Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Minggu, 31 Januari 2016

MUNGKINKAH AKAN ADA DUKA NASIONAL DI TIMOR LESTE TAHUN INI?



Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernah diterbitkan di Fan Page Badan Pineal dan dua blog lainnya, pada 8 Januari 2016. Maka bagi mereka yang sudah membacanya, bisa di-skip saja.

Karena saya hanya merubah judulnya, tapi bukan isinya. Judul sebelumnya berupa "kalimat pernyataan". Tapi judulnya kali ini berupa kalimat pertanyaan, bukan pernyataan. Judul sebelumnya agak kepanjangan. Tapi kali ini, lebih pendek. Semoga bermanfaat. Terima-kasih.

===================================================

Melalui Injil, TUHAN YESUS memberi pesan tegas dan jelas;

“AKU lah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada satu orang pun yang sampai kepada BAPA tanpa melalui AKU. Karena AKU dan BAPA adalah satu. AKU ada di dalam BAPA dan BAPA ada di dalam AKU. Siapa yang telah melihat AKU, dia telah melihat BAPA. Siapa yang menyangkal AKU di hadapan manusia, maka AKU akan menyangkal dia di hadapan BAPA-Ku. Siapa yang mengakui AKU di hadapan manusia, maka AKU juga akan mengakui dia di hapadan BAPA-Ku”.

Berdasarkan pesan TUHAN di atas, pertanyaannya adalah;

“Bagaimana jika seorang pemimpin dari negara sekuler, apalagi sekuler yang ultra, yang tidak mengakui ALLAH di dalam sistim-ketata negaraan meninggal? Apakah pemimpin itu akan masuk Surga untuk melihat Wajah TUHAN? Bukankah menyangkal keseluruhan eksistensi ALLAH dan juga menegasikan kekuasaan-Nya yang absolut, sudah lebih dari cukup bagi ALLAH untuk menutup rapat-rapat jalan ke Surga bagi pemimpin yang bersangkutan? Bukankah penyangkalan terhadap eksistensi ALLAH, sama halnya dengan kita tidak percaya adanya Surga? Jika kita menyangkal adanya Surga, dengan menyangkal adanya ALLAH, masihkah kita membutuhkan Surga setelah meninggal?”

KEJADIAN UNIK MINGGU 3 JANUARI 2016

Pada hari Minggu, 3 Januari 2016, saya pergi mengikuti kebaktian di Gereja Katedral ROH KUDUS Renon Denpasar Bali. Sebenarnya saya sudah mengikuti kebaktian pada Hari SABAT, sehari sebelumnya. Tapi hari itu, Minggu, 3 Januari 2016, bertepatan dengan genap 8 tahun meninggalnya seorang pria yang saya kenal luar dalam (pria itu meninggal pada 3 Januari 2008). Maka hari itu saya pergi ke gereja, untuk meminta Missa hari itu dipersembahkan guna mendoakan pria tersebut.
Setelah memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop putih, dan menuliskan nama pria tersebut (MM) di luar amplop beserta nama Isterinya, juga dengan inisial yang sama (MM), saya keluar dari kos menuju jalan raya dengan buru-buru karena sudah telat.

Begitu tiba di tepi jalan raya, saya menyetop sebuah taxi yang lewat. Entah kebetulan atau tidak, nomor plat taxi itu; DK: 286, dengan nomor lambung 167.

Saya agak kaget juga. Karena kedua kumpulan nomor tersebut, baik 167 maupun nomor 286 adalah simbol yang penuh makna bagi saya. Untuk nomor 167 disimpan saja dulu. Jangan dulu dibahas saat ini. Sementara untuk nomor 286 merupakan simbol nama saya sendiri” (Antoninho Benjamim Monteiro).

Coba Anda konversikan nama tersebut di atas ke dalam Bilangan Latin. Hasilnya pasti = 286. Mungkin ini yang disebut; “pucuk dirindu, Wulan Guritno pun tiba” (jika ada yang bernama Wulan Guritno membaca artikel ini, saya minta MAAF ya. Just kidding).

Begitu berada dalam taxi, saya langsung minta no HP sang supir. Ini nomornya; 081-916-132-586 . Siapa tahu Anda berada di Denpasar, atau khususnya kawasan Kuta (karena Beliau mangkalnya di sana), dan butuh taxi yang nyaman, yang supirnya ramah, Anda bisa langsung tekan nomor di atas . Jika dia lagi free, pasti dia akan meluncur ke tempat Anda.

Namanya Pak Made. Orangnya ramah sekali. Aslinya dari Kabupaten Karangasem (bagian barat yang terkenal dengan hasil mangganya yang manis bagaikan madu). Tapi Beliau sudah lama tinggal di Denpasar, tepatnya di Citarum-Panjer.

Dari Sidakarya ke Renon, saya bayar Rp 30.000 (tiga puluh ribu). Anehnya, angka “tiga puluh ribu” ini jika dikonversikan ke dalam Bilangan Latin, hasilnya = 165. Angka 165 ini amat bermakna.
Masuk ke area Katedral, saya menghampiri petugas yang lagi menjual buku misa bulanan yang diterbitkan Katedral ROH KUDUS. Nama buku tersebut; NUNTIA (bentuknya seperti majalah).
Saya membeli satu exemplar. Harganya Rp 10.000. Saya sodorkan uang lembaran Rp 50.000. Dapat kembalian Rp 40.000, yang terdiri dari 3 lembar 10-ribuan dan dua lembar 5000-an.

Anehnya dari dua lembaran 5000-an, salah satunya memiliki nomor seri yang unik. Tiga nomor terakhir tertulis; 810. Ini simbol MAJAPAHIT. Coba Anda konversikan frasa MAJAPAHIT ke Bilangan Pythagoras. Hasilnya pasti =810. Lengkapnya, semua aksara yang tertulis dalam lembaran 5000-an tersebut adalah; ORO-607810.

Anehnya lagi, di lembaran MAJAPAHIT tersebut, ada tulisan tangan berupa angka “4”. Saya tidak tahu, siapa yang telah iseng menuliskan angka 4 di sana. Angka 4 ini saya anggap melambangkan 3 hal penting;

(1). Simbol Hukum SABAT (Perintah ALLAH yang ke-4)
(2). Simbol Raja HAYAM WURUK, Raja ke-4 Kerajaan Majapahit
(3). Simbol kematian berdasarkan kepercayaan Orang China

Saya sudah pernah tuliskan dalam salah satu artikel, bahwa berdasarkan “tradisi” (keyakinan) orang China”, angka 4 itu simbol kematian.

Makanya “Orang China”, paling tidak suka dengan angka 4. Kagak percaya? Sekedar alat bukti. Coba pergilah ke Jl. Kartika Plaza, di Kuta Bali. Carilah hotel yang namanya “The TUSHITA”. Masuk ke dalam, dan naiklah ke lantai atas, gunakan lift. Pasti dalam lift, Anda tidak akan menemukan lantai bernomor “4”.

Kita kembali ke kejadian di Katedral. Setelah membeli tabloid, sambil baca-baca, saya menunggu Romo di tangga. Tidak lama Romo yang akan memimpin kebaktian hari itu, datang. Saya menyerahkan amplop putih tersebut ke tangan Romo yang asli Jawa. Lalu masuk ke dalam. Tak lama kebaktian pun dimulai.

Nama-nama orang-orang yang akan didoakan hari itu pun dibacakan. Dan karena menggunakan pengeras suara, maka semua nama terdengar jelas. Tapi lucunya, nama salah satu orang yang akan didoakan, seharusnya dibaca menggunakan huruf “C”, malah terbaca menggunakan huruf “K”.
Saya merasa geli mendengarnya. “Ya sudah, tidak apa-apa. Yang terpenting sudah ikut dibacakan dan didoakan”, gumamku.

Saat tiba acara “komuni” (sambut), dari pengeras suara, saya terus mendengarkan suara yang berulang-ulang menyebut kata-kata; TUBUH KRSITUS, TUBUH KRISTUS, TUBUH KRSITUS, TUBUH KRISTUS, demikian dan seterusnya.

Kata-kata TUBUH KRISTUS ini dilafalkan, setiap kali Romo akan memberikan komuni kepada umat yang merasa layak untuk menyambut TUBUH KRISTUS hari itu.

Di tengah-tengah saya sedang keasyikan mendengarkan kata-kata TUBUH KRISTUS dari pengeras suara yang jaraknya dari tempat duduku saya berjarak 3 meter, tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara pemimpin koor yang sangat keras, menyebutkan tiga digit angka; “363”.

Mungkin maksudnya pemimpin koor akan berkata; “Madah Bhakti nomor 363”. Tapi entah kenapa, yang terdengar hanyalah; “363”. Jika Anda yang sedang membaca artikel ini adalah salah satu peserta koor Minggu, 3 Januari 2016, kebaktian sore, maka Anda pasti masih ingat betul angka “363”.

Jujur saja, sejujur-jujurnya, saya sangat kaget, bukan sekedar kaget, saat mendengar angka “363”. Karena angka ini memiliki 3 makna penting bagi saya;

Makna Pertama;

Pria yang meninggal pada 3 Januari 2008, dengan inisial MM, namanya (M) yang terakhir, memiliki nilai numerik = 363, berdasarkan angka Pythagoras. Maka begitu mendengar angka 363 disebutkan dengan suara yang kencang, saya merasa seakan-akan pria tersebut sedang berdiri di hadapanku saat itu.

Barangkali ini adalah pertanda bahwa pria tersebut mendapatkan berkat ALLAH atas doa yang dipanjatkan. Puji TUHAN YESUS.

Makna Kedua;

Akar Timor Leste sebagai sebuah negara, didirikan di atas bilangan “363”. Indonesia, terpaksa mengangkat kaki dari Timor-Timur, bukan karena kalah oleh peluru Falintil. Tapi kalah oleh hasil Referendum yang diumumkan pada Hari SABAT Suci, 4 September 1999.

Bukankah angka hasil Referendum yang diumumkan pada SABAT Suci, yang membawa Timor-Timur muncul sebagai sebuah negara baru di Milenium 3 adalah; “78,5%? Nah, coba Anda lafalkan angka “78,5%” ini dalam Bahasa Indonesia, menjadi; TUJUH PULUH DELAPAN KOMA LIMA PERSEN”.

Lalu semua huruf dalam kalimat; TUJUH PULUH DELAPAN KOMA LIMA PERSEN, dikonversikan ke dalam Bilangan Latin. Hasilnya pasti = 363.
TUJUH = 80
PULUH = 78
DELAPAN = 53
KOMA = 40
LIMA = 35
PERSEN = 77.

Tinggal dijumlahkan; 80+78+53+40+35+77 = 363. Karena itulah saya katakan; “Akar Timor Leste adalah “363”.

Makna Ketiga;

Jangan dibahas dulu saat ini. Jika saya bahas sekarang, maka saya turun di Dili, saya akan ditimpuk pakai batu oleh para “haters” yang selama ini menghujat kesaksian saya.

Pertanyaannya kini adalah; “Apakah ada hubungan antara AKAR Timor Leste yang “363” yang diumumkan pada Hari SABAT Suci, 4 September 1999, dengan “pria” yang bernama “363” yang meninggal pada 3 Januari 2008?”

Tanpa sedikit pun ragu, saya menjawabnya YA. Kok bisa? Belum saatnya dibahas. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah;

“Apakah pria 363 tersebut, pada saat Referendum 30 Agustus 1999, memberikan suaranya untuk Pro KEMERDEKAAN? Atau memberikan suaranya untuk Pro OTONOMI?” Bagaimana mendapatkan jawaban pria 363 tersebut? Sementara Beliau sendiri telah meninggal pada 3 Januari 2008?

Jika pria 363 ini memberikan suaranya untuk Pro Otonomi, maka ini akan menjadi masalah yang sangat-sangat pelik bagi “masa depan” Timor Leste sebagai sebuah negara. Kok bisa begitu?

Anda bayangkan saja. Timor Leste sebagai sebuah negara, akarnya ada di bilangan “363”. Sementara “363” ini berhubungan erat dengan pria yang telah meninggal pada 3 Januari 2008. Apa jadinya kalau pria 363 ini memilih Pro Otonomi? Rumit bukan?

Saya merasa kesulitan untuk menjelaskannya saat ini. Maka sebaiknya untuk sementara, isu ini dipending saja dulu. Dijelaskan juga, tidak akan merubah apapun saat ini. Yang malah terjadi, saya bakalan dihujat habis-habisan. Mending tidak usah.

MENUMPANG TAXI RENETIL-MELIHAT BANGKAI TIKUS

Kita lupakan saja dulu akar Timor Leste (363) dengan pria 363. Karena pesan krusial yang harus saya sampaikan dalam artikel ini adalah; “Salah satu tokoh nasionalis TL akan pergi ke dunia lain di tahun 2016 ini. Dan ini tidak bisa lagi ditunda-tunda. Dengan melakukan 3B sekali pun tidak bisa membatalkannya”.

Secara redaksional, saya tidak berani untuk menuliskan kalimat begini; “Salah satu tokoh nasionalis akan kembali ke pangkuan BAPA di Surga?. Bagaimana saya bisa menuliskan kalimat seperti itu, jika pemimpin Timor Leste, tidak mengakui adanya Kekuasaan ALLAH, sebagaimana tercermin dalam Konstitusi Timor Leste yang tidak satu kali pun menyebutkan Nama TUHAN?”

Maka saya merasa lebih “nyaman” menuliskan kalimat; “Salah satu tokoh nasionalis Timor Leste akan pergi ke dunia lain”. Dengan menggunakan terminologi “pergi ke dunia lain”, akan menyediakan “ruang semantik” (ruang konotasi) yang sangat luas untuk Pembaca guna melakukan penafsiran yang beragam. Jadi silahkan Anda menafsirkan saja sendiri apa itu “dunia lain?”.

Saya sangat yakin, salah satu tokoh nasionalis akan pergi ke “dunia lain” di tahun 2016 ini, karena kejadian aneh berikut ini, yang saya alami pada saat pulang dari Gereja Katedral Renon.

Saat keluar dari gereja, saya menyetop taxi. Entah kebetulan atau tidak, taxi yang muncul adalah taxi biru laut, dengan nomor plat RENETIL. Kok nomor platnya Renetil? Ya, karena nomor platnya; “259”. Di bagian belakang taxi tersebut ada nomor telfon: (0361) 244555.

Anehnya selain platnya melambangkan RENETIL, dan nomor telfon yang juga unik karena terdiri dari 6 digit bilangan cantik, di salah satu bagian taxi tersebut ada simbol Raja DAUD, yaitu bilangan “23”. Anda tidak percaya, coba Anda yang mungkin saat ini sedang ada di Denpasar, silahkan kontak nomor di atas, lalu order taxi dengan nomor plat; 259. Pasti saat taxi itu muncul, Anda akan melihat di salah satu sudut bagian belakang taxi, dekat jendela, terselip angka (23) yang melambangkan “Raja Daud”.

Saya menumpang taxi tersebut meninggalkan Katedral Renon, menuju Sanglah Denpasar. Setelah urusan di Sanglah beres, sekitar pukul 20.00 saya pulang ke kos lewat Jalan Raya Sesetan.

Saat taxi Renetil membelok di lampu merah Pegok (memasuki Jl. Sidakarya), tiba-tiba saja, dari dalam taxi, saya masih sempat-sempatnya melihat seekor bangkai “tikus putih”, berukuran lumayan besar, yang tergelatk di atas trotoar.

Saya sendiri heran. Kok dalam keadaan lampu jalan raya yang remang-remang, dari seberang jalan, saya masih bisa melihat bangkai tikus ptuih tersebut? Jika tidak ada satu kekuatan yang menggerakkkan saya, tidak mungkin saya akan menoleh dan melihat bangkai tikus putih tersebut?

Saya meminta supir menghentikan taxi sebentar. Saya turun dan menyeberang jalan menghampiri bangkai tikus putih tersebut. Saya jonkok di dekat bangkai tikus putih dan mengamati bangkai tikus putih tersebut. Selama menemukan bangkai tikus, untuk pertama kalinya saya menemukan bangkai tikus yang berwarna PUTIH. Hhmmhhh..baunya sangat menyangat (hidung).

Mau membuat dokumentasi, tapi saya tidak bawa HP. Saya kembali ke taxi dan pulang ke kos. Kemudian mengambil BB gemini 8520 dan tablet “ADVAN”, dan segera kembali lagi ke tempat bangkai tikus putih tersebut berada.

Sepanjang pengalaman saya melihat bangkai tikus sebagai pertanda dari dunia lain yang memberi pesan mengenai kematian pemimpin tertentu, saya tidak pernah memiliki hasrat untuk mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Tapi entah kenapa, malam itu saya begitu sangat berhasrat untuk mendokumentasikan bangkai tikus putih tersebut.

Saya tiba kembali di sana dan berhasil mengabadikan bangkai tikus tersebut dalam foto yang akan saya publikasikan besok, 11 Januari 2016 melalui artikel berjudul; ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (seri: 2).

Setelah membuat foto, saya pun pulang. Entah kenapa, dalam perjalanan pulang, setelah beberapa meter melewati rumah tingkat Palapa, lagi-lagi saya kembali menemukan seekor bangkai tikus besar. Yang ini warnanya bukan putih. Saya tidak mengatakan “hitam”, karena tidak ada tikus berwarna hitam. Pokoknya yang satu ini warnanya bukan putih.

Saya sebenarnya tidak ingin membuat foto untuk bangkai tikus yang satu ini. Walau ukuran tubuhnya lumayan besar, namun tidak ada niat untuk mendokumentasikannya dalam bentuk foto.

Tapi begitu mataku melihat tulisan di dekat bangkai tikus itu terggeletak, tiba-tiba muncul nama salah satu “tokoh Renetil” di benakku. Maka hasratku untuk membuat foto, kembali bergelora.

Saya lalu jongkok, mengeluarkan BB gemini merek 8520, juga sekaligus mengeluarkan “tablet ADVAN”, menyalakan senter, dan mulai membuat foto di tengah-tengah kegelapan.

Foto kedua bangkai tikus tersebut akan saya lampirkan dalam artikel berseri berjudul; ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (seri: 2) yang akan saya posting 11 Januari 2016 .

Dalam artikel tersebut, untuk kedua kalinya, saya akan kembali menyampaikan “proposal terbuka” kepada UNPAZ. Jadi kali ini saya tidak lagi menyampaikan proposal tersebut kepada RENETIL, melainkan saya hanya sampai kepada Prof. SUKU GALILEA, dalam kapasitasnya sebagai Rektor UNPAZ, untuk melemparkan koin berlambang Ratu Elizabeth sebanyak 444X.

Karena namanya “proposal”, maka tidak bersifat mengikat. Diindahkan, saya syukuri. Diabaikan juga, saya maklumi. Prof. SUKU GALILEA boleh menggunakan kodrat kehendak bebasnya untuk menentukan pilihan.

Semenjak lahir ke dunia fana ini, ALLAH telah menganugerahi kita semua, kodrat kehendak bebas untuk memilih. Kita bebas menggunakan kodrat kehendak bebas kita, entah secara bertanggung-jawab atau secara serampangan. Semua pilihan selalu mendatangkan konsekuensi logis.
ALLAH tidak pernah memaksakan “Kehendak-Nya” kepada kita. Jika ALLAH main paksa, agar semua orang harus mentaati “Kehendak-Nya”, supaya semua orang selamat masuk Surga, maka untuk apa ALLAH menciptakan Surga sekaligus juga neraka? Bukankah ALLAH menciptakan Surga dan neraka, melambangkan bahwa ALLAH senantiasa menghargai kodrat kehendak bebas kita, untuk memilih Surga atau neraka?

Semoga catatan ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin

Tidak ada komentar: