Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 Januari 2016

ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (bag: 3)



Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernah diterbitkan di Fan Page Badan Pineal pada 15 Januari  2016. Maka bagi mereka yang sudah membacanya, bisa di-skip saja.
================================================================

Setelah tiba di Dili pada akhir Desember 2003, dan mendengarkan secara seksama penuturan Prof. Suku Galilea yang berkaitan denagn konflik UNDIL, akhirnya saya tiba pada satu kesimpulan bahwa; "causa prima konflik UNDIL", benang birunya (saya tidak menggunakan istilah benang merah, biar beda), adalah gara-gara; "PRAKTEK POLITIK ELIMINASI.


Terlepas dari "hubungan darah" antara saya dengan Prof. Suku Galilea, saya ingin mengatakan bahwa; "Dalam konflik UNDIL, akar masalahnya adalah karena sejumlah alasan berikut;

Karena conflict of interest (konflik kepentingan)
Karena ada fihak yang merasa berjasa atas UNDIL
Karena ada fihak ingin sekali diakui eksistensinya
Karena ada fihak yang merasa termarjinalisasi
Karena kebijakan-kebijakan pimpinan yang sulit diterima
Karena komunikasi antar unit-unit Undil tidak berjalan dengan baik
Karena ada fihak yang ingin membangun hegemoninya

Maka ketika Prof. Suku Galilea meminta saya untuk mengulas konflik Undil guna dipublikasikan melalui media (STL = Suara Timor Lorosae), saya kemudian menyanggupi dan menuliskan satu naskah dengan thema entral; KONFLIK UNDIL & PRAKTEK POLITIK ELIMINASI.

Saya memilih thema tersebut, dengan dasar pemikiran; bahwa hampir semua konflik dalam kehidupan ini, pada level mana pun, pada tataran mana pun, melibatkan kelas mana pun, suku mana pun, ras mana pun, agama mana pun, umumnya causa primanya, hanya karena "yang satu menyikut yang lain, yang satu ingin sekali membangun hegemoninya atas yang lain".

Hampir setiap orang, dalam hidup ini, secara kodrati, ingin sekali diakui eksistensinya. Setiap orang ingin beraktualisasi. Setiap orang ingin diakui bahwa mereka lebih unggul dari yang lain. Karena fitrah manusia, pada umumnya memang seperti itu.

KENANGAN BERTEMU SUKUP BELO DI GEREJA BALIDE

Tulisanku itu dimuat di Harian Umum STL secara berseri. Saya tidak menyangka tulisanku ikut dibaca oleh; Yang Mulia, Uskup Mgr. Dom Carlos filipe Ximenes Belo,SDB (Pemenang Nobel Perdamaian 1996, bersama Prof. Em. Ramos Horta).

Pada saat artikel tersebut memasuki seri ketiga, yang diterbitkan pada 2 Februari 2004, tiba-tiba saya mendapat telfon dari Companheiro Nuno Alves, keponakan Uskup Belo. Temanku itu mengabarkan bahwa Uskup Belo "ingin sekali" bertemu saya. Jujur saja, pada awalnya saya sama sekali tidak percaya pada khabar yang disampaikan temanku yang lahir pada 13 Mei ini.

Saya hafal tanggal lahirnya (dan juga nama lengkapnya) karena untuk alasan penelitian dalam bidang Ilmu Bilangan. Maksud saya temanku ini secara diam-diam saya pilih sebagai salah satu subjek dalam penelitianku. Mungkin termasuk Anda yang saya kenal baik yang mungkin saja kebetulan ikut membaca artikel ini, juga telah diam-diam terpilih sebagai subjek penelitian saya.

Saya meneliti diam-diam perjalanan hidup ribuan orang berdasarkan "nama dan tanggal kelahiran mereka" untuk membuktikan teori-teori Ilmu Bilangan yang telah ditulis oleh sejumlah "Ahli Bilangan" di masa lalu.

Saat menerima khabar mengejutkan itu, saya tidak begitu saja percaya karena saya sadar sepenuhnya siapa saya, dan siapa Uskup Belo? Saya "nobody", sementara Uskup Belo "some body", bahkan seorang VVIP". Maka ketika "somebody" ingin sekali bertemu dengan "nobody", "nobody", pasti tidak percaya.

Sepanjang kehidupanku, saya belum pernah bertemu Uskup Belo secara langsung (face yo face). Maka ketika mendengar khabar itu, saya mengira Companheiro Nuno cuma sekedar bercanda.
Maka saya menanggapinya dengan santai; "Nuno, ita bot atu koa hau nia ain kloor ka atu koa hau nia kakorok, dehan los deit?"

Tapi temanku itu berusaha keras meyakinkan saya. Bahwa Uskup Belo ingin sekali bertemu saya setelah Beliau membaca artikel saya yang dipublikasikan STL.

Uskup Belo bertanya kepada Companheiro Nuno; "Kamu kenal orang yang menulis artikel ini? Nuno bilang: kenal baik, karena teman akrab yang sama-sama kuliah di Universitas Udayana Bali, hanya beda Fakultas (saya Fakultas Kedokteran sementara Companheiro Nuno Fakultas Ekonomi)".

Maka Uskup Belo meminta kepada Companheiro Nuno, agar mengundang saya hadir pada Perayaan HUT Uskup Belo ke-56, yang jatuh pada 3 Februari 2004.

Akhirnya pada 3 Februari 2004, saya hadir di Gereja Balide Dili. Saat itu bertepatan dengan temanku Nuno juga menikah. Jadi Missa hari itu selain "Missa Syukuran" merayakan HUT Uskup Belo, juga Missa untuk Pernikahan Companheiro Nuno Alves.

Hari itu Gereja Balide penuh sesak dengan berbagai tipe manusia. Mulai dari CS (Cleaning Service) sampai pejabat negara. Karena ruangan Gereja Balide penuh sesak, saya berdiri paling belakang. Tapi berdirinya di dalam Gereja, sementara di luar Gereja Balide juga penuh dengan manusia yang berjubel, ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Uskup Belo.

Setelah Missa selesai, Uskup Belo turun dari Altar masuk ke ruang pribadi untuk ganti jubah, lalu keluar kembali berdiri di sisi sebelah selatan Altar. Kemudian semua orang antri dalam barisan untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Uskup Belo.

Saya juga masuk dalam barisan antrian. Dan saya perkirakan, masih menunggu sekian lama, baru bisa tiba giliranku untuk bersalaman dengan Uskup Belo. Jadi saya mengira pasti akan masih lama berada dalam antrian.

Tapi tiba-tiba saja Companheiro Nuno yang saat itu bersama Noiva (Isterinya) yang duduk di Altar, berdiri meninggalkan Altar dan berjalan menghampiri saya dan langsung menarik saya keluar dari antrian, membawa saya menuju titik di mana Uskup Belo berdiri dan sedang menyalami tamu-tamu VVIP.

Jujur, saya merasa sangat tidak nyaman, karena nanti dikira saya kurang sopan, main serobot saja, melangkahi orang-orang penting (pejabat negara) yang sedang antri "dengan manis".

Tapi mau bagaimana lagi. Saya mencoba "cuek-bebek". Biarkan saja. Toh bukan kemauan saya, melainkan Festa Nain" (pemilik hajatan) yang meminta saya keluar dari barisan antrian.

Begitu tiba di depan Uskup Belo, Companheiro Nuno membisikkan sesuatu ke telinga Uskup Belo. Uskup Belo menatap saya sebentar lalu membuat pengumuman, agar sementara acara "jabat tangan" dihentikan dulu, karena Uskup Belo ingin berbicara sebentar dengan saya, yang oleh Uskup Belo, saya diperkenalkan kepada publik sebagai "escritor diak ida" (seorang penulis yang baik). Escritor = Bahasa Portugis = penulis.

Mendengar saya disebut; "escritor diak ida" oleh Uskup Belo, saya merasa sangat tidak nyaman. Rasanya malu sekali, karena bagaimana mungkin, disebut "penulis yang baik", sementara menulis satu buku saja pun, saya belum pernah.

Jujur, sejujur-jujurnya, saya malu sekali saat itu. Pasti orang-orang bertanya-tanya; "Manusia aneh satu ini pernah menulis buku apa ya?"

Sifat saya sebenarnya "sangat pemalu" dan tidak menyukai "kekerasan", entah kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Mungkin karena bintang saya Cancer asli, karena saya lahir 1 Juli, walaupun di Akte Permandian saya tertulis 24 Desember.

Itu tidak masalah bagi saya, karena TUHAN YESUS sendiri tidak lahir pada 25 Desember tapi selalu kita rayakan "kelahiran-Nya pada 25 Desember. Ada yang tahu kapan tanggal kelahiran TUHAN YESUS secara persis? Kalau belum tahu, coba jalani "Puasa VVV" selama bertahun-tahun, pasti TUHAN YESUS akan memberitahu Anda, kapan tanggal kelahiran-Nya yang tepat?

Kenapa tanggal lahir saya tertulis 24 Desember? Ceritanya panjang. Lagi pula tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Jadi saya skip saja, setidaknya pada saat ini. Tapi kalau ada yang mau memberi saya hadiah pada setiap 24 Desember, "monggo". Tidak bakalan saya tolak, karena orang bijak bilang; "Menolak rezeki itu dosa".

Companheiro Nuno berbalik kembali ke Altar. Sementara saya berpelukan dengan Uskup Belo (layaknya dua sahabat karib yang telah lama tidak bertemu). Kami berdua berpelukan di bawah tatapan banyak orang, di sebuah tempat sakral (dalam Gereja).

Saat sedang berpelukan dengn Uskup Belo, pikiranku melayang jauh ke kejadian 6 tahun sebelumnya, tepatnya pada 31 Mei 1998 di Komsos (Komisi Sosial) Santo Yosef Sanglah Denpasar Bali, ketika saya berpelukan dengan Reverendo, Romo Filomeno Jacob,SJ, hanya gara-gara "pertanyaan" saya yang dinggap Romo Jacob, "bukan pertanyaan biasa".

Pertanyaan saya hari itu, memaksa Padre Jacob, bukan hanya memeluk saya erat-erat yang disaksikan oleh Anggota IMPETTU Bali, tapi memaksa Padre Jacob harus menggunakan "wasiat' (dokumen Gereja Katolik Timor Leste) yang ditinggalkan Uskup Joaquim da Costa, tertanggal 11 Januari 1975, sebagai "referensi" untuk menjawab pertanyaan saya.

Anehnya kok tanggal dokumen ini adalah hari kelahiran Prof. Suku Galilea. Untuk itu hati-hati dengan pesan saya; "Bahwa jika Prof. Suku Galilea tidak memberikan RASUL TERAKHIR untuk disembelih guna membebaskan Timor Leste dari statusnya sebagai "BANGSA KUTUKAN", maka selamanya Timor Leste akan menyandang status tersebut hingga Akhir Jaman".

Cara saya berkenalan dengan dua tokoh Gereja Katolik Timor Leste sebagaimana saya sebutkan di atas, menurutku, ini adalah bagian dari "rahmat ALLAH yang dianugerahkan untuk saya yang kelas sosialnya di mata dunia adalah; "nobody".

ALLAH memperkenalkan saya kepada banyak orang, terutama kepada tokoh sekelas Uskup Belo, dengan cara-Nya yang "adi-kodrati". Karena tidak semua orang bisa mengalami apa yang saya alami. Maka saya patut bersykur kepada ALLAH, TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa, karena cara-Nya yang unik dan "berkelas" di dalam membuat orang lain mengenal saya. Cara berkenalan seperti ini, tidak lazim menurutku.

Setelah mengobrol dengan Uskup Belo, lalu Beliau memberkati saya sambil berdoa semoga saya menjadi seorang penulis yang baik di kemudian hari (Amin). Habis itu, saya pun pamit dan berlalu. "Acara jabat tangan" kembali berlanjut.

Saat saya berjalan dengan perasaan yang bercampur aduk, menuju tempat semula, semua mata memandang saya. Mungkin mereka bergumam dalam hati; "Alien aneh ini kok bisa-bisanya mendapat perlakukan khusus dari Uskup Belo?"

Pada malam harinya, saya setelah perkenalan dengan Uskup Belo, saya bermimpi sangat aneh. Pokoknya mimpiku 3 Februari 2004, hanya selang sekian jam setelah berkenalan dengan Uskup Belo, benar-benar aneh. Salah satu acara dalam mimpi itu, saya diminta membaca Kitab KEJADIAN dan Kitab WAHYU. Jadi saya disuruh membaca "Kitab Pertama dan kitab Terakhir".

Begitu tersadar dari mimpi aneh tersebut, saya langsung mengambil HP murahan milikku untuk mengutak-atik angka-angka berikut ini. Coba Anda simak baik-baik.

3 Februari 2004, dilafalkan dengan Bahasa Indonesia menjadi; "tiga Februari dua ribu empat", lalu semua huruf dalam kalimat "tiga Februari dua ribu empat", dikonversikan ke dalam "bilangan Latin". Hasilnya pasti = Carlos Filipe Ximenes Belo = 248.

Carlos = 68
Filipe = 57
Ximenes = 89
Belo = 34
Jumlahkan; 68 + 57 + 89 + 34 = 248. Dan anehnya lagi, frasa INDONESIA, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, hasilnya juga sama dengan "248".

Adakah di antara Anda yang menganggap, ini hanyalah karena berlakunya teori co-insidensi (kebetulan belaka?). Tapi tidak bagi saya. Saya percaya sekali bahwa kejadian unik di mana saya berkenalan dengan Uskup Belo dalam Gereja Balide, harus jatuh tepat pada tanggal 3 Februari 2004, adalah bagian dari "Rancangan ALLAH" khusus buat saya.

Kalau bukan bagian dari "Rancangan ALLAH", mengapa harus ada kesamaan nilai numerik, antara tanggal kejadian (3 Februari 2004) dengan nama lengkap Uskup Belo (Carlos Filipe Ximenes Belo)? Bisakah seseorang menjelakan kenapa ini harus terjadi?

Dan berdasarkan mimpi aneh yang terjadi pada HUT Uskup Belo yang ke-56 itulah, terutama bagian di mana, saya diminta harus membaca Kitab KEJADIAN & Kitab WAHYU, maka selang 3 hari, tepatnya pada 6 Februari 2004, ketika Prof. Suku Galilea beserta Ibu (tapi Ibu lama, bukan Ibu baru), datang ke rumah untuk mencari NAMA yang tepat bagi UNIVERSITAS BARU yang akan didirikan, saya mengusulkan akronim UNPAZ, setelah melalui satu diskusi yang cukup panjang hari itu.

Prof. Suku Galilea dan Ibu (lama) saat itu sempat mengusulkan, bagaimana kalau diberi nama UNIPAZ? Tapi saya "ngotot", tetap mengusulkan akronim (nama) UNPAZ, tanpa huruf "i".

Mengapa saya ngotot mengusulkan akronim UNPAZ? Karena Kitab yang saya baca dalam mimpi aneh malam itu adalah Kitab pertama (KEJAIDAN) dan Kitab Terakhir (KEJADIAN & WAHYU)?

Adakah hubungannya dengan nama (akronim) UNPAZ)? Jawabannya; YA. Coba simak fakta berikut ini, yang saya yakin; Anda pasti tidak pernah memikirkan sebelumnya.

Jika nama Kitab KEJADIAN kita terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, maka akan menjadi GENESIS. Coba sekarang Anda konversikan frasa; GENESIS, WAHYU dan UNPAZ, ke dalam Bilangan Latin. Pasti ketiga-tiganya akan menghasilkan nilai numerik yang sama, yaitu; 78.
GENESIS = 78
WAHYU =78
UNPAZ = 78.

Karena itulah, ketika Prof. Suku Galiela dan Ibu (lama) mengusulkan penggunaan huruf "i", menjadi UNIPAZ, saya menolaknya, karena tidak akan kongruen (sama dan sebangun) dengan nilai numerik; Kitab GENESIS & Kitab WAHYU.

Apakah cuma itu? Tentu tidak. Masih ada alasan fundamental lainnya, yang mungkin tidak seorang pun di antara Anda pernah memikirkan sebelumnya. Coba simak uraian berikut ini.

PENGGENAPAN PERJANJIAN TUHAN DNEGAN NABI NUH

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat FB'ers bermimpi mengenai "bencana besar" yang melanda Kota Dili di mana tanah bergerak dan semua pohon bertumbangan, orang-orang berteriak histeris, lalu tiba-tiba sahabat tersebut melihat angka "670" muncul di bawah Kaki Patung CRISTO REI (KRISTUS RAJA) yang berdiri kokoh di Fatukama Dili.

Sahabat tersebut menanyakan kepadaku; "Apa makna angka 670 yang merupakan kode negara Timor Leste? Mengapa angka 670 muncul di Kaki TUHAN YESUS dalam mimpi tersebut?"

Jawaban saya adalah; Angka 670 yang terlihat di Kaki TUHAN dalam mimpi tersebut, melambangkan MURKA TUHAN. Karena kata-kata MURKA TUHAN, jika dikonversikan ke dalam Bilangan Pythagoras, nilai numeriknya = 670. Bencana itu juga melambangkan MURKA TUHAN.
MURKA = 321
TUHAN = 349.
Tinggal dijumlahkan saja; 321 + 349 = 670.

Tapi pada kesempatan ini, melalui artikel seri ke-3 ini, saya mengajak Pembaca untuk mencoba mengkonversikan nama Kitab KEJADIAN ke dalam Bilangan Pythagoras. Ternyata nama Kitab KEJADIAN juga menghasilkan nilai numerik; 670.

KEJADIAN; K=10, E=5, J=600, A=1, D=4, I=9, A=1, N=40. Lalu dijumlahkan; 10+5+600+1+4+9+1+40 = 670.

Apa arti ini semua? Ini semua ada hubungannya dengan; PERJANJIAN ALLAH DENGAN NABI NUH. Silahkan Anda renungkan baik-baik pertanyaan refleksi yang telah saya sampaikan di bagian akhir seri ke-2 artikel ini mengenai makna di balik "Teori 916". Teori 916 yang saya maksudkan di sini adalah; Pernyataan kondisonal (pernyataan bersyarat) dalam pasal 9, ayat 16 Kitab KEJADIAN.

Di sana ada "pernyataan kondisional (pernyataan bersyarat); Bahwa "Perjanjian antara ALLAH dengan Nabi Nuh", hanya akan diingat ALLAH, apabila ALLAH melihat BUSUR-Nya muncul di awan. Ini artinya, apabila BUSUR ALLAH tidak muncul di awan, maka kapan saja, jika ALLAH berkehendak, ALLAH bisa memutuskan; untuk kedua kalinya menghukum (memusnahkan manusia bumi) dengan AIR BAH, karena dosa manusia bumi yang sudah menumpuk, membumbung menyundul atap langit, selaras dengan mimpi yang dialami Mgr. Dom Basilio.

Dan jika manusia Timor Leste mengira bahwa munculnya negara Timor Leste bukan merupakan "rancangan ALLAH" untuk menggenapi "Perjanjian ALLAH dengan Nabi Nuh", melainkan merupakan hasil kehendak bebas manusia (Timor Leste), maka sebelum manusia bumi benar-benar dilanda AIR BAH untuk yang kedua kalinya, Kota Dili akan harus lebih dulu tenggelam pada tahun 2017, sebagai "peringatan dini" bagi seluruh manusia bumi untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan AIR BAH.

Pertanyaannya kini adalah; "Bagaimana supaya BUSUR ALLAH tampak di awan? Agar dengan demikian, ALLAH akan mengingat Perjanjian-Nya dengan Nabi Nuh sebagaimana tertulis pada pasal 9, ayat 1-17 Kitab KEJADIAN, sehingga ALLAH tidak akan pernah lagi mendatangkan AIR BAH untuk melenyapkan manusia bumi?"

Jawabannya ada pada Prof. RAMA Metan alias Prof. BUSUR Hitam. Bukankah julukan Prof. Suku Galilea dalam keikut-sertaannya memperjuangkan Kemerdekaan Timor Leste; adalah RAMA Metan? Bukankah RAMA itu jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indoensia artinya; BUSUR?

Tiba di sini, esensi utama, atau hal yang paling hakiki, yang akan saya jadikan sebagai pesan sentral dari artikel ini adalah; "Bahwa munculnya Timor Leste sebagai sebuah negara baru di Milenium 3 ini, sebenarnya bukan sekedar hasil dari "kodrat kehendak bebas manusia" (Timor Leste), melainkan karena merupakan "Rancangan ALLAH" untuk menggenapi "Perjanjian ALLAH dengan Nabi Nuh", sebagaimana tertulis pada Kitab KEJADIAN pasal 9, ayat 1-17.

Dan ini adalah salah satu pesan sentral yang saya terima di Kaki Gunung Ramelau, pada Februari 1994, ketika ALLAH mengutus dua Malaikat-Nya menemuiku dalam mimpi 3 Februari 1994, saat saya tertidur pulas di Ruang HCU (High Care Unit) RSUP Sanglah Denpasar ketika sedang melakukan observasi ketat terhadap pasien Perancis yang menjalani Operasi Laparatomi di RSUP Sanglah karena menderita Peritonitis Akut (sebagaimana sudah beberapa kali saya kisahkan sebelumnya).

Pertanyaan lebih lanjut adalah; "Apa yang harus dilakukan Prof. BUSUR Metan, agar supaya BUSUR ALLAH muncul di awan?"

Silahkan baca pesan saya (proposal terbuka) yang akan saya sampaikan kepada Prof. BUSUR Metan dan Civitas Akademika UNPAZ, melalui seri ke-4 artikel ini.

Selamat berakhir pekan bersama Keluarga tercinta. Selamat merayakan SABAT Suci, bagi mereka yang merayakannya. Semoga TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.

BERSAMBUNG;

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikel yang menarik dna inspiratif. Teruskan brother misticus. God bless you always