Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 Januari 2016

SIAPAKAH PRESIDEN TIMOR LESTE KE-6? (bag: 3)



Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernh diterbitkan di Fan Page Badan Pineal pada 18 Januari 2016. Maka bagi mereka yang sudah pernh membacanya, bisa di-skip saja.
=========================================

Ada sahabat Renetil mengirimkan SMS ke saya, dan berasumsi bahwa thema sentral artikel ini (Presiden Timor Leste ke-6) saya memulainya dengan kisah mengenai Prof. Suku Galilea alias Prof. Busur Hitam (Rama Metan), dikarenakan yang akan muncul sebagai Presiden Timor Leste ke-6 adalah Prof. Busur Hitam.


Tidak apa-apa. Namanya juga interpretasi. Jadi sah-sah saja. Apalagi poin sentral bagian pertama dan kedua artikel ini, saya fokus kepada Prof. Busur Hitam. Jadi saya menyediakan "ruang semantik" yang membuat Pembaca memainkan asumsinya. Maka wajar kalau ada yang berasumsi demikian.
Hanya saja yang perlu diketahui, bahwa artikel ini baru saja dimulai. Selain itu saya menggunakan metode "piramida terbalik" (V), untuk mengungkap "clue" (petunjuk) mengenai ID(entitas) Presiden Timor Leste ke-6.

Berarti saya baru saja melangkah. Saya masih berada di wilayah piramida bagian atas yang sangat luas. Belum mengerucut tiba di bagian puncak piramida terbalik tersebut. Maka segala sesuatunya masih gelap gulita. Sebaiknya jangan dulu terlalu prematur menyimpulkan sesuatu saat ini.

"BOKAP HANYA MAU FOKUS URUS KAMPUS"

Pada 19 Desember 2015 saya bertemu sepupuku; "Aka", salah satu putera kandung Prof. Busur Hitam. Aka datang dari Surabaya, menjemput saya di kos pukul 9 malam waktu Bali, lalu kami berdua keluar menuju kawasan "Genteng Biru" di Sanglah Denpasar.

Kawasan Genteng Biru adalah salah satu tempat favoritku untuk "nongkrong" sambil "ngopi", sambil nikmati "live music" (sambil nonton siaran langsung bola kaki jika ada. Soalnya layar TV-nya besar sekali).

Saat ngopi dengan putera Prof. Busur Hitam itulah, saya sempat menanyakan; "Bagaimana khabar bokap?" Dijawabnya; "baik-baik saja. Sehat-sehat saja".

Saya lanjutkan bertanya; "Bokap memiliki agenda tertentu dalam Pemilu 2017 atau tidak ada agenda?"

Aka bilang; "Bokap tidak memiliki agenda sama sekali dalam Pemilu 2017. Beliau hanya ingin fokus urus Kampus saja".

Jawaban sepupuku ini, jika memang benar demikian, bahwa Prof. Busur Hitam tidak memiliki agenda dalam Pilpers 2017, maka dapat kita jadikan sebagai pegangan sementara untuk mengasumsikan bahwa 99,99%, Prof. Busur Hitam bukanlah Presiden Timor Leste ke-6. Walau demikian, 0,1% sisanya bisa berbalik menjadi 99,99% jika ALLAH melakukan intervensi.

Apalagi yang namanya hasrat dan pemikiran manusia itu, secara alami, bersifat sangat dinamis. Bukan statis. Bisa saja hari ini kita merasakan begini lalu kita berkata A. Tapi besok kita merasakan begitu dan berkata B.

Ketika mendengar jawaban sepupuku itu, saya terbayang kembali kisah-kisah indah yang tak terlupakan, terutama detik-detik menjelang Pilpres 2012.

Untuk tiba pada kenangan terindah dalam Pilpres 2012, saya memulainya dari kenangan terindah yang terjadi pada 17 Oktober 2010 di Bali.

Simak kisah unik, lucu, bahkan konyol berikut ini. Kisah berikut sengaja saya selipkan dalam artikel ini karena kisah ini merupakan salah satu "steganos" terbaik, di mana di balik kisah unik ini, saya sedang memainkan ID(entitas) Presiden Timor Leste ke-6.

KONFERENSI MEJA BUNDAR (Sebuah Kilas Balik Singkat)

Pada 17 Oktober 2010, di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, secara kebetulan, saya sempat bertemu 5 orang penting yakni; belun Dioniso Babo,PhD,M.Hum,SH (yang saat ini menjabat sebagai Menteri Admnisitrasi Negara/sebelumnya Menteri Hukum), Senhor Natalino dos Santos (Anggota Parlamen Nasional), kemudian ditambah Senhor Amorin Dias (jika saya tidak salah sempat menjabat sebagai Duta Besar di Malaysia) beserta Isterinya asal Indonesia (yang konon; dibatalkan jadi Anggota Dewan di Senayan gara-gara bersuamikan orang Timor Leste) dan yang terakhir adalah Sdr. Miguel, Staf Konsulat Timor Leste di Bali.

Saat itu, kami duduk mengelilingi sebuah "meja bundar". Makanya secara redaksional, saya beri sub judul bagian ini dengan istilah; KMB (Konferensi Meja Bundar). Dengan demikian berarti, jumlah (kepala) manusia yang terlibat dalam KMB ada 6 orang (5+1). Angka 5 ini adalah mereka berlima yang telah saya sebutkan di atas, ditambah angka 1 itu adalah saya sendiri.

Dalam obrolan itu, saya lebih banyak diam dan mendengarkan. Maklum, lagi menjalani "Puasa VVV", jadi "pantang bicara", kecuali kalau benar-benar kepepet baru bersuara, itu pun sangat irit kata.

Dalam obrolan itulah, salah satu dari ke-5 orang tersebut di atas, berkisah mengenai salah satu Capres dalam Pilpres 2007 (bukan Pilpres 2012).

Rupanya salah satu orang ini pada Pilpres 2007, bukan hanya menjadi tim sukses dari salah satu Capres unggulan, tapi juga menjadi TTM nya sang Capres.

"What is TTM stands for?" TTM di sini, bukan singkatan dari "Teman Tapi Mesra", atau "Teman Tapi Menghianati", melainkan TTM yang kepanjangannya adalah: "The Trusted Man" (orang kepercayaan).

TTM menuturkan dengan gayanya yang kocak, bahwa dana kampanye Pilpres yang sisanya begitu banyak, bukannya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sudah bekerja siang malam tanpa mengenal lelah untuk kemenangan sang Capres ini, tetapi oleh sang Capres, semua dana diambil kembali dimasukkan ke kantong pribadinya.

TTM ne lamenta loss, hodi dehan nune; "Iiiihhh paaa...ema ne para "britas mutin" ida, toos liu fali britas mutin mota laran. Loron ida mak nia husu hau sai fali tan nia tim sukses, hau mak lakohi tiha deit".

Di bawah ini, secuil penggalan dialog antara TTM dengan sang Capres, dalam Bahasa Inggris. Dialog ini terjadi antara sang Capres dengan TTM , yang diminta oleh sang Capres untuk pergi mengambil kembali sisa dana kampanye di suatu tempat.

Dialog dalam Bahasa Inggris di bawah ini, terekam dengan sangat baik di memori saya. Saya menuturkannya sebagai "the second story teller". Sementara "the first story teller" adalah TTM.
Saya mengingatnya dengan baik karena TTM bercerita dengan gayanya yang kocak habis, sambil tertawa "ngagkak". Jadi sangat berkesan bagi saya sehingga tidak akan melupakan setiap detailnya.

Sang Capres yang rupanya tidak sabaran menunggu TTM yang diminta pergi mengambil sisa dana kampanye; mulai menelfon TTM. Begitu TTM angkat telfon, terdengarlah suara sang Capres;

"Hey man...!!! Where have you been? I have been waiting for you hours and hours; kata sang Capres dengan nada suara tidak sabaran.

"I am on the way, and will be there less than 10 minutes", jawab TTM.
"Did you get the money?", tanya sang Capres .
"Yes, I did, Sir", suara TTM meyakinkan sang Capres.
"Have you counted the money? How much?", tanya sang Capres lagi.
"No, I haven't. Really sorry Sir. How can I do that in a few minutes? Because, you know, I got huge money", TTM menjelaskan.
"Glad to hear that. Good job. Come on, hurry up, bring the money. Don't make it too long. I'm waiting for you. Do it fast...!!!!", desak sang Capres. Rupanya sang Capres sedang menunggu kedatangan uang dalam jumlah besar tersebut.

Dalam perjalanan, hati TTM "berbunga ria". Pasti sebentar lagi dia bakalan dapat bagian lumayan. Selama ini, kesan TTM terhadap sang Capres, bukan tipe "kamaruk" (rakus uang). Jadi tidak mungkin semuanya akan dimakan sendirian oleh sang Capres", gumam TTM dalam hati.

Tapi apa yang terjadi saat tiba di sana? Begitu TTM memasuki ruangan yang sedang ditunggu sang Capres sendirian, dan begitu uang tersebut dikeluarkan dan ditumpuk di atas meja, sampai uang itu membumbung tinggi, dan TTM mencoba untuk menghitungnya di hadapan sang Capres, sang Capres tidak memberikan kesempatan.

Kedua tangan sang Capres langsung terulur dan menyapu uang tersebut dari atas meja. Dalam sekejap, tumpukan uang tersebut telah lenyap jatuh ke bawah (ke bawah mana???)

Rupanya sang Capres telah menyediakan sebuah dus kosong (caixa mamuk) di hadapannya tapi tak terlihat dari depan. Sehingga begitu tumpukan uang tersbeut tersapu dari atas meja dan jatuh ke bawah, akan langsung masuk ke dalam dus yang mulutnya sedang menganga kaya' ikan kehabisan air.

Setelah itu sang Capres berdiri memeluk TTM sambil berkata; "Good job man. Thank you very much. Everything well done. You may leave me now. This way, please....!!!!"(sang Capres menunjukkan pintu keluar kepada TTM, tanpa memberi sepeser pun uang. Mungkin dalam hatinya sang Capres bergumam, mengejek; "How poor you are man...!!!").

TTM meninggalkan ruangan sang Capres sambil mengumpat dalam hati (maaf); "Damn....F??king shit. What the hell going on?".

Pertanyaannya kini adalah; "Apa hubungan kisah unik, lucu dan konyol di atas dengan Presiden Timor Leste ke-6?"

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki; Keterangan Istilah;

Steganos, adalah Bahasa Yunani, yang dimaknai sebagai; kode rahasia. Banyak visioner "jaman doeloe", salah satunya adalah seniman jenius asal Italia, Leonardo Da Vinci, senang sekali memainkan steganos dalam sejumlah karya fenomenalnya, termasuk karyanya; "THE LAST SUPPER", topik lukisannya mengenai "PERJAMUAN TERAKHIR", yang diadakan TUHAN sebelum TUHAN menyerahkan Diri-Nya untuk disalib.

Steganos bisa berupa lukisan, gambar, foto, cerita lucu, unik dan konyol, bisa juga berupa nama benda, nama bintang, angka-angka dst. Para "decoder" (pemecah sandi) yang jenius, akan mampu memecahkan "steganos", walaupun mungkin butuh waktu bertahun-tahun lamanya.

Steganos dibutuhkan (dimainkan), jika informasi-infromasi tertentu belum saatnya disampaikan secara eksplisit kepada publik, atau alasan lainnya, misalnya; "demi keselamatan sang visioner atau sang penulis itu sendiri", karena isu-isu yang disampaikan adalah isu-isu sensitif yang berkaitan erat dengan penguasa, terutama penguasa bertangan besi.

"Britas mutin", adalah Bahasa Tetun, yang makna lexicalnya artinya "batu cadas putih" yang umumnya ditemukan di sungai-sungai.

Tapi penggunaannya dalam kisah di atas, "britas mutin" memiliki makna konotatif" yang melambangkan (simboliza) orang yang sangat-sangat kikir dan ditambah lagi; kalau lihat uang, matanya hijau alias kamaruk (haree hetan osan, matan verde tiha).

Tidak ada komentar: