Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Jumat, 29 Januari 2016

ANTARA PITYRIASIS ALBA & BANGSAWAN MAJAPAHIT (bag: 1)



Pengantar Singkat;

Artikel ini sudah pernah diterbitkan di Fan Page Badan Pineal pada 11 Januari  2016. Maka bagi mereka yang sudah membacanya, bisa di-skip saja.
====================================

Hari ini, 11 Januari 2016, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun "Prof. Suku Galilea", sejatinya, saya akan menerbitkan seri kedua artikel ini. Tapi karena alasan tertentu, maka
saya pending dulu seri kedua tersebut, dan saya posting kembali seri pertama ini yang sudah pernah diterbitkan pada tanggal 4 Desember 2015, di akun FB Rama Cristo maupun di situs; ANAK DOMBA SABAT dengan alamat blog; http://ramacristo999.wordpress.com/

Anggap saja “reposting” ini sebagai refreshing (penyegaran kembali), agar dengan demikian, saat saya posting seri kedua, besok; 12 Januari 2016, Anda tidak mengalami “missing link”.
Sebelum teruskan, perkenankanlah saya sampaikan dulu SELAMAT ULANG TAHUN kepada Prof. Suku Galilea, semoga sehat selalu dan panjang umur, serta senantiasa diberkati TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa Amin.

Saya posisikan artikel ini dalam fungsinya sebagai sebuah “proposal terbuka”, yang saya tujukan kepada Civitas Akademika UNPAZ (Universidade Da Paz), secara umum, dan secara khusus, saya tujukan kepada Civitas Akademika FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UNPAZ, Fakultas di mana, dulu, saya sempat terlibat di dalamnya sebagai “dosen tetap”, dengan mengasuh beberapa mata kuliah dasar, antara lain seperti; Fisika Kesehatan, Anatomi, Fisiologi dan Biology Physic.

Karena namanya “proposal”, maka tidak bersifat mengikat. Diindahkan, saya syukuri, diabaikan pun, saya maklumi. Saya hanya mencoba menunaikan kewajiban saya di “Mata ALLAH”.

Hari ini 4 Desember 2015. Genap 12 tahun yang lalu, tepatnya 4 Desember 2003, saya yang saat itu sedang stasi (praktek) sebagai dokter muda di Polly Klinik Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin RSUP Sanglah Denpasar, maju presentase makalah. Makalah saya, membahas mengenai salah satu penyakit kulit yang disebut Pityriasis Alba.

Pityriasis Alba, oleh sebagian dokter; dijuluki “si putih”, karena berdasarkan manifestasi kliniknya, yang membuat kulit penderita terlihat belang-belang ke(putih)an. Keputihan yang dimaksud di sini bukan “Fluor Albus”, yakni salah satu STD (Sexually Transmitted Disease) – PMS (Penyakit Menular Sexual), yang umumnya disebabkan oleh jamur/biasanya dinamakan; Candida Albicans. Ada kemiripan kata-kata (homophone) yang semuanya mengarah kepada “si putih”, seperti; Alba, Albus & Albi.

Jika Anda adalah seorang isteri atau wanita single yang juga praktisi sex aktif, dan Anda terpapar Candida Albicans dengan gejala "fluor albus (orang awam bilang; KEPUTIHAN), maka wajib hukumnya, pasangan (suami) Anda, atau apa pun status patner sex Anda, juga harus diperiksa, untuk mengatasi terjadinya fenomena “pingpong” (oper-operan) "si putih" dengan patner sex Anda, (entah suami sungguhan atau suami-suamian).

Dalam artikel ini, secara redaksional, saya tetap menggunakan nama (nomenklatur) penyakit tersebut dalam Bahasa Latin, yaitu; Pityriasis Alba, karena dua alasan;

Alasan pertama;

Saya mengalami kesulitan untuk melakukan “translete(rasi)” frasa Pityriasis Alba ke dalam Bahasa Indonesia, karena saya tidak menemukan padanan kata yang tepat untuk mengganti nama Pityriasis Alba.

Alasan kedua;

Saya tidak melakukan “translete(rasi), dengan merubah huruf-huruf yang ada dalam frasa Pityriasis Alba, karena jika saya melakukan translete(rasi), maka dari dimensi “Ilmu Bilangan”, terjadinya translete(rasi), akan menyebabkan terjadinya “trans signifikasi” (perubahan makna).

Padahal, isu sentral yang sebenarnya ingin saya angkat melalui artikel ini adalah mengenai Bangsawan Majapahit. Bukan mengenai Pityriasis Alba. Sementara Pityriasis Alba, hanya lah sekedar berfungsi sebagai “point entry” atau “jembatan penghubung”.

Jika Anda ingin mengetahui lebih detail mengenai penyakit Pityriasis Alba dari fihak yang berkompeten di bidang ini, maka Anda boleh melakukan kontak dengan seorang Dermatolog (Ahli Kulit). Untuk mereka yang tinggal di Timor Leste, khususnya yang di Kota Dili, boleh melakukan kontak dengan dr. Terlinda Da Conceição Barros,Sp.KK (Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin), Alumnus FK UI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Atau mungkin ada ada Dermatolog lain di Timor Leste, selain dr. Linda

CATATAN SELA (INTERMEZZO);

Kata “alumnus” itu singular (tunggal). Kalau plural (jamak), namanya “alumni”. Saya sengaja menyisipkan isu ini, karena tidak jarang saya membaca di sejumlah artikel (parahnya lagi saya temukan juga dalam sejumlah Skripsi Mahasiswa, padahal Skripsi adalah tulisan Ilmiah, bukan obrolan ngalor-ngidul), orang suka membolak-balikkan antara “alumnus dan alumni”. Yang singular dibilang: alumni, yang plural dikatakan; alumnus.

Contoh kalimat;

“Dia itu Alumni UNPAZ”. Padahal yang benar itu seharusnya; “Dia itu Alumnus UNPAZ. “Mereka itu Alumnus UNPAZ”. Padahal yang benar itu seharusnya; “Mereka itu Alumni UNPAZ".

Contoh lain sekedar untuk memperjelas; Misalnya perbedaan Bahasa Latin antara “musculus” dan “musculi” atau antara “oculus dan oculi”. Musculus itu adalah Bahasa Latin yang artinya; serat otot yang tunggal. Kalau “musculi” adalah sekumpulan serat otot (dalam bentuk jamak). Oculus = satu mata. Sedangkan oculi = dua mata (mungkin juga lebih dari dua, misalnya sekumpulan mata manusia). Semoga penjelasan ini bermanfaat.

MENDAPATKAN PITYRIASIS ALBA SAAT TARIK UNDIAN

Saya mulai menjalani praktek (untuk yang kedua kalinya) di Bagian Ilmu Penyekait Kulit & Kelamin di RSUP Sanglah Denpasar, pada tanggal 3 November 2003.

Ada aturan main yang sudah baku yang berlaku di Lab Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin RSUP Sanglah Denpasar, termasuk juga di Lab-Lab lainnya. Biasanya saat mulai praktek di sana, pada hari pertama masuk, dilakukan penarikan undian, untuk menentukan, setiap dokter muda akan harus membuat makalah mengenai penyakit kulit dan kelamin yang mana? Karena ada puluhan bahkan ratusan jenis penyakit kulit dan kelamin.

Jika ada Staf di Bagian Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin RSUP Sanglah Denpasar, yang kebetulan ikut membaca artikel ini, boleh melakukan “cross-check” di “buku besar” (buku induk) yang merupakan arsip semua kegiatan dokter muda dari tahun ke tahun, yang pernah mampir di sana. Pasti di sana, di buku besar, ada tercatat namaku (Antoninho Benjamin Monteiro), yang maju “response” pada 4 Desember 2003, dengan judul makalah; Pityriasis Alba.

Nah, hari itu, 3 November 2003, saat akan dilakukan undian, saya berharap mendapatkan undian dengan topik penyakit kulit yang bukan Pityriasis Alba. Saya merasa lebih tertarik untuk membahas kasus-kasus lain seperti; AIDS, Siphilis, Gonorrhea (GO), Varicella (Cacar), Herpes (Zooster maupun Simplex), atau kasus-kasus emergency dan berat seperti; SJS (Steven Johnson Syndrome), atau NET (Nekrosis Epidermal Toksik).

Tapi sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menghindari yang namanya “takdir”. Begitu tangan saya menarik salah satu gulungan kertas yang ada dalam toples, justeru yang terambil oleh jari tangan saya adalah Pytiriasis Alba.

Apa boleh buat. Ini sudah takdirku. Maka mau tidak mau, saya harus membuat makalah mengenai Pityriasis Alba. Akhirnya saya selesai juga menyusun makalah dan pada tanggal 4 Desember 2003, giliran saya maju “responsi” (presentasekan makalah di hadapan dokter ahli dan rekan-rekan sesama dokter muda lainnya).

Saat sedang asyik presentase, tiba-tiba HP-ku berdering. Karena sedang presentase, saya abaikan saja deringan HP. Tapi HP terus berdering. Padahal sudah sempat diam agak lama setelah saya tidak angkat. Karena HP kembali berdering, dr. Sumedha (salah satu Guru Besar Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin FK Unud yang pernah mengunjungi Dili pada sekitar tahun 1985), meminta saya hentikan presentase dan terima dulu telfon.

Sambil tetap berdiri di hadapan dr. Sumedha Pindha dan sejumlah dokter muda lainnya, saya mengeluarkan HP dari jas lab doketr muda dan menempelkan HP ke kupingku. Begitu HP tertempel di kuping, terdengar suara sayup-sayup di seberang sana; “Manumean…! UNDIL rahun” (Manumean…! UNDIL hancur). Itu kalimat pertama yang yang saya dengar sayup-sayup dari seberang sana.

Ternyata telfon dari Prof. Suku Galilea (Prof. Lucas Da Costa), yang saat itu menjabat sebagai Rektor UNDIL (Universidade Dili, waktu itu UNPAZ belum lahir). Saya kaget mendengar kata-kata; UNDIL rahun. “Dalam hati saya bertanya; “Apa UNDIL dibom ya?”

Saya lalu sampaikan kepada Prof. Lucas bahwa saya sedang presentase makalah. Tiga jam lagi baru telfon balik. Beliau maklum dan kemudian matikan HP. Saya pun meneruskan presentase.

Setelah selesai presentase, teman-teman dokter muda yang lain meninggalkan Polly pergi makan siang, sementara saya yang sebenarnya sudah mulai hipoglikemi, masih diajak dr. Sumedha “ngobrol”.

Dari obrolan itulah baru saya tahu kalau ternyata dr. Sumedha Pindha pernah mengunjungi Dili pada jaman “doeloe”. Kesan Beliau terhadap Kota Dili adalah “panas dan banyak nyamuk”. Beliau menanyakan keadaan Kota Dili terkini. Saya bercerita apa adanya.

Setelah obrolan berakhir, saya mohon pamit pada dr. Sumedha, beranjak keluar dan langsung mengirim SMS ke Prof. Lucas bahwa saya sudah “free”. Sudah boleh ditelfon sekarang. Prof. Lucas kemudian menelfon saya.

Terjadi obrolan panjang via telfon. Intinya Beliau meminta saya cepat balik ke Dili. Katanya saya diminta balik untuk “menulis” di media (koran). Saya bilang pada Prof. Lucas bahwa sedang sibuk. Tidak mungkin balik ke Dili saat ini. Kalau sekedar menulis di media, khan banyak dosen lain di UNDIL yang lebih jago menulis dari pada saya.

Tapi Prof. Suku Galilea tetap ngotot minta saya balik. “Pokoknya sebelum akhir bulan ini, Manumean sudah harus di Dili. Titik”. Akhirnya pembicaraan kelar. Tapi dalam hati, saya merasa terlalu berat untuk pulang ke Dili saat itu. Saya ingin focus ke studi saya.

Ternyata apa yang terjadi? Pada malam harinya, saya memperoleh mimpi yang sangat-sangat aneh. Dalam mimpi aneh 4 Desember 2003 itulah, saya baru tahu kalau ternyata, di balik undian, di mana saya mendapatkan topik responsi (Pityriasis Alba) itu, bukan karena berlakunya “teori co-insidensi”.
Mimpi itu aneh dan cukup panjang. Maka saya skip saja. Nah, gara-gara mimpi aneh pada 4 Desember 2003 itulah, saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Dili.

Tanggal 29 Desember 2003, saya dan seniorku dr. Domingos Alves, meninggalkan Denpasar menumpang Pesawat Merpati menuju Kupang. Tidak bisa langsung Denpasar-Dili, karena ticket pesawat Denpasar-Dili, “full seat”. Maklum menjelang tahun baru.

Saat mendarat di Bandara El Tari Kupang, rencananya kami akan menginap di Hotel Maliana. Tapi dalam perjalanan, supir taxi mengarahkan kami ke Hotel Surya. Akhirnya saya dan seniorku itu “nginap” di Hotel Surya Kupang yang penuh kejutan (ita toba mak la taka odamatan, hader mai mana sira tuur haleu hela ita).

Tanggal 30 Desember 2003, kami sulit mendapatkan angkutan Dili-Kupang. Travel darat “full seat”. Baru pada 31 Desember 2003, malam hari, saya dan dr. Domingos Alves tiba di Dili.

BERSAMBUNG;

Catatan Kaki;

Dalam seri kedua artikel ini, saya akan menyampaikan usulan terbuka (proposal terbuka) kepada Prof. Suku Galilea dan Civitas Akademika UNPAZ, untuk melemparkan koin berlambang Ratu ELIZABETH II dengan frekwensi sebanyak 444X.

Dulu, awal Mei 2014, saya sudah pernah menyampaikan proposal serupa kepada RENETIL. Tapi saat itu RENETIL menolak (mengabaikan) proposal saya. Bukan hanya sekedar mengabaikan. Malah sejumlah orang RENETIL memberi saya "stigma" sebagai "orang gila".

Lalu saya "mengeluh" di hadapan TUHAN. Kemudian TUHAN YESUS menampakkan Diri-Nya dalam mimpiku dan memintaku membawa "angka 444"yang ditolak RENETIL, menuju Piala Dunia 2014 dan mengusung thesis sentral TANAH TERJANJI.

Karena itulah pada 23 Mei 2014, 20 hari sebelum Upacara Pembukaan Piala Dunia di Brasil, saya mengumumkan thesis TANAH TERJANJI, dengan menempatkan GERMANY di dalam daftar pada urutan ke-4 di antara 8 negara yang saya umumkan saat itu.

Semenjak saat itulah, untuk pertama kalinya saya mengganti nama Prof. LUCAS DA COSTA, menjadi; Prof. SUKU GALILEA, dengan menuliskan sejumlah artikel sepanjang Piala Dunia berlangsung dengan berkali-kali menyatakan bahwa; Juara Piala Dunia di Brasil adalah Prof. SUKU GALIELA. Karena antara frasa GERMANY dengan SUKU GALIELA dan LUCAS DA COSTA, memiliki kesamaan numerik berdasarkan "Hukum Pythagoras".

Padahal alasan sejatinya, bukan sekedar karena kesamaan nilai numerik antara 3 item ini (GERMANY, LUCAS DA COSTA & SUKU GALIELA). Melainkan karena di Timor Leste, benar-benar ada "Keturunan SUKU GALILEA".

Atas alasan itulah, pada Piala Dunia di Brasil, saya menjadikan nama (Prof) LUCAS DA COSTA sebagai simbol untuk disubstitusikannya dengan frasa; SUKU GALILEA.

Pertanyaannya kini adalah; "Apakah Prof. Lucas Da Costa" itu memiliki "Darah Suku Galilea?"
Belum saatnya membahas detail pertanyaan ini. Tapi sekedar info awal, untuk membuktikan; "Apakah di Timor Leste itu ada Keturunan SUKU GALILEA, kita akan harus berurusan dengan isu MATAHARI".

Mengenai isu MATAHARI ini jangan dulu dibahas saat ini. Karena perjalanan ke arah sana masih panjang. Belum saatnya berkisah. Orang bijak bilang; "Setiap kisah ada masanya. Setiap masa ada kisahnya".

Semoga catatan ini bermanfaat. TUHAN YESUS Yang Maha Pengasih memberkati kita semua (hitam & putih).Amin.

Tidak ada komentar: