Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Sabtu, 20 Februari 2016

DI MASA DEPAN BUMI AKAN DIHANCURKAN ALLAH (bag: 2)

"Apa Makna Angka 600 Yang Ditulis Prof. Lucas Da Costa?"


Saat itu saya melihat Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi Indonesia dan Timor-Timur pada Oktober 1989 (mengunjungi Dili pada Kamis 12 Oktober 1989), berdiri satu barisan (berderet) dengan “sejumlah Paus”.


Di belakang barisan ini saya melihat lautan manusia yang tidak memiliki ujung. Lautan manusia ini menunjukkan ekspresi bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat bahagia (mungkin mereka termasuk golongan yang sudah berhasil masuk Surga).

Saya skip..skip..skip..skip…saja dulu. Akhirnya tiba-tiba langit terbuka. Tampaklah Tahkta ALLAH yang menjulang tinggi nun jauh di atas sana. Lalu tiba-tiba saya melihat satu “Lengan Kanan" raksasa yang teracung dari tengah-tengah Tahkta tersebut.

Kemudian terdengarlah “suara ALLAH” yang berbicara menggunakan “Bahasa Tetun (bahasa nasional Timor Leste).

Saya sama sekali tidak melihat “Wajah ALLAH”. Saya hanya melihat satu “Lengan Kanan" raksasa yang menjulang tinggi dari tengah-tengah Takhta yang tampak sangat megah itu.

Dengan “suara-Nya” yang menggelegar bagaikan petir yang menyambar dan kadang terdengar seperti desau air bah, ALLAH berbicara tentang banyak isu penting.

Saat suara ALLAH menggelegar bagai petir, semua orang terjatuh ke tempat pijakan. Saya tidak bisa mengatakan semua orang terjatuh ke “tanah”. Karena saya tidak bisa mengidentifikasi apakah tempat pijakan kami terbuat dari “tanah” atau bukan?

Saat itu ALLAH memperlihatkan (visualisasi) “bencana besar”. Bencana besar itu sangat-sangat mengerikan. Saya tidak kuat melihatnya. Tampak pulau-pulau bergerak lalu bertabrakan kemudian hilang lenyap. Gelombang raksasa menenggelamkan pulau-pulau tersebut.

Saya melihat banyak lautan manusia berpakain putih-putih, kesan saya saat itu, saya mengidentifikasinya sebagai “Para Suster dan Para Pastor” hilang lenyap ditelan gelombang raksasa.
Karena saya tidak kuat lagi melihatnya, saya menelungkupkan wajahku dan tidak mau lagi melihat ke atas. Setelah suara gemuruh bencana besar itu reda, saya kembali mengangkat wajahku melihat ke atas.

Lengan Kanan raksasa itu masih tetap teracung di tengah-tengah Takhta itu. Lalu Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II bertanya kembali kepada ALLAH.

Di sini saya menggunakan kata-kata “bertanya kembali”, karena inilah “pertanyaan terakhir”. Sebelumnya Bapa Suci sudah mengajukan banyak sekali pertanyaan.

Pada pertanyaan terakhir ini Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II bertanya;

“Ya ALLAH BAPA Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Kapan bencana besar itu akan melanda planet bumi?”

Ternyata apa jawaban ALLAH? Jika sebelumnya ALLAH selalu menjawab setiap pertanyaan Bapa Suci dengan “Suara-Nya yang menggelegar bagaikan petir”, tapi kali ini, pertanyaan terakhir Bapa Suci, hanya dijawab ALLAH dengan cara;

“ALLAH merubah posisi Lengan-Nya yang tadinya teracung ke atas, memperlihatkan “Telapak Tangan Kanan-Nya” dari atas Takhta-Nya.

Saat itu semua mata terpaku memandang ke atas, menatap dalam-dalam sejumlah tanda aneh yang ada di “Telapak Tangan Kanan ALLAH”. Kami seakan-akan terpesona memandang sesuatu yang sangat-sangat penting yang ada di “Telapak Tangan Kanan ALLAH”.

Setelah itu ALLAH memberkati sebuah "batu" yang warnanya putih kemilau seperti salju.



KETIKA SAYA MENJADIKANNYA SEBAGAI REFERENSI

Pada tanggal 30 Juli 2012, saya pernah menerbitkan satu artikel berjudul; "APAKAH ALLAH AKAN MENYELAMATKAN XANANA ATAU MENYELAMATKAN SI TANGAN SABAT?"
Dalam artikel tersebut, saya menuliskan bahwa jika di telapak tangan Pak Xanana tidak terdapat angka 7 yang merupakan simbol Sabat, maka Pak Xanana tidak akan menduduki Kursi Perdana Menteri sampai 1 Januari 2017. Padahal saat itu, 30 Juli 2012, Kabinet V Governo belum dilantik, karena baru dilantik pada 8 Agustus 2012 di Palacio Nobre (dulu pada jaman Indonesia dinamakan; Gedung Negara).

Ada dua referensi penting, yang membuat saya tidak ragu untuk menuliskan artikel tersebut dan mengeluarkan "pernyataan", yang membuat banyak "haters" menghujat saya habis-habisan. Sebagian haters bilang;

"Kamu itu siapa sich? Apa kamu pikir kamu lebih hebat dari Pak Xanana? Dasar milisi penghianat, pembunuh, penjual tanah air Timor Leste ke Indonesia. Kamu turun di Dili kami penggal kepala kamu. O tuun Dili ami kapa tiha O (kamu turun Dili, kami kebiri kamu)".

Saya memang bukan Pak Xanana, yang di Timor Leste, bukan sekedar dianggap sebagai simbol perlawanan Timor Leste, tapi sebagian orang telah mengkultuskan seorang Xanana pada "level nabi". Setiap ucapannya adalah hukum.

Yang tidak diketahui "haters", adalah bahwa saya menuliskan artikelku dan mengeluarkan pernyataan bahwa Pak Xanana tidak akan menduduki Kursi Perdana Menteri sampai 1 Januari 2017, bukan karena saya sedang "meramal" (sebab sejatinya saya memang bukan peramal, tapi mistikus).

Yang saya lakukan selama ini, bukan meramal, melainkan saya sedang "bersaksi", mengenai karya-karya ALLAH yang penuh keajaiban.

Ada dua referensi sentral, yang jadikan sebagai "dasar teori" untuk memastikan bahwa Pak Xanana tidak akan menduduki Kursi Perdana Menteri sampai 1 Januari 2017. Dua referensi sentral tersebut adalah;

Referensi Kedua;

Penampakan TUHAN YESUS pada Minggu, 7 Juli 1996, di Desa Laclo Sub Distrito Atsabe, sebagaimana telah saya kisahkan sebelumnya. Maka saya tidak perlu mengulangnya di sini (akan jadi membosankan).

Referensi Pertama;

Ketika ALLAH memperlihatkan "Telapak Tangan Kanan-Nya" saat menjawab pertanyaan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, sebagaimana saya kisahkan dalam artikel seri dua ini.

Sekiranya yang memperlihatkan "Telapak Tangan Kanan-Nya" dari balik Takhta yang sangat megah itu bukan ALLAH, mengapa artikelku harus bertuah di mana Pak Xanana harus lengser sebelum 1 Januari 2017?"

Atau kalau yang menampakkan Diri kepadaku pada Minggu, 7 Juli 1996 di Desa Laclo bukan TUHAN YESUS yang memperkenalkan ANAK DAUD secara biologis, maka seharunsya Pak Xanana bertahan menduduki Kursi Perdana Menteri hingga 1 Januari 2017?

Mungkin para haters, setelah membaca artikel in, akan berkata;

"Aaakhh itu kebetulan saja. Lengsernya Perdana Menteri Xanana Gusmao, tidak ada hubungannya dengan itu semua".

Jika ada komentar seperti itu, tidak apa-apa. Orang bebas mengatakan apa yang tersangkut dalam benak dan bersemayam dalam hatinya. Tapi ingat, masih ada “drama” yang belum berakhir.

Drama itu adalah; "Jika benar demikian, lengsernya Pak Xanana dari Kursi Perdana Menteri tidak ada hubungannya dengan itu semua, mengapa artikel edisi 30 Juli 2012, harus berjumlah "160 kata? Ada yang menganggap bilangan 160 itu kebetulan?"

Silahkan Anda menghitung jumlah kata dalam artikel tersebut. Artikel tersebut masih ada di sana. Klik saja highligth 30 Juli 2012. Jika Anda menghitung dengan benar, pasti jumlahnya 160 kata.
Pertanyaannya adalah; "Apa makna di balik bilangan 160 tersebut?" Jawabannya sederhana sekali.

Coba Anda konversikan nama Presiden "TAUR MATAN RUAK" dan frasa PANGERAN SURYA, ke dalam Bilangan Latin. Bukankah kedua item tersebut; jumlahnya juga 160?

TAUR = 60
MATAN = 49
RUAK = 51.
Total; TAUR + MATAN + RUAK = 60 + 49 + 51 = 160.

PANGERAN = 76
SURYA = 84.
Total; PANGERAN + SURYA = 76 + 84 = 160. Apa artinya ini semua?

Artinya adalah; Jika dalam diri Presiden Taur Matan Ruak mengalir “DARAH BIRU MATAHARI”, maka Beliau lah PANGERAN SURYA yang asli.

Jika Beliau adalah PANGERAN SURYA yang asli, maka itu artinya Beliaulah ANAK DAUD yang asli, secara biologis. Maka Beliau akan menduduki KURSI ANAK DAUD (135) sampai 1 Januari 2017.

Tapi jika tidak, maka MAAF, saya harus mengatakan bahwa Yang Mulia Presiden Taur Matan Ruak tidak akan berkuasa sampai 1 Januari 2017. Hanya ada dua pilihan bagi Presiden Taur Matan Ruak untuk lengser, yaitu; memilih lengser secara "soft landing atau "hard landing?"

Jika memilih "soft landing", ya syukurlah. TUHAN YESUS akan memberkati. Tapi kalau Beliau memilih "hard landing", ini sangat disayangkan, karena Timor Leste masih sangat membutuhkan "Pemimpin seperti Beliau". Menurutku, Beliau Pemimpin yang baik.



SAYA TIBA KEMBALI DI KOTA ATSABE TANPA AJNJING GAIB

Pada malam harinya, Minggu, 20 Februari 1994, saya meninggalkan Bukit Sio(n) kembali ke Kota Atsabe. Sepanjang perjalanan pulang, saya diguyur hujan yang sangat deras, disertai suara petir yang terus menyambar, sehingga setiap kali pancaran cahaya petir menyala, saya harus duduk dan menutupi telingaku gara-gara suara petir yang begitu sangat keras.

Saya tiba kembali di Kota Atsabe sudah tengah malam, dengan tubuh yang nyaris kaku karena kedinginan yang amat sangat. Sayangnya saya pulang ke Kota Atsabe tanpa Anjing Gaib kiriman St. Yosef, yang telah berjasa memandu perjalananku, sehingga saya bisa mencapai Bukit Sio(n).

Semoga catatan ini bermanfaat. Selamat berakhir pekan. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih, memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Semenjak terbitnya artikel berjudul; MENGAPA PRESIDEN RAMOS HORTA HARUS TERTEMBAK PADA 11 FEBRUARI 2008 (bag: 1), banyak sekali Pembaca yang bertanya;
“Apa makna angka 600 yang ditulis Prof. Lucas Da Costa?”

Saya baru akan membahas pertanyaan itu pada seri ke-3 artikel ini.

Tidak ada komentar: