Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 Januari 2016

SIAPAKAH PRESIDEN TIMOR LESTE KE-6? (bag: 1)


Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernah diterbitkan pada 14 Januari 2016 di Fan Page Badan Pienal. Bagi mereka yang sudah pernah membacanya, bisa di-skip saja.
=================================================================

BERTEMU BAPAK GUBERNUR ABILIO DI AIRPORT NGURAH RAI BALI

Pada awal Desember 1997 saya pulang ke Dili Timor-Timur. Pada hari Sabat Suci, 20 Desember 1997, saya pergi ke Kantor Gubernur dengan tujuan untuk menghadap Bapak Gubernur Abilio Jose Osorio Soares (kini sudah Almarhum)
.

Agenda menghadap Pak Gubernur hari itu, adalah untuk membicarakan kondisi IMPETTU Bali, karena saat itu saya masih menjabat sebagai Ketua Umum IMPETTU Bali.

Kebetulan 5 bulan sebelumnya, tepatnya, pada Minggu, 13 Juli 1997, saya sempat bertemu Pak Abilio di Bandara Ngurah Rai Tuban Bali. Saat itulah Beliau memintaku untuk menghadap Beliau di Dili guna membicarakan sejumlah isu IMPETTU Bali.

Saat ngobrol dengan Beliau di Bandara hari itu, Beliau sempat menanyakan kasus (clash) yang terjadi antara "Companheiro Toto & Companheiro Abessy" (Katuas husu dehan; Toto ho Abessy nia problema resolve oin sa ona? Hau dehan; "Sira rua damai tiha ona". Hau ba resolve assunto ne iha Gang Tanjung. Yang gak bisa Tetun, maaf yaa).

Ada satu pernyataan Pak Abilio hari itu yang sampai saat ini tidak saya lupakan. Setelah mendengar laporan saya; bahwa salah satu Anggota Impettu Bali (Domingos Gusmao), baru saja berhasil tamat menjadi dokter hewan, Beliau berkata;

"Bayangkan saja, dokter hewan saja, kita baru punya satu. Kita masih benar-benar mengalami kekurangan SDM (Sumber Daya Manusia). Kalian harus benar-benar memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar sebaik mungkin.

Setelah melihat pengawalnya duduk agak berjauhan dari kami dan asyik menonton TV di Cafetaria (lantai atas), Beliau berbisik ke telingaku begini;

===============================================
"La iha Timor oan ida lakohi Timor ne atu independencia. Inclui hau mos hakarak Timor ne sai nasaun soberania ida. Mas agora ne ita laduak fiar malu. Ne duni imi tenki escola halo didiak ba. O nia Pai Benjamim Goncalves hau conhece diak. O nia alin ida, hau nia Espoza mak urus nia financeira. Ne be hau husu ba O nudar Chefe IMPETTU, halo esforsu para urus anak buah sira didiak. O buka tempo, ba Dili kulia ho hau lai. Hau hein mak ne".
=============================================

MENABRAK TIANG LISTRIK GARA-GARA CEWEK CANTIK

Tapi sayangnya hari itu, 20 Desember 1997, saya tidak jadi bertemu Pak Gubernur karena tamu Beliau hari itu banyak sekali.

Akhirnya, Pak Luis, Ajudan Gubernur, meminta saya mengisi buku tamu dan menjadwalkan pertemuan dengan Pak Gubernur pada Senen, 22 Desember 1997. Setelah itu saya pulang.

Dalam perjalanan pulang, saya memanfaatkan kesmepatan untuk melihat-lihat Kota Dili yang indah. Karena sudah lama sekali saya tidak pulang ke Dili. Dari Kantor Gubernur, saya jalan kaki melewati Toko Hidayat dekat Lampu Merah, lalu terus melewati Toko Dili yang terletak di depan Stadion Dili.
Saat lewat di depan Toko Dili (toko milik Mana Ata/mantan isteri Maun Raul Lemos yang kini menikahi Mbak Krisdayanti), saya melihat ada wanita cantik sedang berdiri di sana.

Sambil jalan, tapi saya terus menoleh ke belakang, melihat cewek tersebut. Begitu tiba di pintu gerbang Kantor Telkom, saya yang masih mencoba melihat ke belakang, tiba-tiba saja menabrak tiang listrik. Saya ambruk ke tanah, nyaris pingsan.

Orang-orang yang ada di sana, berusaha membopong saya, membawa saya ke dalam, ke Kantor Telkom. Di dalam saya dibaringkan di sofa. Karena Kantor Telkom Dili ber-AC, suasana yang sejuk membuat saya merasa nyaman, dan akhirnya jadi tertidur di sofa. Saat tertidur itulah saya bermimpi aneh.

Dalam mimpiku saya melihat Prof. Suku Galilea (baca: Prof. Lucas Da Costa/Rektor UNPAZ saat ini. Mimpi itu lumayan panjang, sebagaimana saya kisahkan dalam artikel berseri berjudul; ANTARA VATICAN, AMERIKA SERIKAT, TAHTA DAUD & SEJARAH TIMOR LESTE, dengan sub judul; "Mayjen TMR Tidak Akan Menduduki Kursi Anak Daud Sampai 1 Januari 2017".
Maka saya tidak perlu mengisahkan mimpi tersebut melalui artikel ini. Saya skip saja isi mimpi tersebut.

Begitu sadar dari mimpi, saya langsung masuk ke bilik telfon dan menelpon ke Surabaya. Saat itu Prof. Lucas sedang ke Kampus. Yang menerima telfonku adalah "Aida Goncalves" (keponakan Prof. Lucas, yang berarti sepupuku sendiri, yang saat ini menikahi dr. Dan Murphy, orang Amerika yang sudah puluhan tahun berkarya di Timor Leste. Bahkan dr. Murphy lebih jago bahasa Tetun dan Bahasa Suku Kemak, ketimbang saya sendiri yang orang asli TL dan asli orang Kemak Atsabe).

Melalui telfon, saya menerima info dari Aida; "Maun Toi, Pai Lucas ba hela kampus" (Kak Toi. Pak Lucas sedang pergi ke kampus). Saat itu (Desmeber 1997) Prof. Lucas sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk ujian Disertasi (Beliau waktu itu tercatat sebagai Mahasiswa Doktoral UNAIR/universitas Airlangga).

Karena bukan Prof. Lucas yang menerima telfonku, maka saya titip saja pesan singkat ke Aida; "Tolong sampaikan ke Om Lucas, selama seminggu ke depan, Om Lucas jangan ke mana-mana. Bahaya sekali kalau sampai Om Lucas keluar rumah".
Aida masih mencoba menanyakan; "Ada apa maun Toi?"

Saya tidak menjawab pertanyaan Aida, karena menelfon melalui SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) Dili-Surabaya, butuh modal yang tidak sedikit sementara status saya mahasiswa, bukan pejabat pemerintah. Apalagi nelfonnya di siang hari. Saya langsung menutup telfon dan keluar dari bilik.
Biarkan saja Aida penasaran. Saya bisa pastikan saat itu Aida sangat penasaran karena saya tidak menjelaskan secara detail apa yang akan terjadi. Tidak apa-apa, biarkan Aida penasaran. Yang terpenting saya sudah menunaikan tugasku. Selanjutnya que seraa..seraa....!!! Apa yang akan terjadi..terjadilah...!!!!

SEPUPUKU LUPA MENYAMPAIKAN PESANKU

Rupanya begitu Prof. Suku Galilea kembali dari Kampus, Aida lupa menyampaikan pesanku. Sepupuku yang saat itu berstatus sebagai mahasiswi Kedokteran di Surabaya, mungkin menganggap telfonku adalah lelucon kosong--komedi basi.

Selang 3 hari, tepatnya pada Selasa, 23 Desember 1997, Prof. Suku Galilea ditangkap saat dalam perjalanan ke Kampus. Beliau yang hari itu sendirian mengendarai mobil kesayangannya, dicegat dan ditangkap dalam perjalanan.

Beliau ditangkap karena dicurigai sebagai "otak" terjaidnya "bom di Semarang yang melibatkan mahasiswa Timo-Timur. Tapi rupanya setelah menjalani investigasi yang berat nyaris tewas, Beliau tidak terbukti terlibat. Maka Prof. Suku Galilea dibebaskan pada 14 Januari 1998. Untung TNI bersikap professional.

Jadi hari ini, 14 Januari 2016, adalah genap "18" tahun Hari Pembebasan Prof. Suku Galilea dari penjara. Sayangnya saat bebas, mobil Beliau tidak ikut pulang bersama sang pemilik. Orangnya boleh bebas, tapi mobilnya jadi "tumbal".

Nah, saat Prof. Suku Galiela pulang kembali ke rumah itulah, baru Aida bercerita kalau 3 hari sebelum Om Lucas di tangkap, saya telah menelfon untuk mewanti-wanti agar Prof. Lucas jangan keluar rumah. Ternyata apa yang terjadi?

Saat mendengar berita tersebut, Om-ku malah emosi. Beliau nyaris menampar Aida, gara-gara lupa menyampaikan pesanku.

Lalu Beliau telfon ke Om Raimundo Goncalves (adik kandungnya di Dili/bokapnya Aida). Om Lucas meminta kepada Om Raimundo, agar temui saya di Dili, menyerahkan uang Rp 200.000 sebagai modal perjalanan Dili-Surabaya menggunakan Kapal Laut (Pangrango).

Jadi saat pulang dari Dili, saya jangan langsung ke Bali, tapi harus ke Surabaya dulu. Rupanya Prof. Suku Galilea mencurigai saya sebagai MAUHU (agen-mata-mata TNI), yang telah menyampaikan laporan ke TNI, bahwa Prof. Lucas lah otak di balik bom yang terjadi di Semarang.

Alasan kecurigaan Beliau adalah; "Bagaimana mungkin saya yang saat itu sedang berada di Dili, bisa tahu kalau Prof. Lucas akan ditangkap di Surabaya? Tidak mungkin kalau saya tidak sedang menjalani kegiatan spionase. Dalam hati kecil Prof. Lucas, sangat mencuirgai saya sebagai "double agen".

PAK XANANA MEMINTA SAYA BERISTIRAHAT 6 BULAN

Pada 25 Februari 1998, sekitar jam 5 pagi, saya meninggalkan Pelabuhan Dili menumpang Kapal Laut Pangrango dengan tujuan Surabaya. Saya tiba di Tanjung Perak Surabaya pada 27 Februari 1998, sekitar pukul 11 malam.

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Saya menyampaikan SELAMAT ULANG TAHUN kepada dr. Linda (Terlinda Da Conceicao Barros, Dokter Spesialis Penyakit Kulit & Kelamin/Alumnus UI), yang juga merupakan salah satu sepupuku, tapi berdarah campuran Portugis-Timor Leste (bokapnya orang asli Portugis), yang dalam foto (jadul) terlampir, mengenakan blus hitam, duduk paling pinggir.

Hari ini, 14 Januari 2016 sepupuku itu berulang tahun. Semoga sehat selalu, panjang umur dan senantiasa diberkati TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih. Amin.

Bagian kedua artikel ini akan saya teruskan pada 16 Januari 2016. Bagi mereka yang berkepentingan dengan PILPRES 2017, jangan lewatkan lanjutan artikel ini. Karena saya akan memberikan "clue" (petunjuk) mengenai; "Siapa Presiden Timor Leste ke-6?"

Lanjutan artikel; ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (seri ke-3), akan diterbitkan besok, 15 Januari 2016. Semoga catatan ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: