pesan berikut;

Sekiranya “dunia OKI” (Organisasi Konferensi Islam) bersama rakyat Palestina mau mendirikan Negara REPUBLICA Palestina, maka percaya atau tidak, darah akan terus tumpah di Tanah Palestina hingga Akhir Jaman, ketika KRISTUS YESUS kembali sebagai Hakim Agung untuk menghakimi seluruh makhluk tanpa pandang bulu dan pilih muka, apalagi pilih agama.

Menurut saya yang adalah “mantan penyemir sepatu”, yang saat ini menjadi seorang "mistikus", bahwa agama itu merupakan hasil karya INKULTURASI, yang lahir dari kodrat kehendak bebas manusia, tapi bukan karya ALLAH. Masaq, ALLAH yang SATU & ESA menciptakan banyak agama dengan ajaran yang bertolak-belakang???

Maka pesan mantan “penyemir sepatu” militer, yang kini jadi "mistikus" itu sederhana saja. Hidup ini pilihan. Memilih matahari harus kehilangan bulan. Memilih siang harus kehilangan malam.

Rakyat Palestina mau memilih mendirikan MONARKIA PALESTINA atau lebih senang memilih “dibantai Israel hingga Akhir Jaman?”

Tapi pertanyaan terbesarnya kini adalah; "Jika memilih mendirikan PALESTINA yang MONARKIA, siapakah RAJA-nya?"

Selamat berkahir pekan bersama Keluarga tercinta. Semoga TUHAN YESUS Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar: