Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Senin, 08 Februari 2016

ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (bag: 5)



Tragedi beradarah 2006 diwarnai dengan mundurnya sekitar 600-an Anggota F=FDTL dari dinas ketentaraan dengan alasan yang bisa dimaklumi, meskipun dari sisi lain, banyak yang memberi stigma kepada ratusan Anggota F-FDTL Loromonu (Timor Leste bagian barat) tersebut sebagai tindakan indisipliner (melakukan desersi militer).


Tragedi berdarah 2006 yang berpola(risasi) dikotomis (Lorosae-Loromonu/Firaku-Kaladi) itu juga memaksa Perdana Menteri Marie Alkatiri harus lengser pada 26 Juni 2006.

Selang 3 hari setelah Marie Alkatiri lengser, tepatnya tanggal 29 Juni 2006, Prof. Lucas da Costa yang saat itu sedang mengungsi di Gleno Ermera, melakukan kontak dengan saya (via HP).

Saat itu saya sedang berada di toko buku Gramedia Matahari yang terletak di Jl. Dewi Sartika Sanglah Denpasar. Detik-detik ketika Prof. Lucas mengontak saya, saat itu saya sedang membaca sebuah buku berjudul; LOURDES; Madu Dari Gunung Batu. Anda bisa melihat cover (sampul) buku tersebut sebagaimana terlihat dalam foto terlampir.

Prof. Lucas mengabarkan bahwa krisis Timor Leste saat itu semakin runyam. Prof. Lucas termasuk yang diincar untuk dibunuh. Karena itulah Beliau mengungsi ke Gleno.

Saat itu Prof. Lucas mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama sifatnya umum. Pertanyaan kedua sifatnya khusus. Kedua pertanyaan tersebut adalah;

(1). Bagaimana akhir dari krisis ini? Kapan berakhir?
(2). Keselamatan saya terancam. Apakah saya selamat kembali ke Dili? Kalau saya kembali ke Dili tidak selamat, maka saya lebih baik pulang saja ke Atsabe?

Saya bukan peramal, juga bukan paranormal. Tapi ada sejumlah kejadian di masa lalu yang membuat Prof. Lucas dan sejumlah kalangan Renetil, menganggap saya termasuk manusia yang "tidak normal" (memiliki kelainan). Atas alasan itulah, mengapa Prof. Lucas bertanya demikian?

Karena ditodong demikian, dan saya tidak memiliki jawaban yang dipersiapkan, saya asal jawab begini;

Jawaban untuk pertanyaan pertama;

"Krisis ini akan mencapai puncaknya dengan terjadinya satu peristiwa monumental. Peristiwa monumenal tersebut, terjadi pada hari di mana Bunda Suci Perawan Maria menampakkan diri di Lourdes Perancis".

Tapi saat itu saya sama sekali tidak mengatakan bahwa Presiden Ramos Horta akan tertembak. Juga saya tidak mengatakan bahwa Mayor Alfredo Reinaldo Alves dan pengawalnya akan gugur.
Saya juga tidak mengatakan bahwa tragedi berdarah itu akan terjadi pada 11 Februari 2008, yang merupakan hari penampakan genap 150 tahun penampakan pertama Bunda Maria di Lourdes Perancis pada Kamis 11 Februari 1858.

Jawaban untuk pertanyaan kedua;

"Om Lucas boleh kembali ke Dili, tapi dengan syarat; harus membawa serta simbol yang ada hubungannya dengan Bunda Suci Perawan Maria Lourdes. Silahkan mencari simbol-simbol yang ada hubungannya dengan Bunda Perawan Maria Lourdes, dan setelah ketemu, boleh kembali ke Dili".



Jawaban yang saya berikan saat itu, hanya muncul secara spontan. Benar-benar spontan, karena saya tidak menyangka Porf. Lucas akan tiba-tiba melakukan kontak dan menanyakan hal seperti itu.

Saya memberikan jawaban demikian, karena berdasarkan "suara hati" saya saat itu. Dan kebetulan saat itu saya sedang membaca buku berjudul; LOURDES; Madu Dari Gunung Batu".

Buku tersebut diterbitkan pada 11 Februari 2005. Anda boleh percaya, juga boleh tidak. Tapi ALLAH menjadi Saksi.Detik-detik di mana Prof. Lucas melakukan kontak, saya sedang membaca halaman 127 buku tersebut.

Bagi mereka yang di rumah, memiliki buku tersebut silahkan buka halaman 127. Di halaman tersebut, tertera judul; MADU DARI GUNUNG BATU.

Di sana ada kutipan Mazmur, yang diambil dari pasal dan ayat dengan angka-angka yang bunyinya adalah; "Lucas da Costa - Darah Ailisu".

Karena saat Prof. Lucas kontak, saya sedang membaca halaman tersebut, maka hanya berdasarkan pasal dan ayat pada halaman tersebut, yang berbunyi; "Lucas Da Costa - Darah Ailisu", saya menanggapi todongan (pertanyaan) Prof. Lucas Da Costa, yang memang berasal dari "Uma Lulik Ailisu".

Kutipan Kitab Mazmur yang tertera di halaman tersebut berbunyi;

"Betapa manisnya JanjiMu itu bagi langit-langitku, ya TUHAN, lebih manis dari pada madu bagi mulutku (Mzm 119:103).

Coba Anda konversikan nama Prof. LUCAS DA COSTA ke dalam Bilangan Latin. Pasti hasilnya; LUCAS DA COSTA = 119.

Kemudian coba Anda konversikan; DARAH AILISU ke dalam Bilangan Latin. Pasti hasilnya = 103. Ini benar-benar aneh, tapi nyata dan sangat ajaib, setidak-tidaknya menurutku.

Dan anehnya lagi judul halaman 127 yang secara redaskisonal berbunyi; MADU DARI GUNUNG BATU; jika huruf-huruf dalam kalimta judul tersbeut dikonversikan ke dalam Bilangan Latin, hasilnya = 199.

Nah, sekarang coba Anda konversikan frasa ATSABE ke dalam Bilangan Pythagoras. Pasti hasilnya = 199. Kenapa MADU DARI GUNUNG BATU, harus memiliki nilai yang sama dengan frasa ATSABE?

Pertanyaannya adalah; "Apakah ada yang menganggap ini hanya lah kebetulan belaka? Jika bukan kebetulan, maka "Siapakah Fihak" yang mengatur ini semua, kalau bukan ALLAH Yang Maha Kuasa?"

Mengapa Prof. Lucas harus bertanya tepat pada saat saya sedang membaca buku tersebut? Dan bacanya juga harus di halaman yang melambangkan ID(entitas) Prof. Lucas Da Costa dan asal-usulnya? (Uma Lulik Ailisu)??



TERNYATA PROF. LUCAS MENTAATI PESAN SAYA

Hari itu setelah mendapat pesan saya, komunikasi putus. Dan saya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Prof. Lucas. Dan memang seperti itulah tabiat Beliau. Hanya mau kontak saya kalau lagi kepepet. Tapi jika lagi hidup aman, makmur, ahagia & sejahtera, saya tidak mungkin akan dikontak.
Tadinya saya mengira, paling-paling juga pesan saya tidak akan ditaati Prof. Lucas. Namanya juga orang berpendidikan (formal) tinggi, yang memiliki stratifikasi sosial terhormat, jarang mau mendengarkan "saran wong cilik" (orang kecil).

Tapi ternyata dugaanku keliru. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Ternyata berselang hampir 2 tahun (berselang "592" hari), yakni pada 11 Februari 2008, tragedi berdarah itu benar-benar terjadi.

Prof. Em. Jose Manuel Ramos Horta, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Timor Leste ke-4, tertembak, dan terluka berat. Kemudian diterbangkan ke Royal Darwin Hospital Australia, sementara Mayor Alfredo Reinaldo Alves dan pengawlanya gugur dalam tragedi tersebut.

Tapi saya tetap tidak tahu apakah Prof. Lucas dulu mentaaati saran saya? Pada suatu hari, di tahun 2009, saya "main" ke kos-kosan Companheiro Francisco Amaral dan Leoneto Leonito Ribeiro.
Kedua sahabat baik saya ini, saat itu sedang mengikuti Program Pendidikan Magister Hukum di Program Pascasarjana Universitas Udayana. Saat itulah baru saya dapat cerita yang sebenarnya dari "Maun Chico Amaral".

Rupanya hari itu, 29 Juni 2006, setelah selesai melakukan kontak dengan saya, Prof. Lucas menggerakkan "anak buah" yang mendampingi Beliau mengungsi di Gleno untuk keluar masuk rumah-rumah di Gleno, hanya untuk mencari "simbol-simbol Bunda Maria Lourdes".

Maun Chico Amaral bilang;

"Iha fatin. Naton ne katuas gerakkan ami tama sai uma iha Gleno laran so para atu buka deit simbolu Nossa Senhora Lourdes. Ami buka to mankodo didiak mak foin hetan. Assim que ami hetan, hau rasik lori kareta tula Prof. Lucas ami sai husi Gleno, tuun kedan ba Dili".

Terjemahan;

"Pantasan aja. Saat itu "pai tua", gerakkan kami semua, keluar masuk, rumah-rumah di kawasan Gleno hanya untuk mencari simbol Bunda Suci Perawan Maria Lourdes. Kami cari setengah mati, baru menemukannya. Begitu mendapatkannya, kami langsung meninggalkan Gleno, turun ke Dili. Saya sendiri yang menyetir mobil membawa Prof. Lucas".

Saat mendengar cerita Maun Chico Amaral, saya merasa geli sendiri. Rupanya, walaupun "orang besar", kadang-kadang mau juga mematuhi advise "orang kecil". Mungkin karena saat itu sudah benar-benar kepepet (kakorok ema atu koa ona ne, la halo tuir, kakorok la kotu ka?).

Tiba di titik ini muncul pertanyaan (renungan); "Adakah hubungan Prof. Lucas da Costa dengan "Uma Lulik Ailisu" dan Penampakan Bunda Suci Perawan Maria Lourdes dengan tragedi berdarah 11 Februari 2008 yang dialami Presiden Ramos Horta?"

Saya akan membahas pertanyaan-pertanyaan di atas pada lanjutan artikel ini, terutama setelah AVO VALENTE melempar koin sebanyak 171 kali pada 11 Februari 2016, di Uma Lulik AIlisu, Atsabe.

Anda sekalian boleh percaya, boleh tidak. Tapi dari hasil lemparan koin sebanyak 171 kali, kita akan menemukan ID(entitas) Presdien Timor Leste. Karena itulah setelah pelemparan koin sebanyak 171 oleh AVo Valente, saya akan mengeluarkan satu DAFTAR NOMINASI, yang berisi NAMA 6 orang Calon Presiden Timor Leste ke-6.

Salah satu NAMA dari 6 NAMA yang akan saya umumkan dalam pada 9 Maret 2016, akan muncul sebagai Presiden Timor Leste ke-6 dalam Pilpres (Pemilihan Presdien) 2017.

Saya ingin mengakhiri artikel ini, dengan menyampaikan "pesan serius" kepada Prof. Lucas. Pesan ini masih berkaitan dengan bangkai KUCING. Karena ternyata, pada tanggal 4 Februari 2016 malam hari, ketika saya melihat bangkai KUCING, rupanya beberapa jam sebelumnya, pada siang harinya, Aka (Miguel Lucas L Costa), salah satu putera kandung Prof. Lucas yang sedang berada di Surabaya saat ini, juga menabrak KUCING (pada 4 Februari 2016, siang hari).

Jika apa yang disampaikan Aka kepada saya benar, bukan mengada-ada, maka pertanyaannya adalah;
"Mungkinkah kejadian di Surabaya dan di Denpasar ada hubungan satu sama lain?

Jika YA, maka melalui isu KUCING ini, ALLAH dan ALAM sedang memberikan “pesan penting” kepada kita semua. Dan kita tunggu saja, bagaimana hasil pelemparan koin sebanyak 171 di Uma Lulik Ailisu pada 11 Februari 2016, bertepatan dengan genap 158 tahun penampakan pertama Bunda Suci Perawan Maria di Lourdes Perancis (11 Februari 1858).

Saya baru mendapat berita dari Aka, kalau sepupuku itu juga menabrak KUCING pada tanggal 6 Februari setelah saya memposting artikel mengenai kejadian aneh dengan KUCING pada 5 Februari. Bagaimana kisah Aka menabrak KUCING di Surabaya? Ikuti saja lanjutan artikel ini.

Semoga artikel ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.



BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Jika saya tidak dilarang untuk memberi pesan kepada FRETILIN, maka berkaitan dengan kejadian aneh yang melibatkan KUCING sebagai salah satu isu senetral artikel ini, saya ingin sekali menyampaikan kepada FRETILIN.

Pesan saya sederhana saja. Sebaiknya Fretilin mengutus salah satu kadernya, untuk ikut menghadiri dan menjadi SAKSI pelemparan koin sebanyak 171 kali pada 11 Februari 2016 di Uma Lulik Ailisu Atsabe.

Namanya pesan, maka tidak bersifat mengikat. Dituruti saya syukuri, diabaikan juga, saya maklumi. Tapi yang pasti, saya memberikan pesan ini karena ternyata frasa KUCING, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, bukan hanya menghasilkan nilai numerik yang sama dengan frasa TIMOR, tapi juga menghasilkan nilai numeric yang sama dengan FRETILIN.



Kalau tidak percaya, silahkan Anda konversikan frasa KUCING, TIMOR & FRETILIN, ke dalam Bilangan Pythagoras. Pasti hasilnya;

KUCING = 269
TIMOR = 269
FRETILIN = 269

Mengapa antara KUCING, TIMOR & FRETILIN, memiliki nilai numeric yang sama? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Cukup direnungkan saja, sambil menunggu apa yang akan terjadi, sambil melakukan 3B (Berdoa, Bertobat & Bertirakat). Que seraaa...seraa...!!!

Terima-kasih banyak, Anda sudah mau membaca artikel aneh ini hingga selesai. May our Lord JESUS CHRIST bless all of us (black and white). Amen.

Tidak ada komentar: