Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 11 Maret 2016

AKAR INDONESIA ITU BERINSERSIO PADA DARAH YAHUDI (bag: 1)




Seruan Presiden Jokowi Berdimensi Paradoksal & Kontra Produktif


Banyak sahabat yang mengirimkan pesan via inbox dan meminta saya untuk ikut memberikan komentar mengenai pernyataan Presiden Jokowi pada KTT-OKI beberapa hari lalu.

Teman-teman FB'ers yang mengirimkan permintaan itu karena sejumlah artikel yang saya terbitkan di laman FB ini pada tahun sebelumnya, yang menyinggung isu; Indonesia, Palestina & Israel.

Oleh karena itulah saya mencoba ikut "nimbrung" memberikan komentar atas pidato Yang Mulia Presiden Jokowi pada KTT-OKI di Jakarta beberapa hari yang lalu, khususnya isu "pemboikotan atas produk-produk Israel".

Saya menyampaikan komentar saya sebagai seorang "mistikus" yang menggemari "Ilmu Bilangan", tapi bukan sebagai seorang "politikus", karena saya bukan politikus. Cara berpikir antara misitkus dan politikus itu berbeda pola dan rasa.

Oleh karena itu, jika Anda menemukan hal-hal tertentu dalam artikel ini yang berseberangan dengan "pola & rasa" Anda, maka itu harus terjadi bukan karena Bunda salah mengandung.

Artikel ini akan diterbitkan sebanyak 7 seri, secara berturut-turut, mulai hari ini. Dan tentunya komentar saya atas isu: Indonesia, Palestina & Israel, berdasarkan PENGETAHUAN saya. Tapi bukan berdasarkan OPINI saya.

Antara "pengetahuan" dan "opini" itu memiliki kedudukan yang berbeda. Silahkan Anda baca kembali beberapa artikel saya yang pernah dimuat di laman ini, yang menggmbarkan "hierarki" (kedudukan) antara PENGETAHUAN dan OPINI.

Opini yang baik itu, idealnya bersubordinasi terhadap pengetahuan. Tapi bukan bersubordinasi terhadap "kepentingan". Opini yang terkooptasi oleh kepentingan itu, biasanya "menyesatkan", dengan alasan, hampir semua kepentingan, direduksi dari "hasrat", bukan dari "rasio".

Tapi jika "opini" bersubordinasi terhadap pengetahuan, apalagi jika pengetahuan itu bersumber pada "Kehendak ALLAH", maka hampir bisa dipastikan bahwa "opini" tersebut, disampaikan oleh siapapun, beriman atau tidak, beragama atau tidak, dari ras mana pun, memiliki kelas sosial terhormat atau tidak, raja atau jelata, tidak akan menyesatkan, karena opini tersebut disampaikan, bukan berdasarkan "kepentingan", melainkan berdasarkan "pengetahuan".

Karena umumnya, manusia yang menyampaikan "opini" yang terkooptasi oleh "kepentingan", tapi bukan oleh "pengetahuan", maka manusia tersebut akan berupaya habis-habisan untuk "mengkapitalisasikan" opininya untuk dan demi "kepentingan", bukan untuk dan demi "kebenaran".

Karena yang namanya "kepentingan" itu hampir selalu "parsial", yakni bersifat memihak individu atau kelompok tertentu. Tapi yang namanya "kebenaran" itu hampir selalu bersifat "imparsial".

Nah, agar opini itu bisa menghasilkan buah yang bernama "kebenaran", maka sebaiknya opini itu direduksi dari "pengetahuan", bukan direduksi dari "kepentingan".

SIAPA YANG LEBIH RUGI: "ISRAEL ATAU INDONESIA?"

Tiba di titik ini, muncul pertanyaan menggoda; "Apakah pernyataan Yang Mulia Presiden Jokowi untuk memboikot produk-produk Israel itu, berdasarkan kebenaran atau berdasarkan kepentingan?"

Jika jawabannya berdasarkan "kebenaran", maka muncul pertanyaan lanjutan; "Alat ukur apakah yang digunakan untuk mengukur pernyataan tokoh yang baru saja menyandang status sebagai Kakek itu, sehingga pernyataan Beliau dapat dikategorikan berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan kepentingan?"

"Hayoo.., makin bingung khan? Jangankan Anda, saya sendiri juga bingung koq".

Semalam sambil menunggu laga panas antara MU vs Liverpool (akhirnya MU kalah lagi), saya sempat ikut menonton dialog di salah satu TV Swasta, yang dipandu Porf. Yusril Ihza Mahendra, yang membahas mengenai pernyataan Presiden Jokowi.

Banyak yang bingung, termasuk Prof. Yusril. Kenapa pernyataan Presiden Jokowi untuk memboikot produk-produk Israel, yang telah mendapat dukuangan luas dari tokoh-tokoh Muslim Indonesia, malah "diralat" oleh "Juru Bicara Presiden?" (Pak Johan Budi?).

Prof. Yusril bilang; "Berdasarkan teks yang saya baca, di sana secara redaksional, tertulis memboikot "produk-produk Israel". Tapi dalam ralat yang disampaikan Tim Sekretariat Presiden, bahwa yang harus diboikot itu bukan produk-produk Israel, melainkan "kebijakan-kebijakan Israel".

Para Filsuf memberikan saran praktis. Yaitu supaya manusia itu tidak kebingungan terhadap suatu faham, maka "cintailah defenisi". 

Nah, supaya kita tidak makin bingung dengan pernyataan Presiden Jokowi melalui pidatonya dan pernyataan ralat yang disampaikan Juru Bicara Presiden, silahkan Anda buat defenisi di antara keduanya (produk-produk Israel dengan kebijakan-kebijakan Israel). 

Misalnya, caranya dengan mencari kesamaan "morfologi", antara dua item ini: "produk-produk Israel dan "kebijakan-kebijakan Israel". Dengan berpegang pada defenisi yang benar, biasanya kita tidak akan bingung, walau dipelintir ke mana pun, dengan cara apapun.

Mungkin ada benarnya juga, bahwa yang dimaksud Presiden Jokowi itu, bukan memboikot produk-produk Israel secara "material-fisik", melainkan produk-produk berupa "kebijakan-kebijakan publik" Pemerintah Israel yang merugikan kepentingan rakyat Palestina.

Ternyata, berdasarkan informasi yang disampaikan Prof. Yusril semalam, mengacu kepada data statistik yang ada, volume perdagangan Indoensia & Israel, lebih banyak Israel yang membeli produk Indonesia, ketimbang Indonesia yang membeli produk Israel, di mana hubungan perdagangan antara Indonesia dan Israel, tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui Singapura (karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel).

Dengan demikian, maka nilai ekspor Indonesia yang dipakai Israel lebih besar, ketimbang ekspor Israel yang dipakai Indonesia. Maka hitung-hitungannya, dari segi ekonomi, sedikit atau banyak, jika Indonesia memboikot produk-produk Israel, justeru kerugian bukan ada di fihak Israel, melainkan ada di fihak Indonesia. Ini baru kerugian dari "bidang ekonomi". Belum bidang lainnya.

TAKDIR PALESTINA ITU MONARKIA BUKAN REPUBLICA

Apa yang menjadi "roh" utama dari perjuangan rakyat Palestina? Sekedar sebidang tanah yang diduduki Bangsa Yahudi? Menurut pengetahuan saya, substansi utama dari perjuangan rakyat Palestina bukan itu. Bukan sekedar sebidang tanah. Tapi roh (spirit) yang menjadi esensi terpenting bagi perjuangan rakyat Palestina ada pada "JANJI TUHAN".

Pertanyaannya adalah; JANJI TUHAN yang mana?

BERSAMBUNG;

Tidak ada komentar: