Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Kamis, 25 Februari 2016

PRESIDEN TAUR MATAN RUAK & TEORI ALEGORI GUA PLATO




"Apakah Akan Muncul Tragedi Berdarah Gara-Gara Keputusan Presiden Taur Matan Ruak Terhadap Jenderal Lere Anan Timur?"
=================================================
Seorang sahabat mengirimkan komentar & pertanyaannya via inbox, begini;

"Maun Rama, anda menuliskan sejumlah artikel dan menyatakan bahwa Presiden Taur Matan Ruak (TMR) tidak akan mampu menduduki "Kursi Anak Daud" sampai tanggal 1 Januari 2017? Tapi bagaimana kalau Presiden TMR mampu melakukan pembuktian terbalik? Dan sekalian saya ingin tanyakan, Apakah keputusan Presiden TMR terhadap Jenderal Lere Anan Timur (LAT) akan menimbulkan chaos nasional? Tolong ditanggapi. Thank you"


SEKEDAR MEMENUHI TEORI ALEGORI GUA PLATO ATAU BUKAN?

Saya pernah mengajukan satu "thesis" melalui sejumlah artikel, salah satunya artikel tertanggal 17 Februari 2015, bahwa; Yang Mulia Presiden TMR, tidak akan menduduki "Kursi Anak Daud" sampai 1 Januari 2017.

Thesis ini berangkat dari satu keyakinan bahwa Kursi Presiden Timor Leste itu adalah "Kursi Anak Daud", karena Timor Leste itu ditetapkan ALLAH sebagai "KERAJAAN DAUD", sebagaimana ALLAH memperlihatkannya kepadaku pada 20 Fberuari 1994 di Bukit Sio(n), dan juga ALLAH dan ALAM memperihatkannya melalui hasil Referendum yang diumumkan pada Hari SABAT Suci, 4 September 1999 (344580 suara yang memilih Timor-Timur berpisah dengan Indonesia).

Tapi jika "thesis" ini adalah sebuah kekeliruan, dan BILANGAN REFERENDUM 344580 bukanlah simbol KERAJAAN DAUD yang berasal dari ALLAH dan Aam, maka ada kemungkinan besar Presdien TMR bisa bertahan menduduki kursi keramat itu sampai 1 Januari 2017.

Selain itu, saya juga pernah menuliskan bahwa; pada tataran tertentu, dalam aspek-aspek tertentu, adalah salah satu Pemimpin Timor Leste "yang baik" dalam tanda kutip.

Pernyataan ini (Mayjen TMR pemimpin yang baik) adalah pernyataan (penilaian) pribadi, Maka sifatnya "relatif". Mungkin di mata orang lain, Beliau bukanlah pemimpin yang baik. Tapi di mata saya, untuk semua pemimpin angkatan 75, Beliau termasuk salah satu pemimpin yang baik.

Di luar penilaian saya terhadap Beliau sebagai "pemimpin yang baik", saya melihat, dalam diri Presiden TMR, terdapat sejumlah simbol penting yang disandangnya, yang berkaitan erat dengan "DARAH DAUD" (secara biologis).

Artinya "Keturunan Daud" secara biologis itu memang benar-benar ada, dan atas alasan itulah mengapa Presiden TMR menyandnag simbol-simbol penting, yang kesemuanya berhubungan dengan DARAH DAUD.

Saya sudah beberapa kali menyinggung tentang sejumlah simbol penting yang berkaitan erat dengan DARAH DAUD, yang disandang Presiden TMR. Maka tidak perlu saya mengulangnya di sini. Tapi harus saya katakan, bahwa Presiden TMR sendiri bukanlah "Keturunan Daud" secara biologis.

Beliau hanya sebatas menyandang semua simbol yang berhubungan erat dengan "Keturunan Daud" secara biologis, untuk mengantarkan kita mempersiapkan diri menyambut "perubahan besar" (revolusi) di masa depan, karena memang "Keturunan Daud" secara biologis itu benar-benar ada. Bukan sekedar sebuah utopia (hayalan) belaka.

Dengan kata lain, dapat saya nyatakan bahwa simbol-simbol penting yang berhubungan dengan "Keturunan Daud" secara biologis yang disandang Presiden Timor Leste ke-5 ini, hanya memenuhi teori yang oleh para Filsuf, disebut; "Alegori Gua Plato" (Kok jumlah Alegori Gua Plato = 160 ya?).

Tapi jika Presiden TMR mampu menduduki Kursi Anak Daud sampai 1 Januari 2017, maka teori ini (Alegori Gua Plato), gugur dan tanpa ragu saya hendak mengatakan bahwa, di atas 99,99%, Presiden TMR sendirilah yang sejatinya merupakan "Keturunan Daud" (Pangeran Surya) yang asli.

Jika itu yang sebenarnya terjadi, maka suatu saat, ketika waktunya telah genap, dan Timor Leste beralih status dari "Negara Republik" menjadi "Negara Monarki" (Negara Kerajaan), maka wajib hukumnya, Keturunan (darah daging) Presiden TMR, yang harus menduduki "TAKHTA".

Karena yang namanya takdir itu tidak mungkin ketukar. Takdir itu ditetapkan dan dikendalikan oleh ALLAH sendiri, bagaimana mungkin bisa tertukar?

APAKAH KEPUTUSAN PRESIDEN TMR TERHADAP JENDERAL LERE AKAN
MENIMBULKAN CHAOS DI TIMOR LESTE?

Akhir-akhir ini banyak sahabat yang menanyakan kepada saya mengenai akibat yang mungkin bakal terjadi yang berkaitan erat dengan keputusan Presiden TMR mengganti pucuk pimpinan F-FDTL (Angkatan Bersenjata) Timor Leste) di mana Jenderal Lere Anan Timur (LAT) diganti berdasarkan Keputusan Presiden.

"Apakah akan terjadi chaos nasional (tragedi berdarah) seperti tahun 2006?" Beginilah pertanyaan yang paling banyak masuk inbox saya.

Jujur saja, saya bukan peramal atau paranormal. Saya hanyalah seorang "mistikus" (tapi bukan politikus). Juga bukan pengamat politik, apalagi pengamat politik kelas wahid. Saya tinggal di luar Timor Leste. Bukan di Timor Leste.

Jadi sejatinya, saya sama sekali tidak tahu, apakah akan terjadi chaos nasional akibat pergantian pucuk pimpinan F-FDTL, yang konon menimbulkan polemik baru (dan menjadi trending topik) di Timor Leste akhir-akhir ini?

Apalagi saya tidak tinggal di Timor Leste. Bagaimana mungkin saya tahu apa yang akan terjadi akibat kebijakan publik Presiden TMR? Seharusnya sayalah yang bertanya kepada para sahabat yang tinggal di Timor Leste (Mengapa pergantian tersebut menjadi masalah? Dan kira-kira apa yang akan terjadi ke depannya? Apakah akan ada ekses tertentu???)

Saya tidak memiliki opini apapun terhadap pergantian pucuk pimpinan F-FDTL karena saya tidak tahu persis apa alasan pergantian tersebut? Apakah sekedar "rotasi rutin" yang sifatnya sudah merupakan "protap" (prosedur tetap) yang berlaku dalam tubuh militer? Atau pergantian itu dinilai tidak memenuhi rambu-rambu (aturan main) yang berlaku?

Tapi jika saya ditanya; "Apakah akan terjadi tragedi berdarah seperti tahun 2006?" Maka saya akan menggunakan logika saya (tapi bukan intuisi saya) untuk mengatakan (berpendapat) begini;
Tragedi berdarah tahun 2006, memiliki "causa prima" yang jauh berbeda dengan isu yang saat ini lagi menjadi "trending topic".

Yang menjadi "benang biru" (bukan benang merah) tragedi berdarah tahun 2006 adalah "sentimen primordialisme", dengan pola(risasi) dikotomis (Lorosae-Loromonu/Firaku-Kaladi) yang eksesnya lumayan booming.

Sementara yang saat ini menjadi buah bibir di Timor Leste bukan isu primordialisme. Maka secara logika, ekses yang akan timbul, skalasinya tidak mungkin akan paralel dengan tragedi berdarah 2006.
Logikanya sederhana saja. "Siapa yang mau berperang dengan siapa?" Sehingga harus terjadi skalasi pertumpahan darah seperti tahun 2006?

Jadi santai sajalah. Gunakanlah energi Anda untuk melakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi Anda. Bukan menghabiskan energi Anda untuk memikirkan apa yang sebenarnya tidak akan terjadi.

FENOMENA KECEMASAN MENCERMINKAN PERCOBAAN PAVLON

Saya rasa fenoemna kecemasan yang melanda masyarakat Timor Leste seperti saat ini (banyak sekali sahabat yang mengekspresikan kecemasan mereka berkaitan dengan isu keputusan Presiden TMR terhadap Jenderal LAT), mungkin juga di saat-saat mendatang, bisa dijelaskan dengan "teori percobaan Pavlon", peneliti dari Eropa Timur di masa lalu.

Anda di rumah memiliki anjing? Jika ya, pergilah ke pasar, belilah daging. Lakukan percobaan berikut terhadap anjing Anda selama sebulan. Setiap pagi, bunyikan bel, sebelum Anda memberikan daging untuk anjing kesayangan Anda. Lakukan ini secara berulang (tiap pagi).

Lalu lihatlah pola perubahan yang terjadi pada anjing Anda setiap kali mendengar bel berbunyi. Pasti air liur anjing Anda akan meleleh tiap kali Anda bunyikan bel. Karena dia sudah tahu dan percaya, bahwa itu pertanda Anda pasti akan memberinya daging.

Pada suatu hari, di hari yang ke-30, bunyikanlah bel, tapi tanpa harus menyediakan daging. Dijamin, air liur anjing Anda akan tetap mengalir deras, walau saat itu Anda tidak menyediakan daging.

Poinnya; analog terhadap percobaan di atas adalah;

Masyarakat yang sering mengalami konflik yang terus berulang dan berulang, akan menjadi trauma, sehingga jika sedikit saja muncul konflik yang jenisnya nyaris sama, walaupun sejatinya konflik tersebut tidak akan menimbulkan masalah besar, namun masyarakat sudah keburu mencemaskan efek (negatif) dari konflik tersebut.

KEPUTUSAN YANG KONTRA PRODUKTIF (???)

Pertanyaan yang layak dimunculkan atas pergantian Jenderal Lere Anan Timur (LAT) adalah; "Apa urgensinya di saat-saat mendekati Pemilu, tokoh sekelas Jenderal LAT harus diganti? Apakah ini bagian dari praktek politik eliminasi atau sebaliknya?"

Karena, sedikit atau banyak, pergantian Jenderal LAT berdasarkan keputusan Presiden TMR akan berpengaruh terhadap "pendulangan suara" PLP (Partido Libertasaun Popular) di Pemilu 2017. Tapi kalau harus menimbulkan skalasi chaos yang sama dengan tragedi berdarah tahun 2006, saya yakin tidak.

Keputusan Presdien TMR, apalagi berdekatan dengan masa Pemilu, hanya akan menimbulkan "turbulensi politik", dengan kosntelasi yang sangat mempengaruhi "peta pendulangan suara" dalam Pemilu (2017).

Jadi dapat saya katakan, keputusan Presdien TMR dengan mencopot Jenderal LAT di saat-saat mendekati Pemilu, apalagi di saat-saat Parpol baru PLP sedang gencar-gencarnya beraktualisasi (diri), dari htiung-hitungan (kalkulasi) politik, keputusan ini dapat dikategorikan sebagai "keptusan yang kontra produktif".

Seberapa besar efeknya terhadap pendulangan suara, terutama pendulangan suara oleh PLP, sedikit atau banyak, sejauh mana "massa" di level "grass root" memiliki "ikatan emosional" dengan Jenderal LAT.

Jika keputusan Presiden TMR dianggap kurang bijak, atau keputusan yang tidak konstitusional, dan akibatnya timbul "clash", antara Jenderal LAT dan Presiden TMR, maka sekiranya Jenderal LAT memiliki basis massa yang kuat ikatan emosionalnya, maka momentum (goncang-ganjing) ini bisa dimanfaatkan dengan baik.

Misalnya saja, ada Parpol (katakanlah FRETILIN), yang mungkin saja dianggap merupakan "oposan politik" PLP, maka Fretilin sebagai oposan PLP, bisa memanfaatkan momentum ini secara maksimal untuk merangkul Jenderal LAT, guna "menggemboskan" pendulangan suara PLP. Bukankah di dunia politik itu, yang berlaku abadi adalah kepentingan? Dalam dunia politik, musuh lawan bisa berubah menjadi sahabat terbaik?

Tapi thesis (perhitungan) di atas tidak berlaku, kalau ternyata di balik ini semua, sebenarnya ada skenario besar yang sedang dimainkan Presiden TMR. Misalnya, Jenderal LAT sengaja "dinon-aktifkan" dari dinas kemiliteran, agar dengan demikian, Beliau bisa bebas berkiprah di dunia politik dengan bergabung ke PLP. Sebab kalau tetap aktif dalam dinas militer, bagaimana bisa berkiprah penuh di dunia politik (kepartaian?)

Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin

Tidak ada komentar: