Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 29 Februari 2016

CAWAN KRISTUS: "Paradox Air Mata Perawan Maria Di Seminario Maior Fatumeta Dili Dalam Perspektif Fides Quaerrens Intellectum" (bag: 2)



Telah ada pernyataan resmi dari Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili bahwa "air" yang keluar dari "mata" patung Bunda Suci Perawan Maria pada 25 Februari 2016 adalah "air hujan", tapi bukan "air mata" (baca screen shoot yang saya copy dari salah satu sahabat FB'er sebagaimana foto terlampir).


Karena Institusi Seminario Maior Fatumeta Dili berada di bawah Gereja Katolik Timor Leste, maka kita dapat menganggap, pernyataan resmi tersebut juga mewakili Gereja Katolik Timor Leste.

Dengan demikian, maka "air" yang keluar dari "mata" Bunda Suci Perawan Maria, yang menarik perhatian banyak orang adalah "cairan transudat". Bukan "cairan exudat". Penggunaan terminologi (istilah) "transudat" dan "exudat" dapat Anda baca pada bagian pertama artikel ini.

Namun walau Gereja Katolik Timor Leste, melalui salah satu Institusi di bawahnya telah mengeluarkan pernyataan resmi tersebut, saya tetap wajib meneruskan menulis artikel ini, karena sejumlah alasan berikut ini;

Alasan Pertama;

Pada 26 Februari 2016, saat saya ajukan pertanyaan kepada Bunda Suci Perawan Maria dan TUHAN YESUS, mengenai kejadian aneh tersebut, sebagaimana telah saya sampaikan di seri pertama artikel ini, jawaban yang saya peroleh dari Bunda Perawan Maria dan TUHAN YESUS, "sama dan sebangun" (kongruen), sama sekali tidak ada perbedaan, yaitu; ANAK KANDUNG DAUD".

Kemudian jawaban ini, menjadi "landasan pemikiran" bagi saya untuk memilih judul utama artikel ini; CAWAN KRISTUS.

Ini menjadi salah satu alasan penting, bahkan alasan terpenting dari semua alasan yang ada, mengapa saya harus melanjutkan menulis artikel ini. walaupun ciran yang keluar dari MATA Bunda Suci Perawan Maria di Seminario Fatumeta Dili, oleh Otoritas di sana, menamakannya AIR HUJAN, bukan AIR MATA.

Alasan Kedua;

Saya menganggap bahwa semua peristiwa dalam kehidupan ini, apapun bentuknya, sesderhana apapun, pada level dengan skalasi mana pun, tetap saja memiliki nilai; entah nilai iman, nilai moral, nilai etika, nilai filosofis, nilai teologis, nilai sosial, dan nilai-nilai lainnya.

Nah, salah satu dari nilai di atas inilah yang perlu dicari dan diungkap. Siapa tahu dengan pengungkapan tersebut, ada manfaatnya bagi kepentingan banyak orang di kemudian hari, walaupun tidak ada manfaatnya bagi generasi jaman ini yang adalah orang-orang "rasionalis ultra".

Bagi saya, setiap kejadian dalam hidup ini, apalagi kejadian yang dianggap "memiliki sisi adi kodrati", selalu mengandung "pesan Ilahi", yang jika dicari dan diungkap, bukan hanya akan membentuk paradigma baru, tapi juga menghasilkan berbagai "perpektif" (sudut pandang).

Alasan Ketiga;

Dalam bidang Filsafat, ada satu "trdisi" yang telah menjadi semacam "pakem" penting, yakni; prinsip mencari causalitas di balik setiap fenomena (termasuk kejadian), dengan mempertanyakan "causa primanya", sampai muncul jawaban di mana jawaban terakhir tersebut tidak lagi memberi ruang sedikitpun bagi munculnya pertanyaan berikutnya. Jadi di situ semuanya "mentok".

Misalnya, pada jaman "doeloe" (momentu ne ponte kais Dili ladauk hamriik)), saat itu ketika mengikuti praktikum Anatomi (di Laboratorium Anatomi tentunya, bukan di Seminario Maior Fatumeta Dili), saya bertanya kepada seorang dosenku, dr. Martinus (saat ini masih hidup karena saya sering melihat Beliau mengikuti Missa di Katedral Roh Kudus Denpasar).

"Dok, mengapa ALLAH menciptakan manusia itu hanya memiliki dua mata? Kenapa tidak menciptakan 4 mata, dua di depan dan dua di belakang. Agar dengan demikian, kita bisa melihat arah depan dan belakang sekaligus?"

Saat itu saya bukannya mendapat jawaban dari Beliau, tapi malah dimarahi "habis-habisan".
"Monteiro, kamu itu mau bertanya atau mau cari masalah? Jauh-jauh dari Tim-Tim, buat pertanyaan kok aneh-aneh. Bikin malu orang Tim-Tim saja".

Belum habis di situ, saat praktikum selesai, teman-temanku boleh pulang, saya sendirian disuruh beres(in) tulang-tulang "guru besar" (jenazah) yang berserakan di atas meja untuk disimpan kembali ke dalam peti.

Benar-benar apes. Dalam keadaan diserang "hipoglikemi" karena kelaparan, sambil mengangkut tulang-tulang tersebut untuk menyimpannya ke dalam peti, "air mataku" terus meleleh bagaikan anak sungai.

Jangan salah sangka dulu. Air mataku meleleh bukan karena saya tangisi nasibku yang lagi apes hari itu, tapi gara-gara "formalin" yang sangat pedis menyengat mataku.

Setelah itu saya meninggalkan laboratorium dan bergegas pulang. Saat melewati ruang Prof. Elias, salah satu Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, yang kini sudah Almarhum, saya menoleh ke dalam karena pintunya lagi kebuka.

Begitu melihat Prof. Elias, saya memberanikan diri masuk untuk menanyakan kembali pertanyaan yang telah saya sampaikan kepada dr. Martinus. Ternyata walaupun sama-sama "orang China", sama-sama makan "fuyung-hay dan capcay", mata boleh sama sipit, tapi isi otak dan sudut pandang terhadap setiap masalah berbeda. Mungkin karena faktor usia dan pengalaman.

Ketika Prof. Elias mendengar pertanyaanku, Beliau bilang begini;

"Monteiro, selama puluhan tahun saya menjadi Dosen Anatomi, berkeliling ke berbagai negara di bumi ini, untuk pertama kalinya saya mendapat pertanyaan seperti ini dari seorang mahasiswa Kedokteran" (sorte momentu ne'e hau nia liras mak la iha. Agora mos la iha nafatin).

Beliau kemudian dengan bijak dan sabar menyampaikan 4 elemen penting yang dapat dijadikan sebagai pegangan bagi siapapun untuk memahami dengan baik dan bijak, semua bentuk benda apapun dalam kehidupan ini.

Keempat elemen tersebut adalah;

(1). Konsep
(2). Azas
(3). Fakta
(4). Fungsi

Kemudian Prof. Elias iseng-iseng bertanya;

"Monteiro, kamu tahu mobil kan? Menurutmu, apa itu mobil?"

Tanpa berpikir dua kali, saya langsung jawab; "Kendaraan roda empat".
Sambil tersenyum, Prof. Elias menatapku dan bertanya lagi;

"Apakah menurut kamu, setiap benda yang memiliki roda 4 itu mobil? Bukankah ada gerobak yang juga rodanya empat?"

Guru Besar itu, benar-benar membuat saya saat itu juga mati kutu. Bukan sekedar mati gaya. Ruangan Beliau yang sejuk, tiba-tiba berubah menjadi panas, makin panas dan makin panas. Ingin rasanya saya cepat berdiri, berlari keluar dan berlalu. Sepertinya hari itu bukanlah hari baikku.

Karena saya mati kutu dan mati gaya, Beliau meneruskan;

"Jawabanmu mengenai mobil, membuat saya menarik kesimpulan, bahwa konsepmu mengenai mobil perlu dibenahi lagi. Itu baru mengenai konsep tentang mobil. Belum mengenai 3 elemen lainnya, yaitu; "azas", "fakta", dan "fungsi" dari sebuah mobil. Nah, sekarang kita bahas mengenai pertanyaanmu; Mengapa ALLAH menciptakan manusia hanya dengan dua mata. Mengapa bukan 4 mata agar kita bisa melihat semua arah sekaligus?"

Hari itu saya meninggalkan ruangan Prof. Elias dengan penuh RAMA (rasa malu) yang sulit terlupakan hingga detik ini. Semoga Beliau yang sudah berada di "dunia lain" saat ini ikut membaca artikel ini.



MENGAPA CAIRAN YANG KELUAR DARI MATA DISEBUT AIR HUJAN? BUKAN AIR MATA? BAGAIMANA LOGIKANYA?

Karena saya menuliskan artikel ini di warnet (laptopku lagi bermasalah), maka saya kurang konsen. Belum lagi saya tidak ada "mood" yang baik untuk menulis saat ini, maka saya ingin cepat mengakhiri seri kedua ini.

Sebelum mengakhirinya, saya ingin meninggalkan sejumlah pertanyaan berikut ini sebagai "bahan renungan bersama".

"Seorang gadis remaja, bernama "Rainha Timor". Tamat dari SMA Canossa Santa Madalena Dili, lalu ikut testing, di terima di Unpaz, tepatnya di terima di FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat).
Setelah empat tahun, gadis tersebut berhasil menyelesaikan studinya. Begitu keluar dari Unpaz, ada tambahan sebuah "entitas baru". Di belakang namanya tertulis sebuah simbol identitas baru; Rainha Timor,SKM.

Apa yang sesungguhnya dialami Rainha Timor selama 4 tahun di Unpaz? Bukankah dia mengalami 3 tahap penting di bawah ini, yaitu;

(1). Input
(2). Processing
(3). Output

Rainha Timor masuk FKM Unpaz tanpa embel-embel apapun di balik namanya. Tapi setelah menjalani "processing" selama 4 tahun di FKM Unpaz, begitu keluar (meninggalkan) Unpaz, ada sebuah ID(entitas) baru.

Berdasarkan apa yang dialami Rainha Timor di atas, dengan tetap menghargai penjelasan resmi dari Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili, yang menyatakan secara resmi bahwa "cairan" yang keluar dari mata Bunda Perawan Maria adalah "air hujan", tapi bukan "air mata", saya munculkan sejumlah pertanyaan berikut ini, untuk direnungkan bersama.

KESAMAAN MORFOLOGI ATAU KARENA ASUMSI SAJA?

Semua materi dalam hidup ini memiliki "nomenklatur" masing-masing. Cairan yang keluar dari mulut disebut SALIVA (LUDAH). Cairan yang keluar dari kulit disebut KERINGAT. Cairan yang keluar dari hidung disebut INGUS. Cairan yang keluar dari urethra disebut URINE. Cairan yang keluar dari pembuluh nadi (arteri atau vena), disebut DARAH. Ketika seorang pria orgasme saat coitus, cairan yang tersembur dari gland Mr. P, disebut "CAIRAN SEMINALIS" (terlepas dari mengandung sperma atau tidak). Cairan yang keluar dari mata, lazimnya biasa disebut AIR MATA.
Berdasarkan uraian di atas, ternyata bahwa semua cairan yang keluar dari tubuh manusia, menyandang "nomenklatur" (dinamai) berdasarkan "nama organ" yang menjadi pintu gerbang, dari mana cairan tersebut berasal.

Sebelumnya saya meminta maaf lebih dulu kepada Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili. Pertanyaan saya adalah;

"Mengapa cairan yang keluar dari organ MATA Bunda Suci Perawan Maria, bukannya disebut AIR MATA melainkan disebut AIR HUJAN?"

Secara logika, atas dasar apa, Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili menyatakan bahwa "cairan" yang keluar dari MATA Bunda Suci Perawan Maria itu disebut AIR HUJAN? Mengapa bukan disebut AIR MATA? Bukankah keluarnya dari mata?

Apakah pernyataan di atas berdasarkan "asumsi" belaka atau berdasarkan "data & fakta" empiris" (ilmiah). Kalau pernyataan tersebut berdasarkan hasil "kajian ilmiah" (pemeriksaan laboratorium), maka pernyataan tersebut memiliki kebenaran ilmiah yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Tapi jika belum dilakukan pemeriksaan laboratorium, maka bagaimana bisa, cairan yang keluar dari MATA bukannya dinamakan AIR MATA, tetapi AIR HUJAN?

Kita mencoba mencari menemukan logika di balik pernyataan resmi dari Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili (jika memang benar telah ada pernyataan resmi).

Idealnya, dari sisi ilmiah, apalagi dari sisi tanggung-jawab "iman dan moral", semoga Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili, telah memeriksa lebih dulu cairan tersebut, sebelum tiba pada kesimpulan defenitif untuk mengeluarkan pernyataan resmi, bahwa cairan yang keluar dari MATA Bunda Suci Perawan Maria, bukanlah AIR MATA melainkan AIR HUJAN.

Sebuah Institusi Ilmiah, apalagi level Seminario Maior, menurutku, pasti tidak "asal" mengeluarkan pernyataan resmi hanya berdasarkan asumsi belaka, walaupun asumsi itu diyakini benar, tetapi karena pernyataan itu aan menjadi konsumsi publik, maka pasti pernyataan tersebut berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang bisa dipertanggung-jawabkan.

Artinya pasti Jajaran Seminario Mairo Fatumeta Dili telah bekerja sama dengan Instansi terkait untuk melakukan uji laboratorium, dan hasilnya, ditemukan adanya "kesamaan morfologi" antara air hujan dengan air yang keluar dari mata Bunda Suci Perawan Maria. Jika belum melakukan uji laboratorium, saya yakin, sebuah Institusi Pendidikan, level Seminario Maior, tidak mungkin "asal-asaln" mengeluarkan pernyataan resmi untuk menjadi konsumsi publik, hanya berdasarkan asumsi belaka.

Apa yang saya sampaikan di sini, bukan karena sedang mencar-cari masalah. Tapi saya tetap harus menjaga konsistensi untuk tetap konsisten, karena semua uraian artikel ini harus tetap bersubordinasi kepada thema sentral artikel ini (CAWAN KRISTUS) dan sub judul artikel ini, yang bertitik tolak dari pemikiran St. Anselmus; yakni; "Fides Quaerrens Intellectum" (Iman yang mencari peneguhan melalui pengertian dan pembuktian ilmiah).

Dan lebih lanjut, dengan mengambil analog dari apa yang dialami "Rainha Timor" di FKM Unpaz, dalam cerita di atas, maka berarti AIR HUJAN mengalami tiga tahapan; yaitu; input, processing & output.

INPUT-nya adalah AIR HUJAN yang jatuh dari atas (entah langit atau gua atau palfon rumah).
PROCESSING-nya berlangsung di dalam tubuh Bunda Suci Perawan Maria, mulai dari KEPALA (MAHKOTA), sampai muncul di MATA, yang benar-benar di luar kendali (intervensi) manusia.
Nah, pertanyaan (teologisnya) adalah; "Apakah setelah AIR HUJAN yang telah lama bersemayam dalam tubuh Bunda Suci Perawan Maria, dan begitu muncul dari MATA, apakah (OUT PUT-nya) tetap bernama AIR HUJAN?"

Mengapa bukan dinamakan AIR MATA? Padahal kan keluarnya dari MATA? Bukan dari langit? Dan apakah setelah mengalami 3 tahapan di atas, dan terlebih setelah bersemayam sekian lama dalam tubuh Bunda Suci Perawan Maria, AIR HUJAN sama sekali tidak mengalami satu "metamorfosis", dengan menyandang sebuah "entitas baru (dari sisi Teologi)???"

Pernyataan resmi yang dikeluarkan Otoritas Seminario Maior Fatumeta Dili, seakan-akan hendak mengatakan begini; Rainha Timor masuk FKM Unpaz, setelah menjalani 4 tahun pendidikan, keluar tanpa identitas baru. Apakah Rainha Timor DO (Drop Out???). Sehingga tidak membawa gelar apapun?

BERAS jika dimasukkan (INPUT) ke rice cooker, setelah mengalami PROCESSING sekian lama, biasanya berubah wujud (OUTPUT) menjadi NASI. Tapi jika ada yang tetap menamakannya BERAS, maka perlu dicari penyebabnya. Kenapa bisa demikian?

Apakah karena listriknya mati? Atau karena rice cooker-nya yang rusak? Atau karena manusia yang tidak membedakan antara BERAS & NASI? Atau bukan salah satu dari semuanya ini?

Semoga catatan "ngalor-ngidul" ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

(BERSAMBUNG).

Catatan Kaki;

Tolong perhatikan baik-baik foto TUHAN yang saya lampirkan di awal artikel ini. Thema sentral artikel ini adalah; CAWAN KRISTUS. Nah, pada penampakan KRISTUS yang terjadi di salah satu dusun di Desa Laclo, Sub Distrito Atsabe, pada Minggu dini hari, 7 Juli 1996, sebelum TUHAN muncul di hadapan saya untuk memperkenalkan ANAK KANDUNG DAUD (secara biologis), yang pertama-tama muncul dari atas langit adalah WAJAH TUHAN dengan CAWAN yang sama persis dengan foto yang saya lampirkan di sini.

Penmapakan fenomenal hari itu, berkahir dengan saya "jatuh pingsan", gara-garanya saya kaget setengah mati, ketika tiba-tiba saja langit tebruka, dan sebuah tangga raksasa menjulang dari bumi hingga membelah langit. Saat saya sadar dari pingsan, TUHAN sudah tidak ada.

Tidak ada komentar: