Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 Januari 2016

SIAPAKAH PRESIDEN TIMOR LESTE KE-6? (bag: 2)



Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernah diterbitkan di Fan Page Badan Pineal dan dua blog lainnya, pada 16 Januari 2016. Maka bagi mereka yang sudah membacanya, boleh diskip saja.
===========================================================


Saat keluar dari Pelabuhan Tanjung Perak, sudah tengah malam. Saya sempat kesasar lebih dulu sebelum sampai di kediaman Porf. Suku Galilea di Perumahan Babatan Pilang Surabaya, pada pukul 2 dini hari.


Yang membukakan pintu gerbang adalah putri sulung Prof. Suku Galilea, Manoca. Saat itu Prof. Suku Galilea sudah tidur. Beliau kemudian dibangunkan. Kami berdua "ngobrol" sampai pagi (pada pagi harinya, tiba-tiba Companheiro Alturas (Virgilo Guterres) Presiden AJTL yang juga pernah menghuni LP Cipinang Jakarta, nongol dari dalam kamar).

Dalam obrolan itulah saya baru mengetahui alasan Beliau ditangkap? Tapi kemudian dilepaskan kembali pada 14 Januari 1998, karena ternyata Beliau tidak terbukti terlibat dalam bom di Semarang. Tapi sayangnya mobil pribadi Beliau lenyap.

Saya berkomentar: "Ikhlaskan saja Om. Anggap saja lenyapnya mobil itu sebagai buang sial. Yang terpenting nyawa selamat".

Beliau juga bercerita mengenai "penyiksaan" yang dialaminya selama berada dalam "tahanan". Saat saya tanyakan; "Apakah Om akan tobat (insyaf), dan berhenti dari aktivitas "klandestina" untuk memperjuangkan Kemerdekaan Timor Leste?"

Setelah diam agak lama sambil menghisap rokok dalam-dalam, kemudian tokoh yang ditangkap Pasukan Elit TNI (Baret Merah), setelah dikepung dan dilumpuhkan dengan senjata di Natarbora Manatuto (karena itulah kakinya pincang akibat tembakan Baret Merah), kembali bersuara;

"Ita labele para, tamba ema barak mate iha luta ida ne. Colegas diak barak no familia barak mate tamba luta ida ne. Tantu ita lebele para deit iha dalan klaran, tenki kuntinua to rohan" (Kita tidak boleh berhenti, karena banyak orang telah gugur dalam perjuangan ini. Banyak sahabat terbaik dan banyak keluarga gugur karena perjuangan ini. Jadi kita tidak boleh berhenti begitu saja di pertengahan jalan, kita harus teruskan sampai titik akhir").

Ketika Beliau menyebut banyak keluarga yang telah gugur karena perjuangan ini, saya terbayang adik kandung Beliau bernama "Lahe-Mau" yang gugur (dieksekusi) oleh TNI. Karena itulah "nama Revolusionernya" dalam Renetil adalah; "LAHEMAU".

Bukan cuma itu. Ibu kandung Beliau sendiri, gugur oleh serangan udara TNI. Konon, tubuh Ibunya terkena langsung bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur Militer Indonesia, sampai-sampai tubuh Ibunya tercabik-cabik. Sebagian tersangkut di bebatuan, sebagian lagi tersangkut di atas pohon. Kisah yang memilukan. Dan hampir semua orang Timor Leste mengalami kejadian tragis di mana mereka harus kehilangan keluarga tercinta selama perang brlangsung.

Saat itu saya juga sempat menanyakan; "Apakah sudah kembali kontak dengan Pak Xanana? Dibilang sudah.

"Apa saran Pak Xanana untuk Om?"

"Xanana memberi saya waktu 6 bulan untuk "break" sementara dulu guna memulihkan kondisi mental dan emosi. Tapi yang jelas saya tidak akan gantung sarung tinju. Perjuangan ini harus diteruskan sampai tetes darah penghabisan".

Malam itu Beliau menanyakan; "Saya baru mendapatkan pesanmu dari Aida setelah kembali dari penjara. Aida lupa menyampaikan pesanmu sebelum saya ditangkap. Saya meminta kamu mampir ke Surabaya, karena yang membuat saya heran, bagaimana kamu bisa tahu kalau saya akan ditangkap, padahal kamu di Dili? ".

Saya jawab saja apa adanya, bahwa saya sebenarnya mendengar Om telah ditangkap saat sedang berada di Gleno Ermera untuk menghadiri acara pernikahan adik Bupati Ermera, Senhor Constantino Soares..

Kisah awal saya mengetahui kalau Om akan ditangkap itu dimulai dengan kejadian unik di mana saya menabrak tiang listrik di pintu gerbang Kantor Telkom Dili, kemudian pingsan. Orang-orang membopong dan membawa saya ke dalam Kantor Telkom dan membaringkan saya di sofa".

"Karena ruangannya ber-AC, saya kemudian tertidur dan bermimpi aneh melihat Om dalam mimpi. Begitu sadar dari mimpi, saya masuk bilik telfon, langsung telfon ke sini, yang terima Aida. Aida menanyakan apa yang akan terjadi? Tapi karena uangku tidak cukup, lagian menelfon SLJJ pada siang hari itu butuh dana besar, maka saya putuskan saja telfon. Tidak sempat menjelaskan, sehingga mungkin Aida menganggap saya sekedar bercanda".

Dari ekpresi Beliau saat mendengarkan penjelasan saya, tampaknya Beliau tidak percaya, karena penjelasan saya dianggap tidak masuk akal.

Tapi saya biarkan saja karena memang hanya itulah yang bisa saya sampaikan. Saya merasa kesulitan dan tidak menemukan cara yang lebih baik untuk menjelaskan dengan "kemasan bahasa" yang lebih logis, agar bisa diterima oleh akal sehat kita.

Khan tidak mungkin saat itu saya menjelaskan begini;

"Om...berdasarkan Teori ILMU BILANGAN, saya menelfon pada DUA PULUH DESEMBER itu ada kaitannya dengan PIETA CRISTO. Dan Om ditangkap pada DUA PULUH TIGA DESEMBER itu ada hubungannya RAMA (Rasul Matahari = 142, yang merupakan Keturunan Bangsawan Majapahit; HAYAM WURUK). Dan Om dilepaskan kembali pada 14 Januari itu..karena berkaitan erat dengan TUAN TANAH Timor Leste & TAKHTA DAUD"

Atau pada malam itu saya tidak mungkin menjelaskan begini;

"Ketika Om perintahkan Tiu Raimundo harus memberi saya modal DUA RATUS RIBU untuk naik Kapal (Pangrango), itu melambangkan; MURID TERAKHIR yang adalah KETURUNAN DAUD, karena jika semua huruf dalam frasa; DUA RATUS RIBU, dikonversikan ke dalam Bilangan Latin, memiliki nilai numerik yang sama dan paralel dengan; MURID TERAKHIR & KETURUNAN DAUD = 155. Demikian dan seterusnya.

Penjelasan demikian malah akan membuat Beliau menganggap saya perlu dibawa ke Psikiater. Bukankah itu lebih runyam? Mending bilang saja; "Saya menabrak tiang listrik, kemudian jatuh pingsan, kemudian bermimpi". Bukankah itu jauh lebih aman?

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Hari ini 16 Januari. Maka perkenankanlah saya menyampaikan SELAMAT ULANG TAHUN kepada Suster YASHINTA NOE, dari Kongregasi RVM (Religious of the Virgin Mary) yang hari ini berulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu dan senantiasa diberkati TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih. Amin.

Menyebut nama "NOE", maka orang-orang Timor Leste dan atau orang Portugis akan mengingat nama Nabi NUH (Noe - Nuh). Dengan mengingat Nabi Nuh, maka jangan lupa pesan saya dalam artikel berseri lainnya berjudul; ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT, seri ke-3.

Di sana saya telah sampaikan pesan penting bahwa; kedatangan AIR LAUT untuk menenggelamkan Kota Dili pada tahun 2017, hukumnya adalah wajib. Tenggelamnya Kota Dili pada tahun 2017 adalah sebagai "pesan ALLAH", kepada umat manusia di planet bumi guna mempersiapkan diri baik-baik, karena ALLAH akan benar-benar mendatangkan AIR BAH guna memusnahkan manusia bumi untuk yang kedua kalinya, dengan catatan;

"JikaTimor Leste tidak memenuhi "kewajiban imannya", sehubungan dengan; PERJANJIAN ALLAH DENGAN NABI NUH, sebagaimana tertulis dalam Kitab KEJADIAN, pasal 9; ayat 1-17.
Seperti telah saya kisahkan dalam sejumlah artikel sebelumnya, bahwa Suster Yashinta Noe adalah Suster yang membawa sebuah buku penting berbahasa Inggris dari Filipina, berjudul; AN UNPUBLISHED MANUSCRIPT ON PURGATORY.

Saya menerima buku unik tersebut dari tangan Suster Yashinta Noe di Gereja St. Yosef Kepundung Denpasar, setelah memperoleh mimpi aneh pada dini hari, Minggu, 7 Mei 2005, di mana Bunda Suci Perawan Maria bersama St. Yosef menampakkan diri dan meminta saya harus mengikuti Kebaktian Minggu sore di Gereja St. Yosef untuk menerima sebuah buku dari seseorang. Padahal saya sudah mengikuti Missa pada Hari Sabat.

Tidak ada komentar: